Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 119


__ADS_3

Widodo membisikan sesuatu ditelinga Atmajaya.


Mata Atmajaya mem bola,ia hampir tidak percaya dengan ide konyol yang Widodo sampaikan.


Cukup lama ia berfikir.


"Bagaimana?" Widodo memberikan tangannya untuk berjabat tangan.


Kemudian Atmajaya menyambut uluran tangan Widodo sebagai tanda setuju.


" Ide bagus,,sepertinya itu satu-satunya cara agar ruang gerak kita kembali bebas" Atmajaya tersenyum licik.


"Aku yakin,setelah ini,,kita tinggal fokus mencari kotak itu,tanpa perlu khawatir dengan Oma.


Kemungkinan saat ini Brian pun sudah menyerah untuk mencarinya. Setelah semua harta sudah ditangan mu,singkirkan Delia lalu kita akan menjadi besan.." Widodo tersenyum senang.


"Oke,kamu urus rencana itu Do.."


"Kok saya,bukanya kamu yang lebih dekat dengan umpan??" Widodo menaikan satu alisnya.


"Bagaimana caranya?"tanya Atmajaya.


"Pikirkan saja ide yang cemerlang ,,besok kita bicarakan lagi. Aku pergi dulu,,terimaksih atas surat ini,akan aku urus semua untuk Hans" lanjut Widodo


"Oke."jawab Atmajaya singkat.


"Oiya satu lagi! Ingat!! Pasang mata dan telingamu untuk Brian,karna kita tidak tahu apa siasatnya,aku yakin dia tidak akan berhenti mengusut alasan ibunya melakukan bunuh diri! Kita harus selangkah lebih maju darinya,,"


Widodo berbalik mendekat.


"Hem.."jawab Atmajaya.


***


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Brian mengantar Delia kerumah bibi Mira.


"Assalamu'allikum" ucap Brian dan Delia bersamaan.


Bibi Mira yang mendengar,langsung membalas salam dari dapur.


Dengan segera ia menghampiri pintu depan,dan membukanya.


"Delia...Masya Allah,kamu sudah pulang sayang?" Bibi Mira langsung memeluknya.


"Iya,bi,,kita nyampe kemarin siang,,Oiya bi,ini Delia bawakan oleh-oleh untuk bibi dan paman." Delia mengambil beberapa peper bag berisi oleh-oleh untuk mereka.


"Ayo masuk sayang,,,masuk masuk...kalian sudah sarapan belum?"


"Belum bi,,karena Delia dari pagi merengek minta diantar kemari,ya jadi saya antar deh"


Sahut Brian.

__ADS_1


"Aduh,,Del,del,,,maafin Delia ya Nak,dia emang klo udah maunya ya gitu.."


"Ga papa bi,," Brian tersenyum manis.


"Ya sudah,kalian masuk saja didalam,bibi mau siapkan sarapan,nanti kalian sarapan disini saja ya,,"


Bibi Mira menuntun Delia dan Brian keruang tengah.


"Iya bi,,aku juga kangen ni sama masakan bibi...em,,kak Bimo dimana?"


Delia memutar netra nya,menyusuri sudut diruang tengah,mencari keberadaan kakaknya.


"Dia masih mandi,sebentar lagi pasti dia keluar"


"Em,,oke deh,,bi,aku bantuin bibi masak ya.."


Delia memeluk manja bibinya.


"Tidak usah sayang,,bibi sudah selesai masaknya,,kalau mau bantu,ayo bantuin bawa makanannya ke meja makan,ayo..."


Melihat bibi Mira dan Delia begitu dekat,Brian tersenyum tipis. Ia teringat akan keluarganya.


Ibunya dan ayahnya tidak pernah memperlakukannya sedekat itu.


Matanya nanar menatap canda tawa mereka saat di dapur.


"Betapa kejamnya aku dan keluargaku,pernah merenggut senyuman indah dari bibirnya. Betapa kejinya keluargaku,dengan serakahnya merenggut dunianya. Tetaplah bahagian wanitaku,,Delia ,," batin Brian.


"Kamu senang atau sedih melihat senyuman mereka?" Ucap Bimo sinis.


Brian terkejut dan langsung tersenyum menyapanya.


"Bimo,," Brian ingin menyalami nya namun dihempas oleh Bimo.


Brian terkejut dengan perlakuan Bimo.


"Aku mau bicara denganmu!" Bimo mengajak Brian ke teras samping rumah.


"Ada apa Bim?"tanya Brian penasaran.


"Apa yang kemarin kamu lakukan dengan Delia itu benar-benar keterlaluan!! Aku belum bisa memaafkannya sekalipun Delia sudah memaafkan mu!!" Ucap Bimo,rahangnya mengeras,wajahnya memerah menahan amarah.


