Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 18


__ADS_3

"Khhemmmm..." Brian tiba-tiba datang membuka pintu dan berdehem saat mendapati Delia sedang tersenyum disuapi Roby.


"Eh,kak Brian...Aku kemari menjenguk Delia,maaf baru bisa kemari kak"


"Iya,apakah pekerjaanmu sudah selesai dikantor?" tanya Brian datar. Brian melepas jas dan dasinya,meletakan tas kerjanya di kasur yang ada diruangan khusus penunggu. Kemudian dia kembali menghampiri Roby dan Delia.


"Kerjaan kantor sudah kelar kak,makanya aku sempetin kemari."


Roby terus menyuapi Delia,Roby tau Brian tidak menyukai Delia,jadi dia sama sekali tidak canggung.


Sementara Delia merasa canggung dengan sikap Roby dan melihat raut wajah Brian yang tidak bersahabat.


"Bukanya nanti pukul 1.30 ada Meeting?kenapa kamu masih disini!" kata Brian ketus dihadapan Roby.


"Sebentar lagi aku akan kekantor kak,"


"Sudah sekarang saja,biarkan Delia makan sendiri,Jangan terlalu memanjakanya!" Brian melirik sinis kearah Delia.


"iya kak,terimakasih untuk hari ini,aku juga sudah kenyang" Delia menolak suapan Roby dengan halus.


"Oke,baiklah,,kalau ada apa-apa kabari aku ya Del," Roby meletakan piring yang masih berisi makanan disamping tempat tidur Delia.


"iya Kak,terimakasih" Delia mengangguk dan tersenyum pada Roby.


"aku permisi kak,titip Delia yaa"


Roby mengetahui maksud Brian yang sebenarnya sedang mengusirnya.


"Dari kapan dia disini!" tanya Brian pada Delia


"siapa?"


"Roby lah!"


"Oh,barusan belum lama" Delia seolah tidak mempedulikan tatapan Brian,dia melanjutkan makanya.


"Kamu bisa makan sendiri,kenapa disuapin segala!!"


"Aku juga sudah menolak,tapi dia yang memaksa"


"Dan kamu keenakan disuapin dia!!"


"Apa pedulinya kamu!dia memberikan perhatian yang tulus untukku,dia benar-benar mempedulikanku,dia salah satu sahabat terbaiku,jadi untuk apa aku menolak kebaikanya,toh dia enggak bakalan meracuniku!" jawab Delia dengan ketus.


"Wanita murahan!!"


"Apa!murahan kamu bilang!!aku tidak pernah menjual diri ya,aku juga masih menjaga batasan-batasanku. Jangan sebut aku wanita murahan!"


"Tapi kamu menikah demi pelunasan hutang ayahmu!!"


Delia meletakan piringnya dengan kasar kemeja disampingnya.


"Apa kalian lupa!bukannya kalian yang menawarkan ini padaku! coba saja kalau kalian mau memberiku waktu cukup lama lagi,aku akan melunasi semua hutang ayahku!! dan lagi,itu karna ancaman yang keluar dari mulut picik ayahmu yang membuatku terpaksa menikahimu!! jadi pernikahan ini bukan kemauanku!"


Delia menangis mendengar kata-kata Brian yang menyebutnya wanita murahan.


"Terserah pendapatmu!silahkan mencaciku! tapi kamu jangan sekali-kali menggoda adik sepupuku! bersikaplah seperti wanita yang sudah bersuami!!paham!!!" Brian berbisik ditelinga Delia kemudian meninggalkannya. Dia berbaring dikasurnya,dan memejamkan matanya meskipun tidak tidur.


Sementara itu Delia terus menangis kesal dengan keadaanya.


"Laki-laki macam apa dia,sama sekali tidak mempunyai hati!bicara seenaknya,dengan keadaanku yang seperti ini dia masih saja menyakitiku! ya Allah,,kuat kan aku......"


Delia meraih tombol panggilan ke bagian perawat. Kemudian perawat pun datang menghampiri Delia.


"Ada yang bisa saya bantu non?"


