
Keesokan Harinya
Sore hari Brian dan Delia pulang dari Rumah Sakit.
Dalam perjalanan tiba-tiba,,
Drrrt...drrrt...
Ponsel Brian bergetar,ia segera menepikan mobilnya.
Ia langsung memasang earphone nya,
"Hallo,selamat sore?"
"Sore,,apa benar ini tuan Brian?"
"Iya saya sendiri,,maaf dengan siapa saya bicara?"
"Saya,tuan Narendra CEO Bank Xxx"
Mata Brian terbelalak,ia menatap Delia yang ada disampingnya.
Delia pun mengangguk,membenarkan.
Ia mengingat nama sahabat ibunya yaitu Om Rendra,yang sudah lama tinggal di luar negeri.
"Anda bisa datang kerumah Delia yang dahulu?saya harap kamu membawa Delia juga."
"Baik,kapan kami kesana tuan?"
"Kalau bisa sekarang,,"
"Baik tuan,kami akan segera menuju rumah itu. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih karena tuan berkenan menghubungi kami"
"Oke,sama-sama saya tunggu kedatangan kalian"
Tut tut tut.
"Mas,,paman Rendra sudah pulang?" Nampak sekali Delia tersenyum sumringah mendengar kabar tersebut.
"Iya,kita langsung kesana sekarang ya,,"
Deliapun mengangguk bersemangat.
Dengan kecepatan tinggi Brian menjalankan mobilnya.
Yang seharusnya waktu tempuh bisa mencapai satu jam perjalanan,dipersingkat menjadi setengah jam.
Merekapun sampai didepan gerbang,disana mereka disambut oleh mang Asep.
"Silahkan masuk tuan,tuan Narendra sudah menunggu di ruang tamu"
Delia dan Brianpun masuk bersama mang Asep.
Narendra sudah duduk menunggu mereka.
Ia kemudian berdiri dan mempersilahkan Delia dan Brian untuk duduk.
"Delia,apa kabar?apa kamu masih ingat dengan Om?" Tanya Om Rendra.
"Alhamdulillah,baik Om,,Om Rendra bagaimana kabarnya?"
"Ya seperti inilah Om sekarang,terlihat menua hehe,," Om Rendra yang mengenal Delia sejak kecil pun mulai mencairkan suasana.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu Brian?"
"Baik Om,,"
"Aku tahu,kalian pasti menikah,seperti impian ibu kalian. Om yakin hari itu pasti terjadi. Om sengaja tidak menjual rumah ini,dengan harapan kalian bisa tinggal bersama disini...Sebelum Alya meninggal,Alya menceritakan tentang wasiat ibumu Ian,Lidia.
Om diminta untuk menjaganya,sampai kalian menikah.
Alya tahu kalau ayahmu akan menjodohkan mu dengan Tania,tapi ibu mu Lidia tidak setuju.
Alya bilang kalau dia dititipi sesuatu yang sangat berharga,dan harus sampai padamu dengan waktu yang tepat.
Om sengaja menahan diri,karena saat itu Om tahu kamu sangat memihak ayahmu.. saat itu kamu gelap mata. Om tahu,kamu tidak akan mempercayai siapapun selain ayahmu.
Om juga tahu,Kamu akan percaya jika kamu sendiri yang membuktikan. Jadi,Om biarkan kamu mencari kebenaran itu sendiri.
Setelah mendengar berita kemarin tentang penangkapan ayahmu,Om yakin ini waktu yang tepat untuk menyampaikan amanat itu.
Tapi kamu harus berjanji,jangan pernah mundur! Kebenaran harus tetap ditegakkan, banyak korban yang menginginkan keadilan ini. Termasuk istrimu,dia kehilangan kedua orang tuanya. Aku tahu semua perjalananmu,aku pun tahu semua yang sudah kamu lakukan pada Delia,apa yang kamu upayakan selama ini. Kali ini Om tahu,kamu benar-benar memenuhi janjimu pada Delia,Om sudah yakin padamu pada ketulusan mu"
"Om tahu semua??Dari mana om tahu?"
"Maafkan aku mas,aku sebenarnya sudah berkomunikasi lama dengan Om Rendra"
"Apa??? Maksud kalian?" Brian nampak kebingungan.
Flash back
Saat Brian dan Delia pertama kali berkunjung ke rumah lama Delia.
Diam-diam Delia meminta nomer ponsel Om Rendra dari mang Asep.
Dan meminta mang Asep merahasiakan dari mu. Karena waktu itu,Delia masih meragukan keseriusan Brian dalam menangani kasus ayahnya.
Delia menceritakan semua dari A sampai Z pada Om Rendra.
"Om,aku harus bagaimana?"
