
"Mama Mira yang kasih tahu,,tadi awal kamu masuk IGD,mama langsung menelponku,dia panik jadi aku langsung kemari,aku pikir suamimu tidak disini,,eh ternyata dia sudah disini" Fani mengangkat alisnya seraya melirik kearah Brian.
Delia tersenyum,,
"Makasih ya Fan,,udah mau kesini,,"
"Udah ah,jangan kebanyakan makasih,,sekarang apa yang ada di hadapanmu iniiii,,wajib di ha bis kan,,!"
"Iya iya,,"
"Hari ini napsu makanmu sudah kembali kan??" Kembali ia melirik ke arah Brian,bernada menyindir,Brianpun tertunduk,sementara Delia tersenyum tipis,bibirnya yang masih pucat terus mengunyah makanan yang barusan Brian suapi.
"Del,apa yang kamu rasain sekarang?tanya Bimo.
"Aku masih sedikit pusing kaa,perutku juga kram,kalau dibawa gerak agak sakit"
"Apa tadi kamu terjatuh cukup kuat?" Tanyanya lagi
"Emmm,,engga si,aku jatuh diatas tubuh bi Ani,,Oiya,bi Ani,,bi Ani gimana tadi mas keadaanya?" Delia teringat bi Ani.
"Tenang saja sayang,bi Ani baik-baik saja,,kalaupun di merasa ada yang sakit,mang Jajang siap mengantarnya ke rumah sakit."
"Syukurlah,," ujar Delia.
"Ya sudah,sekarang kamu jangan memikirkan orang lain dulu,pikirkan saja keadaanmu Del,,besok kamu tidak usah ke Klinik dulu sampai kandunganmu benar-benar kuat" titah kak Bimo.
"Iya kak,,,"
"Kamu istirahat ya,kami pulang dulu,,kami belum pulang soalnya,belum mandi. Ian,jaga adikku baik-baik ya!"
"Iya,,Bim"jawab Brian.
"Istirahat ya Del,,jangan kemana-mana dulu! Tidur aja! Inget tu,diperut ada calon keponakanku!" Fani memeluk Delia.
"Iya bawel" jawab Delia dengan nada yang masih lemas.
Brian mengantar Fani dan Bimo sampai didepan pintu kamar.
"Fan,,terimakasih" ucap Brian tulus,matanya juga berkaca-kaca. Ia bersyukur Fani segera mengingatkannya sebelum semua terlambat.
"Hmmm"jawab Fani singkat.
Brian masuk kekamar,sementara Fani dan Bimo berjalan melewati koridor rumah sakit.
"Brian berterimakasih untuk apa?kok sepertinya dalem banget" tanya Bimo.
"Dia berterimakasih karena kita selalu menjaga Delia,saat dia lagi bandel,engga mau makan selama seminggu ini,,"
"Memang ada apa diantara keduanya?kok Delia sampai tidak berselera makan ,padahal seminggu sebelumnya dia doyan banget makan"
"Aduh mas,,biasa lah,mungkin kemarin itu perubahan hormon dan moody dari wanita hamil. Kadang suaminya sendiri bingung harus menanggapi apa,jadi ya Brian bertanya bagaimana tips menghadapi bumil"
Fani mencoba menutupi masalah sebenarnya,kalau Bimo tahu adiknya bertengkar dengan Brian,pasti Bimo akan pasang badan dan ajak Brian Duel lagi.
Karena Bimo masih saja over protektif dengan adiknya.
"Ow,,,kirain mereka berulah lagi,,"
"Udah ah,,biarin aja si mas,,,kamu jangan over protektif sama mereka. Mereka itu udah dewasa,apalagi Brian,,Biarkan mereka menjalani rumah tangga mereka dengan caranya. Kita cuma bisa saling mengingatkan,,itu aja"
"Iya iya,,oiya,besok kalau kamu hamil! Jangan suka marah dan ngambek loh!!"
"Idih,,engga lah! Paling aku cuma nyidam pengin beli ini ono yang enak-enak"
**
"Udah mas,,aku udah kenyang"
"Yakin udah kenyang?"
__ADS_1
"Iya,,"
Brian mengambil air putih untuk istrinya.
"Minum dulu sayang,"
Deliapun meminumnya.
"Ayo,berbaring lagi,istirahat,,"
Delia mengangguk pelan,Brian membantu membaringkan tubuh istrinya yang lemah.
"Kamu juga istirahat mas"titah Delia.
