Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 201


__ADS_3

Hans beranjak dari tempatnya,ia tidak mempedulikan panggilan dari ibunya yang nampak sangat cemas.


"Tidak,,tidak bisa,,,anakku tidak boleh mengakui apa yang tidak pernah dia lakukan,anakku tidak boleh selemah itu! Ahhhhh!!! Kenapa akhir-akhir ini semua semakain kacau!!" Gusar nyonya Yesi.


Yesi kembali masuk kedalam sel,


"Penjara ini mengacaukan semuanya! Bedebah!! Kenapa anakku sebodoh itu! Dia tidak boleh sampai bernasib sama denganku!" Gumamnya dalam hati.


Jam berikutnya,ada tamu lagi membesuk nyonya Yesi.


"Gimana kabar kakaku?"tanya Yesi pada ajudan setianya.


"Saya belum menjenguk belio nyonya,,ini,saya bawakan makanan untuk nyonya."


"Hmm"jawabnya Datar.


"Oiya,jika kau membesuknya,sampaikan pesan ini padanya"


"Pesan apa nyonya"


Yesi memberitahu perihal kedatangan Hans tadi,,dan rencana Hans yang konyol.


"Baik nyonya,akan saya sampaikan pada tuan Widodo"


"Terimakasih karena selama ini kau lah yang paling setia kepada kami"


"Siap nyonya"


Ajudan itupun segera pergi dan berkunjung ke Lapas pria tempat dimana Widodo di sel.


Dan bla bla bla


Si ajudan menyampaikan semua pesan yang Yesi titipkan padanya.


📞"Hallo bos,,seperti dugaan,ada satu penghubung diantara mereka"


Diluar area LP ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi gerak gerik si Ajudan,mulai dari Lapas wanita sampai Lapas Laki-laki.


📞"Bagus,jangan sampai kau kehilangan jejaknya." Titah seseorang dari sambungan telepon.


📞"Siap bos".


***


"Hans,,apa benar,polisi kemarin mengintrogasi kalian bertiga terkait kematian Reymon?" Tanya Tania saat dirumah.


"Iya mba,,mereka mencurigai kita,karena kita sama-sama menginginkan kematiannya."


Jawab Hans datar,sambil terus memainkan keyboard laptopnya diruang tengah.


"Lalu?" Tania semakin mendekat dan duduk disebelah adik sepupunya itu.


"Lalu apa?polisi belum memberi putusan apapun,karena tersangka utama yang dicurigai sebagai pelaku hilang entah kemana."


"Hmmmm,terus?"tanya Tania lagi.


"Terus apa nya? Ya sudah mba,Kak Brian juga mencurigaiku karena ada alasan untuknya,dia beranggapan aku melakukan demi melindungi mamah,,"

__ADS_1


"Ahhh,,,omongan Brian jangan diambil hati Hans,kakakmu itu emang kalau lagi keaulut emosi suka asal ngomong..dia tidak akan semudah itu menarik kesimpulan Hans"


"Mba,,jujur,aku lelah jika harus berurusan dengan hal semacam ini,,kenapa kita dilahirkan dari orang-orang yang berdarah dingin! "


"Apa itu artinya kamu sedang mengarahkan tuduhan itu pada ayahku atau ibumu?"


"Yah,,bukanya mereka berdarah dingin! Akj malu mba,aku malu dengan kak Brian,dia begitu baik dengan kita,mau memaafkan kita,mau mempercayakan salah satu anak perusahaannya pada kita,tapi apa,,orang tua kita masih saja diperbudak oleh dendamnya. Kalau mereka bukan keluargaku,pasti sudah aku habisi keduanya!" Hans nampak kesal,ia menutup laptopnya kasar.


"Hei!!! Jaga ucapanmu! Mereka tidak sepenuhnya salah! Mereka mempunyai dendam karena perbuatan orang tua Brian dan Delia juga!! "


"Apa mba Tania masih membela mereka?"


"Jelas tidak lah! Aku hanya tidak mau kamu terlalu membenci mereka! Bagaimanapun juga mereka orang tua kita. Jangan jadi anak durhaka kamu ya,,dikutuk jadi batu baru tau rasa!" Tania melotot kearah Hans.


"Maka dari itu,aku ingin mengakhiri semua,agar aku tidak durhaka,,anggap saja ini baktiku pada mereka,beban hukuman paman dan ibu sudah cukup berat"


"Maksudmu?"Tania mengerutkan alisnya,ia berdiri dihadapan Hans dengan bertolak pinggang.


"Huaaaahhhh (Hans pura-pura menguap)


Aku mau tidur ,,sudah malam,,,"


Hans pergi melewati Tania.


"oiya mba, laporannya sudah aku kirim ke email mu,,besok serahkan ke Soni ya mba,,,selamat malam" Ucap Hans seraya menaiki anak tangga.


