
Brian tiba di Jakarta langsung menuju kantor pengacaranya untuk meminta pengarahan bagaimana menangani kasus Widodo.
Pengacaranya pun langsung memerintahkan Brian untuk segera mengumpulkan bukti-buktinya sebelum masuk kedalam delik pengaduan.
"Ketika anak buah Widodo ditangkap kemarin,otomatis Widodo akan terseret karna tindakan ancamannya. Otomatis juga,Dokter Anye akan ikut terseret dalam kasus dahulu yang memberikan berita palsu. Apakah dokter Anye sudah bersedia?"
"Dia sudah bersedia"jawab Brian.
"Oke,,tugasmu sekarang,kumpulkan bukti bahwa ibumu tidak dalam keadaan depresi. Cari rekam medis ibumu dirumah sakit biasa belio memeriksa kesehatannya."
"Baik"
"Untuk sementara itu dulu,awasi terus Widodo dan Ayahmu. Ada kemungkinan justru mereka yang melenyapkan ibumu,atas dasar harta dan kekuasaan. Tapi itu baru dugaan. Yang jelas kematian ibumu sudah direncanakan,dengan melepas CCTV dibalkon, kemudian memancing Yosep sebagai umpan. Satu lagi,sepucuk surat yang ditemukan nyonya Alya yang menyatakan bahwa ibumu ingin mengakhiri hidupnya itu diragukan keaslianya. Karna setelah membaca surat itu,Alya langsung berlari dan menyuruh suaminya mencari Lidia dibalkon.
Saat Yosep ke balkon saat itu juga Lidia sudah berada di ujung. Jika ibumu tidak dalam keadaan depresi,pasti ibumu tidak sampai bunuh diri. Terlebih,menurut pengakuan dokter Anye,belio punya keinginan kembali ke Amerika bersamamu dan Adikmu saat Omamu sudah cukup kuat menerima penghianatan ayahmu."
"Iya,kemarin dokter Anye menyampaikan seperti itu. Kita juga harus cari tahu bagaimana caranya orang itu membunuh ibuku! Tapi,tunggu dulu,,kalau ayahku juga kemungkinan tidak sampai hati untuk membunuh ibuku. Karna saat kematian ibupun ayah merasa cukup terpukul,entah itu sandiwara atau bukan. Setahu ku,dia sampai memiliki dendam untuk menghancurkan Yosep karna meninggalnya ibu. Dan..."
Brian berhenti sejenak.
"Apa?"tanya pengacara.
"Dan,ayahku sampai merencanakan pembunuhan terhadap Alya. Dia sengaja mensabotasi mobilnya,akupun tahu rencana itu. Saat itu aku sendiri juga membenci keluarga Yosep,jadi aku membiarkan ayahku melakukan itu."
"Aghhh,,Brian...hufh,ya sudah begini saja, Fokus dulu mencari tahu bagaimana bisa ibumu jatuh..itu saja. Periksa kembali TKP siapa tahu ada petunjuk yang dilalaikan oleh pelaku."
"Baik,semenjak kematian ibu,tidak satupun orang berani ke balkon,hanya bi Ijah yang berani kesana untuk membersihkan."
"Nah,mungkin bi Ijah pernah menemukan sesuatu?coba tanyakan?"
Brian dan Soni terdiam memikirkan banyak hal.
"Oke,selebihnya kita bahas nanti,aku sudah lelah pak,aku mau pulang"
"Baik tuan,silahkan anda istirahat. Jika ada perkembangan ataupun pertanyaan,silahkan jangan sungkan"
"Siap pak,,terimakasih,,,oiya,apakah anda pernah tahu selain bu Alya,apa ada sahabat dekat ibu yang lain?"tanya Brian.
"Saya pernah tahu,tapi saya lupa namanya,em,,,coba nanti saya ingat-ingat lagi tuan"
***
Delia dan Keke tengah membantu bibi Mira menyiapkan makan malam.
Kali ini pasangan pengantin baru juga sedang berada disana.
Tak ketinggalan Fani pun ikut sibuk membantu ibu mertuanya menyiapkan makan malam.
"Del,coba hubungi suamimu,dia sudah sampai mana?beri tahu dia,malam ini kita makan bersama disini"
__ADS_1
Ucap bibi Mira,dengan tangan yang masih sibuk membolak-balik masakannya.
"Iya bi,tadi si dia bilang sedang menuju kemari. Mungkin sebentar lagi sampai."jawab Delia.
