Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 189


__ADS_3

Delia pernah mengejar kecoa dengan sapu,dan berusaha membunuhnya.


Padahal bi Ani sudah membawa obat pembasmi serangga yang hanya tinggal semprot saja.


Tapi Delia terlihat gemas,jika tidak menyelesaikannya sendiri.


Dia yang biasanya tidak jajan sembarangan,tiba-tiba memanggil tukang gado-gado,telor gulung,cilor,dan tukang es buah yang melintas didepan gerbangnya.


Ia juga memesan untuk semua bodyguard,satpam dan asisiten rumah tangga lainnya. Mereka semua di haruskan untuk menghabiskan apa yang Delia pesan untuk mereka.


Perut para bodyguard dibuat kekenyangan karena ulah Delia.


Ada yang diam-diam sengaja membungkusnya untuk keluarga mereka.


Hari ini,dia mengejar tukang rujak seperti mengejar layangan putus.


Setelah mengantar Seruni pulang,Delia dan Brian kembali kerumahnya.


Delia langsung menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


"Ahhh...akhirnya,,sampai rumah juga.."


Brian berbaring meletakan kepalanya di pangkuan Delia.


"Pijat kepalaku sayang,!"


"Hmmm,,baiklah"


Delia mulai mengusap-usap kepala suaminya,lalu memijatnya.


Brian meraih remot TV dan menyalakan TV untuk memecah keheningan.


"Mas,,"


"Hemmm?"


"Apa yang membuatmu cemas?"


"Apa?cemas,,?engga kok!"


"Ya udah lah kalau engga mau cerita!"


Delia paham,jika suaminya meminta dipijat kepalanya,pasti dia sedang merasa cemas.


"Bi,,tolong buatkan jus untuk mas Brian,kami diruang tengah"


Titah Delia seraya memencet tombol khusus untuk memanggil asisten rumah tangga.


"Mas,,apa kamu mencemaskan ayahmu?"


Brian meraih tangan Delia kemudian mencium telapak tangannya.


"Terimakasih ta Sayang,kamu sudah melapangkan hatimu untuk memaafkan ayahku,meskipun aku tahu,ini butuh peejuangan bagimu.


Aku bersyukur memiliki istri sepertimu sayang,,"


"Mas,,jika aku bisa memaafkan ayahmu,kenapa kamu tidak mencoba bersahabat dengan Hans?" Delia memberanikan diri untuk membahas Hans.


Tak seperti biasanya,Brian tidak langsung naik darah. Ia hanya menarik nafas berat dan menghempaskannya.


"Setidaknya,ini demi ayahmu,,toh,semua apa yang terjadi,bukanlah keinginanya. Ini semua kesalahan orang tuanya. Dia tidak ada niat sedikitpun untuk menghancurkan hidup mu mas,,terlebih dia tahu bahwa hanya kamu dan Tania saudara yang tersisa dalam hidupnya.


Mereka membutuhkan pengayom sepertimu."


Brian terus memejamkan matanya,menikmati pijatan Delia.

__ADS_1


"Itu juga yang sedang aku pikirkan dari tadi.


Aku merasa bersalah jika terus mengacuhkan Hans. Awalnya aku membencinya karena dia menyukaimu,sebenarnya kecemburuanku itu yang memperkeruh semuanya.


Tapi aku tengah berusaha menahan diriku. Bukan hanya demi Ayahku,tapi ini memang mauku,,entah,,entah akupun merasa sakit saat memarahi Hans tanpa alasan.


Aku tidak tega melihatnya."


"Aku tahu,,itu semua karena ada satu ikatan biologis antara kalian. Itu wajar,,aku senang mas,jika kamu mau mencoba bersahabat dengan takdir."


"Satu lagi yang bikin aku pusing sayang,,"


"Apa?"


Brian meninggalkan pangkuan Delia,berpindah posisi,bersandar dengan manja di bahu Delia.


"Apa mas?"


"Keusilanmu akhir-akhir ini! Jujur,bikin aku pusing"


"Siapa juga yang usil!"


"Membuat para bodyguard kekenyangan,buat bi Ani spot jantung,apa itu bukan usil!! Dan tadi,mang Jajang juga dibuat kaget karena tiba-tiba kamu lari,ternyata hanyaengejar tukang rujak!" Protes Brian.


"Heeee...aku kan engga bermaksud iseng mas...seneng aja liat abang jualan lewat depan rumah,,kayanya liat makananya enak banget...kasihan juga kan kalau berhenti di depan,belinya cuma satu,,ya aku beli semuanya buat bodyguard mu sama satpam juga..kasihan,siapa tahu dalam hati mereka juga pengin mas.."


"Ya kalau cuma satu abang si mending,,nah kamu,,10 menit ada abang abang lain yang jualan juga dipanggil.."


"Ya ella mas,,kali-kali..ngamal.."


