
Matahari mulai tenggelam,siluet senja mulai menghiasi langit.
Brian tak menyadari bahwa dia sudah terlalu lama sibuk dengan pekerjaanya dan meninggalkan istrinya di kamar kantor.
Satu persatu stafpun pulang,begitu juga dengan Safa dan Sony
Mereka berpamitan dengan Brian diruangannya.
"Bos,gue pulang ya..." Sapa Sony dengan mengedipkan sebelah matanya,dengan senyuman khasnya ia menggoda Brian yang tengah meraih gagang pintu hendak masuk kedalam kamar kantor.
"Hem,!"jawabnya singkat dan datar.
"Saya juga pulang ya tuan,dan ini pesanan tuan..maaf tadi saya lupa tidak langsung memberikannya,karna kurirnya juga baru sampai tadi tuan" Safa memberikan sebuah kotak pada Brian.
"Oke,terimaksih"
Setelah semua keluar dari ruangan,Brian langsung masuk ke dalam kamar.
Nampak istrinya tengah tertidur lelap.
Berlahan,Brian mendekat duduk ditepi tempat tidur dan menatap wajah istrinya.
Ia menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantiknya.
"Del,entah bagaimana kamu bisa membawaku jatuh dengan perasaan terdalam seperti ini,maafkan aku,,sampai detik ini kamu masih terjebak dalam situasi yang runyam."
batinnya.
Aroma tubuh dan hembusan nafas Brian membuat Delia terbangun.
"Mas...maaf mas,aku ketiduran"
Delia mengucek-ucek matanya,wajah khas bangun tidurnya sangat mempesona membuat Brian semakin terjerat.
"Mas...kok liatin terus si..!"
"Apa kamu lelah..?"tanyanya.
"Ya engga si mas,,tadi aku bener-bener kekenyangan,trus bingung mau ngapain,akhirnya ketiduran deh...pulang yuk mas udah sore.." Delia hendak duduk namun dihalangi oleh kedua tangan Brian,yang langsung berada di sisi kanan kiri tubuh Delia.
Wajah mereka kini sangat dekat,aroma tubuh dan hembusan nafas Brian semakin melekat.
" Mas,kamu mau ngapain..ini kantor mas..nanti kalau ada yang maaa..." Belum sempat Delia meneruskan perkataanya,Brian sudah ******* b***r istrinya.
Kali ini Brian benar-benar menyantap istrinya dengan lahap,tak secengkalpun bagian ia lewatkan.
Deliapun mulai kewalahan dengan tingkah suaminya yang seperti singa kelaparan.
1jam pun berlalu,Delia merasa benar-benar lelah.
Melihat istrinya kelelahan Brianpun segera mengakhirinya dengan meninggalkan satu kecupan dikening istrinya.
Merkapun langsung membersihkan diri dikamar mandi.
Delia dan Brian keluar dengan handuk kimono.
Brian menyuruh Delia mengambil pakaian ganti di dalam almari.
Delia terkejut saat melihat isi lemari.
"Rupanya dia disini menyimpan cukup banyak pakaian wanita..agh..jangan jangan..."batin Delia.
"Kenapa!!" Brian tiba-tiba berdiri tepat dibelakang Delia.
"Em,,ini..ini..semua pakaian siapa mas?apa kamu sering membawa wanita lain kemari?" Protes Delia.
__ADS_1
"Ck,,,apa wanita itu bisanya cuma menuduh??"
Brian berdecak kemudian melingkarkan tangannya di tubuh Delia.
"dengar ya Delia Sayaaang...semua pakaian itu sengaja aku belikan khusus untukmu,untuk mengantisipasi kalau kamu datang kemari. Aku menyuruh Safa membelikannya kemarin"
"Maaf mas,,aku kan cuma tanyaaa.."
"Apa kamu masih belum sepenuhnya mempercayaiku?"
"Ya engga juga mas..yaw udah,lupain aja,,lepasin mas,aku mau ganti pakaian dulu"
"Baiklah,,tapi kamu harus percaya dan yakinlah padaku..oke!"
"Iya iya..." Delia mengambil satu stel pakaian lalu pergi kekamar mandi.
Sebelum mereka pulang kerumah,Brian mengajak Delia makan malam disebuah resto.
"Makan lagi mas??"tanya Delia.
"Iya kenapa!"jawab Brian fokus pada buku menu.
"Aku masih kenyang mas..."
"Yakin masih kenyang?tadikan habis diserang?hehe" bisik Brian lirih.
"Ih,mas..malu-maluin tau!!" Delia merasa malu dengan candaan suaminya.
"Udah,makan aja,persiapan entar malem!"
"Maksud loe!!!" Mata Delia membulat,sementara Brian hanya tersenyum tipis merasa senang telah menggoda istrinya .
"Udah jangan melotot! mau pesen apa?"ucap Brian kembali ketus.
"Oke"
Brian memanggil pelayan untuk menyiapkan pesanannya.
