
--- " Kini kehamilan mama semakin besar,mama sedang berusaha membuktikan pada Ayahmu,kalau anak ini bukanlah anak dari Yosep. Ini benar-benar anak Ayahmu,Atmajaya.
Kami membuat kesepakatan secara tertulis. Yang berbunyi,,jika sampai anak ini lahir,saya ijinkan ayahmu untuk melakukan tes DNA pada adikmu. Jika terbukti Adikmu memang anak Atmajaya,maka Atmajaya harus menyudahi pernikahan ini,meninggalkan perusahaan kita,dan pergi dari kehidupan kita. Dan bertanggung jika ada bahaya yang menimpa Oma,dan keluarga kita.
Tapi jika nanti tes DNA tidak cocok,maka seluruh perusahaan untuk Atmajaya.
Perjanjian itu disaksikan oleh Ayahmu, bi Ijah,Alya,Yosep dan pengacara Ayah.
Surat perjanjian itu juga aku simpan disini."
Brian kemudian mencari lembaran kertas yang tadi mereka lihat,dan benar,ada sebuah surat perjanjian yang ditandatangani oleh para saksi dan kedua belah pihak.
Kemudian Brian kembali melanjutkan memutar vidio yang ibunya buat.
"Jika nanti adikmu lahir,sayangi dia ya,,meskipun umur kalian terpaut cukup jauh,,meskipun,,,meskipun dokter menvonis ada keistimewaan secara fisik dari adikmu,,tapi mama mohon,tetap lindungi dia,jaga dia,sayangi dia. Mama takut ayahmu akan menolak adikmu karena keistimewaanya.
Ini hasil USG adikmu,,lucu kan..??"
Nyonya Lidia menunjukan hasik USG terbaru waktu itu.
Usia kandungannya menginjak 6,5bulan.
Brian,di vidio selanjutnya,juga ada bukti ancaman -ancaman yang ayahmu lontarkan untuk mama.
Mama takut,jujur mama takut kalau sesuatu terjadi sama mama...terlebih,akhir-akhir ini teror itu terus menghantui mama.
Bi Ijahpun tak bisa berbuat apapun,karena semua bodyguard disini juga mengawasinya.
Begitu juga sahabat-sahabat mama.
Rendra saat ini sibuk di luar negeri,sedangkan Alya,aku memerintahkan Alya dan Yosep untuk tidak berbuat apapun sampai anak ini lahir. Karena,mama sendiri juga mengkhawatirkan mereka,mengkhawatirkan Delia. Sahabat mama hanya bisa sebagai pendengar. Dan mereka membantu mama untuk mengumpulkan bukti kekejian mereka. Mereka juga yang menyarankan agar semua bukti disimpan dengan sebaik-baiknya. Mama akan menunggumu pulang dan mengambil alih posisi ayahmu.
Simpan baik-baik semua ini,,mama hanya bisa pasrah saat ini. Mama menghadapi teror ini sendirian,,mama dikekang disini,,mama sudah tidak boleh menemui Alya atau siapapun.
Mama ke rumah sakit pun itu harus dikawal.
Mama seperti tawanan Ian."
Brag brag brag,,terdengar suara keras ketukan pintu.
"Lidia!!!buka pintunya!!cepat!!" Suara Atmajaya terdengar begitu menggelegar. Tak ada lagi kelembutan.
"Itu pasti ayahmu nak,,sudah dulu ya,,ibu akan tetap aktifkan CCTV karena mama takut. Semua bukti CCTV juga ada di flash disk ini"
Ibu Brian mengakhiri rekamannya.
__ADS_1
Brian nampak begitu murka,ia melempar bantal ke arah meja rias. Membuat semua perlengkapan make up dan perawatan Delia berserakan.
"Mas,,tenangkan dirimu mas,,aku tahu bagaimana rasanya,,aku mohon,,kita masih harus menyaksikan vidio selanjutnya."
"Bertahun-tahun ibuku hidup dalam ketakutan karena tinggal bersama iblis!! Siapa yang berani meneror ibuku!!akan aku habisi dia!! Sialan! Bedebah!!!"
"Mas! Kontrol emosimu! Kita tutup dulu ya,,kamu istirahat,,"bujuk Delia.
"Tidak! Hari ini juga semua harus aku periksa!"
Klik. Brian mengklik vidio selanjutnya.
"Hai,Brian,,hari ini mama membuat vidio lagi,mama masih dirumahsakit.
Adikmu terpaksa mama lahirkan ,karena kondisi mama tidak memungkinkan untuk menunggu sampai 9 bulan 10 hari.
Kelahiran adikmu dibantu oleh dokter Anye. Dia sangat baik pada mama. Ini dia wajah adikmu"
Nyonya Lidia mengarahkan kameranya pada Dokter Anye yang sedang menggendongnya.
