
1 minggu kemudian
Soni kembali kerumahsakit Kasih Bunda untuk menagih janji salah satu staf Rumah Sakit yang sudah ia lobi untuk mencari data rekam medis pasien atas nama nyonya Lidia.
Beruntung,di rumah sakit itu Soni memiliki banyak kolega,merekapun sangat segan dengan Brian.
"Hallo pak Andi,saya sudah di halaman parkir rumah sakit. Bagaimana pak Andi?apakah yang saya minta sudah ada?"
Tanyanya penasaran.
"Sudah,tunggu aku 20 menit lagi di Cafe dekat Rumah Sakit,"
"Baik,saya tunggu disana".
Segera Soni memutar balik mobilnya,menujua Cafe didekat Rumah sakit.
20menit kemudian Andi pun menyusulnya.
"Aku sudah menyalinnya di flashdisk ini,termasuk data para perawat dan dokter yang menangani operasi nyonya Lidia"
"Operasi???maksudnya?"
"Nyonya Lidia sudah melahirkan anak prematur diusia kandungan kurang dari 7 bulan,"
"Kenapa bisa seperti itu?dimana anaknya sekarang?"
"Kamu tanyakan saja dengan Dr.Anya belio yang membantu persalinannya. Alamatnya sudah aku masukan di Flashdisk itu"
"Oke,terimaksih,,bosku akan segera mentransfer uangnya ke nomer rekening bapak"
"Son,tidak perlu,,aku lakukan ini juga demi misimu,jika ini untuk kebaikan..maka gunakanlah sebaik-baiknya,aku sangat mengenalmu dan ayahmu jadi jangan sungkan jika butuh bantuanku lagi."
"Terimaksih Pak,,Bapak sudah banyak membantuku"
"Sama-sama..aku permisi,karna aku harus segera pulang"
"Baik Pak,sekali lagi terimaksih"
"Iya,salam ya buat ayah dan ibumu"
***
Kantor
"Ini Ian,"
Soni memberikan flashdisk itu pada Brian.
Segera Brian membukanya dan memeriksa isinya.
Semua rekam medis disana tertulis jelas dan sudah dilengkapi dengan keterangan yang lengkap.
Seketika wajah Brian pucat,bercampur aduk ketika mengetahui bahwa kehamilan ibunya ternyata bermasalah dan beresiko.
"Ibumu tetap mempertahankan kehamilannya hingga belio melahirkan dengan cara caesar"terang Soni.
"Melahirkan!!?Agghhh.." Brian masih belum bisa mencerna. Brian menyandarkan tubuhnya dikursi kebesaranya,mengadahkan kepala ,pejamkan mata sejek mendengar semua penjelasan Soni yang mengambil alih layar laptop yang ada dihadapan Brian.
Tangannya mulai dikepalkan erat,ingin rasanya dia meluapkan kemarahannya,kekecewaaanya dan segala penyesalannya.
"Iya,ternyata saat bunuh diri ibumu tidak lagi sedang mengandung,bayi itu sudah dilahirkan Ibumu menyembunyikan banyak hal darimu dan Ayahmu,itu artinya hubungan Ibumu dan Ayahmu tidak dalam keadaan baik saat itu."
"Dimana bayi itu!"
"Pihak rumahsakit tidak mengetahuinya,pak Andi menyarankan kita untuk mengintrogasi Dr. Anya dan beberapa perawat yang saat itu ikut menangani kelahiran adikmu"
"Apa alamatnya sudah jelas semua?"
"Iya"
__ADS_1
"Cepat cari!!" Brian berdiri memukul meja dihadapan Soni,sontak membuat Soni ketakutan.
"Bbbaik Ian,aku akan segera menghubungi Dokter itu,kita akan atur waktunya".
Brian tak bergeming,dia berjalan menuju jendela,menahan amarahnya.
Kecewa pada Ibunya sekaligus Ayahnya.
"Kenapa mereka menutupi semua dariku!!kenapa!aku benci dibohongi seperti ini !!!" Batin Brian.
Dari belakang Soni menepuk pundak sahabatnya.
"Kendalikan dirimu Ian,aku pergi dulu"
Soni sangat paham kondisi sahabatnya saat ini.
Brian sangat tidak suka saat dia dibohongi,saat itu juga Brian merasa telah dibodohi.
***
"Ko mas Brian belum pulang ya Bi.."
"Mungkin dia ada meeting non,," Bi Ijah mencoba menenangkan Delia yang tengah cemas memikirkan Brian.
"Tapi gak biasanya dia engga ngabarin bi..makan malam udah mau selesai dianya masih ga ada kabar..hemmm..." Delia mengibas ngibaskan tangannya selepas mencuci tangan di wastafel.
"Non,biar bibi saja yang menata meja makan,non Delia istirahat dulu,,"
"Aku mau kekamar Oma dulu Bi,udah waktunya Oma minum obat"
Delia menyiapkan air putih,ia meraih nampan untuk bawanya .
"Non,,"
"Ada apa bi?" Langkah Delia terhenti,bi Ijah mengelus rambut panjang Delia dengan lembut layaknya seorang ibu pada anaknya.
"Non Delia yang sabar ya,apapun yang Oma katakan jangan diambil hati,,belio sebenarnya sangat baik kok"
Tok Tok Tok
"Masuk!"
