
17.30
Brian jalan setengah sempoyongan,kemudian membaringkan tubuhnya di sofa kamar.
"Mas,,sudah pulang?" Delia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terbungkus handuk.
"Iya sayang,baru aja sampai..hufh" Ia melepaskan dasinya dan melempar sembarang arah.
Merasa suaminya nampak kusut dan lelah,Delia menghampiri dengan cemas.
"Mas,apa pekerjaanmu hari ini membebanimu?kamu keliatan kelelahan mas..apa kamu sakit?"
Delia mencoba memeriksa suhu suaminya dengan punggung tangan.
"Hem.." Brian memijat pangkal hidungnya.
"Yaw sudah,aku buatkan minuman untukmu ya mas...oiya,makan malamnya mau aku bawakan ke kamar mas?"
"Oke,,bisa sayang..aku mau mandi dulu ya.."
Brian pergi ke kamar mandi,sedangkan Delia sebelum meninggalkan kamar ia merapikan tas,jas dan sepatu Brian yang berserakan.
Ia keluar dari kamar membawa box berisi beberapa cucian kotornya untuk diletakan diruang loundry.
"Bi Ani.. masak apa ni..harum banget heeemmm..." Delia berhenti di dapur untuk memuji Bi Ani yang sedang memasak untuk makan malam.
"Masak ini non,,beaf terayaki"
"Emmm...sip..uenak ni kayanya..hee..." Delia melanjutkan langkahnya keruang loundry meletakan box baju kotor.
"Oiya bi,siapin makan malam di nampan ya,kita mau makan dikamar aja,kayanya mas Brian lagi gak enak badan.."
"Baik non...non Delia mau bikin apa?biar bibi aja non.."
"Bikin minuman buat mas Brian bi..aku aja gak papa bi.."
Bi Ani tersenyum,majikannya ini memang sangat baik,berhati lembut pantas saja bisa menghilangkan rasa dendam dihati bos mudanya.
"Bibi kenapa?senyum-senyum sendiri idiiih..." Delia menggoda bi Ani.
"Hehe...non,aku sangat bersyukur bisa bekerja disini,non Delia sangat baik,sabar,pengertian pantas saja tuan Brian akhirnya sangat mencintai non Delia"
"Bi,terimakasih ya..saat aku dirumah ayah,bi Ijah dan bi Ani terus menguatkanku..coba aja kalau bi Ijah juga bisa disini ya bi..."
Ada sedikit perasaan sedih yang tersirat di wajah Delia.
"Non,bi Ijah tidak akan kemana-mana,karna kata bi Ijah,dulu nyonya Lidia berpesan agar bi Ijah terus menjaga amanatnya salah satunya adalah Brian dan Tuan besar."
"Amanat?amanat apa bi?" Dia mulai penasaran.
"Emmm...entah bibi juga tidak tahu,bi Ijah hanya bercerita seperti itu,dan dia menunggu sampai ada wanita yang tepat sebagai pendamping Tuan Brian. Sekarang saya rasa tuan sudah mendapatkannya,."
"Hem..bibi bisa aja..."Delia tersipu malu.
"Beneran...dulu waktu SMA banyak gadis yang sering nyamperin tuan kerumahnya,tapi bibi rasa respon tuan biasa-biasa aja tu.."
__ADS_1
"Masa bi...?kaya semut dong berkerumun..hehee..."
Delia memeluk bi Ani dari samping.
Delia memang tidak pernah memberi batasan atas dirinya dengan asisten rumahtangganya itu,,Delia menganggap bi Ani sebagai bagian keluarganya,makanya Delia tak segan untuk memeluk bi Ani seperti ibunya sendiri.
"Oiya bi,ini makanannya sudah siap?aku bawa ya..?"
"Bentar non,." Bi Ani mengambil nampan dan meletakan hidangan makan malamnya dinampan itu.
"Ini nampan yang satunya biar bibi yang bawa non,,non Delia pasti kesulitan."
"Oke bi..."
Mereka berdua membawa nampan berisi makanan dan beberapa minuman ke lantai atas.
"Terimakasih ya bi..."
Delia melempar senyuman pada Bi Ani yang mulai meninggalkan kamar.
"Sama-sama non..permisi."
Delia sedikit membungkukan badanya, merapikan isi nampannya di meja dekat sofa.
Brian keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk tiba-tiba memeluk Delia dari belakang.
Membuat Delia terkejut.
"Masss...hampir aja makananya tumpah ih.."
"Hemmmm..sayang..."
"Mas,,lepasin,,katanya kamu lelah,,udah gih ganti pakaian trus kita makan,,sebentar lagi magrib loh.."
"Iya iya...." Brian melepaskan pelukanya,dan menuruti perintah istrinya.
