
Brian menyisir rambut Delia yang masih berantakan.
"Del,kalau boleh tau,kamu mau kemana malam-malam begitu pergi sendirian.."
"Aku..aku..emmm..aku mau kemari"
"Apa??kamu mau kesini?untuk apa ini kan sudah malam.."
"Aku tidak bisa tidur,mungkin karna perasaan bersalahku..jadi aku harus meminta maaf padamu sebelum...sebelum kita bercerai dan aku minta,,berhenti berbuat konyol."
"Apa maksudmu..justru aku yang bersalah padamu selama ini..dan tindakan konyol apa yang kamu maksud."
"Aku juga salah,karna tidak pernah mempercayaimu dan memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya..Kamu juga jangan menutupi lagi kalau kamu kan yang menyiruh bibi untukembuat laporan atas tidakan KDRT mu padaku dulu?"
"Mmmmmm.....itu..itu...a..aku..laakukan karna aku ingin menebus semua kesalahanku."
"Tidak perlu!! Aku sudah memaafkanmu..aku mohon,jangan lakukan itu..aku mohon.."
Delia tertunduk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Brian duduk didepan Delia,menggenggam tanganya.
"Del,ijinkan aku menebus itu agar aku bisa tenang dan diantara kita sudah tidak ada hutang piutang lagi..ini tidak akan lama,,aku hanya akan mendekam dipenjara beberapa tahun saja.."
Delia akhirnya menangis,entah apa yang membuatnya menangis..dadanya terasa sesak jantungnya berdetak kencang,rasanya seperti tidak ingin Brian dipenjara.
"Jangan menangis Del,,aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi karna aku.."
Brian menyeka air mata Delia dengan lembut.
Delia masih belum bisa berkata apapun,karna dia sendiri bingung dengan perasaanya. Baginya kini Brian adalah tempat ternyaman,tapi dia belum mengetahui apakah dia mencintai Brian atau hanya sebatas rasa empatinya.
Delia sudah tidak canggung lagi memeluk Brian dan menangis bersandar didadanya yang bidang.
" Aduhhh..kok nangisnya tambah keras si...aku mesti gimana Del..oiya,aku menelpon bibi Mira dulu ya,biar mereka tidak khawatir. Kamu menginap saja disini,karna ini sudah larut malam. Besok pagi-pagi aku antar kamu kerumah bibi..bagaimana?"
Delia mengangguk mengiyakan saran dari Pria tampan yang sebentar lagi akan menjadi dudanya.
Brian mengambil ponsel yang ada disaku celananya.
"Hallo bibi Mira,,mohon maaf saya menganggu.."
"Iya Yan,ada apa.."
"Saya hanya ingin mengabari kalau Delia ada disini. Aku akan mengantarnya besok pagi."
"Apa??disitu?apa bibi gak salah,,setahu bibi dia sedang tidur dikamarnya..owalaaaah..itu anak..bibi kok bisa gak denger suara motornya ya.."
"Besok saja kami ceritakan,aku pastikan Delia malam ini aman disini"
"Iya nak Brian,bibi Percaya padamu..mana Delia bibi mau bicara sebentar."
Brian memberikan ponselnya pada Delia.
"Hallo bi.." ucap Delia lemas.
"Hallo Del..ehalaah..mbok ya kalau pergi pamit Del..ati-ati disana ya..inget,jangan marah-marah terus sama Brian kasihan dia.." jawab bibi Mira sedikit kesal dengan polah keponakannya.
__ADS_1
"maaf bi..iya iya..aku gak bakalan ngomel-ngomel.."
"Ya sudah,istirahat sana..sepertinya kamu lelah."
"iya bi..assalamu'allaikum"
"wa'allaikumsalam"
telpon mereka terputus.
Melihat Briang tersenyum cengengesan Delia memanyunkan bibirnya.
"apa ketawa!!seneng aku diomelin sama bibi!! aneh tau kenapa akhir-akhir ini semua orang diaekitarku membela mu!!hufh..aku terus yang dimarahi..emangnya apa salahku! jangan jangan kamu pelet mereka ya!!awas saja!!" ucap Delia ketus dengan mata yang membola
"Engga engga,,eits..apa barusan kamu sedang melotot trus ngomelin aku?inget loh,tadi aku juga dengar pesan bibi untukmu" Brian menggoda Delia.
"Auuahhh.."
"ya sudah,kamu tidur ya..apa mau makan?kebetulan tadi aku membeli makanan,kita makan berdua yukz" ajak Brian.
"enggak,aku gak laper.."
"ya sudah,aku turun kebawah ya,,aku mau makan. Kalau ada apa-apa panggil saja."
"iya..".Delia menganggukan kepalanya.
Brian keluar menuju ruang makan dan makan sendirian di sana.
