
"Heh,sempit sekali dunia ini,," ucap Brian seraya melayangkan senyuman kecut dari bibirnya.
"Ya begitulah,ayo kita lanjutkan pencarian mas,waktu sudah semakin sore."
Delia dan Brian mengacak-acak seluruh isi ruangan,tapi tidak menemukan apapun.
"Hufh,,sepertinya usaha kita sia-sia mas,tak ada apun disini,hanya buku-buku yang tersisa."
"Oke,benar ibu ayahmu,kotak itu memang tidak ada pada mereka." Desis Brian kesal.
"Ayo kita keluar mas,kasihan pak Asep menunggu lama"
"Oke"
Mereka berdua naik dan menutup kembali jalan rahasia itu.
Delia,Brian dan pak Asep berjalan menuju rumah pak Asep,tepat dibelakang rumah.
Mereka menyantap hidangan yang sengaja bu Asep buat.
Drrrttt....drrrtttt...
Ponsel Delia bergetar,satu pesan masuk dari nomer tak dikenal.
*Bagaimana nyonya Delia??apakah kamu sudah menemukannya??hahahaa...kamu terlalu bodoh mau saja dijadikan umpan..sebentar lagi ucapkan selamat tinggal pada cintamu.
-- apa maksudmu?
*Tanyakan pada suamimu?aku salut,karna dia adalah pemain yang hebat. Untukendapatkan kotak itu dan mengamankannya,dia rela berpura-pura mencintaimu..hahaha..bodoh bodoh..
Karna penasaran,Delia berusaha menelpon nomer tersebut,namun dengan cepat nomer tersebut tidak aktif lagi.
Siapa dia?apa maksudnya?umpan? Batin Delia.
"Siapa?"bisik Brian yang mencurigai perubahan raut wajah Delia.
"Em..bukan..dia temanku,Vivi"bohong Delia.
Kalau aku menanyakan langsung bisa saja Brian mengelak karna dari pesan itu sepertinya si pengirim mengatakan kalau pemainya adalah Brian??apa maksudnya ya?
Batin Delia.
"Mas,sudah hampir magrib,pulang yukz"
Brian menganggukan kepalanya,dan merekapun berpamitan.
**
"Siapa yang mengirimu pesan tadi?"tanya Brian datar.
"Vivi mas,,kenapa si?gak percaya?"
"Vivi atau pria tadi?"
"Hans maksudmu?bukan mas.."
__ADS_1
Delia menatap Brian yang sedang fokus menyetir.
"Lalu kalau Vivi kenapa wajahmu berbeda saat membaca pesan itu?apa ada berita buruk sampai kamu terlihat cemas?"
"Cemas?engga kok,biasa aja..aku cuma maseih kesel sama kamu mas"
"Kesel kenapa?"tanyanya dingin.
"kamu kenapa si, sewot terus sama aku?" wajah Delia memerah menunjukan kekesalannya.
"Kamu mau tau kenapa aku kaya gini!"
"Ya iyalah pengin tau!semenjak dari kampus kamu gaJe banget ,,!"
"Aku gak suka kamu diliatin sama laki-laki dikampusmu terutama Hans?"
"Ya Allah mas..mas...trus salahku dimana?mereka punya mata ya untuk melihat lah...!kamu tu ih..aneh!kalau mau marah ya ma mereka dong" Delia menyunggingkan senyuman sengit untuk Brian.
"Salahmu,lain kali kalau kekampus tu pakai pakaian yang sedikit sopan!jangan kecentilan!!gak pake tu menor-menor segala! Gak ada cantik-cantiknya tau!!" Hardik Brian.
"Mas,yang aku pakai juga sopan kok!make up ku juga soft,mereka aja yang emang kurang kerjaan liatin,lagian aku juga gak marah kok waktu kamu dideketin ma dua cewe centil tadi,,fine fine aja tuh!" Ketus Delia,seraya melemparkan senyuman kecut pada suaminya.
Yang sebenarnya Delia juga tidak suka suaminya jadi pusat perhatian,dia merasa kesal dan ingin menjambak rambut kedua wanita itu,terlebih Susi dan Zeli sangat mebenci Delia,karna Delia lebih cantik dan tenar dikampusnya,dan digilai banyak pria,termasuk Hans mantan Zeli.
"Mas,"
"Hem" jawab Brian singkat dan masih fokus dengan kemudinya.
"Gak jadi" Delia tidak menyukai ekspresi suaminya yang cuek.
"Hem.."balas Delia dengan singkat pula.
