
Delia melangkahkan kakinya dengan langkah panjang.
Semakin dekat tubuhnya dengan pintu,semakin tak beraturan pula denyut jantungnya.
"Ya Allah,kuatkan hatiku untuk menghadapi mereka yang ada dibalik pintu itu,,aku pasrahkan semua padamu Ya Allah..."batin Delia terus memanjatkan doa.
Dengan gemetar tangannya membunyikan bel rumah.
Bi Ijah,membukakan pintu untuknya.
"Non Delia" ucapnya berbisik.
"Bi..." Nampak jelas raut wajah penuh ketakutan mendalam dari Delia.
"Yang sabar ya Non.."
Sepertinya Bi Ijah paham dengan situasi saat ini.
Mata Delia berkaca-kaca saat bi Ijah mengarahkan langkahnya untuk menuju meja makan.
"Assalamu'allaikum.."sapa Delia tak mendapat respon dari seluruh bibir yang berada di hadapannya kecuali Brian dan bi Ijah lirih.
Delia terpaku melihat Atmajaya,Widodo,Tania dan satu lagi wanita berusia lanjut yang Delia tidak pernah melihatnya dan mengenalnya.
Wanita tua dengan style modern,bernuansa putih,.meskipun usianya sudah tak lagi muda,make up yang ia kenakan membuat wanita itu nampak lebih muda dan tetap cantik.
"Ini Wanita yang kau bilang istri Yan?Menantu apa?sama sekali tidak tahu sopan santun! Sambutan macam apa ini,setelah melewati makan malam???ohhh...tidakkk...cucuku kenapa kamu memilihnya!!!"ketusnya dengan tatapan menyelidik.
Delia hanya terdiam,melihat mereka yang masih mengelilingi meja makan.
Mereka baru saja menyelesaikan makan malam.
Brian pun tetap diam tanpa menatap kearah istrinya,dia terus meminum jus yang ada dihadapannya.
Brian duduk disebelah Tania,,,yah,Tania,,wanita itu masih saja terlihat sangat berambisi mendekati Brian.
Senyuman sinisnya terus mengarah pada Delia,sementara Atmajaya dan Widodo,menatap Delia dengan dingin tak berarti.
"Mmmaaaf,,nek..ssaya..." Delia mencoba menanggapi wanita tua itu.
"Siapa yang menyuruhmu menjawab!"bentak Wanita tua yang ternyata Oma Olivia.
"Brian!! Didik istrimu dengan baik,dia wanita kelas bawah, anak pembunuh! Jadi,jangan biarkan dia membunuh reputasi keluarga kita juga!! Kalau kamu gagal mendidiknya,maka oma akan carikan wanita yang lebih pantas menyandang gelar Nyonya Brian."
Ucapan Oma membuat Delia semakin hancur.
"Ternyata selama ini Brian belum mengklarifikasi pada neneknya,bahwa bukan ayahku yang membunuh nyonya Lidia. Tega kamu mas...apa kamu memang sedang membodohiku?apa pengorbananmu selama ini adalah pura-pura?" Batin Delia.
"Omma sayang,,,oma kan baru sampai,ayok Tania antar kekamar,," Tania yang merasa menang dalam hal merebut hati oma,berusaha menunjukan kedekatannya dengan Oma Olivia dihadapan Delia.
Delia tetap berdiri terpaku dan menundukan pandangannya.
Sebelum Widodo dan Atmajaya pergi keruang kerja,mereka berdiri,dan menepuk pundak Brian.
Brian yang masih terdiam dimeja makan.
Delia yang merasa bingung,memutuskan untuk meninggalkan rumah itu.
"Untuk apa aku disini,,semua sudah jelas,ini hanya permainan mereka,kotak itu tidak akan ditemukan,itu artinya mereka sudah tidak membutuhkanku..sebaiknya aku pergi"
Delia membalikan badannya,,langkahnya lemas,kakinya seperti tak lagi mampu menumpu tubuhnya.
Seketika langkahnya terhenti oleh suara Brian.
