Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 102


__ADS_3

Dengan terburu-buru Brian menjalankan mobilnya kembali ke hotel.


"Semua harus selesai hari ini!! Kalau tidak,semuanya akan kacau!!" Gumamnya dalam hati seraya berjalan ke kamarnya.


Sesampainya dikamar,ia melihat istrinya tengah duduk merangkup kedua kakinya,dagunya ia letakan disalah satu lututnya.


Ia memandang keluar jendela,mandangan laut lepas.


Ia sama sekali tidak memperdulikan kehadiran suaminya.


Sejenak Brian menatap Istrinya dingin.


Berlahan ia mendekati Delia.


Ia berdiri tepat disamping istrinya yang masih belum mempedulikannnya.


Suasana kamar hening,Brian dan Delia sama-sama belum mau membuka percakapan.


Delia bangkit,ingin kembali kekamarnya.


"Mau kemana!?"tanya Brian dingin.


"Kekamarku!" Jawab Delia singkat.


"Kita harus bicara !.selesaikan semua hari ini!" Titah Brian.


Delia membalikan badannya dan menatap Brian dengan nanar,matanya berkaca menahan sekuat-kuatnya agar tidak menangis dihadapan suaminya.


"Silahkan,tapi apakah anda mau mendengarkan penjelasan dariku?kalau tidak,lebih baik kita tidak usah membicarakannya."jawab Delia singkat,ia mencoba terlihat kuat didepan suaminya.


"Duduklah" Brian menyuruh Delia kembali duduk disofa.


Delianpun menurutinya,ia psrah kalaupun Brian akan memarahinya habis-habisan karna ia nekad ke Dubai dan karena ia tidak meminta izin saat bertemu Hans saat itu.


Brian duduk dihadapan Delia,menatapnya tajam,sementara Delia tetap diam menatap kelain arah.


"Bagaimana rasanya tiba-tiba ditinggal suami tanpa ijin?" Ucap Brian dengan nada mulai merendah.


"Maaf mas,,aku kemarin pergi tanpa ijin,karna aku hanya tidak mau kalau.."


"Kamu hanya tidak mau aku mengacaukan pertemuanmu dengan Hans iya kan??"sahut Brian.


Delia hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Tapi yang aku maksud,bukan mengacau dalam tanda kutip ,maksudku saat aku menjelaskan tentang pernikahan kita aku tidak mau kamu terpancing emosi saat mendengar dan melihat Hans mengakui perasaannya,itu saja."


"Ow,rupanya dia sudah mengakui perasaannya saat itu,dan kamu senang!?" Brian mulai menghardik,tak terima jika ada pria lain yang menyatakan cinta pada istrinya.


"Mas! Masih mau dengar penjelasanku atau tidak!" Delia pun tidak ingin kalah,matanya tajam menatap suaminya.


"Oke!"


"Aku sama sekali tidak senang mas,tapi aku menghargai perasaanya,masalah hati hanya dia sendiri yang bisa mengontrol,bukan aku. Akupun selama ini tidak pernah menyimpan rasa padanya,jadi saat tahu perasaanya aku biasa-biasa saja. Seperti yang kamu bilang,aku harus memberitahu Hans tentang pernikahan kita,agar Hans tidak terlalu lama berharap. Akupun melakukannya,dan beruntung dia mau memahamiku, menghargai statusku,dia juga berjanji akan berusaha menghapus perasaannya."


"Oke,kali ini aku terima penjelasanmu!Bagaimana dengan pelukan itu! Apa kamu tahu bagaimana hancurnya perasaanku!?" Brian mulai menegaskan nada bicaranya.


"Iya,aku tahu,,dan kamu sengaja membalasnya hari ini,iya kan??" Ketus Delia.


"Aku sedang tidak membalasmu! Aku bukan sedang membahas hari ini! Ceritakan kenapa sampai dia berani memelukmu dan kamu hanya diam!"tegasnya.


"Apakah kamu akan mempercayai penjelasanku? Kamu kemarin juga tidak memberi ruang pada mang Jajang untuk menjelaskannya,iya kan Mas??" Hardik Delia.


"Aku mau kamu jelaskan!tidak perlu berbelit!"


"Hah,,coba saja kamu memberi waktu untukku dan mang Jajang menjelaskan keadaannya saat itu,pasti tidak akan serumit ini!" Ketus Delia lagi.


Brian diam,menatap Delia tajam,ia tidak suka dengan jawaban Delia. Ia tahu dan sadar,bahwa sebenarnya saat itu Brian sangat egois tidak mau mendengarkan siapapun.


"Cepat katakan yang sebenarnya!"


