
Hans mempersilahkan Brian untuk duduk dan memesan makanan.
Brian sama sekali tidak mau memesan apapun dan tetap duduk dengan angkuhnya.
"Apa maumu!"tanyanya dingin.
"Kamu mungkin berfikir kalau sebagai anak dari istri kedua itu enak,serba kecukupan dan diberi kasih sayang lebih dari seorang ayah. Sayangnya,aku tidak...Awalnya,aku tidak tahu kenapa ayahku jarang sekali mngunjungiku di Bali. Setiap ada moment anak dan orang tua disekolah,ayah tidak pernah menghadirinya.
Aku berfikir,ayah tidak pernah ada untukku.
Akupun dibatasi,aku hanya boleh memanggil ayah jika dirumah saja.
Sementara diluar rumah kita seperti orang asing.
Lambat laun aku lelah,saat SMP aku mulai tahu ternyata aku hanyalah anak dari pernikahan Siri,ayah pengusaha sukses di Jakarta yang mempunyai istri sah,nama baiknya sangat ia jaga melebihi apapun.
Aku sendiri ingin rasanya hidup normal,punya ayah seutuhnya,,tapi itu tidak mungkin,karena aku harus diam dan menyembunyikan jati diriku.
Ibu hanya menyuruhku menuruti semua maunya.
Dan suatu hari,aku mendengar ibu dan paman bersiasat,akupun tahu alasan ibu memilih ayah,dan hubungan bagaimana yang mereka jalani,akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan kuliyah di Jakarta,karena aku malu,,aku pun kecewa pada keduanya..sampai aku tidak mau lagi menerima uang dari mereka,,aku kuliyah dengan bekerja paruh waktu,,aku berjuang sendiri sampai aku memiliki toko buah kecil kecilan ,dan baru merintis kafe kecil ini.
Aku bertekad mencari kakak tiri ku,untuk memberi tahu rencana paman dan ibuku sebenarnya pada keluarga mu,,tapi,,"
"Tapi kamu terlambat!! Aku bisa mencari tahu sendiri!!" Ucap Brian ketus.
"Iya,makanya setelah semua pemberitaan itu ada,,ibu,ayah dan pamanku ditangkap ,aku sama sekali tidak mengelakan. Itu sudah menjadi resiko mereka dengan segudang rencana."
"Baguslah! Kalau kamu merelakan mereka dipenjara! Lalu! Bukannya kamu menerima pelimpahan hak milik perusahaan di Lombok? Kamu juga menginginkannya kan?"
"Setahuku,perusahaan itu memang murni milik ayah,,Paman Widodo juga yang mengurus semuanya,aku bekerja disanapun hanya sebagai staf biasa,karena aku tidak mau dan belum bisa mengurus perusahaan itu."
"Sekarang kamu tahu! Perusahaan itu hasil penggelapan dana perusahaanku,jadi kamu tahu kan kalau perusahaan itu akan aku ambil alih?"
"Iya ,aku akan terima apapun itu,,aku cuma mau.."
"Mau apa?Memaafkan ibumu?meringankan hukumannya?iya?" Brian menatap Hans tajam.
Hans mengangguk pelan.
"Hah,,enak saja! Memaafkan ibu dan pamanmu,itu tidak mudah!! Ini bukan masalah denganku saja,tapi dengan banyak orang yang sudah mereka rugikan! "
"Aku mau meminta maaf atas segala kesalahan mereka,aku mohon,,aku tidak akan meminta banding untuk merinkankan hukuman mereka,karena aku sadar kesalahan mereka terlalu banyak.
Aku hanya ingin,minimal kamu mau memaafkan ayahmu,ayah kita,,karena dia juga terlihat sangat menyesal,jangan berkata kasar lagi padanya,dia juga salah satu korban dendam dari ibu dan pamanku,,"
"Apa hakmu mengajariku!!" Brian menggebrag meja kemudian pergi.
__ADS_1
Hans mencoba mengejarnya.
"Aku tahu kak,,prinsipmu sama kerasnya dengan ayah,,tapi kamu memiliki hati yang baik,aku yakin itu"batin Hans.
Brian mengangkat tangannya dan mengibas-ibaskan seolah tidak mau dengar Hans lagi.
"Kak,,sebelum kamu menyesal karena terlalu membenci ayah,,aku mohon,,maafkan kami,,"teriak Hans.
