Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 7


__ADS_3

"Bagaimana yah,apakah sudah ada jawaban dari pak Yosep mengenai pernikahan putrinya."


"Entah,Putrinya belum memberi kabar pada ayah,tapi ayah pastikan pada saat berita itu sampai ke telinga Yosep,maka pelan-pelan waktu akan membunuhnya. Kematianya akan membayar nyawa ibumu,sementara penderitaan putrinya akan menebus nyawa adikmu... aku sudah tidak sabar menyaksikan pertunjukan ini..hahahaha"


Atmajaya menatap mata anaknya dengan tajam. Dia merasa menang telah menyiksa Yosep di sisa umurnya..


"He..aku pastikan mereka tidak akan hidup tenang yah...aku sudah tidak sabar untuk menikahi anak pembunuh itu"


"Aku akan menemui anak itu sekarang,ayah juga sudah tidak sabar"


Atmajaya mengambil ponsel di sakunya dan menelpon Delia.


"Hallo,temui aku ditempat biasa"


****


"Del,ayok jadi ga kita ngobrol..."


"Jadi,tapi temenin aku ketemu sama tuan Atmajaya ya di cafe yang kemaren"


"Oke,kita naik motor sendiri-sendiri aja ya,biar gak bolak balik"


"Iya,yuk.."


Delia dan Fani menuju parkiran dan motor masing-masing.


Mereka segera pergi ke cafe dimana Atmajaya dan Delia akan bertemu.


*


"Silahkan duduk nak,wah kamu mengajak temanmu?apa kau takut sendirian?"


Atmajaya mempersilahkan Delia dan Fani.


"Bukan urusan anda,to the poin saja,,aku menerima pernikahan itu."


"Bagus! Ayahmu pasti bangga memiliki anak sepertimu,,hehehe..."


"Tapi aku minta anda buatkan surat perjanjian,bahwa dengan pernikahan itu hutang ayahku lunas dan anda tidak akan menuntut apapun baik secara hukum perdata ataupun pidana. Aku ingin kamu berhenti mengusik hidup ayahku!"


"Baik,akan aku buatkan secepatnya."


"Aku ingin besok surat itu sudah ada"


"Tapi apakah kamu bisa memegang janjimu?kamu tidak akan lari dari pernikahan itu?"


"Ayahku tidak pernah mengajariku untuk menjadi penghianat! Jadi saya rasa anda tidak perlu khawatir"


"Oke,secepatnya semua akan beres. Lusa pengacaraku akan mengurus semua perjanjian itu dan akan segera menyerahkan berkas pernikahan padamu."


"Hem..bagus,saya rasa semua sudah jelas,aku permisi"


Delia langsung berdiri meninggalkan Atmajaya. Seperti biasa,Delia tidak pernah menunjukan rasa hormatnya pada laki-laki yang sudah menfitnah dan mempermainkan keluarganya itu.


"Tunggu,bagaimana kabar Ayahmu?"


Tanya Atmajaya dengan harapan mendapat kabar yang menurutnya baik dari Delia.

__ADS_1


"Ayahku baik-baik saja,dia sudah mengetahui rencana kita"


Delia berhenti melangkahkan kakinya, dengan membelakangi Atmajaya dia menjawab pertanyaan Atmajaya.


"Sial...kenapa baik baik saja??" Batin Atmajaya.


***


2minggu kemudian


Hari pernikahan.


"Nak,semua belum berakhir,kalau kamu ingin pergi dari sini maka pergilah,biar ayah yang menanggung semuanya.."


Pinta Yosep pada anak gadisnya yang sudah dirias indah layaknya pengantin.


Balutan gaun putih dan elegan,menambah kecantikan Delia meski ada air mata yang terus menetes.


"Tidak yah,aku akan tetap melanjutkan ini. Aku hanya sedih,sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan ayah,aku tidak bisa setiap hari menemani ayah,"


Delia meletakan kepalanya dipangkuan ayahnya yang duduk dikursi roda.


"Kamu jangan khawatir nak,bibi dan paman akan selalu disini menjaga ayahmu,saat kamu ada waktu kamu juga arus yakin dbisa mengunjungi kami. Rumah ini akan terbuka untukmu"


Bibi Mira terus menguatkan kakak dan keponakan satu-satunya.


"Terimakasih bi,aku akan lebih tenang bi..aku titip ayah ya bi,jangan sungkan menghubungiku bi.."


"Baik nak,,oiya,kamu harus ingat meskipun pernikahan ini adalah kesepakatan tanpa cinta tapi pernikahan ini sah dimata agama,maka kamu mempunyai tanggungjawab sebagai istri di hadapan Allah. Kamu harus menghormati suamimu sesuai dengan syariat."