"Saya mau buang air kecil kekamar mandi Sus,bisa bantu aku ambilkan kedua tongkat itu?"

__ADS_1


"Baik nyonya"


Brian yang menyadari kedatangan perawat langsung membuka matanya dan menoleh kearah Delia yang sedang berjalan dengan kedua tongkat di tanganya,didampingi oleh perawat sampai kedalam kamar mandi.


Setelah Delia keluar dari kamar mandi,perawatpun meninggalkan Delia.


Brian kemudian menghampiri Delia.


"Kalau ada apa-apa panggil aku aja,jangan terlalu merepotkan perawat. Pasiennya bukan cuma kamu saja disini!"


Brian membantu Delia meluruakan kakinya dikasur.


Delia tetap bungkam karna masih kesal dengan sikap Brian tadi.


"Ini minum obat dulu,kamu kan sudah makan tadi." Brian mengambilkan obat dan menyuapi obat pada Delia.


Delia terus menatap wajah Brian yang mudah sekali berubah-rubah.


"Dia seperti bunglon kadang begitu menyebalkan kadang dia menunjukan perhatiannya meskipun hanya sedikit selama dirumahsakit. Ya Allah,permainan apa lagi ini..." batin Delia.


"Jangan mengkhayal macam-acam tentangku!berhenti menatapku" Brian menjentikan jarinya didepan wajah Delia,menghamburkan lamunan Delia.


"Sssissisiapa yang mengkhayal,aku hanya berfikir sampai kapan aku bergantung pada orang lain." Delia menundukan pandanganya,merasa anggung saat Brian berbalik menatap matanya jauh.


Kini Brian dan Delia saling bertatapan,dengan jarak yang cukup dekat. Sejenak mereka sama-sama terdiam. Kemudian kedatangan perawat menyadarkanya.


"Maaf tuan,maaf nyonya,,saatnya membersihkan luka bakar nyonya Delia."


"Silahkan Sus"


Brian mempersilahkan perawat untuk membersihan luka Delia,dia terus memperhatikannya dari sisi yang lain.


" Sssssst...sakit Sus.."


"Pelan-pelan sus!!" mendengar Delia merintih kesakitan Brian langsung membentak perawat itu.


"Mmmaaaf tuan" perawat itu. ketakutan mendengar kemarahan Brian.


****


Kondisi Delia sudah membaik,Brian membawa Delia pulang kerumah barunya.


"Rumah siapa ini?"


"Rumahku"


"Tapi ada barang-barang yang belum aku bawa.Ada beberapa yang masih tertinggal dirumah ayahmu."


"Semua sudah aku pindakan kemarin saat kamu dirumah sakit."


Delia dan Reyhan masuk kerumah yang cukup besar dan tak kalah mewahnya dengan rumah Atmajaya. Bedanya,dirumah Brian ada Lifh dan ada ruang khusus spa dan ada minimarket khusus.


Saat Brian menunjukan ruang khusus minimarketnya Delia terkagum-kagum dan bergumam lirih


"ini si kaya I***mart beneran,pasti aku harus membayar mahal disini,"


"Berhenti membayar apapun yang kamu nikmati disini atau akau akan kembalikan kamu kerumah ayahku!!"


"Aku kan sudah bilang,aku tidak mau menambah hutang pada keluarga kalian!" Delia melirik tajam kearah Brian yang ada disampingnya .


"Oke,begini saja,aku punya penawaran bagus untukmu,anggap saja kita join."


Delia menatap Brian dengan kecurigaan. Ia menyempitkan kelopak matanya.


"Apa?"


"Yang pertama,aku tidak akan membayar asisten rumahtangga karna kamu disini yang akan membersihkan semua!itu sebagai bayaran kamu bebas menikmati semua fasilitas disini tanpa membayar sepeserpun"

__ADS_1


"Sama aja dong aku kaya pembantu tapi gak dibayar."


"Mau enggak!!!"


"Iya mau,daripada aku pusing cari tambahan uang. Lanjut yang kedua!"