***
Dirumah.
Delia melihat iba,pada Oma yang sedari tadi duduk di teras samping dengan memeluk album foto anaknya.
Tatapannya menyimpan kerinduan begitu besar.
Oma tidak sadar kalau Delia mendekatinya dan duduk disampingnya.
"Omaaa,," Delia memeluk Oma dengan hangat.
Oma pun terkejut,dan meletakan album foto yang semula ada dipangkuan nya,dia pindahkan ke sisi kirinya.
"Kamu nak...bikin oma kaget saja"
"Oma,,Oma sedang memikirkan sesuatu?"
Oma mengambil salah satu foto masa kecil Lidia.
"Iya Oma,,persis sekali,cuma rambut mama Lidia sedikit pirang ya Oma.."
"Iya,ibu mertuamu memang berambut pirang dari kecil,,matanya juga seperti Opa Robert."
"Del,,jujur,Oma memiliki perasaan lain pada Seruni,filling Oma mengatakan kalau Seruni itu adik Brian,,karena bentuk wajahnya sama sekali tidak mirip Titi ataupun suaminya. Meskipun rambutnya tidak begitu pirang,tapi matanya dan wajahnya,sangat mirip dengan Lidia dan Robert,suami Oma"
"Semoga saja filling Oma benar,karena semenjak bu Titi bersikap lain dengan kami,,mas Brian justru semakin penasaran pada mereka. Ia sedang menyelidiki mereka Oma. Delia berharap,ada titik terang dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenaknya."
"Iya,,Oma sangat berharap,sebelum Oma tiada,Oma bisa melihat cucu Oma yang lain.."
"Omaaaa,,,Oma jangan bilang gitu,,Delia jadi takut,,Delia mau Oma selalu disini"
"Sayang,,setiap manusia pasti akan mati,itu sudah pasti,sementara kapan dan bagaimana itu menjadi misteri illahi,jadi kamu harus siap jika Oma tiada,,jaga Brian,bersabarlah dalam menghadapinya yang memang temperamen,tapi sebenarnya dia sangat menyayangimu. Tetaplah bersamanya apapun kondisinya,,Jaga Adik iparmu juga sampai kapanpun."
Delia mengangguk,dan memeluk Oma lagi dengan erat.
"Oma,jangan bahas itu lagi ya..saat ini Delia belum siap kehilangan Oma,,"
Delia mencium pipi yang sudah tidak kencang lagi.
__ADS_1
"Hemmmm...dasar anak manja,,"goda Oma.
"Ga papa,,oma jangan pernah bosan aku peluk ya,,hee..."
Omapun mengusap punggung Delia dengan penuh kasih sayang.
Berkat Delia,Brian menemukan semua rahasia yang tersembunyi darinya selama ini.
***
Habis magrib,Brian bersama Soni pergi kesebuah kontrakan kecil,
Mereka sengaja datang kerumah Ayah Seruni,tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
Ayah Seruni yang saat itu baru saja selesai sholat magrib dan mengaji,membuka pintu kontrakannya dengan masih menggenakan sarung dan peci.
"Assalamu'allikum"salam terucap dari bibir Brian dan Soni.
"Wa'allikumsalam"jawab Ayah Seruni seraya membuka pintu.
"Tttuan,,,"iapun terkejut.
"Boleh kami masuk pak?"
tanya Brian.
"SSSsilahkan,tapi maaf,,tak ada ruang tamu,,maklum saya mengontrak sendirian jadi tempatnya sempit dan berantakan"
"Tidak apa-apa pak,,"jawab Soni dan Brian sambil melepas sepatu mereka.
"Mari-mari,,"
Ayah Seruni merapikan karpet untuk duduk kedua tamunya.
Soni dan Brianpun duduk menyila di atas karpet.
"Maaf mau minum apa tuan?"
"Tidak usah repot-repot pak,,kami hanya sebentar saja."
jawab Soni.
"Oh,begitu ya,,ya sudah,,bagaimana tuan?"
"Begini pak,saya kemari ingin menanyakan perihal file ini,,apakah benar ini istri bapak?" Brian menyodorkan sebuah File berisi biodata dari rumahsakit bekas Bu Titi bekerja.
Seketika mata Ayah Seruni terbelalak.
__ADS_1
Ia terkejut," Bagaimana bisa dia mendapatkan data itu?"batinnya.