"Hufh,,bocah gendeng,diajak ngobrol serius malah kabur,tapi apa maksudnya?dia harus mengakhiri?berbakti?Au ah,,,dia mungkin benar-benar mengantuk,jadi agak konslet" gumam Tania.


***


Tani berlari sekuat tenaga menuju ruangan Brian.


Dengan terengah engah Tania mencoba berbicara.


"Ian,,hu huhu,,,Hans,,Hans,,Ian,,"


Bibir Tania bergetar.


"Ada apa?"tanya Soni dan Brian bersamaan.


Safa akhirnya memutuskan untuk pamit keluar ruangan karena ia merasa ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan,dan mungkin bersifat pribadi. Brianpun mengijinkan Safa keluar.


"Tenanglah sedikit Tan,,pelan-pelan" titah Soni,sementara Brian mengambilkan air minum untuk Tania.


"Duduklah"


Tania menggelengkan kepalanya.


"Hans,,hans sepertinya akan menyerahkan diri ke kantor polisi,dia akan mengakui kalau,,,kalau dialah dalang semua ini"


"Apa!!" Brian terkejut,dan meraup wajahnya kasar.


"Darimana kamu tahu!"


"Semalam dia bicara,tapi aku tidak tahu kemana arah pembicaraannya,dan pagi tadi aku,,aku,,aku menemukan surat ini,,,in inntinya,dia meminta maaf pada semua pihak yang sudah dirugikan oleh keluarga keluarga kami,,"


"Ahhhh,,,dia benar-benar payah!! Diantidak bisa mencerna pancinganku!!"

__ADS_1


"Aduh Ian,,,dia itu masih muda,,,kamu harusnya ngerti dong,jangan pancing dia dengan hal-hal aneh!! Ah!!!" Tania kesal dengan Brian.


"Sudah sudah! Sekarang kita susul Hans,semoga saja dia belum sampai ke kantor polisi" ajak Soni.


Mereka bertigapun berlari keluar.


Mobil yang mereka kendarai melaju dengan kecepatan maximal.


Tania yang semula takut ,akhirnya memilih pasrah,ia mencoba mempercayai Brian sebagi pengemudi yang handal.


***


Sesampainya disana,ternyata Hans baru saja masuk kedalam tahanan sementara.


Polisipun memanggil Hans kembali untuk menemui Brian dan rombongannya.


Tuk!!


Brian langsung menjitak kepala Hans kesal.


"Auwww" Hans mengusap kepalanya.


"Dasar! bodoh!! apa maksudmu hah! ini tidak akan menyelesaikan semua! pulang ayo!"


"Tapi kak!"


"Tidak ada tapi-tapian!! aku akan berusaha mengeluarkanmu dari tempat menjijikan ini!! "


"Kak,,"


"Tutup mulutmu!!Diam disini! aku akan mengurus semua" Brian menujuk wajah Hans dengan tangan kanannya,sementara tangan kirinya menelpon pengacaranya agar cepat sampai ke kantor polisi.


15 menit kemudian


Brian dan pengacaranya berunding dengan polisi. Intinya memberi jaminan untuk Hans,dan berjanji akan membantu polisi menemukan pelaku yang sesungguhnya.


Sepanjang jalan Brian terus memarahi Hans,sebenarnya kemarahannya bukan karena hal lain.


Brian sebenarnya mulai menyayangi Hans sebagai adiknya.


Meskipun adik tiri,tapi Brian percaya Hans tidak akan berlaku seburuk keluarganya.


Terlebih,Hans sudah menolong Delia,Hans rela mempertaruhkan nyawanya untuk menolong Delia.


Brianpun berusaha menjadi kakak yang baik untuknya.


"Kamu tahu! apa maksud perkataanku kemarin Hah!!! Aku ingin kamu menekan ibumu untuk berkata jujur,karena aku pikir ibumu mau berkata jujur hanya denganmu. Sengaja kau aku jadikan pancingan agar Ibu dan pamanmu gusar,,dan pada akhirnya aku tahu siapa yang menjadi penghubung keduanya.


Otomatis,orang itu juga tahu siapa yang kita temui di rumah sakit waktu itu. Aku sama sekali tidak mau kau menanggung semua perbuatan mereka!! Aku tidak sekejam itu Hans!!"


Hans hanya tertunduk mendengar kakaknya mengomel.


Dalam hatinya ia merasa senang,akhirnya ia bisa merasakan kasih sayang dari Kakaknya sebagai panutannya.


"Ian,sudah,,,kasihan Hans,,kamu dari tadi ngomel mulu! Harusnya kamu jelasin aja dari awal apa maksudmu,,jadi dia ga berfikir kemana-mana kan" bela Tania.


"Iya,aku memang salah!!!" Brianpun akhirnya bungkam.

__ADS_1


***


__ADS_2