
"Sssst,diem loh!ada tunangan gue diruangan tuan Atmajaya.." dengan angkuh Tania meninggalkan rekannya sesama staf.
"Kadang gue enak deh liat tingkah dia yang sok sokan..bikin pengin muntah aja"bisik staf lain yang tidak menyukai Tania.
**
"Hallo sayang,,,kok kamu disini"
Tani langsung menghampiri Brian yang tengah duduk disofa sedang asyik memeriksa semua berkas di laptop.
Tani langsung melingkarkan tangannya di tubuh Brian.
"Lepas!!"ucap Brian kasar.
"Ih,galak amat si sayang!"
"Kamu tau!kenapa aku panggil kamu kemari! Lihat ini!!!!" Brian melempar beberapa kertas dihadapan Tania.
"Kamu kemanakan uang itu!!"
"Maaf sayang..!!!"
"Panggil aku tuan Brian!!!" Kali ini Brian benar-benar marah.
"Aku heran di perusahaan sebesar ini masih saja mempekerjakan orang-orang bodoh seperti kalian!!! Sebelum rapat dimulai!!aku minta kamu bikin surat perjanjian untuk mengganti semua uang yang kamu gelapkan!!! Atau detik ini juga aku seret kamu kepolisi ! Ayahku bisa saja lemah dihadapanmu dan ayahmu! Tidak denganku!! Cepat!"
"Bbbbaik...a-a-aku akan membuatnya!" Nyalinya benar-benar menciut melihat ekspresi wajah Brian yang sangar.
"Satu lagi! Serahkan semua fasilitas yang kantor ini berikan padamu! Kunci mobil dan rumah!serahkan pada ku sekarang!!! Staf biasa tidak berhak atas itu!"
Tania benar-benar merasa dipermalukan oleh Brian.
"Cepat serahkan!!!"
"Iya iya,aku ambil dulu kuncinya ditas!"
Tani berjalan dengan membawa amarahnya,kesal,kecewa dan malu semua sudah bercampur menjadi satu.
"Semoga saja staf lain tidak mendengar teriakan Brian tadi"batin Tania.
"Brian!tidak seperti itu caranya,,kamu..kamu harus tahu,Widodo pasti akan marah dan salah paham!"
"Siapa Widodo bagi ayah!! Sepertinya ayah terlalu mendewakan dia! Apa nyawa ayah ada ditangannya!!!" Brian menatap ayahnya dengan mata yang merah menyala.
"Bbbukan begitu Ian,,dia sahabat ayah kamu tahu itu kan!"
"Sahabat apa yang menjadikan anaknya sebagai benalu!mereka itu penyakit yah!!ayah sadar!!!jangan mau diperdaya oleh mereka!! Ayah diam saja jika semua masalah ini mau diselesaikan sebelum oma datang!!ingat itu!ayah akan habis jika oma tahu kebodohan ayah!!!" Ancam Brian.
Susi yang mendengar semua perdebatan itu dari balik pintu merasa ketakutan,,tenyata anak dari Atmajaya jauh lebih menakutkan dibanding ayahnya.
Beruntung,sebelum keuangan perusahaan semakin kacau,Brian datang untuk menyelamatkan.
Semua jajaran manager sudah berkumpul,dan beberapa Direktur cabang pun ikut berkumpul.
Brian memimpin rapat,dan banyak kecurigaan-kecurigaan yang timbul.
Brian kali ini benar-benar geram dengan ayahnya.
__ADS_1
"Apa saja yang ayahnya kerjakan sampai dia tidak menyadari bahwa banyak tikus yang sedang menggerogoti perusahaan ini!!"gerutu Brian dalam hati.
Banyak pesaing Atmajaya yang memanfaatkan kelemahan Atmajaya untuk menggulingkan perusahaanya.
Atmajaya terlalu sibuk mencari cara mendapatkan kotak yang Lidia tinggalkan,karna dia takut kebusukannya terbongkar.
Termasuk Widodo sendiri memanfaatkannya,perselingkuhan Widodo menjadi senjatanya untuk terus mengeruk hartanya dan membuka usaha sendiri ,semua perusahaan yang ia buat atas namanya dan Sepupunya,karna kalau misal Atmajaya bangkrut mereka sudah ada diposisi aman.
Rapat berlangsung cukup lama,Brian tak segan-segan memecat karyawanya yang memang bersekongkol dalam penggelapan dana dan mengancam perusahaaanya.
Keluar dari ruang rapat,Brian melangkah tegap dengan wajah sangarnya.
"Hari ini benar-bener horor,anaknya ternyata lebih killer"bisik salah satu staf.
"Iya,,aduh...beruntung kita kerjanya gak macem-macem,,bisa dipenggal beneran dah kalau berani macem-macem" bisik lawan bicaranya.
Brian memasuki ruangan ayahnya kemudian membanting pintu membuat semua yang mendengarnya makin ketakutan.
