
Bi Ijah mengikuti langkah body guard itu ke halaman samping.
"Ingat bi! Bibi dilarang bercerita apapun tentang apa yang bibi ketahui..! bibi masih ingin keluarga bibi di desa selamat kan!!"ancamnya.
"Iya iya..bibi gak cerita apapun kok,,"
"Jangan berani dengan kami,kami punya CCTV dan penyadap suara khusus didapur dan ruang asisiten rumah tangga. Jadi jangan coba-coba menghiananti kami!!"
"Ii i i..ya"
Bi ijah memucat,iya kembali kedapur.
Delia merasa curiga dengan perubahan gestur dan ekspresi ketakutan yang tergambar jelas diwajah bi Ijah.
"Bi..?apa bi Ijah baik-baik saja?"
"Em..anu..iya non..saya baik-baik saja..hari ibi kita masak sarapan apa non?"
Bi ijah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oke..syukurlah kalau baik-baik saja..kemarin saya habis belanja bi..semua udah aku racik,aku simpan fi kulkas bi..kita tinggal masak aja.."
"Baik non,,"Bi ijah membuka kulkas..dan benar,semua bahan dan bumbu sudah siap.
"Kapan non Delia menyiapkan ini..kok aku gak tau non..kan bisa bibi bantu"
"Aku siapkan pas bibi lagi sholat magrib dan makan malam..bibi kan juga butuh me time jadi aku sengaja gak manggil bibi..tapi maaf ya bi,semalam aku jadi ninggalin cucian piring banyak hee.."
"Non Delia.."bi Ijah terharu dengan perhatian Delia.
"Idih..kok malah mau meweeek...ga asik aghhh..pagi-pagi mewek..."goda Delia.
Bi ijah tersenyum.
"Oiya bi,aku mau mengantar minuman ini ke Oma ya sebelum belio bangun"
Delia meraih cangkir yang sudah diisi dengan teh hijau hangat.
"Hati-hati non"
"Beresss bii..."
Di sudut lain,dari lantai dua Oma memperhatikan Delia dan bi Ijah didapur.
"Apa itu semua hanya sandiwara??huh..pandai sekali dia menarik hati orang disini!!" ketusnya.
Ia kembali kekamar,dan pura-pura tidur.
Tok tok tok
Delia mengetuk pintu tapi tak mendapat jawaban,akhirnya Delia membuka pintu kamar Oma dan masuk.
Delia meletakan secangkir teh hijau di meja.
Dia duduk ditepi kasur,mencium tangan Oma,kemudian membenarkan selimutnya.
"Oma,Delia sayang Oma,,hari ini Delia pamit akan pulang kerumah. Cepat atau lambat,Oma akan mengetahui kebenarannya,,Delia doakan Oma sehat selalu."
Mata Delia berkaca-kaca,ia tidak ingin menangis lagi,segera ia angkat kepalanya,menghadap ke langit-langit dan mengatur nafasnya agar lebih tenang.
Delia bangkit dan keluar dari kamar Oma.
Ia berjalan melewati kamar Atmajaya.
Langkahnya terhenti saat mendengar Atmajaya sedang berbicara dengan seseorang memalui ponselnya.
__ADS_1
"Apa! dia sudah berani rupanya !! perketat pengawasan dan ikuti dia saat dia keluar rumah. Satu lagi,cari tahu apa yang anakku lakukan kemarin! karna aku curiga dia sudah mengetahuinya."
Delia terkejut,ia menjatuhkan nampannya.
Atmajaya pun terkejut karna ada yang mendengar percakapannya.
Segera Atmajaya keluar dan menatap Delia dengan tatapan membunuh.
"Apa yang kamu lakukan disini!!"
"a-a-aku aku,, habis dari kamar Oma,dan aku tersandung.."
Atmajaya mendekat kan wajahnya pada Delia.
"Apa yang kau dengar"
"Aku tidak mendengar apapun"
"Jawab!!!"bentaknya.
"Aku tidak mendengar apapun dan berhenti membentakku!!! " Delia mencoba memberanikan dirinya membalas tatapan Atmajaya.
"Jangan katakan apapun kalau pernikahan saudaramu ingin berjalan dengan lancar!!"
"Wah wah wah...Sarapan pagi dengan acaman..Hebatt..bagus...aku salut dengan Ayah!" Brian muncul dari kamarnya,berjalan sambil bertepuk tangan.
"Terimaksih untuk pagi ini Ayahku tersayang,,tenang lah sedikit,,jangan panik,,aku tidak akan menghakimi mu...."
"Brian!! jaga mulutmu! ada oma disini!"
