Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 62


__ADS_3

Sepanjang jalan Delia mengelus elus jidatnya yang tadi kebentur pintu oleh suaminya. Tidak terlalu sakit memang,,tapi Delia memastikan jidatnya tidak benjol.


Brian melirik kearahnya dan tersenyum dingin.


"Sakit?"tanyanya sembari menaikan satu alisnya yang tebal.


"Enggaak!!" Delia menunjukan raut wajah kesalnya.


Brian menepikan mobilnya dan segera memeriksa kening Delia.


"Coba liat"


Delia membuka poninya,memperlihatkan keningnya,alih-alih mendapat perhatian dengan lembut,justru Brian menepok jidat Delia lirih dengan telapak tangannya .


"Sembuh!"


"Ih!!bunglon!! Ngeselin banget si ! Biar gak lecet tapi pegel tau!! Untung gak benjol!!"


Brian terkekeh melihat Delia yang sudah merasa kesal dengan keusilannya.


"Itu shok terapy!


"Hah!!terapy macam apa!!"


"Siapa suruh kamu genit sama cowo pecicilan kaya dia!"


"Hans maksudmu!?" Delia mengerutkan alisnya dan tersenyum tipis.


"Dia pacarmu dikampus kan?" Brian kembali menjalankan kemudinya,dan fokus menyetir.


"Hahahaha...pacar,..ngaco kamu mas!gak lucu!"


"Trus?siapa lagi kalau bukan pacar,kalau ngliatinnya gak gitu!"


"Gitu gimana mas?kalau ngomong yang jelas tau mas..Delia bingung!" Delia terus tersenyum geli,melihat wajah cemburu suaminya.


"Dia menatapmu dengan penuh makna,dan melemparkan tatapan tajam kearahku!dia kira,dia siapa!berani menantangku!!"


"Kalau dia menatapmu dengan lembut malah aku yang ngeri mas...hihihihi"


"Berhenti menertawai!aku serius nanya!dia siapamu! Apa dia belum tahu pernikahan kita?dia gak punya TV ya sampai-sampai melewatkan berita tentang kita!"


"Iya iya,,dia itu sahabatku,aku baru kenal dia sekitar 8bulan atau 9bulan yang lalu,,aku lupa juga..ya udah gitu aja..kita bertiga seru-seruan aja...lagian..waktu aku di Bali,saat mereka libur mereka bertiga sering mengunjungiku disana,jadi aku gak kesepian kalau Keke ataupun kak Bimo sibuk. "


"Pantas kamu betah disana!"

__ADS_1


"Ya iya lah!udah lah,gak usah cemburu sama Hans..aku gak bakalan suka sama dia..yaaa meskipun..dia memang tampan.."Delia mengelikkan matanya,menatap Brian yang melirik sinis kearahnya.


"Berani kamu macem-macem awas!!kubuat kamu hamil sebelum kamu wisuda!!"


"Ih..apaan si mas...!!enggak!aku harus wisuda dulu!" Delia menggelengkan kepalanya.


"Liat aja nanti..." Brian menyunggungkan senyumanya.


15menit kemudian


Mereka sampai dihalaman rumah Delia yang dulu perna ia tempati bersama kedua orangtuanya.


Pagar rumah yang kokoh,dan penampakan rumahnya yang mengukir banyak kenangan.


Terlintas bayangan masa kecilnya bermain di halaman rumah yang luas,canda tawa kedua orang tuanya kembali terdengar dalam lamunan Delia.


"Del..are you oke?" Brian membuyarkan lamunan akan masa lalu Delia dirumah itu.


"Iya mas.."Wajah Delia sendu,matanya hampir meneteskan air mata kerinduan akan sosok kedua orangtuanya.


"Selamat siang tuan dan nyonya.."sapa pak Asep ,pria parubaya yang masih terlihat gagah,peluhnya menandakan dia tengah bekerja.


"Pak Asep??pak Asep masih disini??" Delia menepis air matanya dan memeluk pak Asep


"Non,,baju pak Asep kotor.." Pak aSep yang canggung karna dipeluk oleh anak bekas majikannya itupun melepaskan pelukan Delia dengan lembut. Mengingat saat remaja dulu,Delia yang periang sering kali mengerjainya.


"Baik non,non Delia dan tuan Yosep bagaimana ?"


"Saya..saya baik pak,,tapiiii..ayah,," Delia menundukan kepalanya,menahan kesedihan.


"Tuan kenapa non?"tanya Pak Asep penasaran.


"Ayah sudah meninggal pak.." Delia melanjutkan perkataanya.


"Inalillahi wa inaillahi roji'un...maaf non,Pak Asep gak tau..."


"Iya pak Asep,gak apa-apa..oiya,ini suami saya pak.." Delia meraih lengan Brian dan menggandengnya.


