Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 26


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk"


"Nih!"


Brian memberikan secarik kertas pada Roby yang tengah sibuk memeriksa berkas-berkas.


"Apaan ini kaa?"


"Alamat kedua saksi. Saksi 1 kemungkinan masih ada dikampung,tapi saksi 2 katanya menjadi TKW di Taiwan."


"Wow...dari mana kamu mendapatkan itu semua! bukannya semalam kamu gak nongol?"


"Sudah jangan kebanyakan komen,selidiki saja alamat ini! Kapan kita kesana?"


" 3hari lagi ya,soalnya aku masih banyak pekerjaan."


"Oke!"


"Oiya Kak,apa kak Ian sedang sakit?"


"Engga,kenapa?"


"Kakak terlihat pucat,penampilan kakak juga gak seperti biasa,,gak beraturan." Roby mengerutkan dahinya melihat penampilan Brian yang acak-acakan,baru 2 malam tanpa Delia wajah sudah kucel.


"Ga Rob,,aku hanya...hanya sedang..em.."


"Apa kamu memikirkan Delia?"


"Iya,aku benar-benar merasa bersalah Rob,,aku harus bagaimana? Paman tidak mengijinkan ku menemuinya."


"Benar Kak,Kakak jangan dulu menemuinya,,dia masih shock dan belum menerima kepergian ayahnya"


"Tapi Rob..."


"Sudah kak,beri dia waktu."


"Terimakasih Rob,aku kembali ke kantor dulu"


"Hati-hati kak.."


"Hem.."


***


"Golden Big" group


"Tuan Mr.John sudah menunggu anda diruang meeting"


Ucap Sofi pada Brian yang baru kembali ke kantor nya.


"Oke,aku segera kesana." Brian bergegas menemui salah satu clien besarnya.


Kurang lebih 1jam mereka meeting,Selama meeting konsentrasi Brian terpecah,dia selalu memikirkan Delia.Beruntung dia ditemani oleh Sofi dan Soni. Mereka cukup membantu.


Meeting pun selesai mereka keluar mengantarkan Mr.John sampai keluar lobi.

__ADS_1


"Son,ikut aku keruangan"


"Baik Tuan" Soni menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti langkah Brian memasuki ruangannya.


"Ada apa Ian?" Jika berdua dengan Brian,Soni bersikap layaknya sahabat,jadi panggilan "tuan" mereka abaikan.


"Aku punya pekerjaan untukmu"


"Apa itu?"


" Selidiki alamat ini,cari tahu keberadaan kedua orang ini. Aku tidak bisa menunggu Roby,itu terlalu lama untuk ku"


"Apakah ini kedua saksi itu?"


"Iya,tapi salah satunya ada di luar negri. Cari tau keduanya"


"Baiklah,,oiya, bagaimana keadaan Delia?"


"Aku masih belum bisa menemuinya. Yang aku dengar,dia masih shock"


"Sabar kawan,semua akan membaik setelah kita bisa menemukan kedua saksi itu. Pelan-pelan Delia juga akan memahamimu"


"Entah lah,, apakah dia akan memaafkan ku atau tidak. Saat ini kita harus mencari kebenaran itu."


"Kamu harus optimis Ian. Oiya,jaga makanmu,, sepertinya kamu kurang sehat."


"Aku,aku tidak bisa berhenti memikirkan kebodohanku Son..aku menyesali semua itu"


"Sudahlah terus menyesalinyaakan membuat semakin terpuruk, yang pasti jadikan ini sebagai pelajaran untukmu"


"Terimakasih Son,,,oiya, segera hubungi aku jika ada perkembangan"


"Oke, pergilah.."


Brian duduk lemas di kursi kebesarannya,ia memejamkan matanya, menghela nafas berat.


***


"Del..Del...buka pintunya sayang..."


Bibi Mira mengetuk-ketuk pintu kamar Delia.


Clek


Delia membuka pintunya. Matanya sebam, rambutnya berantakan dan badannya lemas tak berdaya.


"Sayang, makanlah sedikit,,,ini sudah sore,makan ya ..."bujuk bibi Mira, dengan penuh kasih sayang ia mencoba menyuapinya.


"Aku tidak lapar Bi..."


"Sayang, Kasihan tubuhmu nak,kamu harus bisa keluar dari keterpurukan ini,jalanmu masih panjang,,kasihan orang tuamu di sana,pastinya mereka sedih dengan keadaanmu. Jadilah wanita tangguh demi mereka,doakan mereka selalu Del.."


