
"Lihat mataku!!rasakan apa yang kamu lihat,apa mata ini masih sama dengan apa yang kamu lihat saat di Bali.?apa ada kebohongan didalamnya?"
Titah Brian dengan terus menatapnya dalam,mencekram kedua lengan atas Delia.
"Gak mau!" Delia mmalingkan pandangannya ke lain arah.
Cup
Brian mengecup lagi bibir Delia.
"Iya iya..." Terpaksa Delia mengikuti kemauan suaminya.
Mereka saling menatap dan benar apa yang Delia rasakan,sorot mata itu masih sama,dia merasakan ketulusan,yang mendalam di dalamnya.
"Apa aku salah menilainya?"batin Delia.
Sedangkan Brian berfikir Delia kesal padanya karna tadi meninggalkannya cukup lama. Dia ingin istrinya bisa merasakan permohonan maaf yang tulus darinya.
"Percayalah aku tidak macam-macam diluar sana,aku pergi karna ada kepentingan yang belum bisa aku ceritakan."
"Mas,,apa kamu benar-benar mencintaiku?" Delia memberanikan diri menanyakannya pada Brian.
"Apa kau ragu?"
"Em..akuuuu...aku hanya takut kalau suatu hari nanti kamu pergi. Jujur aku masih menata hatiku mas,karna aku sudah menyerahkan semua padamu,rasa takutku semakin besar,"
"Tidak akan sayang...aku sangat menginginkanmu,dan beruntungnya aku karna ternyata ibu kita sudah menjodohkan kita."
"Tapi,kenapa dulu waktu kamu SMA kamu seperti tidak menyukaiku mas?"
"Hahaha...Del,Del..itu kan dulu,,aku mana suka sama anak ingusan bau kencur yang super manja..bagiku menemani ibu ku bertemu ibumu itu membosankan..saat aku SMA kamu kan masih SD..jadi mana mau aku mainan sama anak SD macam kamu!!"
Delia tersenyum sinis melihat Brian menertawainya.
"Iya juga si..lalu kapan kamu mencintaiku dan alasan apa yang membuatmu mencintaiku"
"Saat pertama kali kita bertemu,saat mobilku tidak sengaja mengotori bajumu,kesan pertama,aku lihat kamu cantik meskipun agak songong...hehe.."
"Mas!!" Delia menyubit Brian,ia tidak menyukai perkataan Brian.
"Iya iya..kamu cantik,dan berani,melihatmu sebagai wanita pekerja keras itu poin plus untukmu,karna aku tidak suka gadis manja yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang saja"
"Haalah..bilang aja kamu pelit,ngasih uang ganti rugi aja cuma 200rb hemm..buat apa??" Ia memanyunkan bibirnya.
"Hehe..sejak saat itu,aku senang melihat wajah kesalmu yang menggemaskan,,Akhirnya kita dipertemukan lagi di kantor,dan kamu masih kesal denganku. Aku suruh Soni mencari tahu tentangmu,sampai akhirnya aku tahu kamu anak Yosep musuh bebuyutan ayah.."
"Sudah lah mas,jangan bahas dan bawa-bawa ayahmu!! Aku mau tidur,.awas mas,acara tatapannya udah the end.."
Delia berusaha menyingkirkan tangan Brian yang masih menghalanginya.
"Tunggu!"
"Apa lagi si massssss...."
"Cium aku!"
"Tadi kan udah!"
"Tadi aku aku yang nyium,sekarang giliran kamu!cepetan!"
"Idih maksa banget si!"
"Satu..Dua...hitungan ketiga aku akan menciumu disini sampai habis,dan jangan salahkan aku kalau aksi kita menjadi tontonan,,"
Cup
__ADS_1
Delia mencium bibir Brian,saat hendak melepaskan ciumannya,Brian menarik tengkuk leher Delia,seperti tidak ingin melepaskannya.
Setelah cukup lama dan kehabisan nafas,Brian menggendong Delia dan membaringkannya diatas kasur.
Penyatuan mereka terulang kembali.
Entah mengapa,meskipun Delia masih ragu,dia tidak bisa menolak keinginan Brian.
***
Pagi hari dimeja makan.
"Mas,,kalau aku lulus kuliah nanti,,apa aku boleh kembali bekerja?" Ucap Delia saat mengolesi selai coklat diatas roti tawarnya.
"Kamu merindukan Roby maksudmu!"ketus Brian.
"Ya engga mas...aku kan sudah terbiasa bekerja,jadi rasanya bosan aja dirumah,,aku akan mengurus klinik dan beberapa butik,,boleh ya..?"rengek Delia.
"Boleh,asal jangan kembali kekantornya Roby! Aku akan menggantungmu kalau kamu dekat denganya!"
"Iya iya...sadis amat!! Tapi makasih ya mas...kata kak Bimo 4-5 bulan lagi ijin klinik sudah keluar..dan bisa langsung dimulai."
Brian tersenyum datar,dan melanjutkan sarapannya.
"Hari ini kekampus?"tanya Brian.
"Engga mas,hari ini aku dirumah aja,mulai ngerjain skripsi,kemaren judulku udah di ACC."
