
Brian sampai dirumah setelah sholat magrib.
Ia mencari keberadaan istrinya yang tidak dia temui di kamar ataupun dapur.
Meskipun bi Ani tidak dirumah,seluruh rumah terlihat rapi dan bersih.
Terlihat di meja dapur,makan sudah tersedia.
Siapa lagi kalau bukan Delia yang menyajikan.
Ia membuka satu persatu pintu ruangan dirumahnya tapi tidak menemukan keberadaan istrinya.
Tiba-tiba Delia keluar dari ruang laudry.
"Kamu dari mana Sayang,?" Tanya Brian.
"Kamu lihat dari mana?"jawab Delia ketus.
"Apa kamu habis menyetrika pakaian?"
"Hem"
Delia melewati suaminya yang masih berdiri diantara anak tangga.
Brian tahu saat ini istrinya sedang tidak mood.
Brian mengikuti Delia yang tengah membawa keranjang berisi pakaian yang sudah disetrika.
Delia masuk kedalam kamar dan merapikan pakaian-pakaian tersebut di dalam almari.
Brian melepas pakaiannya,dan memperhatikan istrinya yang terus bungkam.
"Apa kamu sudah siapkan air panas untukku?"tanya Brian.
"Hem"
Brian menarik tangan Delia hingga menjatuhkan tubuhnya di dada bidangnya.
Brian menatap istrinya tajam.
"Kamu kenapa?"tanya Brian.
"Kamu yang kenapa!" Delia menjauh dari suaminya.
"Jawab pertanyaanku tanpa bertanya!"
"Lah,kamu sendiri yang kenapa mas! Kamu seolah menuduhku atas kesehatan Oma yang memburuk!"jawab Delia ketus.
"Astaga! Aku tidak sedang menuduhmu,aku hanya bertanya" Brian meraup wajahnya kasar.
"Iya,bertanya tapi nyolot ! Nyebelin tahu!"
"Sayang,,oke maafin aku,,aku panik ketika dengar Oma sakit,dan Ayah bilang dia sakit semenjak kamu datang kesana"
"Oh,jadi Ayahmu yang menuduhku dan kamu kembali mempercayainya?" Delia membulatkan matanya,mendengar Ayah mertuanya membuat darahnya seketika mendidih.
"Bukan seperti itu sayang,,maaf kalau kamu pikir tadi ucapanku seperti sebuah tuduhan,aku benar-benar ga ada maksud."
Brian kembali meraih tangan Delia.
Delia masih berusaha untuk menahan emosinya.
Melihat suaminya memohon,kemarahannya memudar.
__ADS_1
Entah virus apa yang Brian miliki,sehingga dengan mudahnya memadamkan kemarahan Delia.
"Sayang,udah lah,,jangan ngambek,,aku tadi ada banyak pekerjaan jadi mungkin berpengaruh dengan nada bicaraku."
"Hem.."
"Kok githu si.."
Brian mencoba memeluk istrinya,agar lebih tenang.
"Aku sudah siapkan makan malam mas,mandi dulu gih" ucap Delia.
"Senyum dulu dong"bujuk Brian.
Dengan terpaksa Delia menunjukan barisan giginya lalu pergi begitu saja.
"Hem,,hampir saja suasana kamar ini jadi neraka karna kemarahannya.."batin Brian.
Ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara Delia merapikan meja makan,menata piring,sendok dan gelas dimeja,lalu ia duduk menunggu suaminya untuk makan bersama.
Ia menyalakan televisi agar suasana tidak hening.
Semenjak kepergian bi Ani,Delia merasa kesepian.
Iapun mulai berfikir,tentang permintaan Brian untuk memiliki anak.
"Benar juga ya,kalau misal aku punya anak,pastinya rumah tidak sesunyi ini" batin Delia.
Lamunannya melayang,membayangkan anak-anak yang lucu dan ia kembali teringat ibunya,saat dia kecil,ibunya selalu memanjakannya.
Lamunannya tiba-tiba terpecah dengan suara Brian.
"Dor!! Jangan melamun sayang,ayo makan"
"Apa yang kamu lamunin sayang?"tanya Brian.
" Bukan apa-apa kok mas,,em,bagaimana kerjaanmu? Kamu di HR group enggak macem-macem sama Tania kan?"cecar Delia,dengan pandangan penuh curiga.
"Biasa aja dong liatnya,,ya engga lah sayang."
"Oiya Del,besok aku ada urusan kerja sehari di Padang. Besok kamu di rumah Bibi Mira dulu ya biar enggak kesepian."