Delia menceritakan kejadian yang ia alami di toko buah milik Hans.


Brian menyimaknya dengan terus mengerutkan kedua alisnya.


"Aku saat itu benar-benar shock dan ketakutan melihat Hans menghajar pria itu habis-habisan. Mang Jajang,mencoba melerai keduanya,sampai akhirnya ada petugas keamanan yang datang dan membawa pria itu pergi.


Dalam keadaan tercengang,aku tidak menyadari Hans memelukku dan mencoba menenangkanku,itu saja.


Berita dimedia sosial itu hanya melebih-lebihkan,aku juga tidak tahu kenapa ada foto2 dengan engle yang bisa memicu fitnahan seperti itu,termasuk foto pada saat aku dihalaman samping rumah Vivi. Yang seolah-olah Hans sedang ingin menciumku,padahal posisinya tidak seperti itu,,disana juga ada mang Jajang yang melihatnya. Kalau aku mau macam-macam kenapa aku ajak mang Jajang,yang jelas-jelas orang kepercayaanmu dan alasanku memilih bertemu di rumah Vivi,karna aku takut akan ada fitnahan lagi kalau aku bertemu di cafe atau ditempat-tempat umum. Tapi sayang,nasib buruk sedang menimpaku dan tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan penjelasanku saat itu,termasuk suamiku sendiri!!!" ketus Delia lagi.


Brian sejenak terdiam membayangkan betapa egoisnya dia,hanya mempercayai berita murahan dan tidak memberi waktu untuk istrinya.


"Aku rasa,urusanku disini sudah selesai,aku akan pulang ke Jakarta,kamu selesaikan saja urusanmu disini!"


Delia berdiri ingin meninggalkan suaminya yang masih tertunduk merasa bersalah.


"Tunggu!" Tiba-tiba Brian meraih tangan Delia,memegang pergelangannya.

__ADS_1


Delia masih enggan membalikan badannya,ia terus membelakangi suaminya.


"Jangan pergi! Aku,,aku mohon maafkan keegoisanku!" Nada bicaranya mulai merendah.


"Maaf mas,aku tidak mau menganggumu disini,kedatangnku kemari tidak tepat!" Jawab Delia.


Brian memeluk Delia dari belakang.


"Jangan seperti itu,tetaplah disini,aku akan menebus kesalahanku Del.."


"Aku sudah memesan tiket,aku akan bersiap"


Delia tetap tidak merespon suaminya yang sedang memeluknya dan menciumi rambutnya.


"Coba saja kalau kamu bisa pergi dari sini!" Ancam Brian lembut,seraya mengencangkan tangannya memeluk istri yang paling ia cintai.


"Lepasin mas! " Delia masih kesal dengan suaminya yang menerima pelukan dari Tania didalam lift tadi pagi.


"Apa kamu masih marah denganku?"


"Apa kamu tidak merasa bersalah dengan menerima pelukan Tania mas!! " Dengan geram,Delia membalikan tubuhnya,menatap suaminya dengan membulatkan netra.


Brian tersenyum,terkekeh melihat istrinya yang tengah diselimuti rasa cemburu.


"Hah! Kamu pikir itu lucu!! Pria macam apa kamu mas! Kamu bisa membabi buta saat mendengar berita hoax dari medsos.


Tanpa mempedulikan aku kamu pergi begitu saja! Kamu pikir semua ini lelucon! Berhari-hari kamu mengacuhkanku! ini tidak adil mas!!" Oceh Delia,meluapkan kekesalannya.


Brian membiarkan istrinya terus meluapkan kekesalannya. Dia tahu,memang seharusnya ia mendapatkannya,karna dia sadar atas keegoisan dan kekanak-kanakannya.


"Aku sadar,aku salah,,lampiaskan saja semua amarahmu Del,aku merindukan suaramu,merindukan amarahmu,,entah apa yang terjadi denganku,aku bisa segila ini karnamu!" Batin Brian sembari terus menatap bibir Delia yang tak henti-hentinya mengomel.


"Mas!! Apa kamu mendengarkanku!! Ya Tuhannn..aku bisa gila disini!" Delia kesal karna sedari tadi Brian hanya tersenyum-senyum melihat dirinya mengomel.


Delia pergi dengan menghentakan kakinya keras,meninggalkan suaminya.


"kamu..mau kemana?"teriak Brian.


"Auah!!" Jawab Delia sambil berjalan meninggalkan Brian.


Brian tahu,istrinya pasti akan masuk kekamarnya.


Brian sengaja membiarkan istrinya tenang,setelah itu baru ia selesaikan semua.

__ADS_1


__ADS_2