Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 96


__ADS_3

"Mas,mas,,itu..i itu seperti mobil Delia.."


Dipersimpangan Fani menunjuk Sebuah mobil ditepi jalan yang sepi.


"Agh,,sepertinya iya..ayo kita cek.." Bimo memutar setirnya mengarah ke mobil sedan putih yang terparkir dengan lampu yang masih menyala.


Fani langsung turun dari mobil dan mengintip kaca mobil,tapi tak menemukan Delia.


Iapun mengelilingi mobil dan mendapati Delia tergeletak lemas,pucat dan dingin.


"Deliaaa!!!"teriak Fani panik.


Bimo langsung mendekat dan mengangkat Delia kemobilnya.


Sebelum ia pergi,ia menghubungi pak Jajang memberi tahu lokasinya kini,mang Jajang diperintahkan untuk mengambil mobil Delia .


Dengan segera,Bimo membawa Delia kerumah sakit.


Bimo sangat marah,melihat keadaan Delia yang terbaring lemah masih tak sadarkan diri.


Fani mencoba menenangkan calon suaminya itu.


"Mas,tenang mas,,jangan ikutan emosi,kita harus berdoa semoga Delia baik-baik saja,,dan bersyukurnya kita karna kita bisa menemukanya"


"Hufh,,iya iya.." Bimo menarik nafas panjang,duduk lemas bersandar menutup matanya menahan kemarahannya.


"Fan,kamu tau kan Delia belum mahir menyetir,dan,,dan dia masih trauma dengan kecelakaan itu,,saat kecelakaan Delia ada didalam mobil itu,,beruntung dia bisa keluar dari mobil sebelum,,sebelum mobil itu meledak."


"Iya mas,aku tahu.."


"Sial!,Dimana Brian sampai-sampai membiarkan dia menyetir sendirian,dasar bodoh!!!" Bimo meraup wajahnya kasar sembari berdiri gelisah melihat dokter yang tengah memeriksa Delia.


"Mas,,kita belum tau pasti apa yang terjadi,,kendalikan dirimu,kita coba hubungi Brian lagi yah?"


Fani meraba saku tasnya mencari ponselnya.


"Gimana?"tanya Bimo.


Fani menggelengkan kepalanya.


"Masih gak aktif mas"


"Br*ng**k!! Awas saja kalau berani menyakiti adikku!"


"Mas,udah!jangan ngomel mulu,,jangan menghujat terus,kita fokus sama Delia aja!aku khawatir dia kenapa-kenapa mas,,"


Beberapa menit kemudian dokter keluar ruang IGD.


"Bagaimana adik saya dok?"


"Adik tuan kondisinya cukup lemah,sepertinya dia mengalami shock atau trauma semacamnya,baiknya non Delia harus dirawat beberapa hari disini sampai kondisinya stabil."


"Baik dok,terimaksih"


"Sama-sama,silahkan tuan mendaftar ke bagian rawat inap,biar bisa langsung disiapkan ruangannya."


"Baik dok"


Bimopun menuju ruang pendaftaran dan mengurus segalanya.


Sementara itu Fani menemani Delia diruang IGD.


Dalam kondisi setengah sadar Delia terus bergumam.


"Ibuuu,,keluarlah..ibu,,keluarlah.."


Kemudian matanya pelan-pelan terbuka,netranya mengarah ke sekeliling.


"Mas Brian,,dimana Brian,,jangan pergi,,maaf mas,aku mohon,jangan marah" gumamnya lirih.


"Del,,ini aku Fani,,aku disini,.." Fani memeluk Delia dengan erat,dan berkali-kali mengecup kepalanya.


"Istirahat ya Del..Brian pasti akan segera kemari"

__ADS_1


Delia menatap wajah Fani dengan nanar,.


"Tidak Fan,dia sangat marah Fan.."rengeknya.


Seketika wajah Delia menjadi panik,


"Fan,,a-a-,aku aku hampir mme-menabrak s.s.seseorang Fan,,dia tidak apa apa kan Fan,dia selamat kan?dia tidak terluka kan Fan?"


"Tenang Del,kamu tidak menabrak siapapun,semua baik-baik saja.."


Fani terus mengelus elus Delia,untuk menenangkannya.


"Fan,,aku mohon,jangan beri tahu bibi dan paman tentang keadaanku,,aku ingin mereka tetap fokus dengan pernikahan kalian."


"Tapi Del.."


"Aku mohon,,"


"Baiklah,tapi kamu harus janji,kamu harus sembuh,kita selesaikan masalahmu bersama,kamu tidak sendiri"


Delia mengangguk lemas.


Setelah Delia masuk keruang perawatan,Bimo memutuskan untuk pulang mengambil semua kebutuhan Delia selama dirumah sakit.


Bimo dan Fani memutuskan untuk menuruti kemauan Delia,merahasiakan ini dari ibu Mira dan ayah Heri.


3Hari berlalu,Delia sudah bisa kembali kerumah.


Dengan ditemani Fani,Delia memasuki kamar yang kini terasa sunyi.


Bi Ani mengikuti langkah mereka sembari membawakan jus untuk Delia.


