Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 120


__ADS_3

"Agghhh...mas,,jangan berlebihan gitu malu tahu. Bi,Paman,,kami minta maaf ya,karna diusia pernikahan kami yang masih terbilang baru,kami selalu membebani bibi dengan berbagai masalah,seperti kemarin." Ucap Delia lirih,sambil mengambil air minum untuk Brian dan dirinya.


"Nak,konflik dalam rumah tangga itu pasti ada sebagai ujian. Tinggal bagaimana kita menyelesaikannya,dibutuhkan komunikasi yang baik dalam hal ini,jika hanya saling menyalahkan itu tidak akan menyelesaikan apapun.


Saat terjadi konflik,kita tidak mencari siapa yang benar siapa yang salah. Semua salah,semua wajib intropeksi. Setelah itu,cari solusi. Paman dan Bibi hanya mampu mengingatkan saja,untuk kalian dan untuk mu juga Bim...kamu sebentar lagi mau menikah,jadi harus lebih bijak dalam menghadapi masalah sekecil apapun.


Tidak ada pria yang sempurna tidak pula ada wanita yang sempurna..yang ada hanyalah pasangan yang bisa saling menyempurnakan " Ucap Paman Heri.


"Terimaksih paman,,paman dan bibi sudah mengingatkan kami. Insya Allah kedepannya kami bisa lebih baik."


Jawab Brian.


Mereka melanjutkan makan dalam kehangatan.


Rumah yang sederhana,hangat dan menenangkan,itulah kesan Brian saat berada dirumah bibi Mira.


"Mah,aku berangkat ke Klinik dulu."


Bimo menyudahi sarapannya,ia langsung mengambil tas dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya.


Kemudian mengusap-usap kelapa Delia.


Kedua orang tua Bimo merasa curiga dengan sikap dingin Bimo pada Brian.


Sedari tadi mereka mengobrol Bimo tidak berkomentar apapun,dia hanya diam menikmati sarapannya.


"Oiya Del,besok sore kita mengadakan rapat dengan para Dokter diKliniknmungkin ada beberapa point yang harus kita bahas disana."


"Baik Kak,besok kakak ingatkan aku ya.."


"Oke"


Bimo pergi tanpa menoleh kearah Brian. Menambah kecurigaan bibi dan paman.


"Em,,nak Brian,,apa kamu dan Bimo bertengkar?"tanya bibi ragu.


"Em,bukan pertengkaran kok bi,,Bimo terlalu menyayangi Delia,jadi menurutku ini wajar,dia belum bisa memaafkan kesalahanku kemarin."


"Oh,,itu to ...maafkan sikap Bimo ya Ian,Bimo di luarnya saja terlihat cuek,angkuh,tapi dia memang sangat menyayangi Delia sejak kecil. Bimo paling tidak tahan melihat Delia menangis. Makannya setelah meninggalnya Yosep,Bimo lah yang memaksa Delia ke Bali untuk mengembalikan senyumannya."


Jelas Paman Heri.


" Iya paman,"


"Em,,paman bibi,sepertinya saya harus mengantar Delia ke kampus sekarang, karna saya akan segera kekantor." Lanjuyltnya.


"Baiklah nak,,terimaksih untuk oleh-olehnya," Paman Heri tidak sengaja memegang lengan Brian.


Brian terkejut meringis menahan sakit.


"Kamu sakit nak?"tanya Paman cemas.


"Tidak apa-apa paman,,kemarin hanya mengalami cidera ringan saat nge gym."


"Aduhhh..maaf ya paman tidak tahu,kalau dibalik jas mu ada luka."


"Iya,tidak apa-apa paman.."


"Itu hanya luka ringan kok paman" sahut Delia.

__ADS_1


"Ya sudah,kami pamit ya Bi,,"Delia mencium punggung tangan Bibinya,kemudian pamannya secara bergantian.


Begitu juga Brian.


***


Sesampainya dikampus Delia langsung berpamitan dengan suaminya,ia pun berjalan masuk kedalam kampus.


Saat Brian hendak menancapkan gas,tiba-tiba dari kaca sepion terlihat Hans tengah memarkirkan motor gedhenya diparkiran khusus motor. Dia terlihat cukup tampan sebagai pesaingnya.


Banyak mahasisawi yang memeperhatikan ketika ia berjalan.


Brian menarik nafas panjang dan menghempaskan kasar.


Ia singkirkan gengsinya untuk menemui Hans.


Ia keluar dari mobilnya,bersandar ditepian menanti Hans.


Saat sudah dihadapannya Hans berpura-pura acuh padanya.


"Hans" sapa Brian.


Dengan santainya Hans berbalik menatap Brian.


"Ada apa?Bukannya masalah kita sudah selsai! Aku tidak akan menganggu istrimu lagi!" Jawabnya ketus.


"Aku cuma mau berterimakasih kamu membantuku menemukan siapa yang memfitnah mu dan Delia ."


