
***
"Yan,kenapa lo!" Tanya Soni yang dirawat disebelah Brian.
Brian terlihat sangat kesal setelah menerima telpon dari Roby.
Meskipun diruang VVIP, Brian ingin Soni tetap satu kamar dengannya. Menurutnya,agar lebih mudah berkomunikasi.
Para perawat pun mengijinkan permintaan Brian.
"Si pemilik akun itu adalah Ayah,aku tahu ayah ingin memisahkan aku dengan Delia agar aku mau pergi kemari. Ayahku paham alur kemarahan ku ! Sial! Dan satu lagi, Ternyata Widodo bersekongkol dengan Dokter itu! Widodo yang memberikan rekaman itu pada Dr. Anya. Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua! Jika mereka berteman baik! Kenapa Widodo seperti sedang menikam ayahku dari belakang?
Apa ini sebuah penghianatan antar teman ?"
"Tepat sekali! Ketika keinginan Widodo untuk menjadikanmu menantu diambang kegagalan,maka solusinya adalah saling tikam"sahut Soni.
"Bodoh! Ayahku terlalu mempercayai teman sepertinya ! "
"Mungkin ga si,kalau dulunya mereka mempunyai semacam simbiosis mutualisme,persahabatan mereka hanya dilandasi dengan keuntungan saja,ketika salah satu merasa tidak diuntungkan maka persahabatan mereka tumbang."
"Oiya,Besok kalau lukamu sudah sembuh,segera cari tahu tentang Yeti dan cari keberadaan Dr. Anye. Pastikan,apakah yang ia bicarakan pada kita itu semua bohong ataukah benar! Desak dia! Mereka berdua berhasil menjebakku disini! Sial!!!" Lanjut Brian.
"Baik Yan,mungkin aku akan menghubungi beberapa orang-orangku untuk mencari tahu tentang Yeti. Untuk Dr. Anye,aku sendiri yang akan mencari keberadaannya."
"Bagus,,Aku masih harus mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya,untuk mengungkap kematian ibuku! Aku yakin,ibuku tidak selemah itu hingga mengakhiri hidupnya."
Tok tok tok
Terdengar Delia kembali ke ruangan.
"Diam ada istri ku,jangan sampai dia tahu"
"Oke."
Mereka berpura-pura bercerita tentang pekerjaan.
"Mas,ini aku bawakan buah untukmu"
"Iya,taruh saja disitu. Kemana Tania?"
"Saat hendak ke kantin ,dia mendapat telpon dari sekertaris Mr. Abdulla. Tania diminta ikut dengan Mr. Abdulla kekantor polisi untuk menemui para pelaku teror,mereka akan bertemu dengan pengacara juga"
"Oke,setidaknya ia berguna disini!" Ketus Brian.
"Sadis amat lo Yan!" Ejek Soni.
"Mas,Ingat ya urusan kalian belum selesai denganku! Setelah kalian sembuh aku akan balas kalian! Betapa malunya aku pakai pakaian itu! Pokoknya aku masih marah dengan kalian ! Terlebih ulah kalian sudah membuat jantungku hampir copot!! Ditambah ,media masa memberitakan bahwa kamu bersama seorang wanita. Lengkaaapp sudah penderitaanku karna kalian! Ihhhh...." Delia meluapkan kekesalannya dengan bersemangat.
"Memangnya kamu belum puas memarahi kami selama dijalan tadi??"jawab Brian dingin.
"Engga! Kenapa!" Delia menantang suaminya.
Soni tertawa geli melihat ekspresi Delia. Sedangkan Brian yang tengah bersandar ditempat tidur menatap keduanya dengan tajam. Brian melempari mulut Soni dengan kacang.
"Diem Lo!"
__ADS_1
"Del del,,suamimu emang gitu,dia tu gila aneh dan nyebelin..saking seringnya gue jadi korban jadi gue udah ogah protes ke dia."ejek Soni.
"Say,," Brian menghentikan panggilan sayangnya karna malu dengan Soni.
"Del,,inilah resikonya,kamu harus tahu itu. Ini satu-satunya cara agar kita bisa mengetahui siapa dalangnya dengan cepat. Kamu tidak usah khawatir,dan untuk masalah pakaian tadi,,mas minta maaf ya." Brian mengelus kepala Delia.
"Khemmm,,,aku si joker mau tidur aghhh" Soni menutupi wajahnya dengan selimut.
"Oiya mas,sikap Tania tadi kok rada aneh ya.."
"Aneh gimana?"
"Tadi saat aku menangis,dia memberikan aku tissu..itu kan sesuatu banget bagi nenek sihir" ucapan Delia kembali membuat Soni terkekeh dibalik selimut.
"Ih,,kak Soni!! Nyamber aja..jangan ketawa gue lagi serius ni!" Ucap Delia kesal.
"Abisnya ,pas ngomong nenek sihir kok dalem banget ya..intonasinya itu seperti benar-benar menghayati.heheheh"
"Mas,temenmu sama nyebelinnya ya kaya kamu!"
"Kok aku!" Jawab Brian.
"Iya! Kalian berdua sama-sama nyebelin,tanya serius-serius malah diketawain"
"Hehehe,udah biarin aja...em,klo masalah Tania,mungkin dia sudah lelah bersaing denganmu. Apa tadi dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu?"tanya Brian.
