
"Maaf tuan,Ini tuan,,oiya,siang nanti ada rapat tuan."
"Hem!" Roby langsung meninggalkan Keke.
"Tumben dia cuma gitu doang,biasanya pake ngomel,hemmm..." Ia mengangkat pundaknya,menghela nafas dan membuangnya pelan.
Baru saja Keke menempelkan bokongnya di kursi ia kembali dikejutkan dengan suara telpon dimejanya.
Segera ia mengangkat gagang telpon.
"Jangan pikir saya memaafkanmu yang sudah mencuri waktu kerja ya!! aku paling tidak suka dengan pencuri! "Ucap ketus dari balik telpon membuat jantung Keke berdetak lebih cepat. Hidupnya serasa sedang diujung tanduk.
"Tttuan,,saya mohon,maafkan saya,,"pinta Keke memelas.
"Saya akan meminta ganti rugi untuk waktu ku nanti!"
"Mmmma-maksud tuan?" lidah Keke terasa sangat kaku membayangkan wajah Roby saat marah.
"Habis jam kerja kamu jangan pulang dulu! Temani saya ! Jangan menolak! Harus!"
"Bbbaik tuan"
"Semoga permintaannya kali ini enggak macem-macem" gerutu Keke dalam batinya.
"Oke bagus! Satu lagi! Minggu ini kamu mau ke Bandung kan,wajib dan harus aku yang antar! Jangan seperti kemarin-kemarin! Kamu diam-diam kesana tanpa memberitahuku!"
"What?kesambet apa si ini orang!! Hufh..!" Keke tak henti-hentinya menggerutu dalam batinnya.
Semenjak beberapa hari ini sikap Roby memang sedikit aneh dan labil.
Terlebih setelah kemarin mereka dansa bersama,membuat diantara mereka merasa canggung saat bertemu pagi tadi.
Sekarang ditambah lagi,dia dibuat salah tingkah karna kecerobohannya.
Dia tahu benar,Roby sangat tidak menyukai karyawan yang tidak proposional.
Sore harinya sepulang dari kantor,seperti yang Roby minta. Roby mengajak Keke berkeliling-liling toko buku,kemudian ke sebuah outlet baju. Roby kali ini benar-benar mengerjai Keke,dia mondar mandir memilih baju,tapi tak satupun baju yang ia beli.
Justru Keke yang dipaksa untuk mengambil baju untuknya sesuai pilihan Keke.
"Maaf tuan,,em,,saya tidak sedang ingin membeli baju"ucap Keke ragu,karna dia hanya membawa uang pas pasan.
"Aku sudah bilang! harus turuti apapun kemauanku! ambil lah!" Roby menyerahkan beberapa baju pada Keke.
Raut wajah Keke berubah menjadi pucat pasi melihat harga yang ada di masing-masing bandrol.
"Wow,mampus gue,bisa gak makan sebulan kalau beli ini!! ya Allah,,ni orang bener-bener Ck!!" gerutu Keke kesal dalam hati.
"Tenang saja! semua aku yang bayar dan tidak akan aku potong gajimu!!" bisik Roby.
Seketika warna merah mulai kembali merambah kepipi Keke,wajah pucatnya sudah berubah seperti tomat.
"Aduh,,,Apaan si..kok gue jadi GR dibeliin baju ma pak Bos..Keke,,ayo ayo ayo..Keke jangan ke PD an,,dia cuma lagi diberi hidayah untuk berbuat baik ma lo.."
Keke terus berbicara dalam hatinya.
Setelah dirasa cukup lama Roby membuat kaki Keke pegal pegal,akhirnya Roby mengajaknya makan disebuah cafe,kemudian setelah itu dia mengantar Keke kerumah bibi Mira.
Disana Delia terus menggoda kedekatan Roby dengan Keke.
__ADS_1
Roby dibuat salah tingkah oleh ulah Delia.
Begitu juga Keke,entah kenapa dia merasa sahabatnya sedang bersekongkol untuk mendekatkan dirinya dengan Roby.
***
"Son,sebelum berangkat,kita kerumah Oma dulu."
Perintah Brian pada sahabatnya yang tengah menyetir.
"Untuk apa Ian,untuk sementara kamu jangan cari gara-gara dengan ayahmu Ian,agar perjalanan kita mulus" ucap Soni khawatir.
Dia tahu benar,Brian sangat tidak bisa menahan emosinya.
"Ck,tenang aja,,gue aku cuma mau jenguk oma. Aku belum tenang jika belum menemui Oma,dia sedang sakit Son"
"Oke,baiklah,," Soni melanjutkan perjalanan mengarahkan kemudinya kerumah Atmajaya.
Kurang dari 15 menit mereka sudah sampai.
Seperti biasa,langkah kaki mereka menjadi sorotan bagi para bodyguard setia Atmajaya.
Meskipun Brian adalah anak dari Bos nya,tapi Bosnya sudah memberi tahu mereka bahwa Brian anak yang berbahaya.