"Kedua,kamu harus menuruti semua kataku termasuk jaga jarak dengan Roby!aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya,,eitzzz bukan berarti aku cemburu,aku hanya tidak ingin Roby sakit hati karnamu!!karna aku lihat dia mulai respect denganmu"


"Maksudnya!!?kita kan cuma teman bagaimana bisa ada sakit hati segala,lagian wajar lah sebagai teman kita saling mengerti,dia tu supple,gak kaku ,gak membosankan"


"Sudah!!Mau apa enggak!!"


"Emmm,,gimana ya,jaga jarak bukan berarti menjauhi kak Roby sepenuhnya kan?"


"iya!!sebagai gantinya,aku akan mengamankan Vidio2 kita saat dirumah ayahku agar tidak sampai ke Ayahmu"


"Apa!!kamu yakin???tapi aneh...bukanya kalian menginginkan kematian ayahku."


"Setelah kupikir-pikir kamu memang benar,mungkin aku harus memberimu waktu untuk mencari tau yang sebenarnya terjadi,tapi kalau memang keyakinanku benar aku akan menghabisi ayahmu!"


"Silahkan saja,kamu memang harus memberi waktu pada keluarga kami untuk mencari kebenaranya,dan jika keyakinanku yang benar maka aku minta,lepaskan aku dari pernikahan ini dan kembalikan nama baik ayahku secara terhormat!!!"


Sejenak mereka saling bertatapan,Brian menatap Delia dengan penuh makna.


"Bagaimana?Deal?"tanya Delia sekali lagi


"Hah..oke Deal" mereka berjabat tangan menyetujui semua perjanjian.


"Em..tunggu dulu,"


"Apa lagi kak,?"


"Kakimu masih belum begitu pulih,sementara jangan mengerjakan pekerjaan rumah yang berat-berat,untuk membersihkan rumah ini aku akan panggil bi Ani seminggu 2kali.Tapi itu hanya sementara saja,jadi jangan manja!!"


"Hem,oke..." Delia berjalan menuju kamar yang Brian tunjukan padanya.


Kamar mereka bersebelahan,dengan begitu Delia bisa lebih leluasa berada dikamarnya sendiri.


Setelah merapikan baju-bajunya,Delia lupa kalau dirinya belum membersihkan diri,sementara kakinya belum boleh terkena air.


Delia masuk kekamar mandi,dia menyeka tubuhnya pelan pelan.


Selesai mandi Delia langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan. Meskipun masih sore tapi Delia sudah merasa lapar.


Delia menaiki lifh turun ke Dapur dan mulai memasak.


Brian yang juga ingin turun kebawah tiba-tiba terhenti melihat Delia yang sedang berusaha memasak meskipun kedua tangannya menyangga tongkat.


Brian pergi kekamar dan mengambilkan kursi roda.


"Aku lupa memberikan ini padamu,kalau kau merasa kesulitan dengan tongkat,pakailah ini agar gerakan tanganmu tak terganggu."


"Terimakasih kak"


"Kenapa dia menjadi sebaik ini,ini sungguh berbeda saat dirumah Atmajaya. Ya Allah,semoga ini bukan bagian dari rencananya." dalam hati Delia masih belum mempercayai perubahan sikap Brian yang mulai ramah denganya.


"Aku mau berenang dihalaman belakang,dari dapur kelihatan kan jadi kalau ada apa-apa panggil saja aku."


"Baik kak."


Sebelum meninggalkan Delia,Reyhan membantu Delia duduk dikursi rodanya.


Meskipun luka dikaki Delia sudah mulai sembuh,tapi masih saja kaku dan sedikit nyeri saat menapakan kakinya dilantai.


"Terimakasih kak,"


"Berhenti berterimakasih dan segera masak untukku juga,aku juga lapar,selesai berenang aku akan langsung memakan masakanmu"

__ADS_1


Delia mengangguk pelan.


Saat berenang,Brian sesekali memperhatikan Delia yang nampak cantik dengan bluse putih,dan rambut dikucir tinggi,lehernya terlihat panjang.


__ADS_2