"Sayang,,"
"Apa mas?"
"Emmm,,besok aku sepertinya akan pulang terlambat lagi,kamu gak papa kan?
"Ga papa mas,,aku tahu pekerjaanmu,."
Delia menghentikan kunyahannya,sebenarnya sedih,karna semenjak mereka tinggal bersama lagi,Brian belum pernah sekalipun mengajak Delia pergi jalan-jalan layaknya pasangan pengantin baru.
Kadang Delia merasa bimbang.
"Apakah benar,Brian benar-benar tulus mencintaiku?dia bisa secepat itu mencintaiku?dan aku,,akupun dengan cepat mencintainya padahal dulu aku sangat membencinya."batin Delia bergejolak.
"Sayang...kok malah ngalamun.."
"Hem..?apa?"
"Tu kan ngalamun..sini aku suapin"
__ADS_1
Brian mengambil sendok Delia kemudian ia menyuapi istrinya.
"Sayang,besok kalau semua sudah selesai,aku akan mengajakmu jalan-jalan yah,,karna kita kan belum sempat bulan madu.."
"Khuk khuk khuk..." Muka Delia memerah,ia tersedak makanan,dengan sigap Brian meraih gelas dan memberikan minuman padanya.
"Hah,dia kok bisa tau aku yang aku mau si..."batin Delia.
"Pelan-pelan sayang...oiya,em,,apa benar,rumahmu yang dulu disita oleh bank?"
Delia mengangguk pelan.
"Iya mas,dulu ayahku terpaksa berhutang untuk menutup semua kerugian yang kami tanggung,akhirnya rumah kami disita bank,beserta isinya. Kenapa memangnya mas?"
"Ga papa,,em,besok aku sebenarnya akan kesana.."
"Untuk apa mas?"
"Untuk mencari kotak yang ayahku maksud."
"Apa kalian yakin kalau ibumu menitipkan pada ibuku?karna dulu ayahmu dan pak Widodo beserta pengawalnya sudah pernahenggeledah rumah kami mas.."
"Aku yakin Del,,karna ibumu dan ibuku sangat akrab,menurut yang aku dengar dari beberapa orang, sebelum ibuku meninggal,pengawal ayah ada yang melihat ibuku membawa kotak itu kerumahmu,,dan setelah itu pengawal ayah kehilangan jejak kotak tersebut. Apa kamu ingat saat terakhir ibuku datang?"
"Ga mas,,aku dulu terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah dan mengikuti khursus. Aku jugabtidak terlalau memperhatikan sahabat ibu ataupun ayah..yang aku tahu hanya ibumu,karna belio sering sekali main dan bertemu dengan keluarga kami,tapi entah ada apa beberapa bulan kami merasa sulit menghubungi ibumu,hingga akhirnya ibumu datang kerumah untuk yang terakhir kalinya. Tapi aku sama sekali tidak tahu apapun,tidak tahu apa yang mereka bicarakan,termasuk kotak itu."
"Iya iya,,aku memahami mu,,tapi apa kamu ingat dimana biasanya ibumu meletakan benda berharganya?"
"Aku tidak tahu mas,,dulu sebelum rumah itu disita bank,ayahmu saja,tidak menemukan apapun disana.."
"Coba ingat kembali tempat mana yang belum mereka geledah"
"Aku lupa mas,,saat itu aku hanya menangis ketakutan melihat banyak orang berbadan besar mengacak-acak rumah kami."
Delia mencoba mengingat lagi lagi dan lagi.
"Mas,apa besok aku boleh ikut?"
"Jangan sayang,aku takut akan membahayakanmu.."
"Tidak akan mas..aku kan perginya juga sama kamu mas.." bujuk Delia.
Sebenarnya Delia juga ingin bernostalgia mengenang rumahnya..banyak barang-barang peninggalan kedua orang tuanya disana.
"Hem...baiklah..besok kita kesana. Besok kamu ada kuliyah ga?"
"Gak ada mas,paling besok cuma pengajuan judul skripsi aja kok..judulnya belum di Acc,mas mau kesana pukul berapa?"
"Mas sudah janjian kesana habis makan siang"
"Oke,aku yang kekantor atau mas yang jemput aku dikampus?"
"Kalau kamu ikut,mas libur ngantor aja,mas ikut kamu kekampus"
"Ikut kekampus?jangan agh..."
__ADS_1
"Kenapa emangnya?" Brian menatap Delia tajam..
"Semenjak kamu ngumumin pernikahan kita,banyak temen kampus nanyain kebenaranya,trus ada yang julid juga mas..entar kalau mas ikut,bakalan heboh tu mahasiswi-mahasiswi yang gatel!!sebel gue!!" Delia merajuk,ia memanyunkan bibirnya,kemudian menyatukan alisnya.