
Merekapun bertemu dan saling berjabat tangan.
"Maaf Mr. abdulla saya sedikit terlambat karna tadi saat perjalanan kemari ada sedikit masalah" jelas Brian.
Mr.Abdulla menatap mereka dengan sorot mata penuh misteri.
"Apa masalahmu wanita ini lagi??" Ucapnya sedikit ketus.
Delia merasa tidak enak hati dengan sikap Mr.Abdulla.
"Bener juga kata mas Brian,ni orang apa monster??" Gerutunya dalam hati.
"Maaf Mr. Abdulla yang terhormat,,ini istri saya! Kali ini,masalah datang bukan intern diantara kami,tapi ini murni ada masalah lain." Brian yang masih terbawa emosi atas kejadian tadi pun hampir meluapkan emosinya dihadapan Mr.Abdulla.
Dengan sigap Delia,menggegam telapak tangan Brian,sebagai isyarat agar Brian menahan emosinya.
"Mmma maaf Tuan,Tadi saat dijalan ada pengendara motor yang mengikuti kita,dan melempar batu kearah mobil kita"
Delia mencoba jujur pada Mr. Abdulla.
"Oh ya??" Mr.Abdulla mengerutkan dahinya seolah tidak mempercayai alasan Delia.
"Lalu?apa kalian mengejarnya?"
"Sempat kami kejar,tetapi kami ingat,kami tidak ingin tuan menunggu terlalu lama."
"Baiklah,silahkan duduk!" Ucapnya datar.
Mereka duduk dan menikmati makan malam.
Dalam kesempatan ini,Delia dan Brian meminta maaf pada Mr.Abdulla karna ketidak nyamanan kemarin saat rapat.
Mr.Abdulla dengan penuh misteri hanya mengangguk-angguk saja,dan tersenyum tipis.
Mr. Abdulla juga melempar beberapa pertanyaan kepada Delia.
Delia merasa seperti diinterogasi,namun ia mencoba bersikap tenang,menjawab semua pertanyaan Mr. Abdulla dengan santai dan apa adanya.
"Hanya Allah yang tahu,apa maksud dari introgasi ini? Ya Allah,,semoga makan malam yang super menegangkan ini segera berakhir" batin Delia.
Brian yang mengetahui ketidak nyamanan istrinya,segera membantunya mencairkan suasana.
"Brian,besok datanglah ke kantorku,aku akan putuskan apakah kerjasama kita berlanjut atau tidak! Oiya,mengenai alasan kalian tadi,saya sarankan kalian harus lebih berhati-hati."
"Baik Mr. Abdulla besok saya pasti akan datang. Terimakasih untuk malam ini Mr."
"Oke,saya rasa pertemuan malam sudah cukup.
Ingat! datanglah ke Kantorku besok pagi. Satu lagi,aku tidak akan mentolerir jika kamu terlambat !"
"Siap Mr." Brian menganggukan kepalanya mantap.
"Oiya,ajak istrimu juga!" Mr.Abdulla berbalik menunjukan jarinya kearah Delia.
Delia seketika membulatkan matanya dan bertanya-tanya dalam hati.
"Kok aku ci?" Ia dan suaminya saling melempar tatapan.
"Apa kalian tidak keberatan?"
Mr.Abdulla membangunkan keduanya dari kebingungan yang nampak jelas.
"Oh,,i i iya Mr.Abdulla besok kami kekantor bersama-sama"
Brian tersenyum ragu,ia masih belum tahu untuk apa istrinya diikut sertakan dalam bisnis ini.
"Good".
Mr.Abdulla menepuk pundak Brian.
Setelah kepergiannya,Brian dan Delia bersama-sama membuang nafas kasar.
"Hhuuufh"
Delia duduk lemas bersandar. Sedangkan Brian berdiri bertolak pinggang.
__ADS_1
"Gila ya,,Mr. Abdulla bisa semisterius itu. Aku berasa diintrogasi mas,perasaan hanya karna kamu meninggalkan rapat aja udah segitu riwehnya. Ampun deh mas..." Gerutu Delia.
"Bisa gak kamu gak menggerutu" Brian melipat tangannya,berdiri tegap menghadap Delia yang masih bersandar menghadapkan wajahnya keatas.
"Aku tegang mas."
"Engga usah dipikir! Ayo kita pulang,besok pagi-pagi kita bersiap kekantor Mr.Abdulla."
Brian membetulkan jasnya.
"Ih.." Delia menyunggingkan bibirnya,merasa kesal dengan suaminya yang tidak mau mendengar gerutunya.
Saat hendak menghampiri mobil,tiba-tiba ada motor melaju dengan kecepatan tinggi sengaja melaju kearah Delia,Brian yang tengah membuka pintu kemudi,terkejut dengan cepatnya motor tersebut menyerempet tubuhDelia.
Meskipun sempat terpelanting,beruntung Delia tidak terluka parah.
"Woy!!!" Meneriaki pengendara motor.
Segera ia menghampiri istrinya yang terjatuh.
"Sayang,,mana yang luka?" Brian nampak panik memeriksa tubuh istrinya.
Ia segera membopong Delia kedalam mobil.
Segera ia bawa istrinya ke Rumah Sakit terdekat.
Delia terus meringis kesakitan,
"Sabar ya sayang,,sebentar lagi kita sampai di Rumah sakit.Tahan ya sayang..."
