
"Del del..del ..." Vivi menggoyang goyangkan lengan Delia yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Apaan si..biasa aja jangan kaya ora kesambet agh..!"
"Liat noh!Hans!"
"Ya Allah..kenapa dia kemari si..Dera mana Dera..kita pergi yuk.." Delia dan Vivi menunduk menyembunyikan wajahnya dengan apapun yang bisa ia gunakan.
Delia menyembunyikan dibalik layar laptopnya sementara Vivi mengambil buku menu.
"Dera kan ketoilet Del..kita susul aja yukz.."bisik Vivi.
"Ayo ayo.."
Delia langsung menutup laptopnya.
Dengan mengendap-endap Vivi dan Delia pergi ketoilet.
Tapi sayang,saat di depan pintu Toilet,Dera yang tengah berjalan sambil merapikan bajunya menabrak Delia yang tengah mengendap-endap sambil menyembunyikan wajahnya.
"Brughhhh..."
"Aw..laptopkuuuu..." Spontan Delia menjerit pelan menatap laptopnya yang terjatuh.
"Maaf Del..lagian loe ngapain ngendap-ngendap dan kenapa leptopnya gak dimasukin tas si!"
"Sssstttt..diem...ada Hans,,kalau sampai ketemu..bisa perang tu Delia ma Suaminya."bisik Vivi.
"Ups ..." Dera menutup mulutnya.
Hans yang sudah mendengar keributan didepan toilet dan melihat mereka,akhirnya menghampirinya.
Membuat Delia dan teman-temannya mati kutu.
"Hei..kalian disini??"
"E..iya..ki kita lagi bantuin Delia ngerjain skripsi.."jawab Vivi terbata-bata.
Hans melirik Delia yang tengah gelisah memegangi laptopnya yang tadi terjatuh.
"Del,laptopnya kenapa?"
"Oh,,anu..ttadi tadi gak sengaja terjatuh.."
"Boleh gue liat?ya buat mastiin aja gak ada yang rusak.."
"Tttapi..eh..ga usah Hans..biar gue liat dirumah aja...soalnya aku buru-buru juga."
"Gini aja,laptopnya gue bawa biar gue perbaiki..dari pada dibawa ke tukang servis.."
Hans adalah mahasiswa IT yang mahir mengotak-atik laptop dan komputer.
Teman-temannya pun sering meminta tolong padanya untuk memperbaiki laptop ataupun komputer,memperbaiki jaringan dan membuat aplikasi.
Apa lagi untuk anak -anak kost,membayar tukang servis pasti mahal,jadi mereka meminta bantuan pada Hans,dengan senang hati Hans pun mengiyakan tanpa meminta bayaran sepeserpun.
"Terimakasih Hans,,biar gue servis sendiri aja." Delia mencoba menolaknya.
"Hemmmm,,ama temen sendiri aja sungkan,,udah sini..gue bawa,,besok gue anter kerumah loe deh,tenang gue gak bakan buka data pribadi loe!"
Hans mengambil laptop yang ada ditangan Delia,dan tersenyum.
Delia dan sahabatnya saling melempar tatapan.
"Woy,kok pada bengong! Makan siang bareng yuks..gue traktir.."ajak Hans,dengan senyum khasnya..dia selalu care dengan Delia dan sahabat-sahabatnya. Maka dari itu,Delia tidak pernah menyadari kalau Hans mempunyai perasaan khusus padanya.
"Ga Hans..gue udah kenyang,dari tadi ngemil mulu..besok aja deh dikampus..tawarannya enggak kadaluarsa kan??hehehe" Dera mencoba mencairkan keheningan.
"Gaya loe kenyang,,,biasanya juga banyak makan...noh badannudah bengkak githu jugaa.."celetuk Hans pada Dera.
__ADS_1
"Enak aja loe..gue bukan bengkak,tapi bohay.." bela Dera.
"eh,,gak enak banget deh..kita ngobrol didepan toilet..udah kita cabut yuks!"ajak Vivi
Delia langsung ditarik oleh Dera dan Vivi meninggalkan Hans yang tengah tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan teman-teman Delia.
"Derrrr...laptop gueee..." Delia merengek sepanjang perjalanan ke arah parkiran.
"Gampang,besok gue yang ambilin sebelum dia kerumah lo"jawab Vivi
"Ttapi..ntar kalau suami gue nanyain gimana??" Delia mengigit bibirnya keras,kecemasanya beralasan.
Karna dia sudah diultimatum oleh Brian untuk tidak lagi berhubungan dekat dengan Hans.
"Bilang aja lagi di servis..gampang kan!?" Kata Vivi
"Duh...kok ribet gini ya..gue takut boong ma Brian..kalian enggak tau dia gimana mengerikannya kalau marah..serem tau.."
"Kita mah udah bayangin seremnya wajah suami loe Del..loe inget waktu diparkiran..hufh..jantung gue hampir copot beneran deh .." jawab Dera.
"Oke,gue nanti telpon Hans,biar engga nganter kerumah loe tapi kerumah gue..lagian rumah gue sama apartemen Hans kan deket..masih satu komplek,so tenang aja..." Vivi mencoba menenangkan Delia yang masih nampak gelisah.
"Makasih ya Vi,."
"Udah,loe katanya mau ke kantor Brian..udah gih sana,,gue sama Vivi juga mau balik,,loe ati-ati ya Del.." Dera memeluk Delia begitu juga Vivi.
"Oke,makasih ya..oiya,Vi bilang ma Hans,semua data dilaptop udah aku backup,jadi kalau direstart ulang aman..."
