Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 197


__ADS_3

"Saat mengetahui lokasi awal Reymon menyekap istrimu,aku langsung tahu ini ada kaitannya dengan ibu,karena dia menyekap di villa kosong milik ibuku,jadi aku memutuskan untuk pergi ke lapas,menemui ibuku,dan mendesaknya agar menjelaskan semua.


Akhirnya ibukupun mengakui,kalau dari awal.dia tahu Reymon sangat menggilai Delia,jadi ibuku memanfaatkan itu,,ibu juga yang merekomendasikan Reymon pada mister Park untuk bekerja dengan gaji cukup besar.


Ibuku selalu mendukung upayanya untuk sukses dengan harapan suatu saat bisa memanfaatkannya. Dan benar,


saat ibu dipenjara,ia kehabisan cara dan menyuruh orang kepercayaannya untuk menghubungi Reymon ,agar menghancurkan rumah tanggamu karena titik kelemahanmu adalah Delia.


Dengan memanfaatkan kegilaannya,ibu berhasil menghasutnya.


Setelah mengetahui semua,aku tahu tujuan selanjutnya kemana dia akan membawa Delia, dan aku putuskan untuk menghadangnya,meskipun sedikit terlambat."


"Apa ibumu juga yang menyuruhnya membunuh Delia!!"


"Tidak! Ibuku hanya memberinya fasilitas untuk menghancurkan kalian,dan mendukungnya menculik Delia. Percobaan pembunuhan itu, murni karena ke gilaannya, dia merasa jika dia tidak bisa memiliki Delia maka tidak ada satupun orang lain yang berhak memilikinya."


"Aaaghhhhrr !!!! Aku akan menghabisi siapapun yang berani bermain api denganku!! Termasuk ibumu!" Tatapannya tajam kearah Hans.


"Aku tidak berharap kamu memaafkan ibuku kak,akupun kecewa padanya,,akupun tidak menyangka ibuku tidak juga jera dan dendamnya begitu besar pada kalian."


Hans pun tertunduk malu dengan kelakuan ibunya.


"Maaf Hans,sepertinya ibumu tidak pantas untuk hidup!!"


"Aku mohon kak,,jangan sakiti ibuku,,aku mohon"


Hans bersimpuh dilantai memohon pada Brian yang sudah diselimuti amarah.


"Bangun dan Pulanglah!" Brian tidak memberikan jawaban atas permohonan Hans,justru Brian memalingkan wajahnya.


Hans pun tidak ingin melawan kakaknya yang sedang tersulut emosi.


"Baiklah ,,aku pergi Kak,tapi aku mohon,,jangan lakukan apapun pada ibuku kak,."


Setelah kepergian Hans,Soni masuk dan melihat wajah sahabatnya merah,ia mencari tahu apa yang menyebabkan Brian marah.


Brianpun menceritakan apa yang Hans informasikan.


"Bagaimana kondisi bedebah itu!"tanyanya dingin.


"Masih diruang ICU,polisi sedang menjaganya. Dia kehilangan banyak darah."


"Aku pastikan dia juga kehilangan nyawanya!"


"Maksudmu?"


"Aku tidak bisa mengampuninya ! Kamu pasti sudah paham!" Brian menepuk pundak Soni.,lalu berbaring.


"Apa yang mau kamu lakukan Ian?" Soni nampak cemas dengan isi kepala Brian yang tengah kalut.


"Pergilah,aku lelah" usir Brian.

__ADS_1


"Ian!! Jangan sekali-kali kamu kotori tanganmu dengan membunuhnya!"


"Kamu pikir aku akan seceroboh itu?? Hah,," Brian melebarkan bibirnya sengit.


"Ingat Ian,Delia masih belum sadar,kedua anakmu juga masih dalam pengawasan,jangan sampai amarahmu menyakiti mereka!"


"Kamu sekarang sudah seperti Delia,terlalu banyak omong!" Brian memejamkan matanya,pura-pura tidur.


Sonipun menarik nafas panjang menyaksikan sahabatnya.


Ia berjalan mendekati sofa dan berbaring disana seraya memainkan ponselnya,menghubungi seseorang.


***


Pagi pun menjelang,


Suara riuh dari ruang ICU 2 membuat Brian penasaran,dengan kursi rodanya ia mengurungkan niatnya menjenguk sang istri,ia memilih melihat situasi diruang sebelah.


"Ada apa ini pak?"tanya Brian pada polisi yang berjaga.


"Tuan Brian,tersangka telah meninggal dunia 15menit yang lalu,,jenasahnya akan segera dikebumikan pagi ini"


"Apa?meninggal??"jawab Brian terkejut seraya menatap Soni yang tengah memegangi kursi rodanya.