"Malam ini kita tidur disini!"titahnya ketus.
Namun Delia tidak menggubrisnya.
Dia kembali melangkahkan kakinya.
"Berhenti atau..."
"Atau apa! Kamu ingin kembali mengancamku lagi?silahkan! Aku sudah tidak peduli dengan hidupku sendiri!" Delia terus berjalan kearah pintu.
Tangannya mulai meraih gagang pintu,seketika Brian dari arah belakang menutup pintu yang akan Delia buka.
Delia memberanikan diri menatap Brian.
"Apa mau mu!"pekik nya.
Tanpa berkata-kata Brian menarik tangan Delia,membawanya naik ke kamarnya.
Delia terus meronta tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan Brian.
Dengan keras Brian menutup lalu mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
Delia mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman Brian.
"Kemana saja kamu!"tanya Brian.
"Apa pedulimu!"
"Jawab!!!"
Brian mendekatkan wajahnya kewajah Delia.
Dia sangat tidak menyukai jika pertanyaannya tidak mendapat jawaban.
"Menemani Fani dan Bimo!!" Jawab Delia singkat.
Berlahan Delia menjauhkan tubuhnya dari Brian.
"Kamu tau,aku tidak suka dengan kebohongan!"
Brian terus mengikuti kemana arah Delia yang sedang berusaha menghindarinya.
"Telpon aja kak Bimo!"
"Kenapa ponselmu mati!"
"Low bat!" Punggung Delia akhirnya menempel di dinding.
Dia sudah tidak bisa menghindari suaminya yang terus menatapnya dengan tatapan tajam.
Tubuhnya terhalang oleh kedua lengan Brian.
"Awas kalau terbukti kamu membohongiku!!!"hardiknya.
Tangan Brian meraih ponsel yang ada disakunya.
"Hallo Bim,,"
"Hallo Yan,,kalian ada dimana?aku didepan rumah kalian,,Delia pergi dari rumah bibi,dia bilang mau pulang tapi kok sepi."
"Oh,kami sedang diluar rumah.."
"Syukurlah,,,Oiya.Ian,aku tau kalian sedang tidak baik,jaga Delia awas kalau kamu berani menyakitinya."ancam Bimo.
"Bim,apa tadi kalian pergi bersama?"
"Iya,Delia aku ajak membeli perlengkapan lamaranku. Memangnya kenapa!apa kamu mulai tidak mempercayainya!"
"Gimana!" Delia menatap Brian dengan berani,meskipun sebenarnya dia sangat ketakutan.
"Aku bukan pembohong sepertimu!"lanjutnya.
Brian kembali menghalangi tubuh Delia dengan kedua lengannya.
Brian terus menatap Delia tajam,suasana menjadi hening dan menusuk.
"Berhenti menatapku!" Mata Delia berkaca-kaca,dia benar - benar sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya,
tapi Brian terus menatapnya.
"Kamu bilang,kamu tidak akan membawaku kemari lagi,mana buktinya?satu lagi,ternyata kamu belum benar-benar mengembalikan nama baik ayahku,terutama didepan Oma. Kamu bohong mas!! Aku kecewa sama kamu mas!"
"Aku akan jelaskan semua nanti! Tapi jelaskan dulu padaku apa maksud semua ini!!!"
Brian melempar beberapa foto yang Brian terima.
FLASH BaCk
Saat pertengkaran tadi siang,Brian meninggalkan Delia dikamar,ia ingin kembali kekantor ayahnya untuk menyelesaikan permasalahan dikantornya.
Tiba-tiba gadis yang pernah ia jumpai di kampus Delia menghentikan mobil Brian.
Dengan sigap,Brian langsung mengerem mobilnya karna hampir menabrak motornya.
"Maaf nona,apa kamu terluka?"
Brian memcoba menolongnya.
"Tidak mas,,kamu..apa kamu masih ingat denganku kak?"tanyanya seraya mengambil map yang jatuh tercecer.
