Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 90


__ADS_3

"Senyum dong massss...jangan galak-galak agh...dia kan Oma mu.." Delia memberi contoh pada suaminya dengan senyuman manis.


Brian tersenyum malas,membuat Delia memanyunkan bibirnya.


"Udah gih sana kedapur!" Titah Brian.


"Oke..boskuuuu..."


Delia segera pergi kedapur untuk mengambil sarapan Oma.


Brian berjalan mendekati Oma yang tengah duduk bersandar di tempat tidurnya.


Melihat kedatangan Cucunya,Oma langsung memalingkan wajahnya.


Brian mendekat,duduk ditepi kasur.


"Oma..Ian mau pamit,bukannya Ian tidak mau menemani Oma disini,tapi Ian rasa ini keputusan terbaik buat semuanya...Ian bakalan sering kemari menjenguk Oma.."


"Oma tau! Istrimu kan yang menyuruhmu pergi dari sini! Kalau dia mau pergi ya pergi saja jangan ngajak kamu! Semenjak ada dia kamu sudah tidak pedulikan Oma! Kerjaanmu marah-marah terus,.Apa kamu pikir Oma tidak membutuhkanmu!"


"Bukan begitu Oma..justru Delia selalu menyuruhku untuk bersikap baik dengan Oma,dia juga sayang dengan Oma,tapi Brian yang belum bisa terima kalau Oma dan Ayah terus-terusan menjodohkan aku dengan Tania. Aku juga tidak tega dengan istriku yang terus disalahkan.."


"Owh..jadi ini semua karna salah Oma ?iya!?"


"Omaaa..cobalah sedikit mengerti kami..kami sedang berusaha mencari kebenaran agar kesalah pahaman ini tidak berlanjut..Aku hanya minta,Oma membantu kami..jangan justru menyudutkan kami..Ian mohon Oma,berilah sedikit ruang dihati Oma untuk Delia"


"Silahkan kamu membelanya,Oma tidak peduli!"


"Dulu akupun sempat membenci dia Oma,aku mengawasinya,aku menikahinya dengan kebimbangan,aku membencinya tapi juga mencintainya,karna dia gadis baik.


Akupun tersiksa dengan perasaanku,akhirnya aku putuskan untuk menyelidiki lagi kasus kematian ibu,dan benar,,keluarganya sama sekali tidak bersalah,Oma harus tau itu,,nanti,akan ku bawa semua bukti untuk Oma,tapi bukan sekarang,karna aku harus mengumpulkan lebih banyak lagi untuk Oma.Brian hanya berpesan dengan Oma,jika Oma mendengar Ian mohon,Oma harus kuat" Brian mengenggam tangan Omanya kuat.


"Yakin sekali kamu!"


"Oma,Oma lihat mataku,,apa aku sedang berbohong dengan Oma,sekali saja Oma..lihat aku.."


Omapu menatap Brian,mendalami setiap tatapannya.


Kemudian ia berpaling lagi.


"Pergilah," nada bicarany mulai menurun.


Delia datang dengan membawakan nampan berisi,sarapan untuk Oma.


"Permisi...Omaaa,Delia bawakan sarapan..Oma makan ya.." Dengan lembut Delia menyuruh Oma makan.


Delia memang tak tega lama-lama bersi tegang dengan Oma,dia sebenarnya juga tidak tega meninggalkan Oma di rumah ini.


"Mau apa kamu!aku bisa sendiri!"jawab Oma ketus.


"Aku mau menyuapi Oma,,ayo Oma,makan ya.." Delia menarik sebuah kursi kecil untuk duduk di samping Oma,Brian pun ikut membujuk Oma.


"Makanlah Oma,."


"Kenapa kalian senang sekali mencari muka didepanku!"

__ADS_1


"Kami benar-benar menyayangi Oma,kami akan tetap disini sampai Oma makan,,ayo omaa..aaaa..." Delia mendekatkan sendok berisi makanan pada Oma.


"Keras kepala!"


Akhirnya Oma mau disuapi oleh cucu menantunya.


"Oiya Oma,rumah kami tidak begitu jauh,jadi kapanpun oma mau kesana,pintu rumah kami akan terbuka untuk Oma,," seperti biasa,Delia terus mengajak ngobrol Oma meskipun oleh Oma terabaikan.


Seperti saat ini,Oma sama sekali tidak menanggapinya,tetap fokus dengan setiap suapan dari Delia.


"Oma,Aku panaskan mobil dulu ya,habiskan sarapan Oma"


Brian mengecup kening Oma,dan meninggalkan kedua wanita yang ia sayangi.


"Kamu racuni apa cucuku sampai dia begitu membelamu,dan berani membantahku"


"Oma,,kita semua sayang Oma,aku juga tidak meracuni kak Brian dengan pemikiran yang macam-macam..Oma,suatu saat nanti aku yakin Oma pasti akan percaya pada kami..Dan..maaf Oma,kami pergi bukan karna kami membenci Oma,tapi karna kami tidak ingin kebencian Oma pada kami semakin mendalam,aku ingin Oma disini bisa tenang tanpa aku,karna aku tahu,,Oma saat ini sangat membenciku,demi kesehatan Oma aku memilih pergi,karna aku tahu,Oma masih dalam pemulihan..Aku tidak ingin kesehatan oma down lagi..aku tahu,dari beberapa obat yang oma minum,kesehatan Oma saat ini menurun..iya kan Oma?"


