
"Singkat cerita,ternyata Lidia juga satu kampus dengan Yosep dan Tante.
Kami mencintai pria yang sama.
Tapi saat itu Yosep lebih memilih Lidia.
Setiap kali Lidia bertemu denganku,dia selalu mempermalukan ku dan menjatuhkan harga diriku didepan Yosep.
Tante benar-benar sakit hati,,terlebih Atmajaya dulu ikut menghinaku,dia dan gengnya pernah melecehkan ku,karena dia pikir aku wanita cupu yang haus belaian.
Tante masih ingat benar,,
Saat itu ada acara kampus,Atmajaya bermaksud ingin membuatku kapok berurusan dengan mereka.
Tante dikurung didalam ruangan,dan Atmajaya beserta temannya dalam keadaan mabuk menghampiriku. Mereka berempat berusaha melecehkanku,saat itu aku melihat Yosep melintas,dan sempat aku meminta tolong padanya. Tapi Yosep mengacuhkanku,dan akhirnya kesucian tante direnggut oleh mereka.
Dalam ketidak berdayaan ku, aku berusaha menghubungi kakak untuk menjemput ku.
Kami akhirnya pindah ke Bali,karena aku selalu dibully karena fisikku,tante dulu sangat cupu dan keuangan kita sangat minim.,akhirnya Kakak bertekad mengubah penampilanku agar tidak ada lagi yang menghina Tante Tan,,Kakak mencari uang untuk mempermak wajah tante,sampai seperti ini.
Kami tidak peduli berapa banyak yang harus kami keluarkan.
Akhirnya kami datang,untuk menghancurkan hubungan mereka bertiga,Yosep,Lidia dan Atmajaya.
Termasuk mengeruk semua hartanya,sebagai gantinya"
"Tante..." Tania memeluk tantenya,kemudian mematikan alat perekam yang ia sembunyikan dibawah selimutnya.
"Maafkan tante,melibatkan mu,,dalam misi ini. Ayahmu berkali kali bilang,jangan pernah gunakan hati untuk menjalankan misi ini,,tapi tante pun tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mu. Karena ayahmu tidak pernah memberi tahu atas dasar apa dendam itu ada."
"Tante,,,terlepas dari semua itu,Tania berharap,bukan tante yang membunuh tante Lidia..iya kan tante?itu bukan tante?"
Yesi hanya mengangguk.
Flash On.
Brian dan Soni meraup kasar wajahnya.
"Hufh..jadi ini masalahnya.."
Ucap mereka bersamaan.
"Iya,,maaf kan keluarga kami , lagian ini sepenuhnya bukan kesalahan ayah dan tanteku,ayahmu,ibumu dan ayah Delia juga bersalah dalam hal ini! Jadi aku mohon,ringankan tuntutan pada Ayahku,,aku mohon,,Tanteku juga butuh keadilan atas kejadian yang dulu menimpanya."pinta Tania pada Brian.
"Maaf Tan,semua juga butuh keadilan,,apa yang mereka semua lakukan salah,sudah melanggar hukum,jadi kita serahkan semua pada pihak yang berwajib. Maaf jika selama ini kami terlalu menekan mu"
Tania terus menangis terisak. Ia membayangkan bagaimana jika ayahnya terlibat dalam pembunuhan itu.
Soni dan Brian mencoba menenangkan.
Brian menepuk pundak Tania.
__ADS_1
"Tan,kamu tidak sendiri,,,kami akan tetap menjadi keluargamu,,kita hentikan dendam ini,mereka yang memulai,biarkan mereka yang mengakhiri. Kita tidak usah meneruskan dendam yang tidak akan pernah ada untungnya. Kamu paham kan Tan? Aku dan kamu,kita sama-sama merasa berat melewatinya. Ayah kita,,ayah kita sama-sama didalam penjara dan harus menanggung semua perbuatannya mereka.
Banyak pihak yang lebih menderita dari kita,,para korban lain yang tidak bersalah,terpaksa mereka harus menderita selamanya,termasuk juga Delia."
"Khuk khuk khuk...apakah,,apakah mereka akan dihukum mati Ian?"tanya Tania ketakutan.
"Tan,semua sudah ada aturannya,polisi akan melakukan penyidikan terlebih dahulu. Apapun hasilnya nanti,aku harap kalian bisa sabar dan tabah." Sahut Soni.
Cukup lama Soni,menguatkan kedua sahabatnya Brian dan Tania.
Sampai magrib menjelang,mereka pun memututuskan untuk pulang.
"Oiya Tan,barusan pengacaraku memberi kabar,,rumah dan apartemenmu sudah disegel,begitu juga rumah bibimu yang di Bali dan perusahaan ayahku di Lombok.