"Aku minta maaf untuk itu,aku terlalu terbawa emosi sehingga aku pergi begitu saja tanpa mempedulikan penjelasan Delia Bim,aku akui aku salah"


"Heh ! Semudah itu!! Kamu harus tahu bagaimana Delia mengejar mu,hingga dia tergeletak lemas ditepi jalan,apa kamu tau itu Hah! Beruntung aku dan Fani menemukannya,dan langsung membawanya kerumah sakit. Ia kehilangan kesadarannya! Dia mengalami shock berat! Apa kamu tau itu Ian!!!" Bimo sedikit mengeraskan suaranya namun ia kembali tersadar,ia menoleh ke kanan dan ke kiri,memastikan Delia dan ibunya tidak mendengar percakapannya.


"Apa?? Kenapa bisa seperti itu Bim?" Tanya Brian khawatir.


"Kamu tahu,Delia belum begitu mahir menyetir! Dia nekad membawa mobil demi mengejar mu ! Ditengah perjalanan,ia tidak sengaja hampir menabrak pengendara sepeda motor! Kamu tahu,ia kembali teringat kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya! Karena apa?? Karena saat kejadian,dia ada di mobil itu!!!"


"Apa!? Dia ...dia ..ada dimobil itu??" Brian kembali terkejut.

__ADS_1


"Iyah!! Dia mengalami shock berat saat itu dan karena kecerobohan mu dia kembali mengingatnya ! Dan kami,kami berjuang untuk membangkitkan nya lagi!! Mana janjimu hah! Mana! Aku tidak akan memaafkan mu ! " Bimo menarik kerah baju Brian dengan penuh amarah.


Delia yang ingin memanggil mereka untuk sarapan,tiba-tiba melihatnya.


Ia langsung menghampiri mereka dan langsung menghempas tangan Bimo dari kerah baju Brian.


"Kakak! Apa apaan!!" Delia menatap Bimo dengan tajam.


"Del,kak Bimo hanya memberi peringatan padanya agar tidak ceroboh dan tidak lagi merendahkan mu,memperlakukan mu semaunya!!"


"Tapi Kak,bukan seperti ini caranya,dia suamiku kak,,aku saja bisa memaafkannya kenapa kakak tidak!"


"Sudah sayang," Brian memegangi Delia yang tengah beradu mulut dengan Kakaknya.


"Aku hanya memperingatkannya Del,aku tidak suka dia menyakitimu lagi!"


"Iya,aku tahu kak,,yang lalu biarlah berlalu,lagian sekarang semua sudah baik-baik saja,,aku mohon,kakak jangan menambah panjang masalah ini."rengek Delia.


"Baiklah,,Ingat Yan,sekali lagi kamu membuat adikku hancur,maka aku akan menghancurkan hidupmu selamanya! Camkan itu!"


Bimo menatap Brian dengan tatapan membunuh. Sementara Brian masih tetap diam.


"Sudah kak! Cepat sana makan,aku tidak mau pagi ini diawali dengan perdebatan!" Delia mendorong kakaknya kedalam.


Kemudian dia kembali lagi untuk mengandeng suaminya.


"Maafin kak Bimo ya mas"


"Hem,,aku paham kemarahannya,karna dia begitu menyayangimu,aku tahu itu. "


Brian kembali tersenyum tipis.


Mereka kembali bertemu diruang makan dengan suasana canggung. Bibi dan Paman tidak menyadari ada pertengkaran kecil diantara putra dan menantunya.


Delia mencoba kembali mencairkan suasana.


"Bi,aku dengar pernikahan kak Bimo dan Fani dipercepat ?"


"iya sayang,itu tu kakakmu udah enggak sabar pengin menikah,jadi dia tu yang merengek minta dipercepat tanggal pernikahannya."jawab Bibi Mira.


"Hemmmm...udah gak kuat ni yee...Oiya Kak,minggu ini kalian tidak boleh bertemu dulu loh,,Fani dalam pingitan,awas kalau kak Bimo diam-diam menemuinya!"


"Ck...itu adat kuno!! udah enggak jaman pingit pingitan!" ketus Bimo.


"Ih,,pamali tau kak!" Delia memanyunkan bibirnya.


"Udah,jangan bawel,,makan buruan!"


"Uhhh..."


"Udah-udah,,kalian ini udah gedhe kenapa masih berantem terus kalau dimeja makan! itu nak Brian,seperti itu lah mereka berdua,,anak-anak bibi emang bandel..kamu yang sabar ya Yan,,Delia pasti sering membuatmu pusing."

__ADS_1


"Tidak kok bi,,bagiku Delia adalah anugrah. Justru aku ingin meminta maaf atas segala kekuranganku selama aku menjadi menantu disini,,


__ADS_2