
Setelah selesai mandi,Delia menuruni tangga menuju meja makan.
Brian,Oma dan Atmajaya sudah mulai menyantap hidangan sarapan mereka dengan lahap.
Oma sama sekali tidak mengomentari makanan yang sengaja Delia masak khusus untuknya.
Brian menatap istrinya yang sudah rapi dengan mini dress dengan lengan terbuka,dan bagian dada yang juga sedikit terbuka.
Omapun menatap cucu menantunya dengan sinis,lalu menghentikan makannya. Membanting sendok dan garpu yang ada ditangannya keatas piring yang masih terisi makanan setengah porsi.
"Aku sudah tak berselera makan!! Sarapannya tidak enak sama sekali!" Bohong oma Olivia,sebenarnya dia sangat menyukai masakan Delia,hanya saja,dia ingin Delia tahu bahwa saat ini dia sangat membencinya.
Delia yang baru sampai dimeja makanpun mengetahui maksud Oma.
Dia tetap tersenyum karna dia tahu,sebelum ia sampai dimeja makan,ia melihat Oma makan masakannya dengan lahap,begitu juga Atmajaya dan suaminya.
Brian membiarkan oma meninggalkan meja makan,ia tahu benar Oma masih menyimpan dendam pada Delia,dia berniat akan segera membuktikan pada Omanya.
Dia tahu benar Omanya,tidak bisa semudah itu percaya pada perkataan,sebelum dia mendapatkan bukti nyata.
Jadi percuma saja jika Brian berdebat dengan Oma.
Sementara itu Atmajaya merasa senang kara ibu mertuannya masih percaya dengan perkataanya bahwa Delia adalah anak pembunuh. Terlebih saat itu Oma Olivia memang sudah lama tidak menyukai Yosep. Jadi sangat mudah baginya untuk meyakinkan Oma.
"Biarkan kali ini aku menjadi penonton,ibu mertuaku sendiri yang akan membuat wanita itu pergi dari hidup putraku! Aku tidak perlu repot-repot menyingkirkannya,karna aku tidak mau Brian membenciku tapi aku juga tidak akan rela kalau dia menjadi bagian hidup putraku ." Batin Atmajaya.
"Kamu mau kemana?"tanya Brian pada Delia.
"Hari ini aku mau mengerjakan skripsi di rumah Dera mas,"jawab Delia sembari mengoles selai di rotinya.
"Kejakan dirumah kita saja!aku tidak mau kejadian kemarin tulang lagi! Kamu mengerti!"titah Brian tegas.
"Tapi mas,,"belum usai Delia mengungkapkan alasannya Brian langsung menyelanya.
"Jangan membantah!!"
"Oke,aku akan menyuruh mereka kerumah."jawab Delia lemas.
Sebenarnya setelah selesai mengerjakan skripsi Vivi dan Dera akan menemani Delia untuk kesalon,persiapan acara pertunangan Bimo dan Fani.
Tapi belum sempat menjelaskan tujuannya,Brian sudah menghardiknya dengan tatapannya,membuat Delia menciut.
Dia menghabiskan sarapannya dengan wajah yang kesal.
Atmajaya yang menyaksikannya mengira bahwa hubungan anak dan menantunya itu tidak sekuat apa yang dia bayangkan.
"Sepertinya hubungan cinta mereka tidak sekuat yang aku bayangkan,Brian terlihat masih saja angkuh didepannya..aku harap ini hanya cinta sesaat"batinnya.
"Ian,apa nanti nenekmu akan ikut kekantor juga?"
"Iya,tenang saja ayah tidak perlu cemas karna semua sudah aku selesaikan ! Oma hanya ingin berjalan-jalan disana. Jangan lakukan kebodohan lagi dalam perusahaan Oma,atau aku akan angkat tangan!"
"Berkurang sudah wibawaku dihadapan wanita sialan ini !! Sial! Brian kenapa kamu berkata seperti itu dihadapannya!!" Atmajaya mengambil segelas air dan menenggaknya habis,sambil menggerutu dalam hatinya.
"Ya sudah,ayah akan siap-siap kekantor juga,kamu bisa langsung ke Golden Big dan nenek ikut bersamaku ke HR group"kata Atmajaya,sembari mengelap mulutnya dengan tissu,menyudahi sarapannya.
"Kita berangkat bersama-sama saja yah,nenek ikut mobilku! Aku akan ke HR group karna masih ada beberapa berkasku yang tertinggal disana."
__ADS_1
"Oke,baiklah" Atmajaya meninggalkan meja makan,berjalan menuju kamarnya.
Delia tetap tertunduk dan fokus dengan rotinya. Dia berlaga tidak mendengar percakapan mereka.
Semenjak kembali kerumah Atmajaya,Delia sama sekali tidak peduli dengan Atmajaya,dia menganggap seolah tidak ada ayah mertuanya itu.
Dia masih kesal dengannya,karna tuduhan itu dan kelicikannya yang sudah menyebabkan kedua orang tua Delia meninggal.
