Pernikahanku Pelunas Hutang

Pernikahanku Pelunas Hutang
Bab 183


__ADS_3

Di sisi lain,diluar kamar Delia.


Fani tidak henti-hentinya menangis.


Bimo mencoba menguatkan istrinya.


"Mas,,aku tahu,,aku tahu Delia sangat menginginkan anak itu,,dia berhak bahagia mas,,dia berhak bahagia,,"


"Iya Iya,,aku juga berfikir seperti itu,dia memang harus bahagia,,kamu juga harus bisa kuat,karena bagi Delia justru kamu salah satu sumber kekuatannya. Ayo Sayang,,kita masuk,kita beri Delia suport,,kuat kan dia. Kita tidak bisa mengandalkan Brian,karena dia sendiri juga pasti sangat terpukul."


"Tapi aku tidak tega mas,,aku tidak tega menatap wajah Delia,,"


Bimo memeluk istrinya,


"Aku juga tidak kuat,tapi kita harus ada untuknya,,ayo"


Bimo menuntun istrinya masuk.


Melihat Delia tengah berbaring lemas,Fani langsung memeluknya.Mereka berdua menangis sejadi jadinya.


Bibi Mira mengusap punggung Fani,untuk menguatkan.


"Sudah sayang,,sudah.."


"Biar mah,,biarkan kami menangis,,ayo Del,,menangislah sekencang kencangnya,,menangislah,,ayo,,lepaskan semua"


Mendengar perkataan Fani,Deliapun tidak lagi meahan air matanya,ia lepaskan seluruhnya,sampai Delia mengakhiri sendiri,masih dalam pelukan Fani.


"Kamu sudah puas Del??Kamu ingat,kita pernah jatuh bersama,kita pernah mengalami kesulitan hidup bersama. Tapi,dalam setiap kesulitan yang kita hadapi,kita pasti sampai pada titik pencapaian yang membuat kita lupa akan kesulitan itu,,Aku tidak menyuruhmu untuk lupa,tapi aku ingin kita kembali jalani ini bersama,kamu tidak sendiri,,kami semua ada bersamamu,Ikhlaskan dan terus berdoa. Kamu orang kuat,aku yakin itu."


Delia melepas pelukan Fani,kemudian menatap suaminya.


"Mas,,"


Panggilnya.


"Iya Sayang,,"sekali lagi,brian menyeka air matanyanya yang juga tidak bisa lagi dibendung. Ia berjalan mendekati istrinya.


Delia menyeka air mata suaminya,,


" Aku tahu mas,kamu lebih menderita dariku,,kamu lebih merasa kehilangan dariku,,sekali lagi maaf mas,,"


"Sayang,,engga papa,,aku akan semakin menderita jika melihatmu sedih,,"


"Aku janji mas,aku akan belajar ikhlas,,"


Brian tersenyum,


"Sekarang kamu istirahat ya?atau kamu mau makan apa?biar mas beliin,,"


"Engga usah mas,,kamu juga istirahat ya.."


"Nak Brian,lebih baik kamu ganti pakaian dan makan,,bibi sudah bawakan makanan untukmu."


"Terimakasih bi,,"


"Iya mas,kamu dari tadi sore belum makan kan? Aku juga engga mau kamu sakit mas"


Timpal Delia.


Brian menghela nafas panjang.


Dia memang sudah kehilangan selera makannya semenjak tahu istrinya masuk rumah sakit.


Demi menghibur istrinya,Brian akhirnya menuruti permintaannya.


"Baiklah,aku kekamar mandi dulu ya Sayang"


Brian mengecup kening Delia sebelum pergi.


"Saya titip Delia ya.."


",Iya" jawab Fani,Bimo dan Bibi Mira bersaman.


***


Keesokan harinya.


Bibi dan Brian,mereka dengan setia menunggu Delia dirumah sakit.


Bibi Mira tidur di ruang penunggu berukuran 3 x 3 meter,dengan fasilitas lengkap,masih satu ruangan dengan kamar Delia hanya saja ada pintu sliding kaca yang membatasi.

__ADS_1


Sementara Brian tidur di sebelah Delia,karena keranjang pasien cukup luas.


"Masss,,mas,,," Delia yang merasa berat karena lengan kekar suami menindih dadanya,mencoba membangunkan suaminya.


"Maaassss,,"


"Hmmmm,,"jawab Brian,matanya masih terpejam.


"Sakit mass"


"Haah!!! Mana yang sakit mana sayang??mana?" Ia langsung bangun dan matanya membola,ia mengecek seluruh tubuh istrinya,termasuk bok*ng karena takut keluar darah lagi.


"Bukan mas! Tadi dadaku sesak tertindih olehmu,,"


"Ahhh,,syukur lah,aku pikir ,,,ya sudah,maaf ya"


"Sholat shubuh sana mas,bibi bangunin"


"Iya,kamu engga papa kan saya tinggal sebentar"


"Engga papa mas"


Brian langsung menuju kamar penunggu,membangunkan bibi Mira yang nampak masih kelelahan.


Bibi Mirapun terbangun,mereka sholat berjamaah.


Selesai sholat,Bibi Mira menuju mini bar membuatkan kopi dan roti bakar untuk Brian.


Sementara Brian kembali ke kamar pasien menemani Delia.


"Sayang,kamu mau ganti pembalut?" Brian mengambil pembalut yang disediakan oleh rumah sakit.


"Iya mas,,"


"Ayo mas bantu bangun"


Brianpun membantu istrinya bangun dan menuntunnya ke kamar mandi.


