
Setelah makan malam dirumah bibi Mira Brian dan Delia kembali pulang kerumah mereka.
Selama perjalanan Delia hanya diam.
Dia merasa kesal karna suaminya sudah berbohong padanya.
Brianpun tidak berani berkata apapun.
Sesampainya dirumah,Delia mengeluarkan pakaian suaminya dari tas,ia merapikan semua barang bawaan suaminya.
Brian terus saja menatap istrinya yang masih bungkam.
Setelah sholat isya berjamaah,seperti biasa dia membuatkan infused water untuk suaminya.
Sementara Brian bersandar pada sandaran tempat tidurnya dengan memangku laptop.
Dia tengah memantau rumah Ayahnya. Tak lupa ia pun menelpon Oma,untuk memberi kabar bahwa dirinya sudah kembali ke Jakarta.
Setelah selsai menelpon Oma,Brian kembali fokus dengan layar laptopnya.
Mendengar suara gagang pintu yang dibuka,dengan segera Brian menutup laptopnya.
Delia masih saja tidak mempedulikan suaminya. Ia meletakan infused water dimeja.
Kemudian ia membersihkan wajahnya melakukan perawatan sebelum tidur.
Brian sudah tidak tahan dengan kebungkaman istrinya.
Dari belakang Brian memeluk istrinya.
"Apa kamu sudah selesai ngambeknya sayang?"
Delia menghentikan kegiatannya kemudian menoleh kearah suaminya.
"Kamu pikir dengan membohongiku itu lelucon mas!"
"Aku tidak bermaksud membohongimu,aku hanya tidak mau membuatmu cemas kemarin. Karena aku memang baik-baik saja sayang,,"
Brian mencoba kembali memeluk Delia,namun mendapat penolakan.
Delia menghindar dan duduk di tepi temoat tidurnya.
Brianpun menyusul dan duduk disebelah istrinya.
"Oke,aku akan ceritakan bagaimana aku mendapatkan luka ini,," Brian menggenggam tangan Delia yang diletakan dipangkuan Delia.
Brianpun menceritakan dari awal pertemuan dengan dokter Anye sampai pertemuannya kembali di Padang.
"Aku bukan bermaksud membohongimu,aku hanya tidak mau kamu terlibat dalam hal ini. Kamu tahu sendiri kan,ini berbahaya,,aku tidak mungkin membiarkan keselamatanmu ikut terancam. Saat di Dubai,itu cukup membuatku ketakutan Sayang,,,musuh-musuhku sangat paham kelemahanku,kamu harus tahu kalau aku benar-benar mengkhawatirkan mu,,aku rela tertusuk seribu pedang asalkan kamu selamat. Aku masih mampu menahannya."
__ADS_1
Tatapan Brian tak pernah lepas dari Delia,begitu juga Delia.
Ia menyesal telah menaruh curiga pada suaminya.
"Yaaa,,tapiii,,tapi kan setidaknya kamu harus memberi tahu kalau kamu ke Padang untuk misi itu."
"Coba,sekarang misal aku memberi tahu tentang misi itu,kamu pasti akan kekeh ikut kan? Karena kamu mengkhawatirkan ku juga? Lalu apa yang terjadi jika kamu ikut! Orang-orang itu bisa saja ikut mencelakai mu saat mereka melihatmu. Anak buah Widodo sudah paham denganmu. Selama ini mereka lebih dulu menguntit mu. Mereka juga yang menghancurkan keluargamu!"
Delia memeluk suaminya erat dan menangis.
"Mas,,aku mohon,,bantu aku membalaskan dendam ku pada orang-orang yang sudah menghancurkan hidupku. Aku kehilangan Ayah dan ibuku karna mereka!! Aku mohon,"
"Iya,aku janji akan membantu mengungkap semua,demi kedua orang tuamu,demi ibuku,demi Oma dan demi adikku yang entah dimana."
"Aku juga yakin,ibumu tidak depresi,aku tahu itu,,karna ibuku selalu ada untuknya,menghiburnya dan mereka saling menguatkan."
"Terimakasih ya Sayang,karna selama ibuku hidup kalian menjadi satu-satunya tempat ternyaman untuk ibuku"
Delia mengangguk pelan,ia lepaskan pelukan suaminya.
"Sayang,apakah kamu tahu selain ibumu apakah ibuku punya sahabat lain?"
