
"Entah mas!"
Delia menghempas tangan Brian kemudian pergi ke balkon.
Brian yang mulai sadar atas kesalahannya akhirnya menyusul istrinya dan menurunkan nada bicaranya.
"Aku tahu,aku sangat lamban dalam hal ini, aku akui ini tidak mudah bagiku Del.
Kamu benar,karena dia Ayahku,disini ada pergelutan batin yang cukup menyiksa ku.
Disisi lain aku kecewa padanya,dan ingin melenyapkannya saat mengetahui penghianantanya.
Terlebih,jika sampai nanti ayah terlibat dalam pembunuhan ibu.
Disisi lain,aku tidak tega jika ayahku mendekap dipenjara diusianya yang sudah tidak muda." Brian tertunduk,menahan semua beban ini sendiri.
"Itu sudah menjadi resikonya Mas! Apa kamu lupa! Orang-orang yang kemarin kita temui Mas? Mereka juga renta,mereka juga tak berdaya,yang mereka dapat lebih perih dari jeruji besi penjara mas!! Aku tidak mau tahu! Aku memang egois, hutang penderitaan memang harus dibayar dengan penderitaan!!! Dan aku mas,,,aku aku menyaksikan kehancuran kedua orang tuaku mas! ibuku meninggal dalam kecelakaan itu,lalu hampir setahun yang lalu ayahku! Keduanya korban keegoisan ayahmu!! Ayahmu mas!!
Aku berharap nantinya akan ada saksi yang memberatkan mereka!"
Dari nada bicaranya,tak bisa dipungkiri sampai detik ini Delia masih menaruh dendam begitu besar pada Atmajaya.
"Satu-satunya saksi sudah dilenyapkan oleh ayahku,yaitu ibumu. Ibumu lah saksi kunci dari semua ini. Karena hanya ibumu yang tahu isi dari kotak itu. Ada kemungkinan,selain surat-surat itu,disana juga banyak petunjuk tentang siapa saja orang-orang yang membencinya.
Tapi sayangnya,kotak itu pun menghilang entah dimana. Widodo di polisikan itu pun atas laporan pengancaman pada keluarga dokter Anye.
Sebentar lagi Kris juga aku pastikan akan buka mulut tentang dalang kecelakaan kemarin di Dubai,karena Widodo sendiri sudah tidak bisa menjaminnya. Untuk kasus lama itu,hanya ibuku,ayahmu dan ibumu yang tahu."
"Lalu! Bagaimana caranya memasukan ayahmu ke penjara dan mengungkap siapa orang yang bersangkutan atas kematian ibumu?"
" Entah,yang jelas jika kematian ibuku sudah terungkap,ayahku pasti akan terseret,itu sudah otomatis. Karena aku yakin ini ada hubungannya. Widodo dan Ayahku ada hubungannya atas kematian ibu. Aku baru saja menemukan ini" Brian mengambil potongan gagang kacamata yang bi Ijah berikan.
"Apa ini mas?ini..ini milik siapa?"tanya Delia saat melihat lihat potongan kacamata itu.
"Aku tidak tahu,pastinya ini bukan milik ibu atau ayahku. Bi ijah menemukannya saat membersihkan sekitar balkon,dan ini" Brian memberikan foto kabel CCTV.
"Ada yang sengaja memotong kabel CCTV,aku yakin kematian ibu direncana,dan ayahmu juga menjadi targetnya. Karena apa,karena si pelaku juga tidak menyukai ayahmu. Sekali dayung,dua tiga pulau terlampau."
"Itu pasti ayahmu! Satu-satunya orang yang membenci Ayahku kan cuma ayahmu!!" Delia mulai sewot.
"Del..." Brian menatap istrinya tak suka.
"Ya habis siapa lagi!"
"Kita belum tahu pasti entah itu ayahku,Widodo atau orang lain yang juga membenci ibuku. Karena target mereka dua orang."
"Kemarikan ponselmu"
__ADS_1
Pinta Delia.
"Untuk apa?"
"Kemarikan,,!"
Brian memberikan ponsel pada istrinya.
Delia mengirim foto kabel CCTV yang terpotong,kemudian memotret patahan gagang kacamata.
Semua tersimpan di ponsel Delia.
"Untuk apa?"tanya Brian.
"Untuk berjaga jaga."
"Maksudmu?" Brian menjijitkan satu alisnya.
