Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 206


__ADS_3

"Iya kaa,barusan aku mendapat kabar kalau ,,em,,kalau ibuku dilarikan ke rumah sakit"


Brian menyeringai sinis


"Kenapa kau kemari?apa ini rumah sakit?"


"Ka,aku mohon,ijinkan ibuku menyampaikan maafnya padamu,,"


"Dan kamu pikir aku akan dengan mudah memaafkannya?"


"Ka,," Hans menyatukan kedua tangannya,memohon pada Kakaknya.


"Hmmm...kau dan kakak iparmu sama saja! Pergilah!" Ucapnya datar.


Dengan putus asa Hans berbalik melenggang lemas menuju pintu keluar.


"Pergilah denganku!" Pekik Brian.


Seketika Hans kembali dan meremas kedua lengan Kakaknya.


"Benarkah kakak kakak mau menemui ibu? Eh,,ibuku?"ralat Hans.


Dan Brianpun mengangguk seraya menebar senyuman.


"A a aku pikir kakak..."


"Apa! Aku hanya menunggumu yang mengatakan ini padaku! Dasar cemen! Kenapa kau berani menyuruh Delia hah!" Satu toyoran mendarat dikepala Hans.


Keduanyapun keluar dengan senyuman.


Delia yang mengetahui kedatangan Hans pun ikut tersenyum menggelengkan kepalanya menyaksikan kepergian mereka.


"Mas,,mas,,,kamu tu ya...aku tahu kamu punya hati yang besar,," batinya.


***


Hans meninggalkan Brian dan ibunya di suatu ruangan rawat yang tengah ditempati oleh ibunya.


Dari jarak 3 meter Brian menatap wajah Yesi yang kini jauh berbeda,tubuhnya kurus,dan sangat pucat.


"Ian,,"sapanya


Brian menarik nafas panjang,kemudian jalan kearah kasur pasien.


Brian tetap diam tanpa membalas sapaan Yesi.


Sejenak ia mengingat betapa piciknya wanita yang ada dihadapannya,tapi dia terus berusaha mengendalikan dirinya,


"Brian jaga amarahmu,memaafkan jauh lebih mulia."batinya.


Kembali ia menarik nafasnya berat.


Dengan tatapan Sayu dan tenaga yang mulai melemas Yesi berusaha untuk mulai berbicara


"Maafkan aku Ian,maaf,,atas semua kepedihan dalam hidupmu karena ku,,aku sangat menyesalinya,aku aku hanya bisa meminta maaf padamu sekarang,meskipun sebenarnya aku tidak pantas untuk kau maafkan."


"Memang benar,dosa-dosamu itu sudah sangat fatal,dan rasanya sulit untuk kami maafkan,,tapi,,tapi aku akan mencobanya. Lagian semua yang sudah terjadi tidak akan pernah kembali"


"Ian,terimaksih karena kau mau menerima anak ku Hans,,dulu aku beranggapan kalau Hans adalah anak pembangkang yang tidak pernah mendukung kedua orang tua dan pamannya,dia sangat berpegang teguh pada prinsipnya,hingga dia tahu kesalahan kedua orang tuanya,dia memutuskan untuk meninggalkanku di Bali dan hidup mandiri di Jakarta untuk mencarimu,meminta maaf padamu meskipun ini bukan kesalahannya"

__ADS_1


"Aku tahu itu,dia anak yang baik"


"Maaf jika aku lancang,,aku titip Hans ya Ian,,bimbing dia,,"


Brian hanya mengangguk.


"Ian,mungkin umurku tidak akan lama,,aku titipkan ini untukmu"


Yesi mengambil sebuah kalung.


"Apa ini?"


"Ini adalah kalung yang seharusnya dimiliki oleh ibumu,,dulu Atmajaya pernah ingin memberikan kalung itu pada ibumu,tapi belum sempat ayahmu memberikannya,kalung ini sudah aku ambil karena aku merasa iri padanya. Aku kembalikan ini padamu"


"Tapi ibuku sudah tidak ada,untuk apa ini aku berikan!"


"Berikan ini pada Delia,,"


Sebenarnya Brian enggan menerima kalung yang sudah dipakai oleh Yesi,tapi dia harus menghargainya dan Hans.


"Baiklah,terimakasih,,"


"Ian,sampaikan maafku pada Delia dan keluarganya" Nada bicara Yesi semakin melemas.


Brianpun mulai kasihan melihat keadaanya sekarang.


"Iya,akan aku sampaikan,,ya sudah anda harus istirahat,saya permisi"


"Terimakasih"


Brian beranjak meninggalkan ruangan yang dijaga oleh polisi lapas.