"Ke Padang mas?emang mas ada kerjaan disana?"
"Iya,ada kolega mas disana,kita mau membahas sesuatu. Mas kesananya sama Soni kok"
"Oke,"
Delia menekuk wajahnya,ia ingin sekali ikut dengan suaminya kemanapun dia pergi.
"Ih,kenapa aku jadi bucin gini si!! "Batin Delia.
"Kenapa cemberut??"tanya Brian lembut.
"Aku enggak boleh ikut ya mas?"tanya Delia merajuk seperti anak kecil.
"Sayang,ini cuma sehari,,aku enggak mau kamu cape dijalan. Lagian kamu kan harus persiapan buat Wisuda minggu depan. Kamu harus jaga kesehatan."
"Iya iyaaaa..."
Brian dan Delia menghabiskan waktu makan malam bersama dengan kehangatan.
__ADS_1
Setelah selesai makan,Delia merapikan meja makan dan Brian membantunya mencuci piring. Sungguh pemandangan yang tak biasa,seorang pengusaha kaya raya rela membantu istrinya mencuci piring.
"Inilah romatisme ala abang bunglon " goda Delia dibelakang suaminya yang tengah asik mencuci.
"Romantis itu enggak melulu soal gombalan,ini nih romantis yang sesungguhnya..Hans mana mungkin mau gini??" Bela Brian.
"Idihhh,kok bawa-bawa Hans si..."
Tiba-tiba Brian teringat Hans.
"Sayang,rumah Hans dimana?dulu kamu pernah cerita dia ke Bali untuk menemui orang tuanya sekaligus menemui mu disana kan?"
Tanya Brian penasaran.
" Iya,,kenapa mas tiba-tiba tanya Hans,masalah kalian kan udah kelar mas?"
"Bukan apa-apa,mas ingin tahu aja"
"Oh...rumahnya di Apartemen **** deket si dari rumah Vivi"
Brian menghentikan kegiatannya dan matanya membola.
"Mas,,kenapa?"
"Sayang,siapa nama panjang Hans?"
"Reyhans Putra Sanjaya,kalau gak salah si..aku gak terlalu memperhatikan?"
"Apa? Reyhans?Jaya??"Brian kembali terkejut.
"Kamu gak salah kan sayang?"
Ia mencoba memastikan.
"Gak lah,,kayanya engga salah..coba tanya Vivi. Karna dia yang kenal Hans jauh lebih lama dariku. Ada apa emangnya mas?"
"Aku akan cari tahu siapa Hans sebenarnya?pasti ini ada hubungannya dengan ayah!"batin Brian menahan emosinya.
"Sayang,setelah selesai ini,kita kerumah ayahku,aku mau lihat keadaan Oma. Tapi aku mohon,untuk sementara,kamu jangan menemui Oma,kamu bisa menungguku diruang tengah."
pinta Brian,berharap istrinya tidak merasa tersinggung.
"Mas,hatiku sakit saat kamu bilang itu,seolah benar,menurunnya kondisi Oma disebabkan olehku"batin Delia sedih.
Ia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan saran suaminya.
"Aku keruang kerjaku dulu ya sayang,,engga papa kan kamu melanjutkan ini sendirian?"
Brian melepas apron nya kemudian mengelus kepala istrinya.
Ia melangkah dengan langkah panjangnya,ruang kerja yang terletak di lantai dua. Satu persatu ia injakan kakinya pada anak tangga.
Dari bawah,Delia melihat suaminya yang nampak tergesa-gesa.
"Ada apa denganmu mas,,24 jam saja mungkin itu kurang bagimu. Hemmm,,,kali pertama saat di Bali kamu bisa meluangkan waktu satu hari penuh untuk ku. Tapi sekarang,sepertinya sulit." keluh Delia,meratapi nasib dirinya yang tidak pernah merasakan hari libur bersama suaminya.
**
Brian mengunci rapat ruang kerjanya,ia segera mengambil ponsel yang ia hubungkan dengan penyadap diruang kerja ayahnya dan kamar ayahnya.
Dia tahu,hanya dua tempat itulah yang ayahnya gunakan untuk membicarakan hal-hal penting.
Ia terus menyimak dan memantau beberapa vidio dari mini camera yang terpasang dibeberapa tempat dirumah ayahnya.
__ADS_1
Brian beruntung,beberapa pengawal ayahnya ada yang sudah memihak padanya.
Membuat bi Ijah merasa sangat terbantu disana.