Diam-diam Delia melihat Brian dari lantai dua,ia menatap Brian yang tengah asyik menikmati makanannya sendiri.
"Kasihan dia,sepertinya dia benar-benqr kelaparan..
Ya Allah,lindungilah dia,beri dia keberkahan dan kebahagiaan." gumam Delia dalam hati.
Setelah menyadari Brian sudah selesai makan,Delia segera berlari menuju kamarnya dan berpura-pura tidur.
Brianpun kembali masuk kekamar Delia.
Brian mengambil badcover dan menyelimuti tubuh Delia.
Saat itu,Brian melihat daerah sekitar leher dan dada Delia terluka akibat ulah pemuda itu.
Brian langsung mengambil kotak P3K .
Sebelum mengolesi obat,Brian juga memeriksa tangab dan kaki Delia yang juga terdapat luka akibat berlari tanpa alas kaki.
Dengan hati-hati Brian mengolesi obat pada kaki,sikut tangan dan terakhir di area leher Delia.
Kini wajah mereka benar-benar begitu Dekat,sebelum mengoles daerah leher,Brian berbisik lirih.
"Maaf,aku hanya ingin mengobati lukamu.."
Delia tetap memejamkan matanya berpura-pura tertidur.
Ketika Brian mengolesi obatnya,karena geli akhirnya Delia terjimprak dan buka matanya.Mereka saling bertatapan,jawabmh mereka hanya berjarak 3jari saja...
Brian hampir saja kehilangan kendali,dia mendekatkan bibirnya namun dia tersadar.
__ADS_1
"Maaf maaf..aku aku hanya bermaksud mengolesi lukamu..maaf aa..aku .tidak..macam-macam.." ucap Brian gugup dan menjauhkan wajahnya.
"Iya,tidak apa-apa..biar aku saja..terima kasih"
Delia mengambil cottonbat yang sedang Brian pakai untuk mengolesi krim pada lukanya.
Delia mencoba mengobati bagian leher dan dadanya sendiri.
"Tidur lah,besok aku akan mengantarmu pagi-pagi,,aku permisi.."
Brian bergegas meninggalkan Delia dikamarnya.
Dia tidak akan sanggup jika harus sekamar dengan Delia,,Brian takut tidak bisa mengontrol keinginannya untuk menguasai tubuh Delia.
Delia menatap kepergian Brian dengan penuh perasaan dan senyum yang lebar.
"Aku tau dia, bisa saja menerkamku kalau dia mau,tapi aku senang,dia masih menghargaiku sebagai wanita,terimakasih kak" Batin Delia.
***
"Del,,bangun.."
Brian menggoyang-goyangkan tubuh Delia.
Delia menguap dan meregangkan semua otot-otot dalam tubuhnya.
"Hmmm..."jawab Delia malas sembari memeluk bantal gulingnya.
"Sholat subuh dulu,,bareng yuk,,mungkin ini akan menjadi sholat berjamaah kita yang terakhir."
"Kakaaa..jangan bicara seperti itu..iya..aku akan bangun" Delia yang masih memejamkan matanya berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Delia dan Brian sholat bersama dikamar Delia.
"Kamu mau aku antar sekarang atau nanti?"
"Sekarang saja kaa,"
"Baiklah,aku mandi dulu ya.."
"Hemmm..apa mau aku siapkan air panas?"
"Tidak usah,aku harus belajar mandiri,karna sebentar lagi,aku akan menduda..hehe" jawab Brian sambil tersenyum menutupi kegelisahan hatinya. Brian sangat tidak ingin berpisah dari Delia,terlebih hubungannya sudah membaik,tapi apa boleh buat,janji tetaplah janji,Brianpun tak bisa memaksakan Delia.
Deliapun hanya tersenyum , mendengar kata Duda..sepertinya janggal di telinganya..itu artinya dia pun akan menjadi janda.
Waktu menunjukan pukul 5.30 pagi. Brian dan Delia pergi kerumah Bibi Mira. Mereka melewati jalanan dimana Delia meninggalkan motornya.
"Hah,dimana motorku kak?aduhhh.. " Delia menepok jidatnya.
"Salah satu rekanku membawa motormu ke bengkel disekitar sini,,nanti kalau sudah jadi dia yang akan mengantarnya kerumahmu. Tenang saja semua beres."
"Syukurlah...itu motor bersejarah,aku mengumpulkan mulai dari gaji pertamaku..demi mendapatkan motor itu aku irit-irit tu biyaya hidup diperantauan."
"Del,maafin keluargaku ya,karna ayahku keluargamu jadi menderita."
"Sudahlah,jangan mengingat itu,,sampai sekarang aku memang belum bisa memaafkan ayahmu,,maaf,aku terlalu membencinya." Delia mengeraskan rahangnya,menyatukan giginya.
__ADS_1
"Baiklah,aku mengerti"