
3hari sudah Brian,Delia dan Oma berlibur ke puncak.
Liburan mereka menjadi lebih indah karena kehadiran Seruni disana.
Omapun sudah berkenalan dengan gadis kecil yang sangat lucu,,
Selama perjalanan pulang,Oma terdiam menatap jauh keluar jendela mobil.
"Oma?are you Oke Oma?"tanya Brian.
"Hmmm..I'm Oke,,"
"Tapi kenapa Oma diam,,biasanya kan Oma bawel" goda Brian.
Delia langsung menyubit suaminya.
"Mas,,,!"
"Oma lelah ya? Mas,,aku pindah duduk dibelakang ya,,biar bisa mijitin kakinya Oma.." lanjut Delia.
"Tidak usah nak..Oma..Oma hanya sedang bingung dengan perasaan Oma"
"Bingung kenapa Oma?"tanya Delia.
"Oma selalu terbayang wajah anak itu,entah itu karena iba atau.."
"Atau apa oma?"tanya Brian.
"Atau karena wajahnya,sangat mirip dengan ibumu waktu seumurannya ya,,Oma jadi rindu dengan ibumu Ian?Rasanya berat banget ninggalin anak itu"
"Perasaan berat itu sama dengan apa yang aku rasakan Oma"batin Brian.
"Ya sudah,kapan-kapan kita main lagi dengan Seruni ya Oma,Delia tahu kok rumahnya yang di Bandung.."
"Oh ya?Baiklah,,kapan-kapan kita kesana mengobati kerinduan Oma dengan ibumu"
***
Keesokan harinya
Setelah jam istirahat kantor Brian menemui dokter Anye,untuk menanyakan tentang adiknya.
"Dok,keistimewaan apa yang adikku miliki saat lahir?"
Dokter Anye mencoba mengingat ingat kondisi bayinya saat itu.
"Kalau tidak salah,dia mengalami kaki CTEV bagian kanan. Oleh Pramesti bayi itu langsung dibawa pergi dan aku menyarankan untuk sementara di gips dan ketika umurnya dan fisiknya udah cukup mampu,maka harus dioperasi."
"CTEV? Kaki kanan? " Brian terkejut,karena itu sama seperti Seruni.
"Iya,,dia juga memiliki tanda lahir di punggung sebelah kiri,sebuah tahi lalat."
"Apa mungkin Pramesti itu adalah Titi?"
"Entah tuan,setahu saya selama jadi perawat Pramesti di panggil dengan nama Esti,bukan Titi.Sayang sekali tuan,saya tidak ada foto untuk mempermudah pencarian."
"Oke,tidak apa-apa,,,aku yakin,jika Allah sudah berkehendak,maka aku akan menemukan adikku. Ya sudah,terimaksih atas informasinya..saya permisi dok"
"Sama-sama tuan,,"
Brian kembali kekantor,ia meminta istrinya mengirimkan Foto-foto saat acara grand opening toko kue kemarin.
Deliapun mengirim foto-foto tersebut.
Brian menelpon Soni untuk keruangannya.
__ADS_1
"Son! Selidiki wanita ini! Apa benar dia pernah bekerja di toko kue atau di klinik ****"
"Ada apa dengan dia tuan?"tanya Soni.
"Ada kemungkinan,dia adalah ibu angkat adikku"
"Maksudnya,dia adalah Pramesti si perawat itu?"
"Iya,,dan nanti akan aku kirim alamatnya yang ada di Bandung. Suruh orang kepercayaan kita untuk menyelidiki keluarga Pramesti. "
"Baik!"
"Ini pekerjaan mudah,jadi aku tidak mau menunggu lama!"
"Siap tuan"
Soni pun langsung pergi,menyuruh orang-orang kepercayaan mereka untuk menjalankan tugas. Termasuk menyelidiki lagi Rumah sakit tempat nyonya Lidia memeriksakan kandungannya dan melahirkan.
Benar,dalam waktu 26jam mereka menemukan titik terang,dan langsung melapor pada Brian,yang saat itu dalam perjalanan akan ke rutan.
Brian memakai earphone dan menerima telpon Soni.
"Hallo Ian,,aku sudah dapat informasi itu"
"Bagus! Bagaimana?apakaha benar Esti itu Titi?"
"Benar,aku menemui orang yang dulu memberikan alamat dokter Anye pada kita,dan dia paham dengan Pramesti. Kemudian aku telusuri jejaknya,benar,dia yang membantu proses operasi ibumu dan membawa adikmu pergi"
"Oke,berarti Filling Oma dan aku benar,Seruni adalah adikku,,lalu dimana suaminya bekerja?"
"Suaminya saat ini bekerja di sebuah klinik diJakarta,nanti aku kirim alamatnya."
"Oke,,sebenarnya dia sudah memiliki nomer ponselku,tapi sampai detik ini dia belum menghubungiku."