"Siapa tahu kamu berubah pikiran,kamu menghapus gambar itu dan kamu berbalik melindungi ayahmu!" Delia terus saja sewot dengan suaminya.
"Deliaaa...aku gak habis pikir ya! Kenapa kamu masih saja curiga denganku!"
Brian terlihat sangat kesal dengan istrinya.
"Eh,,hati orang siapa tahu mas.." Delia membalikan tubuhnya membelakangi suaminya lalu pergi kekamar mandi membersihkan diri,berganti pakaian lalu turun kebawah,menonton film kesukaannya untuk menghibur dirinya.
Brian yang masih berada di balkon merasa kesal dan jengkel dengan keadaan ini.
Ayahnya tidak benar-benar tulus mencintai ibunya dan hanya memanfaatkan kekayaan ibunya.
Ayah yang dahulu dia anggap sebagai sosok yang sempurna justru terlihat menjijikan.
Ingin sekali ia membenci namun sulit.
Cukup lama Brian menyendiri di balkon kamarnya.
Ia kembali masuk kedalam kamar,ia lalu mencari keberadaan Delia.
Ia menuruni tangga,melihat istrinya tengah duduk bersandar disofa,menonton televisi.
"Sayang"
Brian menghampiri istrinya yang masih terlihat angkuh.
"Hem"jawab Delia singkat.
"Bisakah kamu mengganti perban ditelapak tangan ku?"pinta Brian.
__ADS_1
Tanpa menjawab Delia pergi kekamar untuk mengambil kotak P3K dan cairan NaCL.
Delia kembali duduk di samping Brian,dan berlahan melepas perban ditangan suaminya.
"Apa kamu masih marah?"tanya Brian.
Delia terus diam.
"Luka ini aku dapat saat aku mencoba mencari kebenaran,apa kamu masih menganggap ku main-main?"
"Kamu harusnya tahu jika di posisiku,aku harus melawan ayahku sendiri untuk semua ini,beban ku juga berat Del,,aku mohon,jangan pernah meragukan ku. Keraguanmu lebih menyakitkan dari luka ini. Aku tidak melibatkan mu bukan berarti aku punya rencana lain agar menyelamatkan ayahku,harus ku katakan sekali lagi itu karena aku mengkhawatirkan keselamatanmu ,itu saja. Aku mohon,jangan pernah meragukanku lagi,yah?" Brian menatap Delia yang masih tertunduk sibuk mengganti perban.
"Sayang" Brian menggunakan tangan kirinya untuk memegang dagu Delia,agar istrinya menatapnya.
Deliapun menatap Brian,terlihat jelas matanya tengah menahan air mata. Suaminya benar-benar tertekan.
Delia merasa bersalah karena berburuk sangka pada suaminya.
Ia harusnya berada disisinya untuk mendukungnya,bukan mencurigainya.
"Mas,maafin aku ya,,"
Brianpun tersenyum kemudian mencium kening istrinya.
"Sama-sama sayang,kamu benar selama ini aku lemah,aku hanya mengandalkan emosiku. Aku tahu kamu sangat mengkhawatirkan ku"
Delia mengangguk "Iya,aku takut hobi mu akan membawamu masuk kedalam penjara juga mas."
"Hobi?hobi apa?"tanya Brian heran.
"Hobi marah-marah,hobi berantem,hobi uji nyali" jawab Delia polos.
Brianpun terkekeh mendengar jawaban Delia.
"Mas,tadi kok aku dirumah engga lihat bi Ijah sama Oma?"
"Itu dia Sayang,Aku membawa Oma kerumah sakit karena Ayah menukar obat Oma,untuk melenyapkan Oma!"
"Apa!!! terus kondisi Oma mas?"
"Sebelumnya Oma terlihat cukup lemah,tidak seperti biasanya. Kata dokter,Oma beruntung karena segera dibawa kerumah sakit,jika terlambat 3-4hari mungkin kondisinya parah."
"Ya Allah,itu artinya Ayahmu menukar obat dari 2 minggu yang lalu?"
"iya,kamu pernah bilang kan ayah mengantar Oma kontrol?nah mungkin saat itu juga Obatnya ditukar. Ayah merasa terganggu dengan kehadiran Oma."
"Lalu apa kamu akan diam saja mengetahui kelakuan ayahmu?"
__ADS_1
"Aku menyuruh bodyguardku yang disana untuk mencari Obat aslinya dan mencari bukti pembelian obatnya. Siapa tahu ayahku masih menyimpannya."
***