Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 70


__ADS_3

Delia memejamkan matanya,menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di tembok toilet.


Setelah merasa sedikit tenang,ia kembali kemeja dan menyantap makan malam bersama Fani dan Bimo.


Setelah selesai makan mereka,pulang kerumah Bimo.


Delia sangat merindukan bibi Mira dan paman Heru.


Mereka saling berpelukan,bagi mereka Delia sudah seperti anak kandung mereka.


Bibi Mira terus memeluk Delia.


"Udah dong mah,meluknya,,kasian tu badan kecilnya engap"goda Bimo.


"Bibi gemes ma adekmu Bim,dia tu lama banget gak kesini,kirain lupa jalan pulang..hehehe"


"Ga dong bi...aku kan lagi sibuk mulai ngerjain skripsi,lagian belum ada sebulan..bibi lebay agh.."


"Hehehe...habisnya biasanya kamu telpon juga gak pernah telpon,,oiya Del,noh kakakmu bikin bibi pontang panting,mau ngelamar anak orang kok mendadak gini"


Bibi Mira melotot ke arah anaknya,Bimo.


"Kan,biar surprise mah.."


"Halah,surparise..apaan,untung Fani bantuin mamah buat persiapan besok."


"Hehehe...biarin mah,mas Bimo kan emang githu...yang penting sekarang semua udah siap semua kan mah,"


Tangan Bibi Mira meraih tangan Fani,menyuruh Fani duduk disampingnya.


Bibi menyatukan kepalanya ke kepala Fani.


"Iya,untung aja Bimo pinter milih menantu buat mama,kalau engga...uh..udah bibi jadiin rujak tu anak"


Semua tertawa melihat ekspresi bibi Mira yang kesal dan gemas dengan anak semata wayangnya.


Tak terkecuali Bimo,dia hanya tersenyum tipis dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Bi,aku mau kekamar yah,," Delia ingin membaringkan tubuhnya ,karna lelah telah berkeliling mencari pakaian.


"Iya sayang,,kamu juga kelihatan sangat lelah,istirahatlah" bibi Mira membelai rambut panjang Delia.


"Aku antar Delia kekamar ya mah.."ucap Fani mengikuti langkah lulai Delia.

__ADS_1


"Iya sayang,,kamu temani dia sana,mamah mau meneruskan merapikan barang-barang yang akan dibawa besok kerumahmu"


Bibi Mira menuju ruangan dimana dia dan asisiten rumah tangganya sedang mengemas hantaran untuk prosesi lamaran.


Sedang Brian kembali keruang kerjanya,dia sekarang sudah tidak bekerja di Bali,sekarang dia membantu mengurus Klinik Delia. Karna sebagian besar sahabat Brian adalah mereka-mereka yang berkecimpung di dunia kesehatan. Brian dulu juga pernah mengenyam pendidikan Farmasi.


**Di kamar Delia**


Fani mengikuti langkah Delia memasuki kamarnya,


"Del,,kamu gak lupa kan kamu harus berbagi sesuatu denganku,aku tau,meskipun bibirmu tersenyum dan melempar canda pada kami,matamu tak bisa membohongiku..ayo,cepat ceritakan ada apa?"


Fani sudah tidak sabar mendengar penjelasan Delia.


Bagi Fani,Delia adalah lebih dari sahabat,dia sangat tidak tahan jika melihat Delia tersakiti.


Delia melempar tasnya keatas kasur dan dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidurnya,dia juga meluruskan kakinya. Sementara Fani,dudu ditepi tempat tidur tepat disamping Delia.


"Fan,,aku mulai ragu lagi dengan Brian."


Jawab Delia lemas.


"Ragu gimana?bukannya dia selalu menunjukan rasa cintanya padamu,setelah apa yang ia lakukan selama ini,kamu masih ragu juga???bener-bener loe Del"


"Beberapa hari ini,ada yang sering mengingatkanku melalui sebuah pesan,,"


"Mengingatkan??maksudnya?"potong Fani.


"Iya,dia sering mengirim pesan yang pada intinya,aku harus bersiap-siap ditinggalkan oleh Brian setelah kotak itu ditemukan,karna Brian tahu,hanya aku yang bisa menemukan kotak itu,dan apa yang dia lakukan selama ini hanya ingin membuatku yakin dan percaya padanya.


Sampai suatu saat nanti aku menyerahkan semua yang ada di kotak itu untuk Brian.


Pada akhirnya Brian dan ayahnya menang,lalu mereka menikah."