"Oh,,jadi tuan yang kemarin mengajak saya bertemu itu suami non Delia?"


"Iya pak,,saya suami Delia,,oiya boleh kami masuk?"


"Silahkan,silahkan ...ini kuncinya,,saya mohon izin pulang sebentar ,ganti pakaian tuan,,nanti saya kemari lagi tuan.."


"Silahkan pak Asep,terimaksih.."

__ADS_1


Brian mencoba membuka pintu,sementara mata Dekia masih berkelana memperhatikan setiap bagian rumah masalalunya.


"Ayo masuk" Brian menarik tangan Delia,menggandengnya.


Tak banyak yang berubah dari rumah itu,


"Rupanya pak Asep menjaga semua ini dengan baik,beruntung sahabat ibu tidak benar-benar menjual rumah ini,karna hanya ini satu-satunya kenangan yang berarti untuk ku." Lirih Delia dan ternyata Brian menangkap nya.


"Khem..." Brian mencoba menyadarkan Delia agar tidak larut dalam kesedihan.


"Apa aku mengajakmu kemari hanya untuk bernostalgia???" Ia menaikan satu akisnya kemudian melirik kearah Delia.


Delia berdecak. "Ck...iya iya!!!"


"Apa kamu tahu,dimana biasanya ibumu menaruh barang-barang berharganya?"


"Kalau surat menyurat biasanya ibu ayahku meletakan di Safe Deposite Box. Tapi aku rasa itu sudah tidak ada,,bersama lenyapnya semua hartaku. Ayah ibuku sudah menjual semua aset kami,tinggal rumah ini yang tersisa. Itupun karna kebaikan sahabat ibu,dia CEO sebuah bank,dia meminjamkan uang banyak pada ibuku,dan rumah ini sebagai jaminannya,karna ayah ibuku tidak mampu membayar,akhirnya mereka menyerahkan rumah ini pada belio. Entah,kenapa semua masih sama..aku pikir rumah ini sudah terjual." Delia menatap sudut ruangan nanar,ia menariknafas berat,menahan tangis.


"Oke,,lalu,tempat mana yang belum terjamah oleh para bodyguard ayah?"


Delia mencoba mengingat kejadian dimana rumahnya diporak porandakan oleh orang suruhan Atmajaya.


Delia berdiri diruang tengah,pandangannya berkelana.


"Disini,tepat disini aku memeluk ibuku,menangis tersedu ketakutan,melihat mereka menghancurkan semua isi rumah,,menyaksikan mereka masuk kesetiap kamar,saat itu aku bingung,apa yang mereka cari. Ibuku kemudian membawaku bersembunyi di dapur.


Ayahku hanya berteriak,untuk menghentikan semuanya karna dirumah ini tidak ada apapun..Sedangkan ibuku hanya bisa diam,pasrah dan menenangkanku.


Atmajaya,dia terus mengancam ayahku


Saat itu aku bertanya,apa yang terjadi,tapi ayah ibuku bungkam..aku sempat menaruh curiga jangan-jangan ayahku terlibat dengan penggelapan ataupun penyelundupan barang terlarang,tapi kecurigaanku tertepis..karna aku yakin kedua orangtuaku bukan orang seperti itu."


Tubuh Delia bergetar,lutut kakinya lemas,namun ia mencoba menguatkan dirinya.


Brian mengepalkan tangannya,sorot matanya memerah,ingin sekali ia melupakan Ayahnya yang ternyata sekejam itu.


"Sebenarnya apa yang ada dikotak itu sehingga ayah bisa berbuat sebrutal ini??sampai mensabotase mobil Delia hingga menyebabkan ibunya meninggal?"batin Brian.


"Del,apa ada tempat favorit ibuku saat bersama ibumu?"


"Emmm...ada,ikut aku."


Delia mengajak Brian menuju kebun belakang,tepat dibawah pohon rindang,ada ayunan dan gasebo terbuat dari kayu.


"Disini,mereka selalu mengobrol bersama disini..diayunan ini,,setiap aku pulang sekolah,aku selalu mencari ibu dan tante Lidia disini. Sebelum ibumu meninggal,tepatnya saat usiaku 17th,,ibumu menungguku pulang sekolah disini. Dia memberiku banyak coklat,dan Boneka. Tante Lidia selalu memanjakanku. Selang 2 bulan,aku tidak lagi melihat belio datang kemari. Aku pikir belio pergi ke Amerika dan ingin melahirkan disana. Tapi satu bulan berikutnya aku dengar belio meninggal,dan itulah awal penderitaan keluarga kami."

__ADS_1


Brian terus mendengarkan cerita tentang masalalu ibunya bersama ibu Delia. Mata Brian pun berkelana mencari sesuatu.


Tiba-tiba pak Asep datang.


__ADS_2