"Siap bos.."
"Oke,.Assalamu'allaikum..." Delia masuk kemobilnya.
"Wa'allaikumsalam" jawab Dera dan Vivi bersamaan.
***
Sepanjang jalan,terdengar samar-samar staf yang tengah asik berkhayal bersanding dengan suaminya.
Mereka tidak menyadari ada Delia yang melewati mereka.
"Hah,dasar cewe gatel,,bisa-bisanya berani menghayal suami orang!!cantikan juga gue..!awas kalau sampai berani deketin suami gue,abis lo!" Batin Delia menggerutu sepanjang jalan.
Sampailah dia di depan ruangan Brian.
Dia disambut oleh Safa.
"Selamat siang non Delia.."sapanya dengan sedikit membungkukan badanya.
"Siang mba,,mas Brian ada?"
"Ada non,tuan Brian memang sudah menunggu non Delia..Silahkan,masuk saja Non"
Delia tersenyum dan langsung mengetuk pintu ruangan.
Terdengar dari balik pintu ada suara khas milik Brian yang menyuruhnya masuk.
"Mas,,"
"Hem,," Brian masih subuk dengan pekerjaanya.
"Duduklah dulu,,sebentar lagi aku selesai"
Titahnya tanpa menatap Delia.
"Oke,," Delia duduk disofa,meraih beberapa buku yang menurutnya kurang menarik,karna hanya berisi tentang bisnis.
"Pantas suamiku kaku abis,bacanya aja gini..ga asik..hem.."gerutu nya lirih.
"Kamu bilang apa!"tenyata Brian menangkap samar perkataan Delia.
__ADS_1
"Hee...bukan apa-apa mas..mas,apa gak ada buku lain yang bisa aku baca?majalah fashion ke,novel ke,atau cerpen githu."
"Kamu pikir kantorku perpustakaan!"jawabnya sikat.
"Ck.." Delia memusingkan netranya menatap sekeliling ruangan.
Tiba-tiba tatapannya tertuju pada bingkai foto nyonya Lidia,ibu mertuanya,yang terpampang di meja rak yang berada di samping meja kerja Brian.
Delia menghampiri dan meraih foto itu.
"Mah,,aku Delia gadis kecil yang dulu sering dicubit pipinya sama mamah,,mamah inget kan?sekarang aku jadi menantu mamah,tau ga mah,,anak mamah itu super nyebelin,kenapa dia gak kaya mamah yang super baik ya..dia tu sok kegantengan mah..maaf ya mah,aku jadi suka kesel ma dia.."
Brian menghentikan pekerjaanya kemudian mendekati Delia,menempelkan punggung tangannya pada kening Delia.
Seketika Delia menampis tangan Brian.
"Ih,apaan si mas!"
"Kamu yang apaan! Ngomong sendiri,ngatain aku menyebalkan,maksudnya apa?"
Delia menunjukan barisan giginya,
"Gak usah cengar cengir,kenapa!" Hentaknya.
"Abisnya,aku dateng bukanya disambut,malah dicuekin! Belum lagi noh,cewe-cewe centil diluar sana!! Kupingku ampe panas tau!" Protes Delia pada suaminya yang masih datar menatapnya.
"Kamu tau kan aku sedang menyelesaikan pekerjaanku sebentar,aku tidak mengacuhkanmu! Dan..dan satu lagi,apa yang membuat kupingmu panas,memangnya apa yang mereka katakan?Aku akan memecatnya hari ini juga!ayo katakan.."
Brian duduk di meja kerja dan mengenggam tangan istrinya.
"Apa mereka setiap hari menghayal tentangmu?apa mereka setiap saat menggodamu?sepanjang jalan mereka memujamu,,apa mereka digaji untuk itu?"
Rengek Delia.
Sementara Brian justru terkekeh melihat istrinya yang tengah diselimuti rasa cemburu.
"Kok ketawa!!gak lucu!"
"Gini ya,apa yang mereka pikirkan tentangku aku sama sekali tidak tahu,dan aku tidak peduli! Tapi yaa...aku memang tampan dan berkarisma,jadi ya,bukan salahku jika mereka tergoda,,"
"sooomboong amat! Udah agh,males ngladenin kamu mas,,ayok,jadi makan siang ga!!"
"Iya iya,,ayo,kamu mau makan apa?"
"Apa aja! Yang jelas bukan makan ati!"
Brian tersenyum tipis melihat istrinya merajuk seperti anak-anak.
Brian mengambil kunci mobilnya dilaci,kemudian mengajak Delia makan diluar.
Sepanjang jalan mereka berdua menjadi pusat perhatian,dengan sengaja Delia menggandeng mesra suaminya.
Brian yang menyadari hal itu tetap bersikap cool.
Brian membawa Delia kesebuah resto,disana Brian memesan banyak makanan.
"Mas,kok banyak banget makananya??mana muat perutku mas.."
"Makan saja,aku sengaja memesan ini semua,biar kamu gemuk,lagian selama di rumah ayahku kamu tidak bisa makan dengan nyaman dan enak,iya kan?"
"Iya,,mas,sampai kapan oma menerimaku?"tiba-tiba Delia menghentikan makannya dan sedih.
"Aku mengajakmu kemari bukan untuk bersedih,makanlah tanpa memikirkan apapun! Aaa.." Brian menyuapi Delia.
"Terimakasih mas,,"
Delia tersenyum.
"Hem,,makanlah,,"
__ADS_1