Tok tok tok


"Bu Mira,penghulu sudah datang,pengantin wanita diminta untuk bersiap-siap dan tuan Yosep dimohon untuk bersiap menjadi wali."


Pak Yosep pun akhirnya menuju tempat akad nikah dibantu oleh bibi Mira.


Selang 10 menit Delia menyusul dan betapa terkejutnya melihat pria yang akan menikahinya adalah Brian.


Sejenak tubuh Delia mematung,kemudian disadarkan oleh bibinya.


Bibi Mira menuntun Delia duduk disebelah Brian.


Delia pasrah dengan nasibnya,yang dia pikirkan hanyalah kebebasan Ayahnya.


"Ini baru kejutan pertama untukmu"


Bisik Brian dengan senyum sinis.


Delia menelan salvinanya dengan berat,bibirnya bergetar,rasanya dia ingin menangis dan lari.


"Bisa kita mulai tuan?" Tanya penghulu pada sepasang pengantin,wali nikah dan semua saksi.


Mereka semua menganggukan kepalanya dan akad nikahpun dimulai.


Suasana menjadi haru saat melepas kepergian Delia, ada kekhawatiran besar tersirat diwajah Yosep.


Dia harus merelakan anaknya dibawa oleh Atmajaya,sahabat yang kini menjadi musuhnya.

__ADS_1


"Anakmu sudah ada dalam genggamanku,perbanyak doa untuk anakmu hehehe..." bisikan Atmajaya membuat hati Yosep semakin beradu,ingin sekali dia menghajar habis-habisan Atmajaya yang picik itu,namun tubuhnya tak berdaya.


Dia terlalu lemah menerima kekalahan ini.


Disisi lain Brian juga berbisik pada Delia yang sedari tadi disampingnya menangis.


"Simpan dulu airmatamu Del,karna perjalanan masih jauh,"


"Apa maksudmu!" Delia menatap wajah Brian dengan tajam.


"Jangan melihatku seperti itu atau aku akan membuatmu buta!segera akhiri semua aku bosan dengan drama seperti ini!"


Brian pergi meninggalkan Delia menuju mobil.


***


Mata Delia berkeliaran menyusuri setiap sudut dirumah Brian,sungguh rumah yang sangat besar dan mewah dengan desain interior clasik.


"Biii...biii...bi..bi Ani" teriak Brian.


"Iya tuan,ada yang bisa saya bantu?"


"Panggil yang lain untuk bawakan semua barang-barang di mobil."


Brian menyuruh asisten rumahtangganya dengan ketus.


"Bbbaik tuan"


Bi Ani segera lari memencet bel khusus memanggil para asisiten Rumah tangga.


Ada Tejo si tukang kebun,Jono si supir pribadi khusus Brian,Edi si supir pribadi Atmajaya dan Inem asisten rumah tangga yang membantu Bi Ani.


Mereka mengambil barang-barang bawaan yang diberi oleh keluarga Delia.


Sedangkan Brian dan Atmajaya sudah masuk kekamar masing-masing meninggalkan Delia sendirian diruang tengah.


Delia masih kebingungan dimana kamarnya,karna Brian sama sekali tidak mengajak dan memberitahu dimana kamarnya.


"Nyonya,apakah ini koper milik nyonya.."


Ada 2 koper besar milik Delia yang diletakan oleh bi Ani disamping Delia.


"Iya bi...oiya bi,dd-ddimana kamarku bi?"


"Nyonyaaa...nyonyakan sudah menjadi istri tuan Brian ya pastinya nyonya tinggal dikamar tuan." Bi Ani tersenyum melihat Delia yang sedang kebingungan.


"T-t-tapiii..."


"Mari nyonya saya antar kekamar tuan"


Ajak bi Inem wanita paruhbaya berusia 35tahun. Dia membawa salah satu koper Delia,dan koper satunya dibawa oleh Dekia sendiri.


Mereka berjalan menaiki tangga menuju kamar Brian.


"Ini nyonya kamarnya,selamat beristirahat nyonya,,oiya saya Inem,dan yang tadi itu bi Ani. Kalau nyonya butuh apa-apa bisa panggil kami. Saya permisi nyonya kami akan siapkan makan malam..."


"Terimasih bi.." Delia menganggukan kepala.

__ADS_1


Delia merasa ragu untuk memasuki kamar tersebut,berkali kali Delia ingin mengetuk pintu tetapi tidak jadi.


Delia hanya mondar mandir di depan pintu kamar.


__ADS_2