
"Baiklah,gini aja mbak,saya akan antar Kakek kerumah mbak Ana ,biar kakek naik mobil saya.
Saya akan pastikan bahwa anda benar-benar kerabatnya,bukan apa-apa mba,saya cuma menjaga saja,karna kakek ini juga kekeh tidak mengakui anda."
"Baiklah, kalau ibu tidak percaya. Mari ikuti saya."ajak Meri
"Kek,kakek ikut mobil saya saja ya...saya antar pulang"bujuk Doktee Anye.
"Iya,saya mau ikut kamu saja nak.."
Mereka berduapun menaiki mobil dan mengikuti kemana Ana menuntunya.
Ana menuntun mereka ke sebuah rumah yang lumayan jauh dari komplek tempat tinggal Dokter Anye. Melewati jalan raya kurang lebih masuk sejauh 1 km.
"Pantas saja kakek kelelahan karna belio berjalan-jalan sejauh ini" gerutu Dokter Anye dalam hatinya.
Mereka sampai disebuah rumah didekat pekarangan dan sawah.
Komplek rumahnya tak sekerap di perumahan yang Dokter Anye tempati.
"Mari masuk Bu,saya akan membuktikan bahwa Kakek ini mang kakeku"ajak Ana
"Baiklah," Dokter Anye pun menuntun Kakek masuk kedalam rumah.
"Silahkan duduk,sebentar aku ambilkan albumnya dan identitas kakek "ucap Ana.
Ana masuk kedalam kamarnya.
Cukup lama Dokter Anye menunggu,diapun sedikit cemas.
Tiba-tiba Brian masuk keruang tamu.
"Selamat sore Dokter Anye."
Suara yang pernah ia dengar itu membuatnya terkejut.
Ia berdiri menoleh kesumber suara,ia terperanga, matanya membola dan tubuhnya gemetaran.
Ia menangkap sorot mata tajam dari Brian.
"Ttt..t..tuan..Bbbbrian??"
Ucapnya kelu.
"Baguslah anda masih mengingatku,duduklah,dan santailah sedikit."
"Mmmaaaf sssaya...hanya mengantar,,Ka kakek ini"lanjut Dokter Anye.
"Terimaksih Dokter Anye sudah membantu ku" ucap sang Kakek,sambil melepas wig,jenggot dan kumis palsu.
"Maaf Dokter,saya harus membersihkan make up ku ini kalau tidak aku akan benar-benar menjadi tua" Soni membuang semua rambut palsunya dan pergi kebelakang meninggalkan Dokter Anye dan Brian sendirian diruang tamu.
Dokter Anye yang masih terkejut terus berusaha menelan salivanya yang terasa berat.
Brian memutari Dokter Anye yang masih berdiri mematung.
"Apa kamu terkejut?Saya sudah peringatkan,Jangan permainkan saya!! Saya benci kebohongan sekecil apapun! Anda pasti tahu maksud saya kan?"
"Tttuan,,sssaya,,,saya...hanya.."
__ADS_1
"Hanya Apa!!! Jangan Berbelit!! Cepat Katakan!" Bentak Brian sudah tak sabar.
"Sabarlah sedikit Ian,,berilah dia minum dulu,,"ucap Soni sembari membawakan segelas Teh hangat.
"Duduk dan minumlah dok,maaf teman saya memang seperti itu,dia tidak tahu caranya menghormati tamu,silahkan duduklah"
Soni meletakan minuman ke atas meja.
"Cepat katakan! Rekaman itu asli atau palsu!!"
Bentak Brian.
Dokter Anye tetap bungkam,matanya memerah menahan tangis.
"Dok,kita berharap anda bisa bekerjasama dengan kita,maka aku akan pastikan anak satu-satumu akan selamat. Anak buah kami sudah standby disana,sedang mengawasi rumah anakmu. Aku akan menelponnya dan lihat apa yang akan aku lakukan untuk anakmu."
"Aku mohon,jangan sakiti anak dan cucuku,dia tidak tahu apapun,,"pinta Dokter Anye.
Soni tetap menghubungi anak buahnya dengan Vidio call.
Kemudian menyerahkan ponselnya pada Brian.
"Lumpuhkan anak buah Widodo yang ada disana segera!! Ambil ponselnya agar tidak bisa menghubungi siapapun. Pastikan anggota keluarga Dokter Anye aman."
Ucap Brian dengan tegas.
"Kamu lihat sendiri kan! Saya berjanji akan membebaskanmu dan keluargamu dari anak buah Widodo. Sekarang ceritakan semua padaku!! Cepat!!"