Delia memainkan ponselnya,hingga sampai didepan rumah mereka.
"Sore bi.."sapa Delia pada bi Ani yang membuka pintu rumah untuk mereka.
"Sore non,,oiya,tadi ada tuan Atmajaya kemari tuan mencari tuan dan nyonya.."
"Apa?" Delia terkejut,kenapa Atmajaya kerumahnya lagi. Dia menatap Brian mengharapkan penjelasan.
Brian hanya diam melangkahkan kakinya ke ruang kerjanya.
Sementara Delia langsung masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Ia keluar menuju balkon kamarnya,dan berdiri disana. Ia mengingat isi pesan pada ponselnya,yang mengatakan umpan,dan Brian adalah pemain yang hebat,,
"Apa maksudnya??lalu apa tujuan Atmajaya kemari untuk bertemu Brian? aghhh...tidak,tidak mungkin Brian masih bersekongkol dengan ayahnya. Tidak mungkin Brian sedang bersandiwara mencintaiku,untuk mendapatkan kotak itu. Agh...bodoh nya aku jika memang itu benar,,,aku sudah jatuh terlalu dalam pada cintanya." Delia merasa bingung kali ini.
Ponsel Delia berdering,ada pesan masuk dari nomer yang sama.
"Sedang apa kamu duduk disitu??hahahaha...gadis bodoh,Kamu masih ingat istilah Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Bersiaplah untuk menyandang status janda jika kotak itu sudah ditemukan. Karna sejatinya cintanya pada Ayahnya jauh lebih besar..."
"Siapa kamu!! Aku tidak akan takut dengan siapapun! Silahkan saja kalian mempermainkanku!! "Gertak Delia,menutupi kekhawatirannya.
Saat ini cintanya pada Brian memang masih terbilang lemah,dia memang mencintai Brian tapi masih ada keraguan dalam hatinya,dan bodohnya dia dengan mudah memberikan kesuciannya pada Brian,tatapan Brian dan sentuhannya mampu membuatnya melupakan keraguan dalam hati Delia.
__ADS_1
Dari belakang Brian meraih pinggul Delia,membuatnya terkejut.
"Mas!"
"Ada apa sayang" suara Brian melembut.
"Halah,sayang,,tadi aja diluar ngomel-ngomel terus!!" Protes Delia.
Brian adalah tipe pria yang tidak mau mengumbar kemesraan diluar,karna menurutnya itu sangat norak dan kekanak-kanakan,tapi tidak dengan Delia.
Delia sering menyebut Brian bunglon karna perubahan sikapnya yang sering membuatnya kesal.
"Hee heee..apa kamu marah?"
Entah sejak kapan Brian menjadi lebih senang menggoda istrinya,membuatnya kesal itu menyenangkan. Wajah kesal Delia mbuatnya gemas.
"Enggak!!"
"Oke,baguslah kalau kamu ga marah..ayo kita bersiap sholat magrib bersama" Brian kembali menyubit hidung Delia dengan gemas.
Tanpa membalas,Delia langsung bersiap-siap melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Selesai melaksanakan sholat magrib dan isya
Delia pergi kedapur membuat infused water untuk suaminya.
"Bi,,tadi Atmajaya kemari ?" bisik Delia pada bi Ani.
"iya non,dia bialang ingin bicara dengan tuan Brian,,katanya ponsel tuan dihubungi susah."
"emm...kira-kira ada apa ya bi?" Delia nampak cemas.
"Entah non,semenjak pertengkaran dulu,tuan Atmajaya tidak pernah kemari."
"kok tumben amat ya bi,,pasti ada sesuatu yang penting."
"pastinya non,tuan Brian dulu merasa kesal dengan ayahnya,dan memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan Ayahnya,tapi mungkin belio kemari karna urusan kerjaan."
"Ohhhh,,iya iya...bi.."
Delia terus mengobrol dengan bi Ani,tiba-tiba Brian menuruni tangga dengan tergesa-gesa lengkap pakaian formalnya.
Delia memanggilnya.
"Mas,,mas mau kemana!?" Delia berlari kecil menghampirinya.
"Aku pergi sebentar ya Sayang" Brian mengecup kening Delia cepat. Kemudian ia meninggalkan Delia dengan tergesa-gesa ke arah garasi.
Delia pun terus mengikutinya.
"Mas,,mau kemana?"
"Tunggu saja sayang,aku tidak akan lama"
Brian sudah menancapkan gas mobilnya kemudian pergi.
__ADS_1
"Pasti ini ada hubungannya dengan Atmajaya!" batin Delia.