
Delia akhirnya memilih untuk tidur dengannmenggunakan kaos Brian,ditubuhnya terlihat cukup besar.
"Oke,daripada aku harus pake bajubyang belum jadi,ini jauh lebih baik."batinya.
Delia keluar dari kamarmandi dan melihat Brian yang masih menutup wajahnya dengan bantal.
Delia menghampirinya dan berbaring disebelahnya.
Menyadari kehadiran Delia,Brian langsung membuka penutupnya.
"Ckkkk" Brian berdecak kecewa,karna Delia tidak mengindahkannya untuk memakai langerie.
"Ada apa kak?" jawab Delia polos.
"Engga papa,,sudah tidurlah,,"
Brian menempatkan kepala Delia agar berada diatas dada bidangnya,Deliapun menurutinya.
"Maaf ya,,aku merasa belum nyaman memakai langerie itu..emm..aku.."
Dia berusaha menjelaskan kalau sebenarnya dia sendiri belum siap jika Brian memangsanya.
"Iya,aku mengerti,tapi sampai kapan kamu siap menjadi istriku seutuhnya?apa kamu masih meragukan perasaanku?"
"Tidak kak,aku percaya kamu mencintaiku,,hanya saja,,aku belum siap.."
"Baiklah aku akan menunggumu,,tapi jangan terlalu lama karna ini berat untukku,,"
"Iya" Sebenarnya mood Delia yang belum menginginkan itu dia masih mengkhawatirkan sidang Brian.
Selain itu,meskipun ayahnya sudah terbebas dari tuduhan,tapi masih banyak pertanyaan yang membuat dirinya belum sepenuhnya merasa tenang.
Termasuk alasan Atmajaya membunuh ibunya.
Kali ini dia belum berani bertanya pada Brian,saat ini dia hanya ingin mengungkapkannapa yang ada dihatinya tentang rasa cintanya.
Dia hanya tidak mau kegilangan Brian.
04.30
"Kak...bangun..mandi dan sholat.." Delia membangunkan Brian
"Kaaakkk..,hari ini kita kan mau kerumah bibi..ayo bangun,,mandi.." Delia masih belum bisa berkutik karna tubuhnya terkunci oleh Brian.
Semalaman dia terus memeluk Delia,membuat tubuhnya terasa sakit karna tidak bisa tidur dengan leluasa.
"Hem.."Brian berlahan membuka matanya.
"Bangun,sholat..ayo.."
"Aku masih ingin memelukmu"
"udah aghhh...lepasin..badanku pegel ni..semalaman kamu meluk aku terus..udah aghhh..." ucap Delia sembari menyingkirkan tangan kekar Brian dengan susah payah.
"Sun dulu baru bisa lepas.." goda Brian.
"Idih..kaya anak kecil aja..udah lepasssiiinnn..kamu makan apa si badan bisa segedhe ini.." Delia masih berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Makan orang..udah,kamu tidak bisa menandingi kekuatanku,,turuti saja.."
__ADS_1
Brian lebih keras mengunci tubuh Delia yang terus meronta.
Cup cup cup
Akhirnya Delia mencium pipi kanan kiri dan bibir Brian dengan cepat.
"Indahnyaaa...andai bisa lebih dari ini"
Brian tertawa genit,menyumpitkan matanya.
"otak Ngeresssss...udah,lepasin!!"
Diapun akhirnya lepas dari pelukan Brian dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
06.30
Delia sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Brian.
Brian yang sudah rapi dengan style formalnya,menuruni tangga menghampiri istrinya yang sudah menunggunya dimeja makan.
Brian mengecup kening Delia.
Mereka mulai menyantap sarapan yang Delia buat.
"Sayang,habis sarapan kita kerumah bibimu ya,Pengacara kita sudah berkumpul disana.
Kita berangkat kekantor pengadilan bersama-sama oke.."
"Kak,,apa kamu benar gak akan masuk penjara?aku takut..."
"Tenang sayang,gak akan...tapi kalaupun iya,itu tak kan lama,. Lagian ini memang sudah jadi keinginanku. Aku hanya mau menebus kesalahanku padamu."
"Benarkah?"
"Iya..aku hanya ingin kamu kak..."
"Sayang,boleh ga aku minta sesuatu lagi?"
"Apa?"
"Jangan panggil aku Kakak ya..aku gak mau kamu samain aku dengan Roby! Kurang enak didengar."