Jadi untuk sementara,tinggalah dulu di apartemenku" ucap Brian.
"Tapi,,,"
"Tidak apa,disana kosong,tidak ada siapapun. Oma sudah tinggal dirumahku dengan Delia."
"Baik Ian,terimakasih"
"Ini kuncinya" Brian memberikan sebuah kunci apartemen pada Tania.
***
Dirumah, saat makan malam Brian menceritakan pada Oma dan Delia tentang semua yang Tania informasikan.
"Iya,,dia sama sepertiku,hampir saja diperalat untuk menutupi keserakahan orang tua kita."
"Pantas saja Widodo dan Yesi memiliki ambisi yang sangat membara,,ternyata harga diri mereka sudah terlebih dahulu dijatuhkan oleh keluarga kita mas,,mungkin aku akan semurka itu jika posisiku seperti Yesi"
ucap Delia lagi.
"Iya Del,mereka semua salah,,cara mereka salah dalam menuntut keadilan.
Tapi,semua sudah terjadi,ini menjadi pelajaran buat kita,gunakan mulut kita sebaik-baiknya,,karena kita tidak tahu lawan bicara kita,bagaimana perasaannya.
Lihat,pembulian yang ayah dan ibu kalian lakukan akibatnya bisa sefatal ini.
Oma pun kecewa dengan kenakalan Lidia dahulu." timpa Oma.
"Tapi sekarang Oma bangga karena kamu tetap menegakan keadilan meskipun dia ayahmu sendiri. Oma bangga pada mu nak..begitu juga pada Tania.
Dan padamu juga Del,,meskipun awalnya ini berat untukmu,kamu mampu bertahan dan bersabar dalam melewati setiap ujian." timpa Oma
Delia tersenyum kemudian memeluk Oma manja.
"Aku bertahan karena aku yakin,kalian orang baik,,kalian sumber kekuatanku,,"
"Justru kamulah sumber kekuatan Sayang,,coba lihat,para korban itu,mereka hampir putus asa,tapi kamu datang terus membawa motivasi dan dukungan pada mereka."ucap Brian.
__ADS_1
"Korban?"tanya Oma.
"Iya Oma,Brian saat itu diajak Delia berkunjung kerumah orang-orang yang menjadi korban kemurkaan ayah. Pembakaran pabrik,kecelakaan armada bus dan kebakaran Klinik,itu semua rencana Widodo dan ayah yang menjalankannya."
"Astagfirullah,,tega sekali mereka."
oma terkejut.
"Itu alasannya kenapa Delia mau menerima 2 Milliyar dari saya,karena sebagian uang tersebut digunakan untuk membuka Klinik,lalu selebihnya untuk mereka."
"Masya Allah,,Delia,,,Maafkan Oma sudah menuduhmu"
"Tidak mengapa oma,,aku sudah melupakannya Oma."
jawab Delia lembut.
"Oiya Ian,,kalian saat ini kan masih sibuk dengan kasus dan lain-lain,,em,,Oma minta,jika semua sudah selesai,Oma ingin kalian fokus dengan masa depan kalian ya.."
Perkataan Oma,tiba-tiba menghentikan gerakan tangan Brian dan Delia yang tengah memegang sendok garpu.
Mereka berdua saling melempar tatapan.
"Maksud Oma?"tanya Brian.
"Iya,Masa depan kalian,penerus kalian,,alias cicit untuk Oma.."
Seketika Delia menelan ludah dengan kelu.
Ia kembali menatap suaminya.
Brianpun tersenyum senang,seolah keinginannya mendapat dukungan dari Oma.
"Oh,tentu Oma..Brian sudah pikirkan itu,,Brian akan kejar setoran Oma,,Oma akan mendapat 3 atau cicit dalam waktu singkat."
Ucap Brian bersemangat.
"What??emang mesin foto copy! Enak aja kalau ngomong..." Gerutu Delia.
Oma dan Brianpun menertawakan wajah Delia yang memerah.
"Hehehe,,,tau engga sayang,semenjak aku vidio call dengan Seruni,aku tu semakin ngebet pengin punya anak,,makannya kita harus kejar setoran dong.." Brian tidak malu-malu menggoda istrinya di depan Oma.
Delia semakin membulatkan matanya,melotot kearah suaminya.
"Seruni siapa Ian??"tanya Oma.
"Dia sepupunya Keke Oma,sahabatnya Delia."
"Owh,,,nah loh,Brian udah mulai suka anak-anak,,itu tandanya suamimu siap menjadi bapak Del,,"
"Iya Oma,Delia juga sudah berjanji,,jika kasus ini selesai,,Delia mau fokus " jawab Delia pasrah.
__ADS_1
"Nah gitu dong,,,"jawab Brian dan Oma kompak.