"Hem,,itu hal mudah bagiku! Aku lakukan itu demi Delia,aku tidak tega melihatnya menderita karna orang yang dia cintai tidak mempercayainya!! Akan sulit hidup dengan ketidak percayaaan,aku kasisan dengannya" Hardik Hans dengan menyindir Brian.


"Jangan banyak bicara!!! Aku hanya ingin berterimakasih itu saja! Maaf,aku sibuk meladeni bocah ingusan sepertimu!!" Brian mulai terpancing emosinya.


Sepanjang jalan Brian terus terbayang ucapan Hans.


"Songongg banget tu anak!! Beraninya menceramahi ku! Awas saja kalau dia berani mendekati istriku lagi,habis dia!!"


"Aku seperti ini juga karena dia! Coba saja dia tidak mendekati Delia!! Huf,,menjengkelkan!!" Geeutu Brian kesal.


Sesampainya dikantor wajahnya pun terlihat sangat kesal. Tak satupun karyawan yang berani memandangnya.


Seperti biasa,Safa sudah bersiap didepan pintu ruangan Brian,ia berdiri dan menganggukan kepalanya.


"Selamat pagi tuan" sapa Safa.


"Segera masuk keruangan ku bawa semua laporan selama aku libur"


"Baik tuan"jawab Safa.


Dengan segera,Safa merapikan beberapa file untuk dilaporkan pada Brian.


Roby pun hari ini kekantor Brian untuk melaporkan selama dia mengambil alih beberapa pekerjaa sepupunya disana.


"Kak" sapa Roby yang sudah duduk menunggunya di sofa.


"Pagi sekali kamu sudah disini Rob"tanya Brian.


"Iya,aku harus melaporkan semua dulu padamu baru aku kembali ke kantorku, Bisa kita mulai sekarang Kak? Karena aku juga ada banyak pekerjaan di kantorku"


"Oke,kita tunggu Safa sebentar lagi"

__ADS_1


5menit kemudian Safa masuk kedalam ruangan dan langsung menjabarkan laporan,begitu juga Roby,ia menjelaskan kinerjanya selama Brian di Dubai.


"Oke,kerja bagus Roby,,aku sangat percaya dengan kemampuanmu. Siang nanti kita makan siang nanti aku share tempatnya,ada yang ingin aku bahas"


"Iya Kak,ya sudah aku pergi dulu ya"


"Hem,silahkan" Brian membukakan pintu untuk Roby.


###


Dikampus


Delia langsung terlihat sibuk ia menyerahkan revisi naskah skripsi yang ia kerjakan saat di Dubai sambil menunggu Brian di Rumah Sakit. Saat itu ia sangat beruntung karna dibantu oleh suaminya dan Soni.


"Semoga saja ini revisi terakhir" gumam Delia dalam hati.


Ia terlihat sangat gugup ketika dosen pembimbing dan dosen penguji memeriksa naskah tersebut.


"Ya Allah,,,batu aku..." ia terus berdoa dalam hati.


"Oke,saya rasa ini cukup,,apa kamu sudah menyelesaikan semua administrasi kampus?"tanya salah satu Dosen.


"Sedang saya urus pak" jawabnya gugup.


"Baiklah,segera urus,,"


"Siap,,oiya,mohon diterima,ini oleh-oleh untuk bapak dan ibu,,kebetulan saya kemarin baru dari Dubai. Mohon diterima,semoga kalian menyukainya"


Delia memberikan beberapa Paper bag pada mereka.


Semula dosen yang memasang wajah sangar pun berubah drastis,ada senyum merekah dari sudut bibirnya.


"Terimakasih Del,,kami menerima oleh-olehmu.


Semoga sukses"


"Terimakasih bu dosen,,saya permisi"


"Silahkan"


Delia dapat bernafas lega setelah keluar dari ruangan.


"Sepertinya di ruangan itu sama sekali tidak ada oksigen." Delia terengah-engah mengatur nafasnya.


"Aku akan ke kantin dulu agh...haus"


Dekia melangkahkan kakinya ke Kantin memesan minuman dan cemilan.


Ia duduk tepat dibawah pohon yang rindang,ia memikirkan banyak hal . Ia menatap langit luas dengan senyuman.


Ia mengingat kedua orang tuanya yang sudah meninggal.


"Ayah,ibu,,,kalian pasti merasa senang,lihat ini anakmu yang super manja,sebentar lagi akan wisuda,,Aku persembahkan semua untuk kalian. Meskipun aku hanya mengambil D3,tapi aku janji 1 th lagi aku akan mengambil S1 farmasi sesuai keinginan ibu. Aku janji,aku akan berusaha keras dan tidak akan membolos kuliah lagi"


Ketika sedang asyik menyendiri,Delia melihat sosok Hans yang juga sedang memesan minuman dikampus.


Delia merasa kebingungan bagaimana dia harus bersikap.


Disisi lain,Delia ingin sekali berterimakasih padanya.

__ADS_1


Disisi lain,dia takut kalau dia mendekatinya dan ada yang mengetahuinya,Brian akan kembali murka.


__ADS_2