"Ttterimakasih tuan,,aku aku benar-benar ketakutan tuan,,aku harus pastikan dulu anak dan cucuku disana aman."
"Baiklah! Tunggu kabar dari anak buahku! Dan jangan coba-coba pergi!" Brian terus memberikan tatapan yang tajam membunuh.
"Ana,,,tolong temani dia!"titah Soni pada Ana,Ana adalah sahabat Koko yang kebetulan dia juga jago bela diri dan dapat diandalkan,dia sedikit tomboy. Dia juga pemilik rumah yang sedang mereka tempati.
Rumah itu sebenarnya rumah kosong yang hendak dikontrakan. Sekaligus tempat tinggal Koko sementara selama dia ditugaskan untuk mengintai Dokter Anye.
Ana membawa Dokter Anye kesebuah kamar yang cukup nyaman dengan fasilitas TV dan AC.
Ana juga mencoba mengajak berbincang ringan agar Dokter Anye tidak begitu tegang.
Kurang dari satu jam tiba-tiba ada anak buah Widodo mengetuk rumah tersebut.
Soni mengintip dari cela jendela.
"Sial!!! Orang tadi yang mengancam Dokter Anye!! Pasti dia adalah orang suruhan Widodo!"
"Ada berapa orang?"tanya Brian.
"Dua Ian."
"Sepertinya dia curiga karna dokter Anye tidak kembali kerumahnya. Bagaimana bisa dengan mudahnya dia menemukan keberadaan kita?"
"Biar saya hadapi Bos" sahut Koko.
"Baiklah,aku akan ke belakang memberi kabar Ana."
Ucap Brian.
Brian pun membiarkan Koko sendirian menghadapi kedua anak buah Widodo.
__ADS_1
"Ana! Bawa Dokter Anye ke hotel tempat aku tinggal! Lewat pintu belakang dan bawa motorku !!" Titah Brian
"Baik lah!"
"Dok,percayalah pada kami! Bekerja samalah! Jangan takut!" Brian mencoba meyakinkan dokter Anye.
Akhirnya Dokter Anyepun mengikuti intruksi Ana dan mengikutinya.
Brian dan Soni membantu Koko.
Ternyata anak buah Widodo bukan cuma dua.
Mereka ada tiga orang,alhasil mereka saling beradu satu lawan satu.
Perkelahian pun semakin sengit saat salah satu anak buah Widodo mengeluarkan senjata tajam.
Saat hendak menusuk Soni,Brian langsung menyambar pisau tersebut membuangnya.
Tangannya pun terluka karna goresan belati.
Brian sama sekali tidak mempedulikan luka ditubuhnya. Justru dia semakin membabi buta menghajar semua anak buah Widodo.
Masing-masing diantara Soni dan Koko sudah membekuk anak buah Widodo.
Brian masih sibuk menghajar salah satu dari mereka yang sudah tergeletak lemas.
"Cukup Brian!! Hentikan!!Jangan bunuh dia!" Teriak Soni,mengingatkan.
Brianpun menghentikan aksinya dan membekuknya.
"Son hubungi polisi!!"titah Brian.
Setelah polisi datang,mereka semua digiring ke kantor polisi.
Soni,Koko dan Brianpun ikut dibawa.
Mereka bertiga memberikan kesaksian dan Dokter Anyepun bersama Ana akhirnya menyusul Brian ke kantor polisi untuk ikut memberikan kesaksian.
Akhirnya ketiga anak buah Widodo ditahan dikantor polisi.
Brian,Soni,Koko,dokter Anye dan Ana ,kembali kerumah tadi. Mengambil mobil dokter Anye.
"Mari dok,kami ikut dokter kerumah,agar lebih leluasa membicarakan masalah ini"
"Tunggu!" Ucap Dokter Anye.
"Ada apa dok?"tanya Ana.
"Sepertinya anak buah Widodo memasang alat pelacak di mobilku. Karena setiap kali aku pergi mereka pasti bisa menemukanku! Sebelumnya akupun pernah mencoba kabur tapi selalu gagal"
"Mari kita periksa Son!"ajak Brian.
Brian,Soni dan Kokopun memeriksa seluruh bagian mobil Dokter Anye.
Dan benar,mereka mendapati alat pelacak lalu mereka menghancurkannya.
"Oke,Beres!" Ucap Soni.
"Terimakasih,satu lagi,sebaiknya kita jangan kerumahku,kita bicara di sini saja karna dirumahku ada CCTV dan alat penyadap,karna mereka ingin pastikan bahwa saya tidak akan membuka mulut pada siapapun sekalipun pada anakku sendiri"
__ADS_1