
Tok tok tok
"Masuk" titah Roby.
"Maaf tuan menganggu.." ucap Fani.
"Ada apa Fan"
"Em,,saya ,,saya mau bertanya sesuatu tapi diluar pekerjaan tuan"
"Oke,baiklah,,silahkan duduk"
Roby bangun dan mengarahkan tangannya,mempersilahkan Fani untuk duduk bersama di Sofa.
"Ada apa?"
"Em,apa tuan kemarin ke kantor Brian untuk menghandle pekerjaanya?"
"Iya,,Brian,Soni dan Safa sedang ke Dubai."
"Ohh,,jadi Brian tidak keDubai sendirian?Syukurlah"
"Syukur??Memangnya Kenapa?" Tanya Roby menyelidik.
"Em,Kami khawatir karna disana ada Tania"
"Hahahaha...Tania?Ya ampun..tenang saja,,dulu Brian memang dekat dengan Tania,karna saat di Amerika Tania selalu baik pada Brian,jadi yaa..gimana lagi,Brian juga bersikap baik padanya karna tak enak hati dan hanya sebatas teman. Tapi setelah mengetahui ada maksud dibalik kebaikannya,ya akhirnya Brian kembali kehabitatnya,,jadi Pria dingin jika didepannya."
Selain Soni,Roby juga sedikit paham karakter sepupunya itu.
Fanipun hanya ikut tersenyum tipis.
"Em,,Begini tuan,apa boleh saya meminta nomer ponsel mereka yang bisa kami hubungi,,saya berusaha menghubungi nomer ponsel yang biasa tapi tidak bisa." Fani tertunduk,ragu pertanyaannya tidak akan dijawab.
"Fan,lihat aku" titah Roby serius.
Fanipun mengangkat wajahnya,menatap Roby.
"Katakan,apa ada masalah dengan Delia dan Brian?"
Fani mengangguk.
"Pantas saja,dengan tergesa-gesa Brian memintaku untuk menggantikannya sementara dikantor,ternyata pekerjaannya di Dubai hanya sebagai pelarian."
Roby tak habis pikir dengan pernikahan Kakak sepupunya itu.
"Apa masalahnya?"
"Emmmm,,"Fani sebenarnya tidak ingin banyak yang tahu masalah pribadi Delia.
"Baiklah,tidak perlu diceritakan semua,intinya saja."
"Intinya,mereka salah paham ,Brian cemburu pada teman kuliyah Delia. Belum sempat Delia menjelaskan semua,Brian langsung pergi. Sekarang Delia sangat khawatir dengan suaminya,jadi saya mohon tuan,,beri nomer ponsel yang bisa kami hubungi agar Delia sedikit tenang karna lusa dia akan menjalani sidang skripsi."
"Hufh,,Brian Brian,,.Oke,akan aku kirim kontak Safa,karna memang selama mereka pergi aku hanya berkomunikasi melalui Safa"
__ADS_1
"Terimakasih tuan.."
"Sama-sama,sampaikan salamku untuk Delia,semoga masalahnya cepat selesai."
"Baik tuan,akan saya sampaikan,,saya permisi tuan"
Saat Fani hendak berdiri,Roby mencegahnya.
"Tunggu dulu Fan,"
"Ada apa tuan,ada yang bisa saya bantu?"
"Em,,apa aku boleh meminta nomor ponsel Keke?"
"Untuk apa tuan?" Fani menatap Roby dengan penasaran.
"Eits..jangan menatapku seperti itu,,aku,,aku hanya minta agar,,kalau ada pekerjaan tambahan bisa langsung aku hubungi dia,karna kamu akan semakin sibuk dengan persiapan pernikahanmu,iya kan?" Jawab Roby salah tingkah.
"Baik tuan,akan aku kirim lewat Chat nanti."
"Terimaksih,Pergilah" jawab Roby.
"Permisi tuan" Fani berjalan meninggalkan ruangan Roby dengan menggerutu.
"Idih ngusir..dasar,,Bunglon KW,.untung aja kamu bosku!"
Selang beberapa menit,notifikasi ponselnya berbunyi.
Roby memenuhi janjinya untuk mengirim nomer Safa.
Delia yang mendapatkan nomer Safa langsung menghubunginya.
"Saat ini pukul 10.30,pasti disana baru pukul 7.30..semoga saja Safa belum begitu sibuk"gumam Delia.
4 kali Delia melakukan panggilan,namun tidak juga mendapat jawaban.
Delia putus asa,hanya pada Safa lah ia berharap mendapatkan informasi tentang Brian.
Tubuh Delia lemas,ia mulai letih menanti kabar dari Brian.
"Setega itukah kamu denganku mas,,hanya karna ini kamu tega mendiamkanku. Apa kesalahanku begitu besar mas?"
Delia merasa kesal dengan sikap suaminya.
