
Mereka sampai di pantai saat sunrise,,
Mereka mengabadikan moment tersebut untuk berfoto-foto.
Brian yang semula enggan untuk berfoto akhirnya berhasil dibujuk oleh istrinya.
Mereka menuju kesebuah cafe ditepi pantai untuk sarapan.
"Mas,,jadi inget deh waktu kita di Bali,,kamu jemput aku pagi-pagi untuk melakukan perjalanan panjang seharian penuh,,sarapan pagi ditepi pantai"
"Iya,,kapan-kapan kita ke Bali lagi ya,,atau kamu mau pergi ketempat lain?nanti mas siapkan waktu yang tepat"
"Terimakasih ya mas,,coba kalau waktu itu kamu engga ngotot ngajakin aku pergi,mungkin kita engga bakalan sampai seperti ini"
"Semua aku lakukan demi mendapatkan maaf darimu,,dan Allah memudahkan segalanya."
"Mas,,kalau misal,,ini misal ya,,misal aku melakukan kesalahan,apa kamu juga mau memaafkanku?"
"Memang apa salahmu?kamu kembalienjalin hubungan baik dengan Hans?atau dengan pria lain!?enak saja!!kalau masalah itu,tidak ada maaf bagimu!!enak saja !" Brian tiba-tiba mengerutu tak ada hentinya.
"Idih,,,kok kamu gitu si mas,,emang aku cewe apaan,,gampangan??sorry lah ya kalau masalah cowo paten lan..aku kan cuma punya kamu mas" Delia memeluk suaminya manja.
"Beneran?"
"Iya lah,,Beneran Mas mas,,"
"Kalau bukan masalah cowo,trus apa?"tnya Brian semakin penasaran.
"Bentar mas,,aduhhh,,aku mau ketoilet dulu ya,,mau pipis"
"Hmm,,hati-hati ya Sayang"
"Siap boskuuu.."
Saat Brian duduk sendiri,tiba-tiba dia melihat dokter Aan dan menyapanya.
"Dokter Aan"
"Hei,,Brian,,sedang apa disini?"
"Sedang iseng saja dok,,Dokter Aan sedang liburan?"
"Ahh,,sama saya juga sedang iseng,,kebetulan jadwalku hari ini kosong,jadi nyempetin jalan-jalan sebentar"
"Mari gabung dok,,dikita sarapan bersama"ajak Brian.
"Terimakasih Ian,anak dan istri saya sedang menunggu disana" Dokter Aan menunjuk ke arah istri dan anaknya yang tengah didik di meja lain.
"Oke,,baiklah,,selamat liburan ya Dok,,"
"Sama-sama tuan,,selamat liburan,,"
"Oiya nyonya Delia dimana?"
"Oh,dia sedang ke toilet dok"
"Apakah akhir-akhir ini istri andanmasih sering merasa berat dikepala?"
"Emmm,,sepertinya sudah tidak dok,semenjak meminum vitamin dan obat dari dokter."
"Syukurlah,berarti efek KBnya sudah mulai hilang,,"
"Apa dok? KB,,?"
"Iya,,apa tuan baru tahu?"
"Oh,,engga,,maksud saya,,ja jadi itu karena efek KBnya? Termasuk masalah hormon yang sedang ia alami beberapa bulan ini?"
__ADS_1
"Iya,,tapi beruntung,istri anda cuma sekali melakukan suntikan KB itu,jadi semua bisa teratasi,insya Allah dengan obat dan vitamin yang saya berikan akan mempercepat kesuburan nyonya Delia. Semangat terus Ian,,ayo kejar setoran..hehehe.."
"Hahahaha,,dokter bisa aja,,terimaksih ya dok,karena sudah cepat tanggap menangani istri saya.."
"Sama-sama Ian,,semoga berhasil ya,,Ya sudah,saya permisi istri saya sudah menunggu"
"Oh,,iya iya iya,,silahkan Dok"
Brian menghela nafas panjang,ia mencoba menahan amarahnya.
"KB?? Beraninya kamu mengambil keputusan itu tanpa ijin dari ku! Delia Delia,,kenapa kamu seceroboh ini!!" Brian ******* ***** dan memainkan garpu yang ada digenggamannya.
"Hai Mas,,maaf ya,lama,,di toilet sedikit mengantri,,kok makanananya dianggurin mas,,ayo makan" Delia bersiap memegang sendok dan garpunya.
Tapi ia tidak jadi memasukan makanan kedalam mulutnya,saat menyadari ada yang beda pada suaminya.
Raut wajah kesal suaminya tersirat jelas,Delia merasa kebingungan dengan sikap suaminya yang tiba-tiba menjadi terdiam.
"Kamu makan saja sendirk,aku mau kepantai" Brian meninggalkan Delia sendirian,Dengan tergesa gesa Delia menyusul suaminya yang pergi menuju penginapannya yang terletak di tepi pantai.
"Mas ,,tunggu mas,,tunggu aku,,"
Teriak Delia ,sambil berlari kecil.
"Apa yang terjadi dengannya??apa yang salah?"batinnya.
Tanpa disengaja Delia menangkap ada Dokter Aan di sisi lain.
"Astaga!!celaka! Jangan-jangan mas Brian sudah tahu mengenai KB itu,,kenapa bisa ada dokter Aan disini si!! Ya Allah,,,habis aku ,,kali ini bener-bener habis" Delia ketakutan dan terus mengejar suaminya.