"Maaf nona,saya lupa"
"Aku Zeli kak,,maaf,aku lancang menghentikan mobilmu. Aku tahu,kamu suami Delia.
Oleh karna itu,aku mohon padamu kak,,tolong jaga istrimu,karna dia sudah menghancurkan hubunganku dengan Hans. Kamu pasti tahu itu kan Kak..dan lihat ini..ini foto kebersamaan mereka saat di Bali. Berhati-hatilah dengan kepolosannya,,dia terkenal sebagai perebut pacar orang kak,,entah apa tujuan istri anda. Maaf,aku hanya ingin mempertahankan Hans,calon tunanganku." Zeli memberikan satu map pada Brian.
Brian hanya terdiam,dan menerima map yang diberikan padanya.
__ADS_1
"Aku permisi kak,aku harap kamu bisa lebih berhati-hati dalam menjaga istrimu!" Zeli menaiki motornya dan pergi.
Brian masuk kedalam mobilnya dan melihat beberapa lembar foto yang ada didalam map.
Setelah melihat semua foto itu,Brian langsung menelpon Soni.
"Selidiki pria yang bernama Hans! Nanti fotonya aku kirim ke ponselmu!"
"Siap tuan" jawab Soni dengan formal,karna dia tahu dari nada bicaranya,bos nya saat ini suasana hatinya sedang tidak bagus.
FLASH ON
"Jawab!!!"
Bentaknya lagi.
"Ini foto kita saat dia mengunjungiku di Bali. Aku disana juga beramai-ramai bersama Vivi dan Dera kok,jadi apa masalahnya!"jelas Delia.
"Masalahnya kamu istriku!!"
"Eiitz..tunggu mas,apa kamu lupa!! Dulu saat aku diBali kita memang suami istri,tapi hanya ada kebencian diantara kita mas! Mereka datang menghiburku,meskipun dia sendiri tidak pernah tahu kenapa aku tiba-tiba menghilang dan tinggal disana!"
"Bagus,kamu menyembunyikan statusmu untuk menggoda pria lain!!" Sorot mata Brian terus menusuk semakin dalam.
"Apa maksudmu!!aku bukan wanita seperti itu mas!jaga ucapanmu mas!lihat dirimu! kamu lupa kalau kita sudah 2 kali mengucapkan ijab qobul! sampai-sampai kamu dengan santainya menikmati sentuhan wanita lain!"
"jangan mengalihkan pembicaraan!"
"aku tidak sedang mangalihkan! aku hanya ingin kamu sadar dan tidak menuduhku! bukanya kamu senang saat Tania menyentuhmu!! iya,aku akui bagi keluargamu aku anak pembunuh! kamupun tidak membelaku! bagi keluargamu Tania segalanya,wanita sempurna!kamupun tidak penah mengelak!! kalau begitu! lepaskan aku sekarang juga biarkan aku hidup tenang tanpa bayang-bayang keluarga kalian!"
"Delia! Diam!!!".teriak Brian.
"kamu menyuruhku Diam?sementara kamu terus menuduhku yang tidak-tidak,!! Hans teman baikku,dia lebih bisa menghargaiku! tapi kami tidak pernah saling mencinta,,sementara Kamu! Tania wanita yang jelas-jelas mencintaimu,kalian ...kalian juga pernah saling mencinta dan ingin menikah iya kan!!"
"Delia!!"
"apa kamu mau bukti!! tunggu!! "
Delia kembali memasukan charcer ke ponselnya,dan membuka semua pesan yang wanita itu kirimkan untuknya.
"Lihat ini!! dengan foto itu kami bisa dengan mudah menuduhku! jadi aku juga bisa beropini dengan pengakuan wanita ini dan foto-foto ini!!! aku tau,dia Tania kan!! di Amerika bukan tidak mungkin kalian tidur sekamar!!"
"Jaga ucapanmu!!" Brian merebut ponsel Delia,dan melihat isi pesannya.
Brian sangat murka melihat isi pesan dari wanita yang memang Tania.
"Sialan!!! Aku akan membuat pelajaran dengannya!!"