Fani membantu Delia duduk bersandar di tempat tidurnya.


Bi Ani meletakan jus ke meja sebelah tempat tidur Delia.


"Bi,apa mas Brian pernah pulang kemari?"tanya Delia lirih.


"Terimaksih Bi..."


"Bibi permisi non.." Bi Ani meninggalkan Delia dan Fani dikamar.


"Del,apa kamu sudah menghubungi Soni?"


"Belum,," Delia tertunduk putus asa.


"Fan,sefatal itukah kesalahanku,sampai-sampai Brian pergi?"tanyanya lemas.


"Del,sebenarnya ini hanya kesalah pahaman saja,salah iya memang kamu salah,,salahmu ya karna kamu gak ijin dulu sama suamimu yang jelas-jelas over posesif."


Fani mencoba menjelaskan pada Delia tentang kesalahannya.


"Aku pikir,aku akan menceritakan semua sesampainya ia dirumah Fan,aku sama sekali tidak mau menutupi apapun darinya.


Kalau aku meminta ijin dari awal,pasti Brian akan ikut dan menciptakan keributan disana,aku kan yang jadinya gak enak sama Vivi."


"Iya iya,aku paham maksudmu,disisi lain suamimu masih belum bisa mengendalikan emosinya,itu kesalahannya,dia juga tidak mau mendengarkanmu.Tapi,maklum saja biarpun dia lebih tua darimu,dia baru saja mengalami fase bucin.


Jadi ya,over githu,,lagian kalian itu baru menikah belum ada setahun,dan saling mancintai baru beberapa bulan terakhir,iya kan?nah pastinya PR kalian masih banyak untuk memahami satu sama lain."


"Lalu aku harus gimana sekarang Fan?"


"Em,,gini aja,hubungi Soni dan tanyakan keberadaan Brian saat ini. Sebagai asisiten dan teman dekatnya,pasti dia tahu."


"Baiklah,aku coba"


Delia meminta tolong pada Fani untuk mengambilkan ponsel ditas Delia


Fanipun menuruti perintahnya.


Berkali-kali Delia mencoba menghubungi Soni,tapi hasilnya juga nihil.


"Gimana Del?masih gak bisa juga?"

__ADS_1


Delia mengangguk lemas.


"Fan,temenin aku yuk"


"Kemana?kamu baru sembuh Del.."


"Ayo ikut aja.."


Seketika tenaga Delia seperti rerisi penuh,ia menarik tangan Fani,mengajaknya keluar rumah.


"Mang,,mang Jajang,,mang.."panggil Delia dari teras rumahnya.


Mang Jajang berlari kecil kearahnya.


"Siap non"


"Antar saya kekantor Brian!"


"Baik non,,"


Sesampainya dikantor,Delia langsung berlari menaiki lift menuju ruangan Brian.


Ia tak mendapati siapapun disana.


Delia menanyakan pada Staf yang ada di dekatnya tentang keberadaan Brian,Safa dan Soni.


"Mba,Tuan Brian,Safa dan Soni dimana ya?apa mereka sedang rapat?"


"Maaf nyonya,mereka sudah 2 hari tidak masuk kekantor,kemungkinan ada pekerjaan diluar kota,disini hanya tuan Roby"


"Apa Roby?dimana dia?"


"Belio juga sedang bertemu clien diruang rapat."


Fani dan Delia saling melempar tatapan,,tiba-tiba dari arah belakang datanglah Oma.


"Kalian cari apa disini!" Ucap Oma.


Delia menoleh kesumber suara.


"Oma,,Oma sudah sembuh?"


"Semenjak kepergianmu dari rumah aku jauh lebih baik!!"


Delia dan Fani hanya mengantupkan bibirnya rapat.


"Gila killer banget ni Oma-Oma..pantas saja,di rumah Atmajaya Delia merasa tertekan"batin Fani.


"Oma,,ak,,,"


"Hah!aku apa!? Kamu mau bilang kamu sedang mencari suamimu?iya? Suamimu sudah tersadar dari halusinasinya! Dia sudah sadar kalau wanita yang dia nikahi tidak layak untuknya!! Dia sadar,kalau istrinya suka bermain Api! Apa,Kekayaan Brian masih kurang buatmu?sampai-sampai kamu pergi dengan laki-laki lain?? Cuiiih!! Aku jijik melihatmu disini!pergilah!!"


Delia hanya bisa diam dan menerima hujatan dari Oma.


Fani yang geram ingin sekali bersuara membela Delia,namun Delia meremas tangannya dan memberi isyarat untuk diam.


"Kami permisi Oma,," Delia tertunduk melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kantor.


"Tunggu! Kamu yakin ingin tau benar dimana suamimu?" Ucap Oma.


Delia membalikan badannya dan memohon.


"Oma,aku mohon,,beritahu dimana mas Brian?"


"Dia di Dubai bersama Tania,,aku berharap Tania bisa menghiburnya disana hahaha"


Tawa Oma,menyayat hati Delia.


"Jangan dengarkan Del,ayo kita pulang"


Ajak Fani,ia tak ingin sahabatnya semakin terluka.


***

__ADS_1


__ADS_2