"Ya Allah,mas,,tunggu,," Delia mencoba mempercepat larinya,sampai ia bisa meraih tangan suaminya.
"Apa?"tanya Brian dingin.
"Aku bisa jelas mas,,sebenarnya itu yang ingin aku katakan tadi mas,,aku mohon,,jangan marah,dengar penjelasanku dulu mas" Wajah pucat Delia sangat jelas menggambarkan rasa takutnya akan kemurkaan Brian.
"Tidak mas,,aku juga menginginkan semua itu mas,,aku melakukan itu bukan tanpa alasan,,"
"Silahkan,,silahkan kamu melakukan apapun semau mu,turuti saja semua pemikiran-pemikiran konyolmu,,aku tidak berhak atas apapun! ini hidupmu! ini hakmu!" Brian mencoba terus menahan dirinya,dengan ketegasannya cukup membuat Delia seperti diujung sakaratul maut.
Sekujur tubuhnya seperti tersiram air es.
"Tapi mas,,aku melakukan itu bukan berarti aku tidak mau memiliki anak darimu,aku hanya menunda,,mas,,cuma menundanya saat itu"
"Cuma??hah,,,! terserah!"
Brian berjalan memasuki teras kamarnya yang menghadap langsung kepantai.
Delia masih berdiri mematung menyesali kecerobohannya.
"Masuklah,diluar dingin!" Brian menghentikan langkahnya sejenak.
Deliapun mengikuti langkah suaminya.
Brian membersihkan diri berganti pakaian dan memilih untuk meninggalkan istrinya yang masih membersihkan kakinya dari pasir.
"Mas,kamu mau kemana?"
Brian tersenyum sengit,
"Apa pedulimu?kamu melakukan apa yang menurutmu benar sesuka hatimu,jadi aku juga akan melakukan apa yang menurutku benar sesuka hatiku."
"Mas,kita perlu bicara mas"
"Istirahatlah,aku tidak akan menganggumu"
__ADS_1
Brian pergi,meninggalkan Delia sendirian dipenginapan.
Brian tidak ingin lagi menyakiti Delia dengan kata-katanya,dia memilih untuk pergi dan melampiaskan amarahnya dengan melakukan hal lain,
Ia pergi ke suatu spot panjat tebing dan berlanjut ke tempat untuk nggym.
Ia baru kembali kepenginapan pukul 14.30
Terlihat Delia masih duduk bersandar di tiang teras kamar,ia duduk mengayun ayunkan kakinya menghadap ke arah pantai.
Ia tidak mempedulikah terik matahari yang menyambar kulit mulusnya.
Tatapannya kosong,ia sungguh menyesali apa yang dia perbuat.
"Seharusnya sebelum aku mengambil keputusan itu,harusnya aku memberi tahunya terlebih dahulu,,aku memang payah"batinnya.
Delia belum menyadari kedatangan Brian.
Ia terus melamun sementara Brian memperhatikannya dari belakang,dari jarak 3 meter.
"Kenapa kamu harus seperti itu Del,,kamu harusnya tidak mengecewakanku,,oh,,bukan bukan bukan,,ini bukan salahmu,aku yang salah,aku salah terlalu berharap banyak padamu,,sejak awal,pernikahan kita hanya aku yang mau,,bukan kamu" Batin Brian.
Brian melihat meja di ruangan itu masih bersih,belum ada tanda-tanda makanan ataupun minuman. Itu artinya dari pagi tadi Delia tidak memakan apapun.
Brian kemudian menelpon pihak resto untuk mengirim makanan ke penginapannya.
Setelah menelpon,Brian langsung masuk kamar mandi membersihkan diri dan berganti pakaian.
Setengah jam kemudian seseorang datang langsung menghampiri Delia dari luar.
"Nyonya,ini pesanannya,,"
Delia terkejut hingga berjingkut.
"Ha apa?"tanya Delia pada pelayan yang mengantar makanan.
"Ini pesanan nyonya,,"
"Pe pep pesananan?maaf mas,saya tidak memesan apapun,,"
"Tapi tadi suami anda menelpon kami untuk mengantarkan ini nyonya"
"Hah,,su suami saya?" Delia masih kebingungan.
Dari arah belakang Brian menghampiri Delia dan memberi uang tips untuk pelayan itu.
"Letakan saja di meja teras mas,,"
"Baik tuan,terimakasih" pelayan itu meletakan nampan di meja dan menerima tips dari Brian lalu pergi.
Brian mengambil nampan dan duduk di sebelah Delia.
"Makan lah!" Ucap Brian ketus.
"Mas,,aku,,"
"Aku bilang makan! Bukan berdebat!" Ucapnya lagi dengan nada tinggi.
Deliapun akhirnya menuruti titah suaminya.
Ia memakan apa yang ada dihadapannya dengan kelu,tenggorokannya terasa perih saat menelan makanan itu,air matanya pun mulai menetes meskipun dia sudah sekuat tenaga menahannya.
Ia makan sambil cegukan menahan sesaknya dada.
Brian tetap saja terlihat acuh,dia malah duduk di kursi teras dengan terus memainkan ponselnya.
Sementara Delia duduk dilantai dan terpaksa menghabiskan makanannya.
__ADS_1