" Kalau 3bulan selesai,aku kasih hadiah"
"Seriusss??" Delia memucingkan matanya.
"Hem,apa aku pernah bohong?" Jawab Brian sambil terus mengunyah makananya.
"Hadiahnya apa mas?"
"Terserah aku dong ya?heee..." Delia memperlihatkan giginya yang berbaris rapi.
"Pokoknya selesaikan skripsimu secepatnya!"
Brian mengakhiri makannya dengan air putih yang diminumnya sekali tenggak.
"Aku berangkat ya sayang,"
Cup
Brian mencium kening Delia dengan cepat.
"Mas,"
"Apa?" Brian membalikan badannya.
"Em,,hari ini Vivi mau main kerumah,sekalian ngerjain skripsi bareng,boleh ya?" Delia memohon pada suaminya.
"Hem,tapi tidak untuk pria tlonyoran itu!"
"Hans mas namanya..."
"Jangan sebut namanya atau!"
"Atau apa mas?hehe cemburu yaaaaa...ceileh..." Delia mulai berani menggoda Brian.
"Gak lucu!!" Brian pergi dengan wajah masamnya. Sedangkan Delia tersenyum tipis.
***
"Son,kamu urus kantor sebentar ya,hari ini aku akan terjun langsung ke HR group"
__ADS_1
Dijalan Brian menghubungi Soni .
"Siap bos,,tapi ayahmu?"
"Ayahku sendiri yang meminta bantuanku untuk memperbaiki semua,beberapa bulan terakhir keuangan kacau,sebentar lagi oma pulang,jadi kalau HR group kacau otomatis aku juga kena omelan oma"
"Oke oke,,aku paham,"
"Makasih ya Son,.,"
"Okey...good luck Yan.."
"Thank's" Brian mengakhiri panggilanya kemudia ia melanjutkan perjalanan ke HRgroup.
Setiap langkah Brian benar-benar mencuri perhatian seluruh staf,terutama kaum perempuan.
Sepulang dari Amerika dia memang tak pernah menginjakan kakinya di HR grup,terakhir saat kelulusan SMA.
Saat itu,Brian ingin menunjukan nilainya pada Atmajaya,Brian mendapat nilai tertinggi sebagai hadiahnya,Brian mendaftarkan Brian di Universitas ternama di Amerika.
"Ya Tuhan...Ganteng bangettttt..." Staf baru yang belum mengetahui siapa Brian merasa benar-benar terpukau.
"Ssst..dia anak tunggal tuan Atmajaya,dia super cool dan dia sangat tegas dalam urusan pekerjaan,so jangan berani-berani melakukan kesalahan sedikitpun!"
"Oh ya?mampus deh,,dia sepertinya denger perkataan kita,,nah loh..dia kemari..ya tuhan..aduh aduh adu.." ucapnya gugup.
Brian mendekat dan menatap mereka tajam,kemudian langsung berbelok kemeja sekertaris ayahnya.
Melihat kedatangan Brian,Susi langsung berdiri dan membungkukan badannya.
"Selamat pagi tuan,ada yang bisa saya bantu?"
"Apa ayahku ada didalam?"
"Oh,belio sudah menunggu anda tuan,mari" Susi mendampingi Brian menuju ruangan Atmajaya.
"Akhirnya nak,kamu datang kemari untuk menolong ayah.."
"Ini bukan untuk ayah!tapi untuk perusahaan yang nenek dan kakeh yang memang harus diperjuangkan."jawab Brian ketus.
Brian kecewa pada ayahnya,semenjak ayahnya bersama Widodo, dia menjadi tidak kopeten dalam menjalankan perusahaan.
"Susi,panggil semua manager dan kepala cabang,kita akan mengadakan rapat mendadak dan cross check!" Brian langsung memerintah tanpa menunggu aba-aba dari Atmajaya.
"Mana filenya ,biar aku pelajari!"
"Ini nak..sudah ayah siapkan."
Brian langsung memeriksa semuanya.
"Apa saja yang ayah lakukan sampai-sampai keuangan perusahaan sekacau ini!ini resikonya memasukan benalu dalam kantor kita!!"
Atmajaya hanya terdiam melihat Brian sedang fokus mengecek sembarienggerutu memarahinya.
Kali ini dia mengalah,yang penting semua beres dan dia tidak dimarahi oleh ibu mertuanya,dia tidak ingin kekuasaanya diambil dan dilimpahkan pada Brian seluruhnya dan Delia menertawai kekalahannya.
"Ayah!! Mana Tania!panggil dia!" Wajah Brian memerah,rahanya mengeras.
Atmajayapun memerintahkan Susi untuk memanggil Tania.
"Apa ada Brian disini??oke aku akan kesana!" Jawab Tania senang,mendengar kedatangan Brian.
"Mba,tumben senyum senyum.." tanya salah satu staf melihat Tania tersenyum,sambil merapikan make up dan pakaiannya.
"Sssst,diem loh!ada tunangan gue diruangan tuan Atmajaya.." dengan angkuh Tania meninggalkan rekannya sesama staf.
"Kadang gue enak deh liat tinggah dia yang sok sokan..bikin pengin muntah aja"bisik staf lain yang tidak menyukai Tania.
__ADS_1