Brian menepuk pundak Hans dan pergi.


"Jaga ibumu,aku pamit"


"Iya kak,apa perlu aku antar?"


"Tidak usah."


15 menit dari kepergian Brian,


Kondisi Yesi semakin memburuk,dokterpun menanganinya dengan cepat.


Hans semakin terlihat panik saat melihat dokter memompa jantung ibunya.


Tepat pukul 14.30


Yesi dinyatakan meninggal dunia.


Widodo yang mendengar kabar tersebut merasa sangat terpukul,adik yang paling dia sayangi akhirnya pergi untuk selamanya.


"Yesi!!! kenapa kamu pergi,,,kita harus berjuang bersama Yesi.." tangisannya pun pecah,ia sangat frustasi.


Setelah mengurus segala prosedur yang ada,akhirnya jenazah Yesi bisa diantar kerumah duka yaitu di rumah Tania.


Dengan besar hati seluruh keluarga besar Brianpun mengikuti upacara pemakaman.


Widodo dan Atmajaya mendapat izin dari lapas untuk mengikuti prosesi pemakaman.

__ADS_1


Widodo tak henti-hentinya menangisi kepergian Yesi.


Selama ini dia hidup untuk membentengi adiknya,Yesi.


Mereka adalah yatim piatu,diasuh oleh orang tua asuh yang kejam,,setelah cukup besar mereka berdua memilih lari dari keluarganya dan tinggal diJakarta,Widodo banting tulang agar adiknya bisa meneruskan sekolah,sampai saat dia tahu adiknya mendapat bully dan pelecehan.


Disitulah dia merasa harus memberi pelajaran pada siapa saja yang berani merendahkannya.


Sampai akhirnya cara-cara yang mereka tempuh salah.


"Yah,,ayah harus kuat,tante sudah tenang disana,,Ayah,,tante hanya membutuhkan doa dari kita,,Tante juga pastinya sudah bertemu dengan kakek dan nenek dan Ibu,,jadi Tante tidak kesepian disana. Ayo Yah,Sekarang tugas kita memakamkannya,dan doakan dia. Sejatinya,dunia ini fana Yah,jadikan ini sebagai cambukan kita untuk memperbaiki diri kita,karena cepat atau lambat kita akan menghadapi kematian,,Tania sedang memperbaiki diri Tania ayo,sekarang giliran Ayah,,agar kita bisa bertemu di Surga kelak Yah,,Tania mohon,,Sekarang kita terpisah yah,Tania tidak mau nanti di sana kita juga terpisah. Ayah harus bangkit,doakan mereka semua dan perbaiki diri kita agar kita bisa bersama."


panjang lebar Tania menenangkan hati ayahnya yang hancur.


Tania berharap Ayahnya juga segera bertaubat dengan kejadian ini.


Selesai sholat isya berjamaah,


Brian dan keluarganya berpamitan pulang,


begitu juga Widodo dan Atmajaya yang harus kembali ke dalam Sel tahanan.


Atmajayapun menyempatkan mencium kedua cucunya.


"Terimakasih Del,,kamu sudah melahirkan cucu cucu yang hebat dan tampan untuk ayah."ucapnya.


Delia tersenyum,


"Kakek,,kakek jaga kesehatan ya,,besok kalau Al dan El udah besar bakalan sering jenguk kakek,," ucapnya menirukan bahasa anak-anak.


"Siap jagoan kakek,,Kakek pasti akan menunggu kunjungan kalian"


Delia menatap haru kepergian Atmajaya yang digandeng oleh kedua polisi lapas,dan dinaikan ke mobil polisi.


"Semoga Allah menjagamu disana yah,,"doanya tulus dari dalam hati,hingga tak sadar air matanya keluar dan Brian langsung mengusapnya sebelum terjatuh dipipi.


"Jangan Sayang,,,aku tidak mau melihatmu menangis,,tersenyumlah,,karena ini saatnya kita penuhi hidup kita dengan kebahagiaan. Kau pantas bahagia Sayang,,kau berhak bahagia" bisiknya.


Delia pun mengangguk dan tersenyum.


Brianpun memberikan pelukan hangat pada istri yang paling ia sayangi.


"Ayo,kita pulang,,"ajaknya.


***


TAMAT


Terimakasih untuk semua LIKE & KOMEN nya Ya...


Maaf🙏🙏🙏 jika masih BUuuaaaanyakkk kekuarangan...


Bantu Vote ya biar lebih semangat lagi...


Tunggu karya Selanjutnya ya...


Sampai jumpaaaaa...👋👋👋👋


❤️❤️❤️❤️😀😀😀❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2