"Siapa yang berani menabuh gebderang perang denganku!! Awas saja!! " Brian meremas setirnya kesal.
"Mas,sepertinya dia orang yang sama yang melempar mobil kita tadi."
"Iya! Dia memang orang yang tadi!! Sepertinya dia tahu kita akan kemari,dia mengikuti kita!! Kamu tenang ya Sayang,aku akan segera memberinya pelajaran!"
"Mas,,aku gak mau kamu berkelahi lagi ya,aku takut." Pinta Delia,namun Brian tidak menjawab permintaan istrinya.
Sesampainya dirumahsakit Delia langsung dibawa ke IGD,dan segera mendapat perawatan.
"Soni! Kamu dimana!!"
"Aku diluar Ian! Sedang mengikuti Tania"
"Tania? Memang ada apa dengannya?"
"Aku curiga dia merencanakan sesuatu untuk mengganggu makan malam kalian,karna aku tahu dia tidak akan suka jika ia tidak dilibatkan atas undangan makan malam kalian."
"Apa!! Lalu,bagaimana hasilnya?"
"Aku kehilangan jejak tuan."
"Aggghhhh....Bodoh!!"
"Maaf Tuan,,oiya,ada apa tuan menelpon ku?"
"Ada yang sengaja membuntuti ku tadi saat menuju ke resto,dia mengendarai motor dan melempar mobilku dengan batu,dan parahnya lagi,sepulang makan malam,dia sengaja menyerempet Delia! Kami sekarang dirumah sakit! Segera selidiki,apakah ini ada kaitannya dengan Tania!"
"Baik Ian,segera Aku akan selidiki Tania."
"Aku akan kirimkan rekaman CCTV dari mobilku,siapa tau kamu bisa mendapat petunjuk"
"Siap!"
Setelah menelpon Soni,Brian kembali masuk menghampiri Delia.
"Bagaimana istri saya Dok?"
"Beruntung tidak ada luka yang cukup parah. Tapi,Luka ini harus benar-benar dirawat dengan baik,kalau bisa nyonya Delia dirawat sementara disini."
"Tidak usah mas,aku mau pulang aja,,aku gak mau dirumahsakit mas,,please.." Delia merengek menarik narik lengan Brian,memohon agar tidak dirawat dirumah sakit.
"Tapi sayang,lukamu bagaimana..?"
"Mas,aku bisa merawat lukaku sendiri,,aku bisa minta bantuan Safa mas,,pokoknya aku gak mau dirumah sakit,aku tetap mau kembali kehotel."
__ADS_1
"Baiklah,tapi kamu janji! Selama lukamu belum sembuh,kamu harus menuruti apa kataku!"
"Iya..aku janji.."
"Em,,begini dok,istri saya tidak mau dirawat,dia ingin rawat jalan saja,dan untuk perawatan luka,aku minta perawat disini datang kehotel dimana aku tinggal,nanti akan ada orang kepercayaanku yang menjemput perawat itu."
"Baik tuan,segera saya resepkan obat untuk rawat jalan"
"Terimaksih Dok."
Setelah menyelesaikan administrasi,Delia dan Brian berjalan ke parkiran.
Mereka kembali dikejutkan dengan selembar kertas yang menempel di spion depan sisi kemudi.
Brian langsung mengambilnya dan membacanya.
"Mas,ada apa?itu apaan mas?"tanya Delia ingin tahu.
"Masuk!" Hanya itu jawaban Brian.
Deliapun menuruti titah suaminya,ia segera masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan Brian terus berfikir,siapa yang sengaja mengusiknya.
"Mas,kamu kenapa mas,,memangnya apa isi kertas itu?"
"Ada yang menginginkan tender ini!"
"Maksudnya?"
"Kamu harus berhati-hati disini,karna sepertinya ada pesaing yang tidak terima atas kemenangan tender ini"
"Siapa mas?"
"Entah,dia mengancamku,untuk berhenti atau kamu yang akan menjadi tumbalnya,itu pesannya!"
"Apa!! Kenapa dia melibatkan aku mas!"
"Karna dia tahu,titik kelemahanku,,dia tahu akau tidak akan bisa melihatmu tersakiti"
"Lalu?"
"Kamu tenang saja,aku akan segera menemukan pelakunya!"
Delia masih nampak kebingungan dan cemas.
Brian mengusap kepala Delia dengan lembut kemudian mencium keningnya.
"Tenanglah,,ayo kita kembali kehotel"
Delia mengangguk.
***
Brian membukakan pintu mobil untuk istrinya,yang saat ini tengah berbalut perban dibagian tangan dan lututnya.
"Ayo," Brian memapah Delia.Mereka berjalan dengan sangat hati-hati,karna kaki Delia terkilir dan lututnya pun terluka.
"Hufh" Brian yang mulai tak sabar akhirnya membopong Delia.
"Mas,turunin,malu tau!!!"
"Jalanmu terlalu lama!"
"Ih,,lihat tu,,semua orang melihat kita!"
"Jangan protes!" Brian terus saja berjalan tanpa mempedulikan orang-orang yang tengah asik meninton kemesraan mereka.
Sesampainya dikamar,Brian menelpon Safa.
"Fa,masuk kekamarku,temani Delia!"
"Baik tuan"
Safa yang saat itu tengah bersiap untuk tidur,akhirnya mengganti pakaiannya dan menuruti perintah Bosnya.
__ADS_1