"Owh..rupanya ayah takut ya pada Oma?cup cup cup..tenang Ayah,,Oma masih dalam kendali Ayah dan Widodo..jadi tak perlu ayah mengancam Delia dan keluarganya! apa ayah paham???" Brian merangkul pundak ayahnya,dengan santainya Brian tersenyum sinis pada Ayahnya.
"Lagian apa yang ayah takutkan dari Delia dan keluarganya,,mereka tak berarti apapun bagi Ayah..dan satu lagi,,bebaskan bi Ijah dari belenggu orang-orang suruhan ayah!"
"sial! dari mana dia tahu!! Aku mencium penghianatan disini!!"batinya.
Brian menarik tangan Delia,menggandengnya masuk kedalam kamar.
"Mas.."
"Ceritakan nanti saja saat dirumah,sekarang kamu mandi,kita akan berangkat bersama"potong Brian.
Delia menganggukan kepalanya,kemudian dia mengikuti perintah Brian.
***
"Mah,,mamah disini dulu ya sama bibi..Keke akan segera kembali.Doakan Keke agar Keke mendapatkan pekerjaan"
Sudah satu minggu ini,Keke mencari pekerjaan di Jakarta,dia tidak berani meminta bantuan pada kedua sahabatnya.
Dia merasa tak enak hati jika terus merepotkan mereka.
Hari ini,dia akan melalukan tes wawancara pada perusahaan kecil dikota.
"Ya Allah..ni kok ga nemu-nemu driver si.." Berkali - kali Keke memeriksa ponselnya,memantau pesanan ojek online yang sedari tadi belum keep driver.
"Ah..aku jalan aja ke depan,siapa tau ada taxi." Keke memutuskan untuk berjalan.
Tiba-tiba didepan persimpangan ada mobil sedan yang menepi didepan Keke.
"Ngapain si ni orang,main salip aja.."Keke terus berjalan ingin melewati mobil yang tiba-tiba berhenti itu, langkahnya terhenti oleh sapaan pria yang tak asing yang membuka kaca mobilnya.
"Apa kamu Keke?"
"Iya,tuan.."jawab Keke yang masih belum paham dengan pria itu.
__ADS_1
"Masuk lah,aku Roby,apa masih ingat?"
"Masya Allah,kak Roby...aku kira siapa..habisnya pake kacamata item jadi takut salah kenalin orang"
"Masuklah,aku antar"
"Tidak usah kak.."
"Masuk saja!" Ajaknya sedikit memaksa.
Karena Keke memang butuh tumpangan jadi ia langsung memutari mobil,membuka pintu depan dan duduk di samping Roby.
"Mau kemana?"
"Ke perusahaan X.Y.Z"
"Apa kamu bekerja disana sekarang?"
"Belum kak,aku baru mau interview,,semoga saja aku tidak terlambat,"
"Owh...oke,aku pastikan kamu sampai tepat waktu.."
"Terimakasih ya Kak.."
Roby hanya membalasnya dengan menjijitkan kedua alisnya dan fokus dengan kemudinya.
Suasana masih terasa canggung dan hening diantara mereka,terlebih Keke.
Dia teringat cerita Fani kalau bosnya itu sedikit killer kalau dikantor.
Jadi dia harus berhati-hati,karna dari sorot matanya saja sudah membuat jantungnya dag dig dug tak karuan.
15menit kemudian Keke sampai di kantor X.Y.Z.
"Terimaksih ya kak,sudah mengantarku..permisi"
Roby tersenyum, "Semoga sukses"
"Aamin..terimaksih kak"
Keke turun dari mobil dan meninggalkan Roby.
Dari kaca spion,Roby menatap kepergiannya.
Setelah ia benar-benar tak terlihat,Roby pun pergi.
***
"Mas, aku pamitan dulu sama Oma y,,"
"Tidak usah!" Jawab Brian singkat.
"Mas,,jangan githu dong..ayo pamitan sama Oma,Oma juga tidak ikut sarapan,,aku harus mengantar sarapan untuknya mas,,please mas,," Rengek Delia sambil menggoyang-goyangkan lengan lekar suaminya
"Terserah kamu saja!"
Delia mendorong suaminya sampai depan kamar Oma,
"Kamu masuk dulu mas,aku akan ambilkan sarapan untuk Oma dulu.."
"Ck.." Brian merasa enggan berseteru dengan Oma,semenjak Oma lebih mempercayai Ayahnya dan Tania,Brian merasa kesal dengan Oma,terlebih Oma mendukung perjodohan itu.
"Senyum dong massss...jangan galak-galak agh...dia kan Oma mu.." Delia memberi contoh pada suaminya dengan senyuman manis.
Brian tersenyum malas,membuat Delia memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Udah gih sana kedapur!" Titah Brian.
"Oke..boskuuuu..."