Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 99


__ADS_3

Masih diruang rapat,Tania mendekati Soni dan Safa.


"Kalian lihat kan,Mrs.Abdulla suka dengan presentasiku,,,jadi untuk apa kalian disini!saya rasa aku dan Brian saja cukup menangani proyek ini" sindir sinis Tania pada Safa dan Soni.


Soni dan Safa hanya diam,mengacuhkan celotehnya.


"Malam ini kalian boleh pulang karna pekerjaan kalian sudah selesai!"titahnya.


"Maaf nona,Kami disini atas perintah tuan Brian,jadi hanya belio yang bisa memerintah kami. Jika nona tidak suka kami disini,silahkan saja keluhkan pada tuan. Kami permisi!" Soni meninggalkan Tania dengan menarik tangan Safa kemudian mendekat pada Brian.


"Selamat ya tuan,akhirnya proyek menjadi milik tuan" Safa memberi selamat pada Brian.


"Hem,,tapi ini bukan proyekku,melainkan proyek ayahku! Aku tidak terlalu suka dengan ini."


"Iya tuan,kami tahu,,tapi setidaknya kita pulang tidak dengan tangan kosong." Jawab Soni.


" Iya tapi aku akan berhubungan dengan gadis sialan itu!! Menyebalkan!" Ketus Brian.


"Maksud tuan,Tania?"tanya Soni.


"Memang menurutmu siapa lagi hah!!" Bentak Brian kesal.


"Maaf tuan" Soni tertunduk menahan tawa melihat kekesalan bos sekaligus sahabatnya.


"Kalian boleh istirahat hari ini,terserah kalian mau kemana! Nanti malam kita ke rumah Mrs.Abdulla"


"Baik tuan,,tapi.."jawab Safa ragu.


"Tapi apa?"


"Nona Tania merasa keberatan kami disini"


"Jangan dengarkan dia! Kalian dibayar olehku!jadi hanya dengarkan aku saja!"


"Baik tuan"


Tiba-tiba Tania datang menghampiri mereka dan langsung mengaitkan tangannya dilengan Brian.


Seketika Brian melepaskan tangan Tania.


"Jaga sikapmu!" Ucapnya dingin.


"Oke,,Oiya,untuk keberhasilan kita,bagaimana kalau hari ini kita berkeliling Dubai kita rayakan bersama"


"Kamu saja!aku masih banyak urusan!"


Brian menghampiri mobilnya dan meninggalkan mereka bertiga.


"Sialan!!! " gerutu Tania geram.


"Nona,apa kita jadi merayakannya?? Kami sangat tidak keberatan"goda Soni,menambah kekesalan Tania.


Safa hanya tersenyum melihat Soni menggoda Tania.


"Diam kalian!! Urus saja diri kalian sendiri!! cih,,benalu!!"


Taniapun masuk dkedalam mobilnya dan pergi.


"Woi! Kita gimana?? Kita mau pulang naik apa?" Teriak Safa.

__ADS_1


Tania membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya.


"Dasar cewe gila!!" Gerutu Safa.


"Lengkap sudah hufh" gerutunya lagi.


Sementara Soni tengah mengotak atik ponselnya.


"Woy! Malah main Hp..kita mau pulang kehotel naik apa ni??"


"Tenang,Brian sudah mengirimkan mobil rental untuk kita,nih sopirnya sedang otw kemari" Soni menunjukan pesan singkat dari sopir mobil rentalnya.


"Kok gak ngomong dari tadi sih..bikin panik aja!"


"Kaya gak tau Brian saja,dalam diamnya otaknya tetap bekerja,,dia sengaja ingin menyendiri,jadi kita sudah dipesankan mobil beserta driver untuk berkeliling" terang Soni yang sudah paham dengan jalan pikiran Brian.


"Hebat loe bisa ngerti banget pak bos"


"Jelas dong,,ayo,kita menunggu di sana,sebentar lagi mobil kita datang" Soni mengajak Safa duduk disebuah bangku panjang ditepi tempat parkir.


***


Delia terus berusaha menghubungi Safa,dan akhirnya berhasil.


"Hallo Safa,ini aku Delia"


"Delia,,ups,,maaf nyonya Delia" sapa Safa terkejut.


"Iya,,aku mendapat nomermu dari Roby,maaf ya..aku hanya ingin tau bagaimana keadaan mas Brian?apakah dia baik-baik saja?apa dia masih marah denganku?Apa diaa..." Delia menghujani dengan berbagai pertanyaan.


"Tuan Brian baik-baik saja non,jangan khawatir kami ada disini bersama tuan."


"Maaf non,dia baru saja kembali kehotel,kami baru saja selesai rapat."


Soni tiba-tiba merebut ponsel Safa dan berbicara dengan Delia.