"Bukan masalah ngamal,,kalau mau ngamal,panggil aja abangnya,bayarin grobag sama isinya,kamu ngider ngantiin dia"


Brian terus menggoda istrinya.


"Ih,,tega kamu mas!!"


"Heehehe,,,abisnya mukanya tiap hari lempeng banget,,kali-kali,pengin liat ekspresi lain dari wajah lempeng mereka."


"Ck,,,kamu tu ya!!"


Brian menarik hidung Delia.


***


Pagi hari


Brian dibuat panik melihat istrinya sedari tadi selesai sholat subuh tak henti-hentinya muntah.


"Kamu kenapa sayang??aku kan udah bilang,jangan jajan sembarangan,,jadi sakit kan??"suara Brian terdengar dari depan pintu kamar mandi.


Delia tetap tidak mempedulikan suaminya yang terus mengomel.


Sampai akhirnya ia keluar dengan mata yang merah penuh dengan air mata,dan bibir yang pucat.


"Sayang?kita harus ke dokter sekarang!"


Brian langsung meraih tubuh istrinya,ia memapahnya ke tempat tidur.


Ia mengolesi tubuh istrinya dengan minyak oles,dan mengganti pakaiannya.


"Hallo mang Jajang! Siap kan mobil"titahnya pada mang Jajang melalui benda pipih yang ada ditangannya.


Dengan sigap Brian membopong Delia masuk ruang IGD.


"Dok,,tolong istri saya,,dia muntah terus dari tadi,,"

__ADS_1


"Permisi tuan,saya akan memeriksa nyonya "


Brian tetap berada di samping Delia,terlihat jelas,dia mencemaskan istrinya,,wajah istrinya sudah pucat,tak bertenaga.


"Bagaimana dok?apa apa istri saya keracunan makanan?"


"Belum pasti tuan,apa sebelumnya istri anda mempunyai riwayat asam lambung?"


"Sepertinya,,,sepertinya tidak Dok,,dia kemarin habis makan rujak pedas,dan dan banyak lagi dok,,saya juga kurang yakin."


"Nyonya Delia harus rawat inap karena kita perlu pemeriksaan lebih lanjut."


"Lakukan yang terbaik untuk istriku dok"


***


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan,Dokter membawa Delia keruang pemeriksaan.


"Mau dibawa kemana istri saya sus?"tanya Brian cemas.


Ia masih terbayang jelas beberapa bulan yang lalu bagaimana kondisi istrinya.


"Sebentar ya tuan,istri anda akan baik-baik saja,saya hanya memeriksanya,mari tuan ikuti kami"


Brian pun terus mengikuti kemana para perawat itu mendirong twmoat tidur pasien.


"Selamat siang tuan Brian,silahkan duduk"


Didalam ruangan Brian sudah disambut oleh dokter Aan,kebetulan dokter Aan memang sedang ada jadwal di rumah sakit tersebut.


"Siang,,dokter Aan?" Sapa Brian sedikit ragu.


"Begini tuan,dari hasil pemeriksaan dokter dalam,lambung istri anda baik-baik saja,dan tidak seperti yang anda cemaskan,istri anda tidak mengalami keracunan makanan apapun."


"Lalu?kenapa istri saya pagi tadi muntah-muntah seperti itu dok,,tidak seperti biasanya "


"Ini hasil tes istri anda,,silahkan anda buka" Dokter Aan menyodorkan amplop berisi kertas hasil tes.


Deliapun terlihat sangat penasaran,


"Mas,,bagaimana hasilnya?"tanya Delia lirih.


Brian masih terdiam dengan ekspresi tidak percaya.


"Begini saja,,mari,kita lakukan tes USG"


Dokter Aan memerintahkan perawat untuk mengolesi perut Delia dengan Gel,lalu ia ambil alat USG,ia mulai menelusuri perut Delia yang masih rata.


"Selamat non Delia,,anda akan menjadi ibu,,"


Mendengar perkataan dokter Aan,senyuman lebar tergambar jelas di bibir Delia,matanyapun mulai berkaca-kaca.


"Serius dok??aku hamil??"tanyanya.


"Iya nyonya..selamat tuan,,Allah memberikah anugrah terbesar untuk kalian,,anda lihat,sepertinya rumah kalian akan sangat ramai nanti karena akan ada dua anak munggil nantinya."


"Apa??Dua??" Brian dan Delia terkejut.


"Iya,,bisa kita lihat,dua kantung ini,masing masing ada satu janin,,dipeekirakan usia kehamilan nyonya Delia sudah 13minggu."


Brian meremas tangan Delia kemudian mencium keningnya.


"Terimaksih sayang,,terimaksih,,"air mata pria itupun menetes.


"Lalu bagaimana dengan mual yang istri saya alami,terus terang itu membuat saya takut dok"

__ADS_1


Tanya Brian khawatir.


__ADS_2