"Biii,kenapa hidupku seperti ini...pertama ayahku difitnah,ayahku bangkrut,semua kerja keras ayah sia-sia. Kemudian,ibuku pergi meninggalkan kami dan kini ayah..apa salah ayah ibuku?apa salahku?? "


"Sayang,, setiap umat manusia pasti diuji,,Allah menguji kita karna Allah masih menyayangi kita. Seperti halnya jika kita mau naik kelas,pasti akan ada ujian kan??seperti itulah kita,siapa yang sabar dan berserah diri padaNya,pastilah Allah akan meninggikan derajatnya kelak. Percayalah,akan ada hadiah terbaik untuk orang-orang yang bersabar."


Mendengar bibinya,Delia semakin meneteskan airmatanya.

__ADS_1


"Terimakasih bi,,"


"Sekarang makanlah..Del,dari tadi siang ada yang ingin bertemu denganmu,dia belum kami ijinkan masuk sebelum kamu mengijinkannya."


"Siapa bi?"


"Brian"


"Aku tidak mau bi"


"Del,dia masih suamimu,,bibi lihat dia benar-benar menyesali semuanya. Lagian bibi dengar dari Fani,kalau sebenarnya Brianpun tidak ingin melakukan semua itu,,itu diluar kendalinya. Bicaralah,,biarkan dimenjelaskan semua. Secara agama dia masih suamimu,dosa besar jika kamu menolaknya."


Bibi Mira mengelus-elus rambut Delia,Delia hanya tertunduk tanpa menjawab.


"Bagaimana?dari kemarin dia bolak-balik kemari tapi paman selalu mengisirnya. Coba lah Del.."


"Terserah bibi saja"


"Baiklah,bibi akan menyuruhnya masuk ya,,"


Bibi Mira keluar memanggil Brian yang sedari tadi menunggunya diruang Tamu.


"Bagaimana bi?"


"Masuklah!tapi jangan pernah kamu mengasarinya lagi,berlemah lembutlah pada wanita!!karna kamupun terlahir dari seorang wanita. Bibi dan paman tidak akan memaafkanmu jika kamu menyakitinya lagi!!"


"Baik bi..aku janji tidak akan membentak-bentaknya lagi"


"Hem,masuklah"


"Terimaksih bi.."


Pelan-pelan Brian membuka pintu kamar Delia.


Kamarnya dipenuhi dengan foto-foto kedua orang tua Delia yang bercecer di kasur.


Mengetahui kedatangan Brian,Delia tetap diam duduk di samping jendela dengan tatapan kosong. Kedua kakinya dinaikan ke kursi,tubuhnya bersandar lemar pada kursi.


Brian duduk bersimpuh di bawah Delia.


"Maafkan aku Del,,aku sudah kasar denganmu,selama ini aku dibutakan dengan dendam ayahku,sebenarnya hati kecilkupun menolak untuk melakukan semua itu,,tapi ada bayang-bayang ayahku yang terus mengingatkanku pada dendam itu.T


api aku sadar semua tidak benar,dengan berjalannya waktu aku mengetahui bahwa kematian ibuku bukanlah karna ayahmu,,tapi aku harus mengumpulkan semua bukti untuk menguatkan keyakinanku,dan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku mohon maafkan kebodohanku selama ini. Maafkan aku Del...maafkan aku..."


Delia tetap diam mendengarkan penjelasan Brian dari A sampai Z.


"Del,bicaralah denganku,,marahi aku sepuasmu ayo lah Del..tampar aku,pukul aku,aku siap menerima hukuman darimu asalkan kamu mau memaafkanku"


Brian terus tertunduk didepan Delia.


Delia berjalan ke arah kasur mengambil semua foto-foto yang berserakan,kemudian menyebarnya didepan wajah Brian.


"Lihat ini!!! Bagaimana dengan mereka yang sudah mati dalam keadaan tersakiti oleh ayahmu!! Kenapa kamu tidak menyadarinya dari dulu!! Setidaknya jangan tutup telinga dan hatimu sebelum kamu bertindak sejauh ini!!! Aku sudah kehilangan semuanya!! Ayahku,ibuku dan harga diriku!! Aku sudah dipermalukan oleh keluargamu!!"


"Maafkan aku Del,,aku akan menebus semuanya"


"Dengan apa!!apa kamu bisa mengembalikan ayahku,ibuku,hartaku dan harga diriku!! pernikahan ini kau bilang sebagai pelunas hutang,tapi kenapa ayahmu masih meminta nyawa ayahku!! Kalian berdua memang sama-sama biadab!!!"

__ADS_1


"Vidio itu ayah mencurinya dariku,sepertinya dia mempunyai salinanya..Padahal flashdisk miliku sudah aku bakar dan file yang ada di ruang monitor juga sudah aku hapus. Mungkin ayah sudah menyadari bahwa sebenarnya aku tidak mau melakukannya,jadi dia membuat salinan otu diam-diam."


"Kenapa kamu membakarnya?bukanya kalian memang ingin melihatku hancur!?"


__ADS_2