
***
23.00
Cklek
Atmajaya menyalakan lampu ruang tengahnya saat mendapati ada seseorang yang masuk.
"Malam sekali kamu pulang nak,apa pekerjaanmu banyak dikantor?"
Tanya Atmajaya yang tengah berdiri disamping tangga. Kedua tangannya ia sembunyikan di saku celananya.
Brian mengingat semua kebenaran dari Dr.Anye.
Ingin rasanya dia menghajar wajah ayahnya,namun ia tahan..dia tidak ingin membangunkan semua orang dirumah.
"Apa peduli ayah! Ayah sendiri jarang pulang,aku tidak pernah peduli!" Jawabnya ketus.
Dia terus berjalan mendekati ayahnya,dengan tatapan menantang.
"Ian! Lusa bisakah kamu menggantikan ayah ke Dubai"pinta Atmajaya.
"Aku sibuk! Cari saja orang lain!"
Brian melewati ayahnya yang masih berdiri di samping tangga.
"Ian! Aku ini ayahmu! Setidaknya hargai aku!"
Hardik Atmajaya dengan nada mulai meninggi.
Brian menengok ,menyunggingkan senyuman sinis kearah ayahnya.
"Mau ayah apa! Aku berangkat ke Dubai sementara ayah disini akan kembali fokus mencari kotak itu! Iya!! Perlu ayah tahu,kotak itu tidak pernah ada,tidak akan pernah ditemukan!! Aku akui,ibuku pandai mengelabuimu!!"
"Apa maksudmu! Aku memang benar menginginkanmu mengambil proyek di Dubai demi perusahaan kita,itu klien besar! Jadi jangan alihkan pembicaraan kita! Aku juga sudah melupakan kotak itu! Dan mungkin kamu benar kotak itu tidak ada,lupakan saja!"
"Proyek Dubai adalah proyekmu!perusahaanmu! Bukan urusanku! Dan masalah kotak itu memang sudah aku lupakan,tapi kematian ibu belum aku lupakan!! Aku akan menghabisi siapa saja yang terlibat dalam kematian ibu!! Ibu bunuh diri bukan tanpa alasan!" Ketus Brian seraya menunjuk dada kiri ayahnya.
"Brian!!sopan lah pada ayahmu! Aku ini ayahmu!!"
"Oh ya?? Ayah apa yang tega mencelakakan menantunya sendiri,,sedangkan alasan ayah untuk membenci Delia sudah tidak ada lagi! Harusnya ayah menyelidiki sahabat ayah sendiri,yaitu Widodo! Atas dasar apa dia menghasut ayah untuk menfitnah Yosep! Sampai kapan ayah mau disetir olehnya! Dan satu lagi ,,Berhenti menjodohkanku dengan Tania! Karna itu sama saja menabuh genderang perang denganku!! "
"Mau sampai kapan kamu keras kepala seperti ini!"
"Sampai aku mengetahui penyebab kematian ibu!sampai aku puas membalaskan dendamku! Sampai aku bisa menyadarkan orang itu betapa menjijikannya dia!"
Atmajaya memucat,tatapan Brian kali ini benar-benar menghardiknya.
"Kenapa,,kenapa Brian menatapku seperti itu,aku belum pernah melihat tatapan semurka itu,..jangan-jangan..tidak-tidak-- dia tidak mungkin mengetahui yang sebenarnya karna semua bukti sudah lenyap..dan kotak itu tidak akan pernah ditemukan.."
Batin Atmajaya ketakutan.
"Wajah ayah pucat??tidurlah yah,,tak baik orang tua bergadang!!" Senyuman mengejek tergambar di bibir Brian.
Ia melanjutkan langkahnya,menaiki tangga memasuki kamar.
Ia terkejut ketika mendapati istrinya tengah tertidur di lantai,bersandar di tepi tempat tidur.
Brian mengambil satu persatu foto yang berserakan di pangkuan istrinya.
Ia mengambil ponsel Delia,meletakan semua dimeja.
__ADS_1
"Ada apa ini?"batinnya,rupanya Brian tahu sesuatu telah terjadi pada istrinya,wajah sebam istrinya menandakan ia habis menangis.
"Tidak mungkin hanya karna aku tak pulang dia menangis seperti ini"ucapnya lirih,seraya membopong istrinya untuk dipindahkan keatas tempat tidur.
Ia meluruskan kaki istrinya,kemudian menyelimutinya.
Kemudian Brian berbaring disebelah Delia,ia memeluknya.
Merasa ada seseorang disampingnya,Delia menggeliatkan tubuhnya menghadap ke tubuh Brian.
Matanya masih terpejam,aroma maskulin suaminya membuatnya merasa nyaman,ia menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak suaminya.
Brianpun terkekeh,melihat posisi istrinya saat tidur meringkuk memeluknya,menyembunyikan wajah cantiknya ditubuhnya.
"Ini yang membuatku tak bisa tidur jauh darimu,,"gumam Brian.
Brian memutuskan tak jadi menginap dikantor.
Disana ia berkali-kali mencoba memejamkan matanya,namun sulit untuk tidur tanpa ada Delia disampingnya.
Tadi memang pikirannya sangat kacau,tapi dengan melihat istrinya saja,itu cukup membuatnya tenang.