"Tenang saja,Mas pasti istirahat,,yang penting kamu tidur dulu ya..jangan terlalu banyak bergerak"
Delia mengangguk,Brian mngelus rambut Delia dengan penuh kasih sayang.
"Mas,,"
"Apa sayang,,"
"Punggung sama pinggulku sakit,,tolong diusap-usap" Delia memiringkan tubuhnya,membelakangi Brian.
Brianpun memenuhi permintaan istrinya.
"Apa sakit banget yang?"
"Iya,,pangkal paha atas juga sakit mas,,pokoknya engga enak banget"
"Kamu harus kuat ya sayang,,"
Delia mengangguk.
Dengan sabar Brian mengelus-elus bagian tubuh Delia yang sakit,,sampai akhirnya Delia bisa tertidur.
Brian menatap istrinya iba,wajahnya yang merona kini terlihat pucat lemah.
"Dirumah,kamu setia menungguku dimeja makan,tapi aku mengabaikanmu,kamu jadi kurus begini karena ku,," Brian mengusap-usap rambut Delia.
Kemudian ia bangun dari tempat tidurnya,merapikan selimut istrinya.
Brian menelpon Soni,untuk mengatur jadwal satu minggu ini,,dia ingin menemani istrinya sampai benar-benar pulih.
Tak lama kemudian,body guard Brian mengetuk pintu,ia membawakan pakaian ganti Brian yang disiapkan oleh bi Ani.
"Terimakasih,,"
"Sama-sama Bos"
"Kamu boleh pulang"
"Apa bos tidak membutuhkan yang lain,biar saya carikan"
"Tidak perlu,,kamu pulang saja,,"
"Baik Bos,saya permisi"
"Eh,tunggu,,cari tahu asal usul clien kita yang baru,dia ingin mengajak kerjasama denganku,tapi aku masih belum yakin,,selidiki dia,karena aku tidak mau bekerja sama dengan orang-orang yang tidak kompeten."
"Siap!"
"Semua data akan aku kirim ke ponselmu"
"Siap"
"Bagus,,terimakasih,pergilah"
Baru sebentar Brian tinggal,Delia kembali merintih
__ADS_1
"Mas,,haduuuuhhh Ssssssttt"
Brian langsung menutup pintu,dan menghampiri istrinya.
"Kenapa sayang,?"
"Tambah sakit mas,,,Essssssttt" Delia mengigit bibirnya keras.
"Ayo sayang,,minum minum"
Brian memberikan air untuk Delia.
Tapi Delia semakin merintih kesakitan,Brian semakin panik saat melihat ada darah yang keluar.
Brian langsung menekan tombol darurat.
Dokter dan perawat juga langsung mendekat ke kamar Delia.
Melihat ada darah di celana dan sprei,akhirnya segera para perawat itu membawa Delia ke ruang tindakan.
Brian dengan gemetar terus mengikuti
kemana istrinya dibawa.
"Masssss,," Delia terus memanggil manggil suaminya.
"Tenang sayang,aku disini,,"
"Maaf tuan,tuan bisa menunggu diluar"
"Tidak bisa!aku harus masuk!"
"Baik lah,tapi saya mohon,anda juga tenang,,dan nanti tetap berada dibalik tirai."
"Iya!"
Brian ikut masuk keruang tindakan,tapi sesuai janjinya dia hanya menunggu dibalik tirai.
Berkali kali Brian meraup wajahnya frustasi.
Dia benar-benar takut,
"Ya Allah,,jaga istriku dan calon anak kami ya Allah,,aku mohon"
Waktu berjalan sangat lambat bagi mereka.
Mondar mandir kesana kemari,hanya itu yang bisa Brian lakukan.
Saking takutnya,ia akhirnya mengirim pesan pada Bibi Mira dan Fani terkait kondisi Delia yang kembali merasakan sakit.
Keduanya pun berencana menyusul Brian kerumah sakit.
Setengah jam sudah ketegangan ini berlangsung.
Dokter akhirnya keluar,melepas sarung tangan penuh darah dan membuangnya,kemudian mencuci tangannya.
Brian yang sudah tidak sabar akhirnya mendekat.
"Bagaimana istri saya dok??"
"Istri anda masih dalam pengaruh obat bius,,mari kita bicara disana"
Dokter mengarahkan ke sudut lain masih diruangan yang sama.
"Silahkan duduk tuan"
titah Dokter.
"Bagaimana kondisi istri saya dan calon anak kami dok?"
__ADS_1
Brian semakin tidak sabar menunggu jawaban dari dokter Sisca.