"Dia adikmu,dia sangat cantik kan.. Ian,maafkan mama,,mama tidak bisa membawa pulang adikmu, aku takut Ayahmu,Yesi atau Widodo akan mencelakainya. Sebelum misiku membongkar kebusukan mereka berhasil,maka adikmu harus mama amankan. Ibu ingin menuntaskan masalah mama dengan ayahmu.
Karena Widodo tahu tentang surat perjanjian tes DNA itu.Widodo ingin menjodohkan mu dengan Tania. Sebagai opsional jika Ayahmu benar-benar tidak mendapatkan harta kita.
Mama tidak akan pernah setuju,mama hanya menginginkan Delia.
Sudah dulu ya Ian,mama akan bersiap-siap. Nanti Mama kabari lagi tentang dimana adikmu akan mama disembunyikan.
Mama sendiri masih berunding dengan dokter Anye. Kalau kamu pulang,mama juga akan mengajakmu menemui adikmu"
Brian menangis,ia membayangkan bagaimana nasib adiknya sekarang.
Ia memegang foto adiknya yang diselipkan dalam kotak.
Delia memeluk suaminya yang sudah bersandar lemas di sandaran tempat tidur mereka.
"Mas,,kita akan menemukan adikmu,kita akan menuntut keadilan atas ibumu,,aku yakin yang meneror ibumu adalah Widodo."
"Kamu istirahat ya,,aku akan mengcopy semua vidio ini,untuk diserahkan pada pengacara mu"lanjut Delia.
Brianpun mengangguk,lalu ia baringkan tubuhnya,ia mencoba memejamkan matanya.
Bagi Brian menghadapi kenyataan ini memang sangatlah berat.
Delia mengcopy semua bukti yang memberatkan Atmajaya dan Widodo.
__ADS_1
"Mas,,apa dengan ini sudah meyakinkan kita kalau pembunuh sebenarnya adalah Widodo? Ibumu tidak mungkin bunuh diri,karena dia mempunyai cita-cita untuk menikahkan kita,dan mempertemukan mu dengan adikmu"
"Kemungkinan besar iya,Widodo menginginkan rahasianya aman. Dia tidak mau ayah tahu kalau pertemanan mereka hanya berlandaskan ambisi,Widodo ingin memiliki hartanya dan menghancurkannya. Ada dendam disini,sepertinya dia datang ke kehidupan Ayahku dengan sebuah rencana."
"Iya mas,,dan ibumu sebenarnya ingin mencari tahu alasan dibalik kedatangan Widodo dan Yesi. Namun sayang,justru ibumu yang menjadi korban awal kekejian mereka. Pantas saja,Widodo dan Ayahmu sama-sama menginginkan kotak ini. Itu karena mereka tahu,disinilah tersimpan rahasia mereka,dan bukti-buktinya."
"Baiklah,buatkan aku minuman,,biar aku yang melanjutkan mengcopy semua"
"Iya mas,," Deliapun pergi kedapur untuk membuatkan jus,agar suaminya lebih releks.
Setelah selesai sholat magrib,Brian menelpon kedua pengacaranya,pengacara perusahaannya dan pengacara pribadi.
Ia juga menelpon Soni,Safa dan para mata-mata yang ia tempatkan di HR group.
Brian menyuruh mereka semua datang kerumah,bertemu di ruang kerjanya untuk mengadakan rapat dan mengumpulkan semua bukti-bukti yang sudah mereka kantongi.
Dalam ruang kerja Brian,mereka namoak serius membahas dan menggabungkan semua runtunan kejadian,dan mengurutkan bukti-bukti.
Mulai dari penggelapan dana,dan tindakan kriminal lainnya yang dilakukan oleh Widodo dan Atmajaya.
Perusahaan yang sedang di pegang oleh Hans di Lombok pun masuk dalam daftar penerima suntikan dana gelap.
"Kali ini aku yakin,mereka yang terlibat akan habis..."batin Brian geram.
"Tuan,saya baru mendapat kabar dari orang suruhanku yang di Dubai. Akhirnya Kris menyerah,ia mengakui bahwa kecelakaan itu atas perintah Widodo."
"Bagus,,"
Ketika sedang rapat,tiba-tiba bi Ani mengetuk pintu keras.
Brianpun langsung keluar dari ruang kerjanya.
"Ada apa bi??"
"Tttuan,,,non...non Tania disini. Dia memaksa masuk,non Delia tengah mencegahnya. Kini mereka sedang beradu mulut di bawa tuan."
"Ck,,,baik bi,saya akan menyusul kebawah"
Brian kembali masuk keruangan untuk memperingatkan mereka bahwa ada Tania dirumah.
Mereka semua pun sudah bersiap menghadapi Tania.
"Oke,aku akan turun sekarang" ucap Brian.
Dengan langkah cepat,Brian menuruni tangga .
__ADS_1
Suara riuh perkelahian ala wanita pun mulai terdengar.
"Apa-apaan kalian ini! Seperti kucing dan tikus saja! " Ejek Brian dengan santai.