"Kamu segalanya untukku .."gumamanya lagi.
***
04.30
Delia terbangun,ia terkejut ketika dirinya sudah ada di atas kasur,dan mendapati suaminya sudah ada disampingnya.
"Mas,,mas..."Delia menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
Brian menggeliat,mengusap-usap matanya,tersenyum dan berkata.
"Janji apa mas?" Delia merasa kebingungan.
Brian menarik tangan Delia,membuat Delia jatuh diatas tubuh kekar suaminya.
Cup
"Panggil aku sayang saat kita berdua"
"Heee..iya maaf Sayang..." Delia mencium pipi suaminya.
"Sholat yuk"ajak Delia.
Mereka berduapun melaksanakan sholat shubuh berjamaah.
Usai sholat,perasaan Brian lebih tenang.
Dia mengecup kening istrinya dan meraih tangannya.
"Maafkan aku ya Sayang,kemarin aku tidak bermaksud ketus denganmu,,"
"Iya mas,,eh..sayang...aku tahu kok,kamu pasti lagi banyak kerjaan iya kan,,pikiranmu terkuras disana.." Delia bersandar manja pada suaminya.
"Sebenarnya ada yang mau aku ceritakan ,tapi tidak sekarang dan tidak disini,,ini mengenai ibuku."
"Apa itu sayang!?apa kamu sudah tau motif dibalik kematian ibumu?"
"Nanti saja aku ceritanya,,kamu katakan dulu,kenapa kamu semalam menangis?apa karna aku tidak pulang?"
__ADS_1
"Bukan mas,,bukan karna itu,,aku menangis karna..karna aku sedih,sampai sekarang Oma tidak bisa mempercayaiku,,aku sudah menunjukan foto dan vidio kesaksian dari saksi yang dahulu..tapi Oma tetap saja tidak mempercayaiku,dia justru menuduhku memanfaatkan semua ini demi uang 2 M itu,,sakit rasanya mas,,Aku sesakit ini karna aku berharap besar pada Oma,,aku berharap Oma menyayangiku..Aku cemburu saat Oma bisa bercanda bersama Tania,aku cemburu saat mereka bisa pergi bersama dan menghabiskan waktu bersama.
Seminggu ini aku sengaja tidak keluar rumah agar fokus mengurus Oma dan lebih dekat dengannya...tapi apa..dimatanya aku selalu salah.."
Delia kembali meneteskan air matanya."
"Sabar ya Sayang,,semua pasti akan baik-baik saja,setelah semua bukti sudah aku dapatkan..Bukti yang aku dapatkan sekarang hanyalah sebagian..aku akan mengumpulkannya lagi..kalau kamu memang sudah tak sanggup tinggal disini,ayo kita pulang kerumah. Beberapa orang disini sudah aku kendalikan..jadi,aku bisa mengorek informasi dari mereka. Misiki disini aku sudahi,,agar kamu tidak tersiksa diacuhkan oleh Oma."
"Tapi sayang,bagaimana dengan Oma,,siapa yang akane mengingatkannya minum obat,"
"Disini ada bi Ijah,kamu jangan khawatir"
"Baik mas,aku akan kemasi barang-barang kita,,kita akan kembali kerumah."
"Sudah,jangan menangis lagi ya.."Brian menyeka air mata Delia dengan lembut.Kemudian ia mencium kening istrinya.
Delia merasakan kehangatan dan ketenangan hati saat bersama Brian.
Ia yakin,Brian benar-benar tercipta untuknya.
"Sayang,aku mau bantu bi Ijah dulu ya,,kamu mau aku buatkan kopi atau infused water?"
"Buatkan aku infused water saja..."
Delia tersenyum,ia bangun dan merapikan mukena serta perlengkapan sholat suaminya.
Kemudian dia pergi kedapur,lalu kembali membawakan minuman untuk suaminya.
"Rupanya mas Brian sedang mandi"gumamnya saat mendengar suara gemricik air dari dalam kamar mandi.
Delia menyiapkan pakaian untuk suaminya lalu kembali kedapur untuk membantu bi Ijah.
"Bi,aku titip Oma ya.."
"Non Delia mau kemana?"
"Aku mau pulang kerumah bi,,aku menyerah.."
"Non,,"
"Apa bi,,"
"Sebenarnya bibi ingin memberikan sesuatu pada non Delia,tapi..."
bisik Bi Ijah sembari memutar bola matanya mengawasi setiap penjuru.
"Tapi bibi tidak punya keberanian dan kesempatan..karna.."
"Karna apa bi.."Delia semakin penasaran..
Tiba-tiba ada bodyguadr datang menghampiri bi Ijah.
"Non Delia.."bodyguard itu menganggkuk dan tersenyum pada Delia.
"Maaf non,saya ada perlu dengan bi Ijah..."
"Silahkan..."ucap Delia.
Bi Ijah mengikuti langkah body guard itu ke halaman samping.
"Ingat bi! Bibi dilarang bercerita apapun tentang apa yang bibi ketahui..! bibi masih ingin keluarga bibi di desa selamat kan!!"ancamnya.
__ADS_1
"Iya iya..bibi gak cerita apapun kok,,"