"Apapun yang dia katakan memang bikin nyesek mas,,enggak perlu ditanya lagi itu mah" jawab Delia.
"Ya sudah,jangan diambil hati ya. Bagaimana kakimu?"
"Sudah baikan mas."
"Apa!" Soni terkejut mendengar ada tulangnya yang retak.
"Kok bisa Del,padahal gue kan udah pakai pengaman yang benar kok bisa retak si"
"Ya tauuu,,itu kata Dokter,,hanya bagian jari kaki sebelah kiri kok,gak sakit,tenang aja.."
Ucap Delia.
"Jangan-jangan kamu lupa tidak memakai sepatu yang aku berikan?"tanya Brian.
"Iya,habis sepatu itu rasanya dipakai aneh,aku pikir kejadiannya engga separah ini Yan"
"Aku kan sudah pernah peringatkan,turuti saja perintahku,kita harus memikirkan kondisi terburuknya."
Saat itu Brian memberikan pengaman lainnya yaitu Helm,sarung tangan,sepatu dan kacamata.
"Oiya Del,Dokter bilang engga kalau penangananya seperti apa?"tanya Soni ketakutan. Karna dia takut untuk masuk keruang operasi.
"Engga,udah...kamu percaya saja sama dokter,semua bakalan baik-baik aja.." jawab Delia.
"Udah,jangan tegang,sini aku kupasin buah buat kalian" Delia berdiri mengambil buah mangga dan mengupasnya.
Pukul 5 sore seperti yang sudah dijadwalkan,Soni masuk kedalam ruang operasi.
__ADS_1
Dikamar hanya ada Brian dan Delia.
"Mas,Aku merasan bersalah atas semua yang terjadi pada kalian. Aku minta maaf untuk semua kejadian yang sudah menimpa kalian" Tiba-tiba Delia mengubah wajah nya yang semula terlihat ceria. Ia kembali mengingat semua perkataan Tania saat dimobil.
"Apa maksudmu?" Brian menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidurnya.
"Semenjak aku datang,permasalahan dalam hidup kalian menjadi lebih kompleks seperti ini,apa kamu tidak merasa kalau aku pembawa sial bagimu?"
"Siapa yang bilang seperti itu?Tania??" Tanya Brian kesal.
"Apa yang dia katakan memang ada benarnya juga kok mas" Delia tertunduk memainkan jarinya.
"Itu menurutmu! Menurutku tidak! Udah engga usah dengerin dia. Kamu tau sendiri kan dia,,lagian ga mutu tau dengerin omongan Tania!"
"Mas,,"
"Apa lagi sayaaang...kalau mo ngomong aneh-aneh aku gak mau denger" hardik Brian.
"Aku lelah,," ucap Delia lirih.
"Kemari"
"Kemana?"
"Sini,kamu istirahat saja disini" Brian menepuk-nepuk kasur,menyuruh Delia tidur disebelahnya dalam satu kasur.
"Ih,,malu mas,lagian sempit kan?"
"Cepat kemari! Aku tidak akan membuatmu malu disini,tenang saja,," Brian tersenyum nakal.
"Janji loh!" Delia menyipitkan matanya.
Brian terus saja tersenyum.
"Tidurlah" Biar menggeser badannya agar Delia bisa berbaring.
Cukup lebar memang kasur yang ada di kamar VVIP. Meskipun ditempati berdua dengan Delia kasur itu tetap nyaman.
"Mas,,"
"Hem,," Brian meraih ponsel yang ada dimeja sebelahnya.
Ia mulai mengotak- atik ponselnya,tatapnya fokus dengan layar ponselnya.
"Kira-kira apa jadinya kalau omah tau kamu mengalami kecelakaan ya? Pasti Oma memarahiku lagi? Aku takut mas..aku ,,aku em aku ,,kamu,,jatuh..eh,,ya gitu lah poko..nya.." ucap Delia yang terdengar mulai samar.
Brian menoleh kearah Delia,karna dari suaranya seperti orang mengigau.
"Yah,tidur dia,,pantas omongannya nglantur heh,," Brian menggeleng-gelengkan kepalanya,tersenyum ketika melihat mata Delia mulai terpejam dengan mulut yang masih komat-kamit dan lama kelamaan akhirnya terdiam.
"Del,Del,maafkan aku untuk hari ini sangat melelahkan bagimu. Maaf karna aku membuatmu malu,membuatmu letih,membuatmu panik,hari ini bertambah besar perasaanku untukmu,tetaplah disisi ku dalam keadaan apapun.
Sabar lah,sebentar lagi sayang, sebentar lagi semua akan terungkap. I LOVE U Sayang" Dengan susah payah Brian mencoba mencium kening Delia. Rasa sakit ditubuhnya pun terlupakan.
Brian membagi selimutnya untuk Delia,kemudian ia belai rambut istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Brian kembali mengotak- atik ponselnya. Memantau pekerjaannya,memeriksa laporan dari Golden big.
1jam kemudian Soni dibawa kekamar oleh perawat. Ia masih mengenakan pakaian operasi,terlihat jelas wajahnya putih pucat.