Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 73


__ADS_3

"Bi Ijah,buatkan aku secangkir lemon tea" titah oma Olivia pada Bi Ijah tanpa memperdulikan keberadaan Delia.


"Baik nyonya" bi ijah langsung menjalankan titah oma. Tetapi,


Delia langsung mengambil alih pekerjaan bi Ijah membuatkan lemon tea dan Delia menawarkan diri untuk membawakan minuman itu ke halaman samping tempat oma Olivia menikmati udara paginya.


Bi ijahpun mengiyakan,karna dia ingin kesalahpahaman antara keduanya berakhir.


"Permisi oma,,ini lemon teanya."


Delia tetap bersikap manis padanya.


Dia tahu,oma saat ini kesal padanya karna dia menganggap ayahnya telah membunuh nyonya Lidia.


"Kenapa kamu yang membawakan untukku!apa kamu tidak dengar aku menyuruh Ijah bukan kamu!!"hardiknya.


"Maaf oma,,bi Ijah sedang sibuk memasak..jadi..ak.."


"Alah,,,alasan,bilang aja kamu ingin mencari perhatianku! jangan harap! dasar anak pembunuh!!"potong oma Olivia


Delia hanya tersenyum hangat.


Delia meletakan gelas lemon tea di meja,dia duduk disamping Oma,dan langsung memeluknya.


""Oma sayang,,aku bukan anak pembunuh,.suatu saat nanti Oma pasti tahu. Oiya,oma mau Delia buatin sarapan apa?"


Oma terus saja berusaha melepaskan pelukan Delia,tapi Delia masih terus memeluknya.


"Dasar anak gak tau malu,jangan sok baik!"ketusnya..


Namun Delia tetap tidak mempedulikan kesinisan Oma Olivia.


"Oma,,Aku kedapur dulu ya,,aku akan masak makanan kesukaan oma..tunggu ya oma..emuuah"


Mata Oma terbelalak ketika Delia mencium pipinya.


"Dasar anak tidak tahu diri,,!!jangan memasak apapun untukku! Aku masih mau hidup!!!"


Oma mengencangkan suaranya agar sampai pada telinga Delia yang terlebih dulu meninggalkannya.


Ia langsung mengusap pipi bekas kecupan Delia.


Delia tersenyum dan berlengak lengkok genit.


"aku rela oma memakiku saat ini,aku tau belio orang baik sama seperti nyonya Lidia,akanku buktikan padanya,kalau ayah tidak pernah membunuh nyonya Lidia"batin Delia.


Ia kembali kedapur memasak bersama bi Ijah.


"Bi,,bibi kan udah lama bekerja disini,bibi tahu kan makanan kesukaan oma.."


Tanya Delia pada bi Ijah.


"Iya non,,non Delia mau bibi ajari?"


"Iya bi.."


***


Brian mengusap-usap matanya,meraba-raba mencari keberadaan istrinya.


Saat ia tahu istrinya tidak ada disampingnya dia langsung mencari ponselnya,mencoba menghubungi Delia,tapi tidak juga ada jawaban.


Dia langsung berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


Dia melewati dapur dan melihat bi Ijah disana lalu menghampirinya.

__ADS_1


"Bi! Apa apa apa bibi melihat Delia!" Dengan terengah-engah Brian menanyakan pada Bi Ijah.


"Non Delia,ada kok tuan.." Bi Ijah mengarahkan bola matanya ke bawah,diikuti oleh Brian.


Ternyata Delia sedang duduk dilantai mengupas kentang.


Dia tahu Brian sedang mencarinya,tapi dia sengaja diam saja karna dia masih kesal dengan Brian.


"Heh!kenapa kamu duduk dilantai!kenapa tidak menjawab saat aku mencarimu!" tanyanya kesal karna pagi-pagi sudah dibuat panik oleh ulah Delia.


"Memangnya kenapa kalau aku mau duduk dilantai!"jawabnya ketus.


"terserah! buatkan aku infused water dan antar kekamar!"


Brian meninggalkan dapur dan berjalan ke kamarnya dengan menyunggingkan senyuman.


Dia pikir,Delia akan benar-benar lari dari rumah ini,kenyataanya tidak.


Kurang dari 10 menit apa yang diminta suaminya pun ia antar.


Delia masuk kedalam kamar,lalu meletakan gelas di meja sebelah tempat tidurnya.


"Mau kemana duduklah!" Brian yang tengah duduk disofa dengan memangku Laptop meminta Delia duduk disampingnya.


"Aku mau meneruskan masak!" Delia masih saja ketus.


"Besok bi Ijah aku pecat!karna kamu memasak disini!!"ancam Brian.


"Enak aja!! Kasihan tau!" Delia melotot keatah suaminya.


Seilah tak mau kalah dengan tatapan Delia,Brianpun menajamkan tatapannya dan meninggikan suaranya.


"Duduk aku bilang!"


Delia tetap tidak mempedulikannya,dia terus berjalan ke arah pintu.


Dengan wajah kesal akhirnya Delia menurutinya.


"Kamu mau tahu,kenapa aku bawa kamu kemari?"


"Iya!pastinya kamu mau buatku menderita disini! Karna kotak itu tidak bisa ditemukan dan kamu ingin menyiksaku,lalu aku pergi darimu dan kamu melanjutkan cintamu dengan wanita itu!!"


Delia terus berbicara tanpa henti mengungkapkan apa yang ada dipikiranya tanpa mempedulikan Brian yang tengah mengerutkan alisnya.


