Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
bab 21


__ADS_3

"Del del.." Fani menggoyang-goyangkan tangan Delia yang sedang fokus pada layar laptopnya.


"Apaan si Fan...ih...awas..ini kerjaanku masih banyak tau" Delia tidak mempedulikan Fani.


"Itu..liat..."


"Apaan...ngegosipnya entaran aja lah..ni tanggung fan..bisa diomelin gue kalo gak kelar hari ini"


"Ih..bukan nggosip,itu Brian"


"Hah!!" Delia terkejut menghentikan jari jemarinya yang sedari tadi mengetik keyboard.


"Mana Fan?"


"Itu,dia masuk keruangan Roby,ih..sangar banget wajahnya gilaaaa...pantes aja loe tersiksa serumah ma dia"


Fani ketakutan melihat Brian jalan tergesa-gesa dengan tatapan tajam,raut wajah marahnya tergambar jelas.


Delia menelan salvinanya berlahan.


"Haduh,kira-kira ngapain tu orang kesini ya??aduh..aku takut Fan.."


"Sabar Del,,tadi kamu gak keluar sama Roby kan?"


"Ih..kamu ngaco,dari tadi kan aku disini belum kemana-mana..apa jangan-jangan dia tau aku pernah pergi berdua dengan Roby ya??gaswaaaattt..." Delia menupuk-nepuk jidatnya sendiri dengan tangan kanannya.


"aaahhh..itu artinya dia cemburu,cemburu artinya Ciiiiinnn..."


"Haaluuuu....mana ada dia cemburu,manusia batu itu hanya mengkhawatirkan sepupunya,katanya dia gak rela kalau Roby berharap padaku..padahal kan kita cuma sahabat biasa,dianya aja yang lebaiiii..."


***


"Kak Brian...ada apa kak?kenapa dengan pipi kakak"


melihat luka memar di kedua pipi Brian membuat Roby bertanya tanya.


"Ayah akan menjodohkanku dengan Tania,putri pak Widodo"


Brian duduk di sofa dengan raut wajah kesalnya.


"Minum dulu kak.." Roby mengambilkan air putih untuknya.


"Bbbukannya pernikahanmu dengan Delia belum usai..kenapa paman menyuruhmu menikah lagi?"


"Alasanya adalah bisnis bisnis dan bisnis..aku heran dengan mereka,anak-anak bagi mereka tidaklah penting,yang terpenting hanyalah uang. Masalah satu saja belum kelar,mau nambah masalah lain!!" gerutu Brian.


"Kak,apa kamu gak curiga dengan pak Widodo,,Semenjak paman dekat dengannya semenjak itu pula masalah datang silih berganti. Paman begitu mempercayainya,,"


Brian berfikir sejenak,mencerna perkataan Roby.


"Paman mengirimu ke Amerika meskipun awalnya kamu menolak untuk kuliyah disana. Kemudian, Kecelakaan kecelakaan kecil yang menimpa bibi sebelum bibi meninggal. Fitnahan tentang Pak Yosep yang katanya ingin merebut ibumu kembali. Mungkin kamu gak pernah melihat betapa bahagianya keluarga kecil mereka,waktu SMA dulu setiap ada pensi mereka selalu datang berdua untuk Delia. Keluarga mereka selalu harmonis,jadi tidak mungkin Pak Yosep menghiananti istrinya,bagi pak Yosep ibumu adalah masa lalunya,,Saat istrinya ninggal dia benar-benar terpukul hingga dia sakit-sakitan. Dan setauku,mereka sama sekali tidak pernah menceritakan masalah apapun pada Delia kecuali kebangkrutannya."


"Apakah kamu mau bilang kalau ini semua salah ayahku??"

__ADS_1


"Kita belum tau siapa yang bersalah disini,,Ayolah lah kaa,jangan menutup hati kakak,selama ini kakak sibuk di Amerika,kakak belum mencoba mencari kebenarannya,iya kan??kasihan Delia kalau harus menanggung penderitaan yang seharusnya tidak dia dapatkan"


Brian kembali terdiam,dan tanpa berbicara lagi,dia langsung keluar ruangan Roby.


Dia berhenti didepan pintu dan memandang jauh kedepan mencari keberadaan Delia.


Dia mentap wajah Delia yang sedang menatap layar laptopnya,dengan terus menggigit-gigit bibir bawahnya,mengisyaratkan kecemasan.