Pelayanpun segera menulis semua pesanan Brian.
"Del,,"
Seketika wajah Brian menegang.
"Apa mas?"tanya Delia cemas.
"Aku punya sesuatu untukmu"
Brian mengelurkan sebuah kotak kecil dari dalam jasnya.
"Apa ini mas.." Delia penasaran dengan kotak yang diberikan oleh suaminya.
Delia mengira bahwa itu kotak yang selama ini mereka cari.
"Buka saja"
Dengan perlahan ia membuka kotak yang diberikan padanya.
Senyuman tergambar di wajahnya saat melihat isi kotak itu,,meskipun tak seperti yang ia kira awalnya.
Delia tersenyum dan hampir saja tertawa lepas.
"Kenapa tertawa?kamu gak suka?" Gerutu Brian.
"Bukan gitu mas..hadiahnya bagus banget...tapi.." Delia tidak bisa lagi menahan tawanya.
__ADS_1
"Tapi apa!" Wajah Brian berubah semakin tegang.
"Haduhhh..mas..mas..mukamu itu loh mas yang lucu,,mau ngasih hadiah aja tegang banget..bikin aku ikutan deg degan..aku kira apaan..hufh,gak romantis banget..hahahaha"
"Berhenti menertawaiku atau aku tarik hadiahmu!"
"Jangan jangan jangan..hehehe...ayo mas..pakaiin dong di leherku,,biar kaya di film-film gitu..hehehe"
"Ck..malu Del,pakai sendiri ya!"
"Ih,,gak asik ah!"
Melihat Delia merajuk,akhirnya Brian memakaikan kalung di leher Delia.
"Heheee..nah gitu dong..makasih ya mas.."
"Hem.."
"Jangan ngambek dong mas..lagian kamu tu aneh,,bener-bener kaya bunglon..kamu kenapa si mas?kalau dikamar bisa bucin banget,giliran di depan umum gak mau sedikit aja romantis atau gimana gitu paling gak kaya yang lain-lainya lah..liat noh,pasangan yang disana..kan keliatan mesra banget gitu.."protes Delia.
"Ck..norak tau! Lagian kamu sendiri yang bilang aku kaya om om..ya udah jangan protes"
"Ih..gitu aja ngambek...banyak kok om om yang bucin ama cewe-cewe..heee.."
"Oh,jadi kamu mau aku kaya om-om ganjen!Oke!"
"Eh..jangan dong..!! Udah udah..aku mau kamu apa adanya aja..dari pada aku pusing!"
"Bagus!" Brian tersenyum tipis.
Beberapa waktu kemudian beberapa pelayan membawakan pesanan mereka.
Merekapun langsung menikmati makan malamnya.
#Bandung
"Mah,,mama aku mohon..mama mau ya..ikut saran dokter?aku mohon mah.." rengek Keke ditepi tempat tidur.
"Kee,mama baik-baik aja kok,,mama yakin,mama pasti sembuh karna kamu sudah disini bersama mamah.."
Bu Yati mencoba menenangkan anak gadisnya yang tengah membujuknya.
"Tapi mah,dokter barusan bilang,mama harus segera dioperasi,pokoknya besok kita kesana,Keke akan urus semua"
"Benar kata anakmu Yat..setidaknya kita ikhtiar mengikuti saran dokter," sang Kakek pun ikut membujuk anaknya.
"Baiklah,,Maafkan mama ya Kee,,mama justru merepotkanmu.."
"Mah,Keke tidak merasa direpotkan,,Keke merasa bahagia saat bisa berbakti dengan mamah,Keke melakukan ini demi mamah.."
Mereka saling berpelukan,bu Yati tak bisa membendung airmatanya sementara Keke bersikeras menguatkan dirinya,Keke merasa kasihan melihat ibunya yang kini terlihat semakin kurus,menahan penyakitnya yang lama ia sembunyikan.
Kanker sudah menggerogoti tubuhnya sudah hampir 8tahun.
Saat ini tubuhnya sudah tidak bisa menyembunyikan lagi.
Nafasnyapun mulai terasa berat,semula Keke mengira ibunya terkena asma dan types karna badan ibunya yang dulu segar padat berisi,kini berubah drastis.
Habis Subuh,Keke membawa ibunya ke Rumah sakit besar di Jakarta,ditemani sang Paman,mereka meminjam mobil kerabatnya.
Sampai di Rumah sakit,bu Yati langsung masuk ke ruang IGD dan menjalani beberapa pemeriksaan,dokter menyarankan untuk rawat inap beberapa hari untuk observasi sebelum melakukan operasi.
"Ke,,paman sudah dapat kontrakan sementara selama disini,paman pamit mau memindahkan beberapa pakaianmu yang ada dimobil kesana ya..Bibimu juga dalam perjalanan kemari,biar nanti kamu bisa bergantian dengan Bibimu,,Oiya,Hubungi paman kalau ada apa-apa oke?"
"baik paman,terimaksih..."
__ADS_1