"Hah???cerita konyol apa itu Del?kamu percaya begitu saja dengan wanita itu??yang benar aja Del.."jawab Fani yang merasa aneh dengan cerita Delia.


"Apa kamu percaya?" Lanjutnya.


"Entah,,dia juga mengirimkan beberapa foto tapi bagian wajah si perempuan sengaja disamarkan dengan emotion"


"Del,del..bisa semudah itu kamu percaya dengan orang lain??"


"Aku juga gak tau Fan,aku bingung,apa aku harus mempercayai Brian atau si wanita itu."

__ADS_1


"Duh Del,,masa si Brian mau setega itu. Lagian sebenarnya apa aja si yang ada di kotak itu,sampai-sampai mereka teropsesi banget"ucap Fani menggenggam kedua tanggan Delia.


"Aku juga ga tau,,kalau cuma masalah semua harta sudah dipindah atas nama Brian,bukannya Atmajaya harusnya senang,,anak semata wayangnya bisa mewariskan itu semua." Delia mulai berfikir,timbul rasa ingin tahunya mengenai isi kotak itu.


"Bener juga ya Del,,harusnya kan Atmajaya seneng,gak perlu sampai mengorbankan nyawa ibu dan ayahmu? Padahal Atmajaya saat inipun masih bisa mengelolah satu perusahan besar milik keluarga nyonya Lidia,hidupnya masih enak,meskipun hak waris sudah dilimpahkan pada Brian. Pasti ada lagi yang nyonya Lidia sembunyikan selain surat-surat itu dan surat kepemilikan pulau"


"Iya juga ya Fan,,em..trus mengenai cewe itu,kira-kira siapa ya Fan? kenapa cewe itu bilang,Brian bakalan ninggalin aku kalau kotak itu sudah aman dalam genggamannya,itu artinya si cewe itu juga tahu kurang lebih tentang isi kotak itu,itu artinya cewe itu juga dekat dengan keluarga Atmajaya" semakin bingung dengan keadaan ini.


"Setahu aku,hanya Tania yang dekat dengan Atmajaya,dan dia juga pernah dekat dengan Brian saat di Amerika. Tapi kenapa bu Lidia justru menjodohkan Brian denganku bukan dengannya?"jawab Delia sembari memegang liontin yang ia pakai.


"Ahaaa...mungkin benar wanita itu Tania,loe kan pernah bilang,Atmajaya dan Widodo ingin menjodohkan mereka. Malahan Tania yang mencetuskan ide agar Brian menjalankan misi pura-pura mencintai loe. Nyatanya Brian beneran suka sama loe..iya kan?"


"Fan,kalau kenyataanya dia ga mencintaiku gimana?itu artinya Brian memang sedang menjalankan misi itu."


Delia mulai merasa tidak tenang,ia kemudian mengacak acak rambutnya frustasi.


" Aggghhhhh...bodoh bodoh...aku bener-bener bodoh Fan"


Delia tiba-tiba menangis,memukul-mukul kasur.


Kemudian menarik dan memeluk kakinya.


Fani langsung memeluk sahabatnya.


"Kamu kenapa Del?jangan seperti ini dong,,ini kan baru dugaan aja..kita gak tahu apa yang Brian pikirkan..bisa jadi Tania sengaja membuatmu ragu dan pergi.


Dia tidak suka dengan hubunganmu karna Brian sudah menolaknya,iya kan Del"


"Tapi sepertinya benar Fan,,aku juga gak pernah dengar Brian menolaknya,,dulu aja waktu aku masih dirumah Atmajaya,Brian tidak pernah menolak pelukanya,dan Tania sering bermanja-manjaan dengan Brian Fan.." Delia merasa menyesal,karna dia sudah menyerahkan semuanya pada Brian.


"Tenang,Del,,,itu kan dulu,waktu dirumah Atmajaya,masih dalam pengawasan Atmajaya.


Lebih baik kamu tanyakan langsung pada Brian."


Fani mengelus rambut panjang Delia dengan lembut.


"Tttapi...kalau apa yang cewe itu bilang benar gimana Fan,,ak-,ak-u,,aku ga sanggup Fan..aku udah menyerahkan semua padanya Fan,,"


"Maksudmu?kamu udah...menjadi istri seutuhnya?"


Delia mengangguk dan terus terisak.


"Ya udah,gak papa Del,,jangan disesali karna itu memang sudah jadi kewajibanmu sebagai istri,karna kalian sah secara agama"

__ADS_1


Fani mencoba menenangkan Delia.


__ADS_2