Setelah Delia selesai mengganti pembalut,Perawat masuk untuk mengecek tekanan darah Deliadan menyuntikan obat pada selang infus Delia.


"Bagaimana sus?"


"Semalam saya ganti 2 kali,dan ini kali ketiga Sus,,"jawab Delia


"Oiya Sus,apa aku bisa pulang hari ini?lanjut Delia


"Pagi ini tidak ada jadwal dokter Sisca,kemungkinan Dokter Aan yang akan visit,sekitar pukul 07.00. Jika belio menginjinkan maka hari ini nyonya sudah boleh pulang."


"Terimakasih sus" jawab Brian dan Delia bersama-sama.


Bibi Mira yang baru saja selesai mandi,menghampiri mereka,menyuruh Brian mandi.


Saat Brian mandi,ponselnya berdering .


"Soni,,"gumam Delia,ia langsung mengakat telponnya.


"Hallo,,"


"Nyonya Delia,,maaf menganggu,,tuan ada?"


"Mas Brian sedang mandi.Apa ada sesuatu yang penting?"


"Iya nyonya,pagi ini clien dari Korea tidak ingin jadwalnya diundur,,dia tetap mau bertemu dengan tuan Brian,dia juga tidak ingin diwakilkan oleh saya. "


"Baik nanti saya sampaikan"


"Terimakasih nyonya,semoga lekas sembuh non.."


"Aamiin..."


Saat selesai mandi,Delia menyampaikan pada suaminya perihal client dari Korea.


Brianpun terdiam,dia masih belum bisa meninggalkan Delia.


"Biar saja,dia tidak mau ya sudah,gampang"


"Mas,jangan gitu dong,,mas pergi saja,aku engga papa kok,kan ada Bibi,,"


Delia tahu suaminya masih mengkhawatirkan dirinya.


"Sayang,aku engga mungkin ninggalin kamu dalam kondisi seperti ini"

__ADS_1


"Mas,,aku mohon,,aku sudah baik-baik saja,kasihan Soni nanti bagaimana menghadapi clien seperti itu".


"Hemmm,,ya sudah,aku akan pergi,,"


Brian berganti pakaian kemudian berpamitan pada istrinya dan Bibi Mira.


Pukul 07.30 dokter Aan memeriksa keadaan Delia,dan memperbolehkan Delia pulang jika pada pukul 1 siang dia tidak lg merasa pusing dan tidak mengalami pendarahan yang parah. Sejauh ini pendarahan yang di alami Delia terbilang normal,seperti layaknya haid atau nifas.


Brian dari kantor menelpon dokter Brian untuk menanyakan perihal kesehatan Delia.


***


Sesampainya dirumah


Delia disambut haru oleh bi Ani,bi Ijah dan Oma.


Mereka memberikan pelukan hangat untuk Delia.


Mereka tak lagi membahas masalah keguguran yang Delia alami,mereka hanya mengatakan.


"Selamat datang kerumah lagi nyonya,sehat terus ya,,"


Begitu juga Oma,


"Cucuku yang bawel,,semoga sehat terus ya,,Oma kangen,,jangan sakit lagi ya.."


"Oma,bibi,,saya permisi ke kamar"


"Iya sayang,istirahatlah,,bi Ank,tolong antar Delia kekamar"titah Oma.


Bi Ani menuntun Delia yang masih lemas,berjalan menuju lift.


"Maafkan Delia ya Oma,,Delia sendiri masih butuh waktu untuk istirahat dan mengiklaskan apa yang sudah terjadi"


"Iya Bu Mira,,saya mengerti,,disaat harapan mereka pupus,pastilah butuh waktu lama untuk bangkit. Saya tahu benar,bagaimana Brian dan Delia menginginkan kehadiran seorang anak."


"Terimakasih Oma,,Saya mohon pamit Oma,Tadi saya juga sudah berpamitan dengan Delia saat dimobil,saya titip Delia ya Oma"


"Kamu tenang saja,,Terimakasih bu Mira,selama dirumah sakit sudah setia menemani Delia. Salam untuk keluarga dirumah ya"


"Iya Oma,,assalamu'allikum"


Bibi Mira meraih dan mencium punggung tangan Oma.


"Wa'allaikumsalam"


***


Brian pulang lebih awal,karena dia tahu istrinya sudah sampai rumah.


Dibalkon kamar Delia duduk termenung,menatap langit luas.


Brian datang membawa nampan berisi teh dan kue.


"Sayang,,"


Delia menoleh ke arah belakang.


"Kamu sudah pulang mas?"


"Iya sayang,"


Ia letakan nampan di meja,kemudian dia memeluk istrinya dari belakang.


"Malam ini kamu mau makan apa sayang?aku akan buatkan untukmu"


Delia menoleh,


"Kamu mau masak mas?" Hampir tidak percaya dengan perkataan suaminya.


"Apa kamu kurang yakin sayang?Apapun akan aku lakukan untuk istriku yang super ini,sebutin aja,kamu mau makan apa?"


"Apa aja deh mas,"


Delia masih belum sepenuhnya mood untuk bercanda.


"Siap bosss..aku akan memasak untuk mu,,apa kamu mau menyaksikan chef tampan menunjukan kebolehannya?"


Delia tersenyum tipis.


"Aku akan berusaha mengembalikan senyumanmu,mengembalikan semangat hidupmu sayang,itu janjiku,," batin Brian.

__ADS_1


__ADS_2