"Akhrinya ya mah,kita bisa kumpul bareng-bareng..makan malam bareng,,"
Ucap Fani pada ibu mertuanya.
"Iya, ini momen paling berharga buat mama."
"Terimakasih ya semuanya,,Terutama untuk Bibi dan paman,kalian bisa menerimaku disini,padahal aku terbilang baru di kota ini dan bukan siapa-siapa disini. Tapi kalian membuatku merasa nyaman selama di sini."
Ucap Keke haru.
"Uhh,,Keke,,jangan gitu dong,,bibi sudah menganggapmu sebagai anggota dari keluarga ini. Bibi senang karena Delia dikelilingi oleh sahabat sebaik kalian. Jangan pernah sungkan ya,,"Bibi Mira membelai Keke dengan penuh kasih sayang.
"Udah agh,jangan melow..yuk siapin meja makan," Delia membawa beberapa piring pipih ke meja makan besar yang tak jauh dari dapur.
Delia menyalakan lampu taman,membuka Jendela kaca agar angin malam masuk keruang makan.
Dari meja makan mereka bisa menyaksikan keasrian taman samping rumah yang dipenuhi dengan bunga kesayangan bibi Mira.
Keke dan Fani menyusul dengan membawakan beberapa sayuran dan lauk.
"Eh,kalian lanjutin ya..hehe..aku mau nyiapin air hangat buat Brian."
"Oke nyonya centillll..."ejek Fani.
Keke hanya tersenyum melihat keduanya.
10 menit kemudian Brian sampai didepan rumah bibi Mira.
Delia yang mendengar suara mobilnya pun langsung berlari menghampiri suaminya diteras.
Seketika senyuman Delia berubah saat melihat tangan kanan suaminya berbalut perban.
"Mas??apa yang terjadi?"tanya Delia panik.
"Ceritanya nanti saja dirumah! Aku laper" ucap Brian acuh,dia sengaja menghindari pertanyaan istrinya. Ia mencium kening istrinya kemudian melewatinya.
Brian masuk kedalam dan disambut oleh Bibi,Paman,Bimo.
"Ada apa dengan tanganmu nak?"tanya Paman.
"Oh,ini cuma kecelakaan kecil Paman"
"Haduh,,kamu lain kali hati-hati ya nak,Lihat tu,muka Delia udah masam,,dia pasti khawatir dengan itu" ucap bibi Mira sembari menunjukan wajah Delia yang memang sudah seperti pakaian kusut.
"Hehehe,,," Brian hanya menertawai ekspresi wajah Delia.
__ADS_1
Sementara Delia terus menggerutu dalam batinnya.
"Mandi dulu mas,aku udah siapin air hangat!" Kata Delia datar.
Brianpun masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri.
"Del,kamu jangan suka marah-marah sama Brian,kasihan dia" Bibi Mira mencoba menasehati Delia.
"Abisnya mas Brian tu suka banget bikin aku cemas Bi,,"
"Ya tapikan jangan langsung memarahinya,kasih dia waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi."
"Iya Bi,,"jawab Delia lirih.
"Aku bantu Brian dulu ya Bi.."lanjutnya.
Ia pun berjalan masuk kedalam kamar.
Menyiapkan pakaian untuk Brian.
"Mas,,"Delia mencoba mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya,,"
"Em,,kamu kesulitan engga mas?"
Tanya Delia iba.
"Sedikit,,"
"Aku masuk ya,,saya bantu,,"
"Iya"
Deliapun masuk,ia membantu Brian menggosok punggungnya.
"Terimakasih ya sayang"
"Hem,,"
Delia keluar kamar mandi dan menunggu suaminya.
Tak menunggu lama Brian keluar.
Delia membantunya menggeringkan badannya dengan handuk lain.
"Mas,kamu tahu mas,,melihatmu seperti ini aku tu sedih. Kemarin saat kamu sakit,aku tidak ada disampingmu. Kenapa kamu kemarin enggak ngomong ke aku si mas. Aku sebel,kamu sukanya gitu menyembunyikan banyak hal dariku!"
Dengan sabar Brian mendengar ocehan Delia.
__ADS_1
Ia sadar,ia bersalah karna masih menyembunyikan banyak hal dari istrinya.
"Nanti kita bicarakan dirumah ya sayang,,kasihan yang lain lagi nungguin kita. Ayo,kita makan" ajak Brian,sembari menghapus air mata Delia yang hampir jatuh.