Ingin rasanya Delia menyeret si tua itu kedalam penjara,tapi tidak ada bukti apapun yang menyeretnya. Atmajaya sangat pintar dalam melancarkan aksinya saat itu,kematian ibu Delia benar-benar seperti kecelakaan.
"Jangan melamun!habiskan lalu ikut aku kekamar!" Brian membuyarkan lamunan Delia.
"Iya!"jawab Delia singkat.
Didalam kamar Brian langsung mengacak acak isi lemari.
"Mas,ngapain si ...udah diberesin juga!emangnya kamu nyari apaan!?" Gerutu Delia kesal karna setelah masuk kamar hanya itu yang dikerjakan Brian.
"Aku tidak suka kamu pakai baju yang kurang bahan seperti itu!terlebih kamu pergi tidak bersamaku!!"
"What?kurang bahan apanya!!"
Brian berdiri lalu mendekat kearah Delia.
Tangannya menarik ujung dressnya.
"Ini apa!!satu cengkal diatas lutut!"
"Lalu ini!" Brian menarik pakaian bagian dada yang sedikit terbuka, terlihat belahan dada # mengintip.
Brian meraup wajahnya kasar,lalu dia mengambil jasnya,dan memakaikannya ditubuh Delia.
"Apaan si mas,,ga usah,,lagian aku dari sini juga langsung kerumah kok!"
"Kamu lupa!dirumah ada berapa pasang mata bodyguard??apa kamu pikir mereka tidak punya hasrat??"
"Hahahaha...kamu lebay mas,kok jadi over gini,gak lucu agh...lagian siapa suruh mbayar bodyguard sebanyak itu,,lain kali cari bodyguard yang melambai aja mas..kan gak doyan ma aku..heheheh" Delia terkekeh dan menggoda Brian yang terus menatapnya dingin.
"Jangan ketawa!gak lucu! Inget! Jangan lepas jas ini sebelum kamu ganti pakaianmu itu!!"
"Iya om bosss...hehehehe"
Brian menggelengkan kepalanya,menyunggingkan senyuman tipis.
"Bagus,aku berangkat dulu ya sudah siang,kamu jaga diri!"
Brian mengecup kening Delia dengan cepat.
"Oiya mas,nanti sore jangan lupa ada acara lamarannya Fani mas,kamu bisa pulang lebih awal kan?"
"Aku usahakan"
Brian mengusap rambut Delia.
"Makasih mas.."
"Hem.."
__ADS_1
***
Dirumah Fani sudah mulai ramai dengan orang-orang yang sedang mendekor ruang tengah untuk prosesi lamaran.
Sementara itu,Fani masih saja disibukan dengan beberapa pekerjaanya.
Seharian dia dikamar,jari jemarinya terus menempel pada keyboard laptopnya.
"Haduhhhh...entah kenapa Roby setega ini ama gue,dihari lamarannku dia masih memberiku pekerjaan seabreg!!oh my GOOD..hufh.." Fani merasa lelah dengan pekerjaanya.
"Harusnya kan dia merekrut asisten atau sekertaris baru,biar pekerjaanku sedikit ringan,," gerutunya kesal.
Kring kring kring
Ponselnya berdering,nampak satu panggilan dari Roby.
"Halo tuan Roby"ucap Fani.
"Apa data yang aku minta sudah selesai?"tanyanya.
"Sebentar lagi tuan,10 menit lagi saya kirim ke email tuan"
"Bagus,,oiya,maaf aku menganggu acara mu. Aku tahu saat ini kamu pasti sedang menggerutu,iya kan!"
"Gila,tau dari mana,,duh..Roby benar-benar tok cer fillingnya,"batin Fani.
"Hallo Fan?"
"Oh..iya tuan,,.maaf maksud saya,tidak tuan,,saya tidak sedang menggerutu,hanya saja...em.."
"Apa?"
"Em..bolehkan 1bulan ini saya meminta patner kerja untuk membantu pekerjaan saya tuan?karna,saya harus mempersiapkan pernikahan ini...em,i i itu itu si kalau tuan mengijinkan.." Fani memberanikan diri meminta ijin pada Roby,meskipun dia tahu jawabannya pasti tidak.
"Tidak bisa"jawab Roby membuat Fani lemas.
"Ya sudah tuan,tidak mengapa..aku akan mencoba mengatur waktuku.."
"Tidak bisa semudah itu mencari patner maksudku,,aku mau kamu cari patner yang bisa dipercaya,aku mau 3hari lagi patnermu harus sudah ada dikantor. Kalau tidak terpaksa kamu terus bekerja sendiri."
"Serius tuan?aku boleh cari patner??terimaksih tuan..."
Fani merasa lega,,
"Oke,aku tunggu emailmu."
"Siap tuan,,oiya,,kalau tuan berkenan,kalau tuan tidak sibuk bolehkah saya mengundang tuan keacara pertunangan kami?"
"Aku usahakan.."
"Terimaksih tuan Roby.."
"Hem,sama-sama"
Robypun akhirnya mematikan ponselnya.
***
__ADS_1