"Terus?aku panggil apa?"
"Ya apa kek,yang enak didengar.
Emm...seperti pasangan lainnya.mas kek,sayang kek,atau apa lah..masa harus cari diinternet dulu untuk memanggilku..hehe"
"Iya iyaaaa....om" Delia menggoda Brian.
"Idih..kok om.." Brian mengerutkan kedua alisnya.
"Aku kan masih muda,,umurmu 9tahun lebih tua..jadi om aja ya..hehehe..."
"Terserah!!" Jawab Brian ketus.
Delia berdiri menghampiri Brian dan memeluknya dari belakang.
"Massss...jangan ngambek dong..emuuah.."
__ADS_1
Delia berbisik dan mencium pipi Brian.
Brian menarik tangan Delia membuatnya jatuh kepangkuannya.
"Ohhh..kamu berani menggodaku ku yaa...kalau hari ini aku free udah habis kamu!"
Brian mengecup bibir Delia.
"Hehehe...udah agh..entar kita terlambat..aku mau merapikan ini dulu ya.."
"Tidak usah,hari ini bi Ani kemari."
"Apa?bi Ani,?"
"Iya,sejak pertengkaran hebatku dengan ayah,bi Ani juga keluar dari rumah itu karna dia merasa tidak nyaman dengan ayahku yang terus mengamuk dirumah.
Dia bekerja ditoko,saat itu aku bertemu denganya dan meminta nomor ponselnya.
Dia ingin kembali bekerja dirumah ini,aku pekerjakan dia seminggu sekali.
Tapi karna kamu sudah kembali,tadi pagi aku menghubunginya agar belio kemari setiap hari untuk menemanimu."
"Terimakasih mas.."Delia kembali mencium pipi suaminya.
"Haduhhh...ayo kita berangkat sekarang,,kalau lama-lama entar akunya yang gak kuat." Brian menggeleng-gelengkan kepalanya, menurunkan Delia dari pangkuannya .
Brian merapikan jasnya,kemudian mengambil tas kerjanya.
"Ayo sayang"
Brian menggandeng tangan Delia,membawanya masuk kedalam mobil.
Mereka menuju rumah Bibi Mira karna kedua pengacara mereka sudah ada disana sedari tadi.
"Sayang,,ini kalau yaa...kalau misalnya proses hukum terus berjalan,aku minta kamu tetap kuat yah,,dan jika ada sesuatu yang menyulitkanmu,panggil saja Soni asistenku.
Dia akan membantumu. Dan aku sudah menyuruh beberapa orang mengawasi rumahmu. Aku juga sudah siapkan supir untukmu,,"
"Kamu enggak akan lama kan?" Matanya mulai berair,namun tertahan.
"Engga sayang,"jawab Brian tanpa menatap Delia,dia fokus pada kemudinya.
"Kalau gitu,untuk apa kamu berlebihan menyewa bodyguard dan sopir segala"
"Sayang,aku tidak akan tenang saat kau lepas dari penglihatanku,,kamu tau,ayahku masih menaruh dendam padamu. Meskipun bukan ayahmu yang bersalah,tapi ini belum berakhir masih ada yang perlu aku ketahui. Jadi aku mohon,menurutlah,jangan pernah pergi sendirian lagi menggunakan motormu,aku sudah menyuruh Soni untuk memesankan mobil baru untukmu,dan hari ini mobil itu akan dikirim kerumahmu beserta supirnya."
"Em..kak,boleh aku tau?kenapa ibumu meninggal?apakah ayahmu mengetahui alasan kematianya?"
"Ibuku meninggal karna bunuh diri! alasanya hanya ada di surat yang ibuku titipkan pada ibumu. Karna ayahku takut semua terbongkar,maka ayahmu membunuh ibumu seolah-olah itu kecelakaan. Ayahmu pun belum mengetahui isi surat itu dan dimana ibumu menyembunyikanya."
"Darimana kamu tahu.?"
"Ceritanya panjang,besok setelah kita menyelesaikan proses hukum ini,aku akan menceritakan semua.
Saat ini kamu harus berhati-hati karna ayahku mencurigai kalau kamu sudah menemukan surat wasiat ibuku. Dia takut dia dipenjara dan reputasinya hancur."
"Baiklah"
Akhirnya mereka sampai dirumah bi Mira dan langsungenemui kedua pengacara itu diruang tamu.
__ADS_1