"Iya tuan,sampai malam tadi tidak ada pendonor yang bisa menyumbangkan darahnya,stok di PMI pun sudah habis."


Dalam benak Brian ada perasaan lega,namun ia harus menyembunyikan perasaannya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Maaf tuan,kami permisi akan segera mengurus semua persiapan pemakaman dan laporan ke kantor pusat."


"Silahkan pak,terimakasih kerjasamanya selama ini pak,,"


Mereka pun berjabat tangan dan saling berlalu.


"Antar aku ke ICU 1,"


"Iya "jawab Soni singkat.


Brian terkejut saat istrinya tidak ia dapati disana.


"Dimana istriku!"tanya Brian pada salah satu perawat yang tengah merapikan tempat tidur Delia.


"Istri anda baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP tuan,,"


"Haaa??a a apa itu artinya..."


"Iya tuan,nyonya Delia tersadar pukul 02.30 tadi pagi,,setelah menjalani beberapa pemeriksaan dan dirasa kondisinya membaik,belio dipindahkan ke ruangannya kira-kira tadi pukul 7.00 pagi."


"Terimakasih Sus"


"Sama-sama tuan,,"

__ADS_1


"Kenapa kamu diam!! Segera bawa aku ke ruangan Delia!"titah Brian pada Soni,ia sudah tidak sabar melihat kondisi istrinya.


Sesampainya diruang VVIP


Brian tersenyum lega melihat istrinya tengah disuapi oleh bibi Mira.


"Sayang,,"sapa Brian seraya mendekat dengan kursi rodanya.


"Mas,," Delia tersenyum dengan nanar.


Ia pun menghentikan makannya,ia menolak suapan bibi Mira.


"Kamu,,ka kamu kenapa mas??" ia cemas saat melihat tubuh suaminya berbalut perban dan duduk di kursi roda.


"Aku baik-baik sayang,," Brian mengecup tangan istrinya.


"Terimakasih sayang,,terimakasih,,kamu sudah melahirkan anak-anak yang hebat,terimakasih kamu telah berjuang,bertahan hidup untuk kami,,aku...aku benar-benar takut sayang,,aku takut kehilangan kalian"lanjutnya seraya meletakan kepalanya di atas kedua tangan istrinya,yang masih ia genggam.


Delia tersenyum,


"Aku juga takut mas,,aku takut kita tidak bisa bertemu lagi,,aku ingin membahagiakanmu dengan melahirkan kedua anak kita,karena itu aku harus kuat dan bertahan saat dia menyekapku"


"ha,,"Brian tersenyum senang


"Kamu benar - benar the power of emak,,hehehe aku bangga padamu,,"


"Aku,,Eh,,dimana Hans?aku belum berterimakasih padanya?"tanya Delia seraya mencari keberadaan adik iparnya.


"Bocah itu belum kemari,terimakasihmu sudah aku wakilkan,,Sayang,kamu tahu,,Si Brengsek itu sudah mati!"


"apa??" Bibi Mira dan Delia terkejut.


"maksudmu,Reymon,,,"


"Iya,Reymon sudah meninggal tadi,,dia kehabisan darah karena tak satupun orang yang memberinya tranfusi darah."


Delia tiba-tiba menangis.


"Kenapa kamu menangis?harusnya kamu senang dong sayang" protes Brian.


"Aku ,,aku hanya kasihan dengan dia mas,,kenapa dia bisa segila itu diakhir hidupnya,terus terang,aku juga takut dengan kegilaannya. Pak tani itu,,,pak tani itu telah ia bunuh mas,,aku aku lihat bagaimana ia membunuhnya..aku aku aku takut mas..." Delia yang masih trauma menangis sesegukan. Bibi Mira langsung memeluknya erat.


"Sudah sudah Del,,semua sudah baik-baik saja,semua sudah berlalu,,keluarga pak tani itupun sudah mengikhlaskan,,semua sudah takdir,,lagian dia sudah pergi untuk selamanya,kamu jangan takut." bibi Mira mencoba menenangkan.


"Iya sayang,,aku juga sudah mengurus jenasah pak Tani itu,dan memberikan sejumlah uang untuk keluarganya,,kita akan terus menjalin silaturahmi dengan keluarganya,bagaimanapun juga dia telah berusaha membantumu."


"Terimakasih mas..oiya terimakasih juga untukmu Son,,"ucapnya seraya menatap Soni,dan Soni pun mengangguk.


"Ayo,habiskan makanannya Del,,nanti kita lihat kedua anak-anak kalian."


"baik bi.." bibi Mira menyuapi makanan yang hampir habis.

__ADS_1


__ADS_2