"Iya,ada,,cuma orang itu sangat sibuk jadi ya jarang sekali bisa kumpul. Tapi dia cukup aktif menanyakan kabar kami,dan setahu aku mereka pernah bertiga saling berbagi cerita melalui Vidio call.
Jadi ya cukup dekat,,"
"Siapa?"
"Owh,,,kapan-kapan kita kerumahnya ya,atau kita kembali temui mang Asep untuk meminta informasi tentangnya."
"Oke,,"
"Ya sudah,sekarang tidur aja ya sayang,karna besok pagi kita harus kerumah sakit,Kakek sudah boleh pulang."
"Oh ya mas??beneran kakek udah boleh pulang?" Delia menjadi bersemangat mendengarnya.
"Hem,aku akan bayar perawat untuk merawat kakek selama di rumahnya,biar nenek tidak begitu kerepotan. Lagipula Kakek masih harus rutin minum obat dan menjalani terapi.
Aku juga sudah menyiapkan tabungan pendidikan untuk cucu-cucu mereka."
"Terimakasih mas,,," Delia kembali memeluk suaminya.
"Aku enggak nyangka,si bunglon yang kaku dan menyebalkan ternyata baik hati juga.."goda Delia.
"Hemmmm,,,mulai deh,,kamu tu yang nyebelin! Suka ngambek! Bawel! Noh,Soni aja sampe ketakutan !!" Brian mencubit pangkal hidung Delia.
"Ih!! Aku kan ketularan kamu mas nyebelinnya hehehe,,,"
"Oh,,salahin aja aku terus..awas ya.."
__ADS_1
Brian menggelitik perut Delia sampai ia terpingkal pingkal.
"Mas,hati-hati tanganmu mas,,,hahaha,,awas mas.." Delia mencoba menghindari Brian.
"Biarin!! Aku mau kasih pelajaran buat istri yang suka ngambek!"
Brian terus menggelitik Delia dengan satu tangannya.
Malam ini larut dengan suara tawa dari Delia.
Brian benar-benar sudah cukup mahir untuk mengembalikan mood istrinya.
***
"Sayang,aku ikut mengantar Kakek kerumahnya ya?"pinta Delia.
"Oke,tapi kamu hati-hati ya sayang. Biar supir dan beberapa bodyguard mengawal mu ya!"
"Iya mas,,kamu mau langsung kekantor?"
"Iya,aku langsung kekantor,kamu hati-hati loh! "
"Iya,,kamu juga ya mas"
"Hem"
Brian menghampiri Nenek dan Kakek yang sedang bersiap merapikan pakaiannya.
"Kek,Nek,,saya pamit ya,maaf tidak bisa ikut mengantar kerumah."
Brian mencium punggung tangan mereka.
"Iya tuan,tidak apa-apa kami sangat berterimakasih atas semua kebaikan tuan Brian."
"Sama-sama Kek,tidak perlu sungkan,,Ya sudah,saya permisi Kek , Nek,,hati-hati dijalan ya.."
Kakek dan Nenek mengangguk-kan kepalanya.
Deliapun mengantar Kakek dan Nenek sampai rumah,dirumah sudah disambut oleh bi Ani,mang Jajang dan satu perawat yang Brian maksud.
Tak berlama-lama Delia,bi Ani dan Mang Jajang pun pamit pulang.
Delia kembali dengan perasaan lega.
Sepanjang jalan ia tak henti-hentinya mengucap syukur.
"Akhirnya bi,Mas Brian bisa membuka hatinya untuk mereka,,Brian harus tahu penderitaan mereka yang menjadi korban amarah ayahnya"
"Iya non,Bibi juga merasa senang,tuan Brian menjadi lebih peka dengan sekitar. Dulu dia cukup angkuh untuk memahami keadaan non,terlebih saat ibunya meninggal,Brian menjadi lebih angkuh,dan seperti tidak punya nurani,,maaf ya non,bukan bermaksud menjelekan tuan. Bibi sangat bersyukur ,non Delia mampu mengubah kepribadian tuan menjadi lebih baik."
__ADS_1
"Tidak bi,kami sama-sama belajar untuk memperbaiki diri kami. Saya sendiri tidak akan kuat menghadapi Brian jika waktu itu tidak dikuatkan oleh bi Ani dan bi Ijah. Iya kan??"