"untuk apa!untuk meyakinkanku kalau yang dia ucapkan itu tidak benar!! atau untuk kemarahanmu karna rahasiamu terbongkar!!"
"Diam!dan percayalah !"
"kamu menyuruhku diam dan mempercayaimu! kamu sendiri tidak pernah mempercayaiku!! aku akui,aku terlalu bodoh!terlalu mudah terbujuk olehmu! aku benci kamu mas!!"
Brian bingung bagaimana menjelaskan dengan istrinya yang terus menyerca dengan seribu kalimat, baginya bertengkar dengan wanita itu membuang-buang waktu.
Brian langsung ******* b***r Delia agar berhenti berbicara.
Delia yang kesal terus meronta-ronta namun semakin keras dia melepaskan diri dari Brian,semakin keras juga usaha Brian membungkamnya.
Sampai nafasnya mulai kehabisan barulah Brian melepaskanya.
"Diam dan dengar penjelasnku!atau aku akan membungkamu!"
Delia akhirnya hanya bisa menangis,dan mendengarkan Brian.
"Apa kamu sudah puas meluapkan amarahmu?sekarang giliran ku!" ucap Brian dengan nada yang mulai merendah.
"Pertama,aku tidak suka kamu dekat dengan Hans,karna aku tahu dia berharap padamu meskipun dia tidak pernah menyatakan cintanya,dan jangan mengelak tentang ini,kali ini pernikahan kita jangan disembunyikan lagi dari teman-temanmu,,karna pernikahan kita kali ini benar-benar berlandaskan cinta,bukan semata-mata karna hutang ataupun dendam.Kamu mengerti?"
Delia mengangkuk pelan,Brian mulai menghapus airmata istrinya dengan lembut.
"Bagus,yang kedua,,kamu benar,wanita yang mengirim pesan padamu itu Tania. Dulu kita memang berteman baik saat di Amerika,foto ini diambil dari beberapa acara perayaan baik itu acara kampus,atau acara keluarga yang kami buat dia sana. Awalnya aku menganggap Tania sebagai adikku sendiri,karna pak Widodopun berteman baik dengan ayahku. Saat aku mengenalmu,mulai menyelidikimu,dan kita menikah,,awalnya memang aku masih bimbang antara cinta atau dendam ayahku,aku menyukaimu tapi aku juga marah denganmu karna kamu anak Yosep yang saat itu menjadi tersangka pembunuh ibuku.
Tapi saat itu secara tidak sengaja aku mendengar Widodo dan ayahku berbicara mengenai kedua saksi kunci itu dan perjodohan ku dan Tania. Dari situ aku mulai menaruh curiga pada semuanya,aku tidak mempercayai siapapun sampai aku menemukan kedua saksi itu dan kita membuktikan bersama. Disitu posisi Tania mulai terancam,karna aku menolak perjodohsn ini,meskipun dia tidak tahu kalau kita sudah saling mencintai. Pesan yang Tania kirimkan padamu,itu salah satu usahanya untuk memisahkan kita,jadi percayalah denganku,kamu mengerti?"
Brian mengelus rambut Delia lembut.
"Sekarang tidurlah,aku tau kamu lelah.."Brian membawa istrinya keatas kasur kemudian membaringkannya.
"Soal kepercayaan oma,biar aku yang urus,mendatangkan kedua saksi itu lagi itu mudah bagiku,tapi tidak bagi oma,,oma tidak akan semudah itu mempercayai mereka. Yang kita butuhkan hanya kotak itu,karna Widodo dan ayah mengincarnya.
Aku janji,setelah semua beres,aku tidak akan meninggalkanmu"
Delia sudah mulai tenang,meskipun dia masih merasa kecewa pada Brian,karna sikapnya tadi,tak ada pembelaan sedikitpun yang keluar dari mulut Brian saat keluarganya menyecarnya.
__ADS_1
Tapi Delia cukup lelah untuk melanjutkan perdebatan,dia tertidur dengan mata sendu.