"Iya,akupun berniat seperti itu,karena hanya dia yang mau berkomunikasi dengan baik. Bu Titi terkesan menghindar dan menutupi semua dariku padahal dia tahu akulah kakak Seruni."
"Oke,sekarang saja atau..."
"Nanti saja Son,aku sedang menuju Rutan"
"Oh,,ya sudah,salam untuk ayahmu,maaf aku belum bisa menjenguk"
"Hmmm"
Tut tut tut
Brian langsung mempercepat laju mobilnha menuju Rutan. Saat diparkiran,Brian berpapasan dengan Hans.
Brian menatap Hans tajam,nampak sekali dia tidak menyukainya.
"Ka,,"Hans mencoba menyapa namun Brian memalingkan wajahnya,ia kenakan kacamata hitam den pergi melewati Hans.
Diruang besuk
"Ian,,terimakasih nak,kamu mau menemui ayah." Atmajaya memeluk anaknya erat.
"Aku kemari ingin memberi tahu ayah sesuatu"
"Apa nak?"
"Anak yang dikandung oleh ibu masih hidup,adikku masih hidup,cepat atau lambat aku akan buktikan kalau itu adalah anak ayah! Sudi atau tidak sudi ayah harus menerimanya!"
"Apa?masih hidup?bagaimana mungkin?"
"Mungkin saja!"
__ADS_1
Brian langsung menceritakan kronologi kelahiran bayi itu.
"Lidia,,lidia ternyata sudah mempersiapkan semua"
"Iya! Karena ibu sudah tahu kebusukan kalian!! Terlebih ibu selalu diteror oleh selingkuhan ayah itu! Sebagai suami harusnya ayah peduli pada ibu,tapi justru ayah menambah penderitaan ibu,,"
"Maafkan ayah nak,,ayah benar-benar menyesali semua,,ayah tahu ternyata semua ini karena Widodo dan Yesi yang sengaja menghancurkan kita. Jika ayah bisa mengulang waktu,ayah tidak akan seperti ini..rasa iri ayah pada Yosep tidak akan separah ini"
"Bagus lah ayah menyesal!!" Brian selalu ketus pada ayahnya.
"Ian,,apa kamu sudah tahu,,kalau,,kalau Hans itu adik mu juga?"
Brian menyunggingkan sebelah bibirnya,tanda tak suka.
"Ian,,ayah titip adik-adikmu ya,,sayangi mereka,,terima mereka khususnya Hans,,dia tidak tahu apapun,,ayah mohon,,"
"Aku permisi! Ini ada makanan kesukaan ayah,Delia yang buatkan khusus untuk ayah"
Brian meninggalkan tempat makan dihadapan ayahnya,lalu pergi.
Dia tidak ingin membahas Hans lebih lama dengan ayahnya.
Diluar,nampak Hans tengah menunggu Brian dia dekat mobilnya.
"Ck!! bocah itu!!" gerutu Brian sembari mendekati mobilnya.
"Minggir!!" titah Brian.
"Kak,beri aku waktu untuk bicara"
"siapa yang memberi hak padamu memanggilku Kak!" celetuk Brian dingin.
"Tubuh kita yang memberi ku hak,disini,,disini,,ada darah yang sama yang mengalir Kak! Sudah lama aku mencari Kakak hanya untuk meminta maaf atas kesalahan ayah kita."
"Omong kosong apa ini! aku banyak urusan! enyahlah dari hadapanku! kalau bukan dikantor polisi,kamu sudah aku hajar tau!"
Hans akhirnya menepi dan membiarkan Brian masuk ke dalam mobilnya.
Segera Hans mengikuti laju mobil tersebut dengan moge nya.
Sampai disuatu tempat,Brian menepikan mobilnya ,begitu juga Hans.
Ia melepas Helm dan menghampiri Brian yang turun dari mobil.
Tanpa aba-aba Brian langsung menghajar Hans.
Hans tidak membalas,dia hanya berusaha menghindari pukulan Kakak tirinya.
Sampai akhirnya pukulan itu mengenai tubuh Hans,dan membuatnya tersungkur,dan berdarah.
Orang yang ditepi jalan pun mencoba melerai mereka,dan membantu Hans berdiri.
"tuan,,anda tidak apa-apa?"tanya salah satu orang.
"Tidak apa apa,kalian bisa tinggalkan kami,,ini urusanku dengan Kakakku,,"
"anda yakin tuan??"
"Iya,kami baik-baik saja"ucap Hans meyakinkan.
"Kak,ayo kita bicara baik-baik,,aku mohon!!"
Setelah puas menghajar Hans,akhirnya Brian mengikuti motor Hans.
Hans mengajaknya ke sebuah kafe kecil tak jauh dari tempat mereka berkelahi.
__ADS_1