Tiba-tiba pandangan mata mereka bertemu,mereka saling menatap dari kejauhan,kemudian Delia tertunduk takut. Dia berfikir Brian akan murka saat mengetahui kalau dia pernah pergi berdua menemui owner catering itu.


Haduhhh...ketauan deh,dia pasti berfikir macam-macam tentangku,selamatkan aku dari kemarahannya ya Allah


batin Delia.


***


Sore harinya Delia pulang diantar oleh Fani.


"Makasih ya Fan,oiya ini aku titip Uang buat ayahku,."


Delia memberikan sejumlah uang pada Fani yang baru saja ia ambil dari ATM.


"Oke Del,nanti aku sampaikan.."


"Mau mampir dulu Fan?"


"Ga ah..aku takut sama bunglonmu..hihihi"


"Iya si..tapi lain kali aja deh..udah ya,aku pulang"


"Makasih ya Fan.."


"Sama-sama...".


Delia masuk kedalam rumah yang sangat besar dan sepi,ada perasaan takut karna rumah sebesar itu hanya ada dia sendirian.


Delia menyalakan TV diruang tengah dengan volume besar agar suasana rumah tidak hening.


Kemudian ia menaiki tangga menuju kamarnya, membersihkan diri dan melaksanakan sholat dikamarnya.


Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 Delia sudah selesai menyiapkan makan malam untuk Brian.


Tapi Brian belum juga pulang,dengan perasaan cemas dia menunggu suaminya di ruang tengah.


"Kok belum pulang-pulang si...aku kan udah laper,,,haduh... jam segini harusnya dia sudah dirumah." Delia berkali -kali melihat jarum jam,mengenggam ponselnya erat.


"Telpon engga,telpon engga,telpoooon,,engga,,,aghhh..telpon aja aku lapar gengsi urusan belakang."


"Ha-ha-halloo"


"Apa!!!" ketus Brian menerima telpon dari Delia.


"P-p-pulang jjjaam berapa?" Lidah Delia kelu,dia masih terbayang wajah sangar suaminya dikantor tadi.

__ADS_1


"Sebentar lagi aku pulang"


"Ja jangan lama-lama...a a aku"


"aku apa??bicara tu yang jelas jangan kaya orang gagap!! aku kangen hah!!itu kan maksudmu!"


"Bukannn aku ..aku Laper.."


"Hah!!!lapar ya tinggal makan,ngapain nunggu aku!!dasar bodoh!!"


Tut tut tut


Brian mematikan telponya.


"Dasar laki-laki g*la,katanya kalau makan harus nunggu dia,sekarang makan tinggal makan...ntar ujung-ujungnya aku diomelin lagi,memang cari gara-gara tu orang!!!" gerutu Delia.


Akhirnya Delia makan dimeja makan ditemani keheningan.


Selesai makan Delia menonton TV sembari menelpon tante Mira.


"Hallo bii...Assalamu'allaikum"


"Wa'allaikumsalam Del..masya Allah..Bibi kangen kamu Del..."


"Delia juga kangen kalian...semua baik-baik saja kan bii?"


"Alhamdulillah baik,,ayahmu juga udah gak batuk-batuk lagi..tekanan darahnya normal,oiya uang yang kamu titipkan ke Fani sudah kami terima Del.."


"Syukurlah....aku yakin ayah akan sembuh,bagaimana terapi kakinya?"


"Masih berlanjut Del,satu kaki sudah bisa menopang,jadi ayahmu sudah bisa memakai satu tongkat saja. Del,,kamu disitu baik-baik saja kan?apa benar kamunsekarang sudah pindah rumah?"


"Aku baik-baik saja,tante jangan khawatir,,iya,sekarang kami tinggal terpisah dari Atmajaya."


"Apa mereka tidak menyakitimu?"


"Mereka baik kok,terutama Kak Brian..Dia merawatku saat aku sakit"


Delia kelepasan mengatakan kalau dia sakit.


"Kamu pernah sakit?sakit apa kenapa kamu gak mengabarin bibi si.."


"Aku cuma masuk angin bibiku sayaaang...karna tiap pulang kerja kehujanan jadi ya githu deh bi..Oiya,ayah mana?"


"Astagfirulloh..bibi lupa..iya iya ini ayahmu sebentar aku kekamar ayahmu dulu ya.."


Bibi Mira menemui kakaknya dikamar dan memberikan ponselnya.


"Hallo nak,,kabarmu bagaimana disana.."


"Aku baaa..."


Tiba-tiba ponsel Delia direbut dari belakang oleh Atmajaya. Tangan Delia dipelintir kebelakang,membuatnya kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2