"Omaaa..." Sapa Delia manis.
"Siapa yang menyuruhmu kemari!! Aku tidak membutuhkanmu!" Sahut Oma dengan ketus,ia menutup album berisi foto kenangan Lidia dan Oma.
Delia tidak mempedulikan kejengkelan Oma,dia meletakan gelas dimeja,kemudian membuka laci,mencari obat Oma.
Oma yang tengah bersandar di sandaran almaripun memprotes.
"Mau apa kamu!!"
"Oma,,sekarang kan jadwalnya oma minum obat.."
Dengan sabar Delia menyiapkan obat untuk Oma meskipun berkali-kali ditolak oleh Oma.
"Kamu bener-bener gak tau diri ya!! Berapa kali aku harus bilang! akubtidak membutuhkanmu!!!" Oma membuang muka saat Delia menyodorkan Obat untuknya.
"Omaaa..ayo A..."
"Aku bukan anak kecil!! Sini!!"
Oma merebut obat yang ada ditangan Delia dengan kasar.
Delia juga memberikan air putih untuknya.
"Pergilah!!"
Delia tidak menggubris omongan Oma,dia justru menutup jendela kamar oma yang masih terbuka.
__ADS_1
"Sudah magrib Oma,jendelanya aku tutup ya..oma sudah sholat?aku siapkan sajadah dan mukenahnya ya.."
Delia menggelar sajadah untuk Oma kemudian menyiapkan mukenahnya.
Awalnya Oma jarang sholat,tapi sering kali ia diam-diam mendapati Brian dan Delia sholat bersama dikamar mereka,membuat hati Oma mulai terketuk.
Seperti biasa,Delia seminggu ini lebih sering menghabiskan waktunya dirumah untuk mengurus Oma,karna laptopnya juga masih sama Hans jadi dia tidak bisa mengerjakan skripsi.
Meskipun berkali-kali mendapat penolakan,Delia tetap bersikeras mengurus oma dengan sabar dan ulet.
Delia mengambil album yang berada di atas kasur,ia membukanya pelan.
"Oma,tenyata waktu mama Lidia masih muda cantiknya kaya Oma ya..he hee..belio juga pandai bercerita dan mengepang rambut,aku aja sering dikepang olehnya waktu kecil"
"Siapa yang memberimu hak memanggilnya Mama!!"
Delia hanya tersenyum dan tetap fokus melihat album.
"Omong kosong apa yang kamu bilang! Dia sering mengepang rambutmu!memangnya siapa kamu!!"lanjut Oma ketus.
"Rupanya oma belum tahu ya,,Mamah Lidia dan ibuku begitu dekat,kami selalu menghabiskan waktu bersama saat itu."
Oma Olivia mulai penasaran dengan cerita Delia.
"Hah!! Tidak mungkin!!"
"Em,,ceritanya dilanjut nanti atau besok ya Omaaa,,sekarang,Oma sholat dulu ya,,karna kita segera makan malam."
Delia meletakan album di atas meja samping tempat tidur.
Delia meninggalkan kamar Oma menuju kamarnya.
Ia kembali menelpon Brian namun tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya ia menelpon Soni.
"Hallo Assalamu'allaikum kak Soni.."
"iya,Wa'allaikumsalam Del,,ada apa?"
"Apa kak Brian disitu?karna dari tadi aku hubungi engga ada jawaban kak,,soalnya kalau telat pulang biasanya dia ngabarin aku kak." kata Delia cemas.
"Iya,kami memang sedang ada urusan sebentar,kebetulan ponselnya Brian lowbat."
"Kak Briannya mana!!"
"Maaf Del,Brian sedang ada tamu,sedang tidak bisa diganggu"
"Baiklah,kalau sudah selesai suruh dia hubungi aku ya Kak"
"Siap,kamu jangan khawatir Del..tenang saja.."
"Ya sudah,makasih ya Kak...Assalamu'allaikum"
"Wa'allaikumsalam"
Delia berjalan menuruni tangga,menyaksikan Atmajaya sudah berada di meja makan.
Delia masih belum mau bergabung bersama Atmajaya,Delia memilih menghindar,dia pergi kedapur untuk mengupas buah dan menyiapkan infused water untuk suaminya jika pulang nanti.
5menit kemudian Oma menuruni tangga,menatap sejenak Delia yang sibuk di dapur kemudian ia duduk bersama Atmajaya.
Setelah selesai menyiapkan infused water,barulah Delia bergabung ke meja makan,mengambilkan Oma nasi dan lauk,tapi kali ini ada pemandangan baru..baru pertama kalinya Delia mengambilkan makanan untuk Atmajaya.
Seketika Atmajaya merasa aneh dengan perubahan Delia.
"Tumben,ada apa dengannya,,apa ada sesuatu dibalik semua ini? Hah! "
batin Atmajaya,sambil menyunggingkan senyuman mengejek.
__ADS_1
"Jangan seneng dulu tua bangka! gue ngambilin ini karna gue kelupaan,,harusnya aku mengambil makanan buat Brian eh,malah buat loe..sial..bisa bleng gini!! kan jadi ke PDan!!Sebel!!" batin Delia.