"Lancang sekali kamu!! Jangan sok tau tentang kesehatanku!!"


"maaf Oma,beberapa hari ini aku mengecek Obat Oma yang jumlah dan jenisnya bertambah banyak,tidak seperti biasanya,aku khawatir jadi aku konsultasikan pada Dokter..itulah alasanku kenapa aku seminggu ini memutuskan fokus mengurus Oma"


Oma menghentikan makannya,ia menghentikan tangan Delia yang hendak menyuapinya lagi.


Delia mengambilkan air untuk Oma,iapun memberikan beberapa Obat untuknya.


"Kenapa kamu masih saja mempedulikanku,apa tujuanmu sebenarnya"tanya Oma ketus.


"Tak ada alasan bagiku untuk menyayangi Oma,tujuanku hanya ingin kita bisa hidup bersama tanpa ada kebencian.


Oma tetap diam dan menuruti Delia.


"Entah kenapa seminggu ini keegoisannya membuatku sulit menolaknya" gumam Oma dalam hati.


"Ya sudah,Delia pamit ya Oma,,Seminggu sekali atau dua kali aku akan menjenguk Oma,dan jika Oma berkenan,mainlah kerumah kami"


"Cerewet sekali kamu!pergi!" Ketus Oma.


Deliapun tersenyum sembari menyeka air matanya yang hampir jatuh.


Ada perasaan sedih dan tak tega meninggalkan Oma dirumah sendirian.


Tapi ini harus ia lakukan demi menjaga perasaannya sendiri dan kesehatan Oma.


Kebencian Oma padanya memang sudah sampai puncak,pasti sangat sulit bagi Oma untuk menerimanya dengan waktu yang singkat.


Delia menuju dapur dan berpesan pada Bi Ijah.


"Bi,titip Oma ya,,aku akan mengirim menu makanan khusus untuk Oma tiap harinya,bibi harus memasak itu untuk Oma.


Oiya,berapa nomor ponsel bibi?"


"Maaf non,bibi tidak punya ponsel"


"Loh kok?? "

__ADS_1


Delia merasa aneh,kenapa bi Ijih tidak punya ponsel,padahal gajinya di rumah itu cukup besar,2x lipat pegawai BUMN.


Delia meraba isi tas jinjingnya,mengambil dimpet dan memberikan sejumlah uang pada bi Ijah.


"Beli lah ponsel bi,biar aku bisa mengecek kesehatan Oma setiap saat."


"Tttidak usah non,,"


"Terimalah bi.."Delia menarik tangan bi ijah,meletakan di telapak tangannya,dan ia berjalan cepat meninggalkan bi Ijah.


"Dah bibiiiii"


***


Delia merasa senang bisa kembali kerumahnya.


"Masuklah,aku langsung ke kantor ya.." ucap Brian dari dalam mobil.


"Iya mas,hati-hati ya,,,"Delia ingin membuka pintu mobil tapi Brian menguncinya lagi melalui central lock.


"Masss,,jangan bercanda agh...buka "rengek Delia.


"Kamu lupa?"


"Lupa apa?"


"Ck..payah!!Baiklah,aku ingatkan!"


Cup


Brian mencium bibir Delia,sontak membuat Delia melotot terkejut.


Satu tangan Brian memegang tengkuk leher Delia dengan erat,membuat Delia tidak bisa berkutik dan hampir kehilangan nafas.


Delia mencubit lengan Brian,membuat Brian menghentikan kenakalannya.


"Kenapa!"


"Engaap mas! ih...!"


"Aku kan udah bilang! Sebelum kekantor kamu harus menciumku dulu! Rasakan hukumanmu hari ini!"


"Tapi gak gini juga kali mas,,noh,bodyguardmu ada yang ngintip!dasar mesum!!"


Delia mengarahkan netranya kearah pengawal yang tengah stanby di depan mobil,dengan jarak 3 meter dari mobil pastinya dia tadi menyaksikan majikannya tengah bermesraan.


"Awas saja kalau dia berani menertawai kita!oiya satu lagi ! hukumanmu belum berakhir ingat itu!! jangan tidur sebelum aku pulang!" Ancam Brian pada istrinya dengan tatapan liar.


"Auaah.." Delia keluar mobil dengan wajah memerah,ia tak berani menatap ke arah pengawal itu.


"Dasar suami mesum!gak tau sikon!"gerutunya dalam hati.


Ia tak berani mengarahkan pandangannya pada beberapa bodyguard disekitarnya.


Mendengar suara bel berbunyi,bi Ani langsung membuka pintu untuk Delia.

__ADS_1


__ADS_2