"Brian,kontrol emosimu ini kantor,!" Atmajaya mencoba menenangkan emosinya.
"Yah!aku gak habis pikir kenapa perusahaan sebesar ini bisa mengalami penggelapan dana cukup banyak!!! Apa saja yang ayah kerjakan!! Oma pasti akan kecewa dengan ayah!!!" Brian benar-benar geram dengan ayahnya.
"Yah,apa ada berkas-berkas yang belum ayah kirim ke emailku?"
"Sudah semua Ian,memang ada apa?"
"Oh,,oke ga papa..." Brian merasa curiga masih ada yang disembunyikan darinya.
Tanpa berbicara lagi,Brian pergi meninggalkan ruangan ayahnya.
"Mau kemana kamu ian?"
Sebelum ia kembali ia mengirim pesan pada beberapa orang.
Ternyata Brian tidak kekantornya,melainkan kesebuah cafe,memesan privat room untuknya.
Beberapa orangpun ikut memasuki ruangan tersebut.
Mereka semua membahas sesuatu yang penting mengenai kecurigaan Brian pada Ayahnya sendiri.
Beberapa mata-matanya pun kini ditugaskan untuk mencari informasi mengenai ayahnya selama ini dan Brian juga menugaskan beberapa pengawalnya untuk menyelidiki Widodo.
"Kalian mengerti apa tugas kalian?" tanyanya tegas.
"Siap tuan."
"Bagus,kalian boleh pergi" Brian mengibaskan tangannya sebagai isyarat.
Tinggalah Brian duduk sendiri,bersandar pada kursinya,sambil menikmati secangkir kopi.
Dari dalam privat room,Brian melihat istrinya bersama sahabatnya Vivi memesan minuman.
Delia tidak menyadari bahwa Brian ada disana karna kaca privat room tidak tembus pandang dari luar.
Brian terus memperhatikan gerak gerik istrinya dan sahabatnya. Delia mulai membuka layar laptopnya begitu juga Vivi,mereka mengerjakan skripsi bersama-sama.
Brian berniat untuk menghampirinya,namun langkahnya terhenti,dia kembali menutup pintu privat room.
__ADS_1
Rupanya,ada Hans dan Dera menghampiri meja Delia.
Mereka berempat terlihat sangat akrab,saling melempar canda.
Brian merasa geram dengan kehadiran Hans ditengah-tengah mereka.
Brian keluar dari privat room dengan langkah tegas dan sorot mata tajam,ia menghampiri meja Delia langsung menutup Laptop Delia dan menarik tangannya.
Ketiga sahabatnya terkejut dan tercengang melihat Bruan menarik paksa Delia.
"Mas,kamu disini..lepasin mas.." Delia berisaha melepaskan genggaman Brian yangbdirasa cukup menyakitkan pergelangan tangannya.
"ikut aku!" Brian menatapnya tajam.
"tapi mas,kita lagi ngerjain skripsi mas.."
Brian tidakmemperdulikan rengekan Delia.
Tangannya masih melekat kuat di pergelangan tangan istrinya.
Hans menyusul mereka sampai di parkiran.
Langsung menarik pundak Brian.
"Lepasin! jangan beraninya sama cewe!!" hardiknya.
Vivi dan Dera mengikuti Hans,ia merasa takut kalau Hans dan Brian beradu.
"Hah,bocah ingusan tau apa Hah!jangan coba-coba sok pahlawan!kamu belum tau siapa saya ya!" Brian melepaskan tangan Delia dan ia membusungkan dadanya menantang Hans.
Delia yang ketakutan meraih lengan Brian.
"Mas,udah mas,,iya aku pulang mas,,Hans..please aku mohon,,hentikan semuanya."
"Gak Del,aku paling benci ada pria yang bersikap kasar pada wanita! dia itu banci!!"
BUUGH
Brian langsung menghajar Hans,berkali-kali membuat Delia menjerit.
"Mas!!! udahhhhhh!!! STOP mas,Cukup!!!"
Satpam yang melihat langsung membantu meleraikan baku hantam antara mereka.
Delia langsung menarik suaminya masuk kedalam mobil.
Brian yang masih emosi melajukan mobilnya sekencang-kencangnya,Delia hanya diam ketakutan melihat amarah suaminya.
Sesampainya dirumah,Brian menarik tangan Delia sampai kekamarnya,dan ia hempaskan tubuh istrinya diatas kasur.
Brian yang masih terselimuti amarah bertolak menatap Delia tajam.
"Kamu sengaja bertemu pria lain diluar sana dengan dalih mengerjakan skripsi ! !iya kan!!"
Delia yang sudah terlanjur menangis tidak bisa berkata lidahnya kelu,tenggorokannya seperti tercekik.Dia hanya bisa terisak dan tertunduk.
"Jawab!!!" teriak Brian.
__ADS_1
Delia terkejut mendengar suara Brian yang seperti halilintar.
"Jawab!!!"