"Del,ini aku Soni.."


"Son,,aku mohon,,suruh Brian mengaktifkan ponselnya..aku tidak ingin ini berlanjut terlalu lama"


"Iya Del,aku tahu,,akupun sedang mengusahakan membujuk Brian,,kamu jangan khawatir ya,,aku akan memberimu nomer ponselku yang baru,karna Brian melarangku mengaktifkan nomer lamaku,,kami juga tinggal sekamar,jadi jangan takut dengan keberadaan Tania disini,semua akan aman"


Soni pahan benar,apa yang membuat Delia khawatir.


"Terimaksih Son,,Oiya,setelah sidang besok,aku akan menyusul kalian ke Dubai.


Kalian bisa kan menjemputku?"


"Baik Del,hubungi kami segera,,kemungkinan kami disini masih 3 hari lagi karna proyek ini dimenangkan oleh Brian,jadi ada beberapa berkas dan prosedur yang kami selesaikan disini,sebelum kerja sama ini dimulai.


Kalian juga bisa manambah waktu disini untuk berlibur dan menyelesaikan kesalah pahaman ini"


"Oke,,sekali lagi terimakasih ya Son"


Delia menutup panggilannya,ia membaringkan tubuhnya di kasur.


"Rasanya membosankan sekali,Hufh..ku benar-benar seperti kehilangan separuh nyawaku,,gak bisa seperti ini terus,,rasanya malas sekali untuk melakukan apapun..ya Allah.."


"Email??aha..iya..kenapa aku gak kepikiran ya,aku bisa mengirim pesan lewat Email.

__ADS_1


Brian pasti akan membukanya,karna semua pekerjaan dari Roby pasti dikirim lewat Email..bagus Del,,bagus" Dengan bersemangat Delia membuka laptopnya,mengetik beberapa kalimat untuk suaminya.


"Ya Allah,semoga Brian bisa mau sedikit saja memahami penjelasanku." Harapnya dalam hati.


Semenjak ia bisa menghubungi Safa,dia bisa sedikit lebih tenang.


Bimo kerumah untuk mengajak Delia ke klinik dan menjemput Fani.


Mereka bertiga makan bersama dirumah bibi Mira.


Delia sangat mampu menyembunyikan perasaanya,dia bisa bersikap ceria seperti biasa dihadapan bibi dan pamannya.


Bagi Delia mereka adalah pengganti Ayah dan ibunya.


Dia tak ingin mereka kembali bersedih setiap kali mendengar ada masalah dalam hidup Delia.


"Sayang,suamimu kan lagi di Dubai,,bagaimana kalau malam ini kamu tidur disini ya..?"pinta bibi Mira.


"Iya,Besok kakak yang antar kamu ke kampus,gimana?"sahut Bimo.


"Oke deh Bi,,aku ijin dulu sama mas Brian ya,,biar disana Brian tidak khawatir." bohong Delia.


"Aduh,,Brian ini,,baiklah,telpon suamimu sekarang,biar bibi yang bicara"


"Khuk khuk khuk.." Delia tersedak makanan.


Fani dan Bimo saling melempar tatapan.


Dengan sigap Delia mengambil air putih dan meminumnya.


"Pelan-pelan Del.." paman Heri memperingati.


",Maaf paman,maaf bi..Delia tadi sangat lahap makannya,jadi kesendak deh.."bohongnya lagi.


"Ibu si,,lagi makan diajak ngobrol mulu" ucap paman Heri.


"Tidak apa-apa paman,aku saja yang terlalu bersemangat makananya karna kangen sama masakan bibi..hehehe..."bela Delia.


"Aku telpon Briannya nanti saja bi,karna tadi dia bilang dia sedang rapat dengan clien sekalian makan malam" bohong Delia.


"Baiklah,,nanti saja..sekarang,makanlah yang banyak,,bibi nggak mau kamu kurus memilukan..hehehe"jawab bibi Mira seraya menggoda keponakannya yang sekarang memang tampak lebih kurus,karna sering kurang tidur ,sibuk dengan skripsinya dan rumahtangganya.


Selesai makan,dan merapikan meja makan,mereka semua bercengkrama diruang tengah.


Delia sedikit terhibur dengan keberadaan keluarganya.


Fani menatap Delia dengan nanar penuh haru.


"Aku senang bisa melihatmu tersenyum lagi Del.."batin Fani.


Cinta mereka begitu tulus untuk Delia.


Pukul 21.00 Bimo mengantar Fani pulang kerumahnya.


Deliapun masuk kekamarnya dan berbaring.


Ia mencoba memejamkan matanya,dengab penuh harapan,Brian membaca emailnya dan besok akan menghubunginya.


"Semoga saja ya Allah..."batin Delia.

__ADS_1


__ADS_2