"Biarkan semua berjalan apa adanya,biarkan Brian yang bekerja. Beri dia kepercayaan saja,Om yakin seorang penjahat akan terus mencari barang bukti yang mereka tinggalkan. Kamu jangan pernah takut pada mereka,pancing terus kedua iblis itu,agar emosinya memuncak.
Saat mereka merasa terusik maka saat itu juga mereka akan melakukan kesalahan. Om akan terus menjaga Kotak itu sampai Brian membuktikan keseriusannya dalam memperkarakan ayahnya.
Kamu harus tetap sabar,dan berhati-hati."
"Iya Om,,"
"Satu lagi,jika semangat suamimu mulai surut,,ajaklah dia mengunjungi para korban. Semoga saja semangatnya akan tumbuh kembali dan dia semakin termotivasi."
"Baik Om,kapan-kapan pasti Delia ajak mas Brian bertemu mereka."
Flash On
Brian terlihat sedikit kesal karena Delia membohonginya.
"Jangan marah ya mas,,lagian kita tidak punya rencana aneh-aneh.
Hanya Om Rendra yang saat itu bisa aku ajak sharing dan mendukungku." Bujuk Delia.
Brian menghela nafas panjang,dan membungnya pelan.
"Wajar jika tingkat kepercayaan Delia masij labil Ian,kalian baru menikah hampir satu tahun,pernikahan kalian tak berlandaskan cinta awalnya. Jadi untuk seorang Delia,ia harus lebih waspada. Om akui,Delia punya tingkat trauma tinggi setelah melihat rumah tangga ayahmu.
Bayangkan,Ayahmu dulu terlihat sangat mencintai ibumu,sampai seluruh perusahaan ibumu beratas namakan ayahmu.
__ADS_1
Tapi kenyataannya,setelah semua berada ditangan ayahmu,ayahmu berkhianat. Bukan begitu Ian?"tanya Om Rendra.
"Iya Om"
"Ya sudah langsung saja pada intinya,mari ikut Om,"
Om Rendra membawa Delia dan Brian menuju kamar utama peninggalan ibu Delia.
"Kamu pasti sudah pernah masuk ke ruang bawah tanah didalam almari itu kan?"
"Iya Om,Delia yang ajak"
"Mari kita kesana"
Om Rendra mendekati almari itu,membukanya dan membuka pintu masuk ke ruang bawah tanah.
"Tapi om,kami disini tidak menemukan apapun"
Tanya Delia kebingungan.
"Kali ini Om pastikan kalian akan menemukannya"jawab Om Rendra santai.
"Coba Ian,bantu Om menggeser rak ini"
Om Rendra menunjuk satu rak buku berukuran sedang.
Mereka bersama-sama menggeser rak yang cukup berat.
Brian dan Delia terkejut setelah melihat ada tombol di tembok belakang rak.
"Apa ini Om?"tanya Brian
"Tekan saja tombol itu,sesuai tanggal lahir mu Brianpun mencoba menekan tombol sesuai tangan lahirnya."
Ceklek
Mini Banker terbuka.
"Ambilah apa yang menjadi hakbmu,aku pun tidak tahu menahu tentang isinya,karena itu bukan hak ku"
Sejenak,Brian tercengang.
"Ambilah mas" Delia mendekat dan mengusap pundak suaminya.
Dengan gemetaran Brian pun mengambil sebuah kotak hitam dengan list berwarna emas.
"Terimakasih Om,sudah menjaga amanah ibuku" Ucap Brian.
"Maaf,Om baru bisa memberikan ini. Karena pada saat ayahmu dan Widodo sudah masuk penjara,Om yakin ini akan aman. Karena selama ini Ayahmu dan Widodo terus mengintai rumah ini. Mari aku tunjukan hal lain" Om Rendra mengajak mereka keluar dari ruang rahasia kemudian membawa mereka keruang tamu lagi.
Di sana sudah didapati dua orang tengah terbekuk,dengan kondisi tangan terikat. Mereka dijaga oleh mang Asep dan satu pengawal Om Rendra.
"Siapa mereka Om?"tanya Brian dan Delia bersamaan.
"Yang memakai baju hitam,dia adalah suruhan ayahmu,dia mengawasi rumah ini 24jam...Sedangkan, yang memakai baju Merah,,dia adalah suruhan Widodo. Pada dasarnya mereka terlihat bersahabat,tapi justru mereka saling mengawasi. Terutama Widodo. "
"Baiknya kita apakan mereka om"tanya Brian.
"Serahkan ini pada Om,,kamu pulanglah,dan periksa isi kotak itu,"
"Baik Om,terimakasih untuk semuanya"
"Sama-sama,,jaga Delia baik-baik."
__ADS_1
"Oiya,Del,jangan galak-galak sama suami loh,,"goda Om Rendra pada Delia.