Cup


Brian mengecup bibir Delia agar Delia berhenti berbicara.


Delia langsung menyubit lengan Brian.


Brian yang kesakitan langsung melepaskan ciumannya.


"Apa-apaan kamu mas!!"gerutu Delia,jantungnya berdetak kencang,dia terus mengelap bibirnya meskipun sebenarnya dia masih ingin melakukan itu dengan suaminya.


"Kamu yang apa-apaan!!! Darimana kamu punya pikiran sekotor itu tentangku! Kamu pikir aku main-main! Setelah apa yang aku lakukan selama ini kamu masih belum percaya!" Bentaknya.


"Kalau belum kenapa!!lagian kamu sendiri juga tidak pernah mempercayaiku dengan terus cemburu pada Hans!"


"Ya itu lain!!pokoknya kamu jangannpernah memberi harapan pada pria lain titik!!"


Delia terdiam sejenak.


"Lalu apa bedanya kamu sama Tania!kamu juga terus memberinya harapan!! Kamu tidak pernah menolaknya!malah keenakan dipepet terus tu sama mak lampir!!"


Brian terkekeh mendengar omelan Delia,dan raut wajah kesalnya yang terlihat menggemaskan.

__ADS_1


Brian membuka laptopnya mengotak atik kemudian menunjukan vidio saat Tania berada dikantor.


"Nih! Aku sengaja mengaktifkan CCTV diruangan ayah,tanpa sepengetahuan nya,,yaa awalnya untuk memantau kinerja ayah,karna aku curiga ayah yang dulu terlihat sangat profesional dalam pekerjaanya kenapa akhir-akhir ini mengalami penurunan,sampai-sampai keuangan kantor kacau."


Delia duduk berbangku tangan menonton vidio itu. Memperhatikan setiap gerak gerik Brian pada Tania.


"Tttapi..kenapa kamu tidak langsung mengatakan kalau kamu benar-benar mencintaiku bukan sandiwara,pake berkelit segala,,kalau githu kan dia nya masih tetep berharap!! Ohhhh aku tau, jangan-jangan kamu emang suka menggantungkan hubungan??iya kan! Pantas saja!" Deliaenyunggingkan bibirnya sinis.


"Kalau iya kamu mau apa?"Brian sengaja memancing emosi Delia.


"Oke,kalau kamu mau semaunya githu,,aku juga bisa kok!!" Delia hendak bangun dari tempat duduknya,tapi Brian menariknya lagi hingga duduk dipangkuannya.


"Del,percayalah padaku..maaf karna aku kemarin membuatmu cemburu dengan diam saat Tania menyentuhku".


"Awas,gak Lucu tau!!" Delia mencoba melepaskan tangan Brian yang melingkar di perutnya.


"Gak lucu gimana?abisnya aku terus yang cemburu,aku gak pernah liat kamu cemburu,,!"


Brian menyembunyikan wajahnya dengan manja ditubuh Delia.


"Idih! Nikah ama Om om kok gitu ya..kirain kalau nikah ma orang yang 9tahun lebih tua gak kekanak-kanankan gini..ternyata aku salah!"


"Apa kamu bilang!! Om!!kekanak-kanakan?? " Brian langsung menggelitik perut Delia hingga membuat Delia terpingkal-pingkal.


Ulah Brian mampu membuatnya melupakan segalanya.


"Udah udah udah mas..."


Brianpun melepaskan Delia,mereka saling melempar senyuman.


"Mas,kamu benar-benar tidak sedang mempermainkanku kan?"tanya Delia.


Brian hanya menatapnya tajam dan menggelengkan kepalanya.


"Lalu,kenapa kamu bawa aku kemari?"


"Karena..."


Kalimat Brian terhenti karna ada oma yang mengetuk pintu.


Brian langsung membuka pintu untuknya.


"Oma?"sapa Brian.


Oma melurik kearah cucu menantunya.


"Ck..pintar sekali kamu ya!kamu bilang kamu mau membuatkan makanan untukku,tapi ternyata kamu sedang santai disini!! Wanita bermuka dua!!"ketus oma sinis.


"Mmmmaaf oma,,tttadi kak Brian yang menyuruhku membawakan minuman"


"Alah,alasan!!"hardik oma.


"Ya sudah,aku lanjutin masak ya mas..permisi oma.." Delia melewati oma yang masih berdiri didepan pintu kamarnya.


Oma hanya membalas dengan senyuman sinis.


"Sudah omaaa,Delia memang aku perintahkan untuk kemari membawakan minuman. Oma jangan seperti itu kepada istri Brian ya,,dia sebenarnya baik oma"


"terserah kalian! Oiya,hari ini apa kamu kekantor?"


"Iya hari ini aku kekantor ayah dulu ,kemudian ke Golden big,bagaimana?apa oma mau ikut?"


"Iya,oma sudah lama tidak mengecek kondisi kantor,karna oma sangat mempercayai ayahmu,oma hanya ingin jalan-jalan saja,oma bosan dirumah melihat anak pembunuh itu!."


"Delia namanya oma,,,oke,Brian mandi dulu"

__ADS_1


Brian tidak suka omanya menyebut istrinya dengan label anak pembunuh.


Brian berniat untuk segera mengusut penyebab ibunya bunuh diri,dia belum berani mengungkap semuanya saat ini karna bukti yang dia dapat belum cukup kuat.


__ADS_2