"Sepertinya sementara aku memang harus melupakan masalahku ini,Hufh...aku pasrah mas" gumamnya lagi.
Delia bangkit dari sofa,ia mengambil tasnya.
Hari Ini Delia memutuskan untuk keluar mempersiapkan sidang besok.
Karna Fani sedang bekerja,dia meminta Vivi dan Dera.
Setelah mereka berkeliling mempersiapkan untuk Sidang skripsi, Delia mengajak kedua sahabatnya untuk makan dan minum dicafe depan Kampus mereka.
"Del,kok loe nggak semangat gitu..biasanya kan loe comel juga..hehehe.."tanya Dera,yang sebenarnya sudah menerka-nerka sahabatnya pasti merasa frustasi dengan pemberitaan dimedia sosial yang berlebih-libihan tentangnya dan Hans.
__ADS_1
"Hem,,loe tau kan,gosip murahan di medsos?" Jawab Delia lemas.
"Udah lah Del,masalah itu nggak usah dipikir,mereka kurang kerjaan jadi githu deh.."ucap Dera sambil mengelus pundak Delia.
"Kalian nggak tau ya,gara-gara pemberitaan itu,Suami gue marah dan dia pergi ke Dubai tanpa ijin gue,,rasanya nyesel banget tau.." Delia terus mengaduk aduk minumannya tanpa meminumnya.
"Apa?Brian kabur maksud loe?" Vivi terkejut.
"Bukan Kabur,dia memang ada kerjaan disana,tapi dia pergi dalam keadaan marah dan tidak mau mendengar penjelasan ku.
Dia marah karna aku juga pergi bertemu Hans tanpa seijinnya."
"Ya Allah Del,,kok suami loe gitu amat ci..ngambeknya kaya anak kecil "protes Dera yang suka ceplas-ceplos.
"Maklum lah Ran ,mereka kan baru menikah belum ada setahun,jadi wajar lah,,mereka masih harus bisa menyesuaikan dan kamu Del,jadikan ini sebagai pelajaran berharga,kemanapun kamu pergi harus ijin dengan suami,jadi kalaupun ada fitnahan diluar sana suamimu tahu keadaan yang sebenarnya." Vivi berusaha menenangkan Delia.
"Iya,gue salah,,em,,niatnya gue mau menyusulnya ke Dubai setelah sidang selesai."
"Oke,kami doain semoga semua berjalan dengan lancar dan hubungan kalian bisa kembali membaik"jawab Dera.
"Terimakasih ya.."
***
"Selamat siang Mr.Abdulla"sapa Brian sembari memberikan tangannya,mereka saling berjabat tangan.
Beberapa pesaing Bisnis Brianpun ikut berebut menjabat tangannya.
Hari ini adalah hari penentuan siapa yang akan memenangkan proyek besar dari Mr.Abdulla.
Sebenarnya Brian kurang yakin akan memenangkannya,karna Brian sendiri tidak begitu fokus dengan proyek ini.
Dia pergi ke Dubai hanya ingin memberi pelajaran untuk istrinya dan membungkam Ayah serta Oma nya yang terus mendesak.
2 jam berlalu,tiba saatnya Mr.Abdulla mengumumkan siapa yang berhak bekerja sama dengannya.
Benar,keberuntungan memihak pada Brian.
Perusahaan Atmajaya lah yang berhak menerimanya,,karna selain konsep yang diusung Brian sangat menarik,presentasi dari Taniapun mudah dipahami karna Tania juga sangat menguasai bahasa Inggris,Bahasa Arab,Hindi, Malayalam, Urdu, Persia, Tagalog, Bengali dan bahasa lainnya familier di Dubai.Dari segi akademik Tania memang tak kalah unggul dari Brian. Hanya saja brian tidak begitu menyukai Ettitudenya.
Maklum saja,dari kecil Tania sudah ditinggal ibunya,Widodo membesarkannya dengan cara yang salah,ia terlalu memanjakannya dan mendoktrin nya bahwa apa yang ia mau harus tercapai dengan cara apapun.
Dunia ini egois dan hanya orang yang egois yang akan menaklukannya.
Itulah yang sering Widodo tekankan pada Tania.
Mr.Abdulla pun mulai membuat janji dengan Brian terkait penandatanganan kontrak dan pembahasan proyek lebih lanjut.
"Malam ini,saya mengundang Anda untuk makan malam dirumah,,sebagai awal terjalinnya silaturahmi diantara kita,bagaimana tuan Brian?apakah anda setuju?"
"Baik tuan,insya Allah kami akan memenuhi undangan anda"
"Terimaksih,oke saya rasa hari ini cukup,,silahkan anda menikmati ke Indahan Dubai,,permisi"
Mrs Abdulla pun meninggalkan tempat rapat.
__ADS_1
Brian mengantarnya sampai didepan mobil Mr.Abdulla.