Para bodyguard itu diperintahkan untuk mengawasi setiap gerak geriknya.
Brian sama sekali tidak memperdulikan mereka semua.
Ia terus melangkah memasuki rumah Atmajaya.
Atmajaya yang masih bersiap untuk kekantor terkejut melihat kehadiran putranya.
"Aku ingin menjenguk Oma!" Jawab Brian ketus.
Sepertinya Atmajaya sudah terbiasa dengan ucapan anaknya yang tidak bersahabat seperti dahulu.
"Silahkan,Oma mu ada dikamar,,mungkin dia akan senang kamu mulai memperdulikannya!"
Sindir Atmajaya.
Brianpun tak peduli,ia langsung melangkah menaiki tangga.
"Son,kamu bisa tunggu disini,"titah Brian.
Soni pun duduk diruang tengah bersama Atmajaya.
"Om,"
Soni tetap menunjukan sikap baiknya pada Atmajaya. Ia mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Ayah sahabatnya.
"Kamu juga gak kekantor Son?"
"Nanti Om,saya dan Brian ada keperluan sebentar"
"Keperluan apa?" Tanya Atmajaya ingin tahu.
"Bukan apa-apa om,cuma acara biasa"
"Em,,apa kalian mau pergi?kok enggak pakai baju formal?"
__ADS_1
"Oh,ini? Sengaja Om,kami tadi janjian untuk joging dan diundang sarapan bersama dirumah Bimo,jadi yaaa...kami belum sempat ganti costum formal Om" bohong Soni.
"Haduh,,gawat,,bisa-bisa gue mati diintrogasi ni..baiknya aku menghindar saja!" Batun Soni.
"Maaf Om,saya izin ketoilet sebentar,,"
"Oke,silahkan,,om juga mau berangkat,,enjoy saja disini,,dan minta bi Ijah buatkan kopi untukmu ya,,dia sepertinya ada dihalaman belakang."
"Siap Om,," Soni pura-pura berlari kecil kekamar mandi,seolah sedang menahan hajatnya.
Sementara itu,Brian mendekati Oma yang tengah berbaring lemah di tempat tidurnya.
"Oma,,,Brian datang" ucap Brian lembut,mengenggam tangan halus Oma tercinta.
Oma Olivia berlahan membuka matanyanya.
"Kamu masih ingat Oma ?" Oma menatap Brian nanar,ada rasa rindu dan kesal dengan cucu kesayangannya.
"Oma,jangan bilang gitu dong,,,Brian selalu mengingat Oma. Maaf Oma,Brian baru sempat menjenguk Oma. Em,,,bagaimana keadaan Oma?"
"Oma tahu,kamu sibuk dengan pekerjaan dan istrimu itu! Kamu lupa masih ada Oma disini! Oma masih hidup!" Ketus Oma Olivia.
"Omaaaa...jangan ngambek sama Brian dong..." Brian memeluk Oma dengan penuh perasaan.
"Oiya,Oma sudah makan?Sudah minum obat?"
"Oma sudah makan,tapi belum minum Obat,bi Ijah belum kemari."
"Baiklah,biar Brian suapi Oma Obat,Oke...dimana Obatnya?"
Tanya Brian,ia mengambil air di meja yang ada dihadapannya.
"Obatnya ada di laci Obat disana." Oma menunjuk pada laci yang ia maksud.
Brian pun mengambilnya,bersamaan dengan itu Bi Ijah datang,membawa buah untuk Oma.
Bi Ijah meletakan buah tersebut dan membantu Brian mencari obat Oma.
"Terimakasih Bi"ucap Brian.
Brian memberikan obat tersebut pada Oma.
"Bi,kapan terakhir Oma cek kesehatan?"tanya Brian.
" Dua minggu lalu tuan,sehari sebelum non Delia kemari."
"Oma,,Oma tidak pernah lupa meminum obatnya kan?"
"Tidak Ian,Bi Ijah selalu memberikan obat Oma tepat waktu."
"Lalu,kenapa Oma sampai sakit seperti ini?"
"Oma tidak tahu Ian,Oma merasa tubuh Oma semakin lemah."
"Emmm,Oma tidak bertengkar dengan Delia kan waktu itu?"
"Hah! Delia!! Oma malas meladeni dia! Oma memilih pergi dari pada menatap wajahnya!"ketus Oma kesal.
"Ya sudah,Brian cuma tanya Oma,,,Gini,Besok kalau Brian ada waktu,Brian antar kerumah sakit ya Oma. Hari ini,Brian ada urusan diluar kota,,Brian ingin meminta doa Oma,biar urusan Brian kali ini berjalan dengan lancar ya..Oma jangan terlalu memikirkan hal-hal yang membuat Oma berfikir terlalu berat. Ingat Oma,Oma adalah salah satu hal yang paling berharga dihidup Brian,jadi Oma harus bertahan untuk Brian. Oma harus sehat Oke!"
__ADS_1