
Beberapa saat kemudian,bi Ani menggedor-gedor kamar Delia.
"Non,,non Delia,,buka non"suaranya terdengar terengah-engah.
Delia segera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa bi?"tanyanya bingung melihat ekspresi wajah tegang bi Ani.
"Tuan non,," bi Ani berusaha mengatur nafasnya.
"Ada apa dengan Brian bi.."
"Tuan sedang memarahi para bodyguard dan ..dan..dan..mang Jajang.."
"Apa?" Delia langsung menutup pintu kamarnya keras,kemudian berlari kearah halaman depan.
Terlihat wajah suaminya yang memerah,dengan tegas ia menegur satu persatu bodyguardnya dan terlihat mereka tertunduk takut menerima kemarahan majikannya.
Dari pintu depan rumah,Delia ingin mendekati suaminya,namun seketika suaminya menatap tajam kearahnya,,sorot matanya membuat Delia ketakutan.
Bi Ani menarik tangan Delia agar masuk kedalam rumah.
Bi Ani paham benar bagaimana tuan mudanya jika sedang marah.
"Non,mending non Delia menunggu saja disini saja"
"Tidak bi,aku harus keluar,mereka dimarahi karna aku bi,,kasihan mereka bi.."
Delia menghepaskan tangan bi Ani kemudian mendekati suaminya yang tengah murka.
"Mas,cukup,,jangan marahi mereka,ini semua salahku mas.."Delia memohon berharap suaminya mendengarnya.
"Diam dan masuk!"titahnya dingin tanpa menoleh sedikitpun kearah istrinya.
"Tapi kamu jangan marahi mereka ya mas"
"Masuk!!!"suaranya lebih tinggi dan menggelegar.
Delia terkejut,ia langsung berlari kekamarnya menjatuhkan tubuhnya dikasur dan menangis tersedu.
"Sepertinya dia sudah tau dari orang lain sebelum aku menceritakan semua..bodoh,bodoh,,aku memang bodoh,"
Delia memukul-mukul kasur.
"kenapa gak dari awal aku memberitahu tentang pertemuanku dengan Hans..Ya Allah...lindungi aku dari kemurkaanya."batin Delia gemetar,membayangkan betapa mengerikan wajah suaminya sekarang.
BRAG
Pria yang sedang murka itu masuk kekamar dan langsung membanting pintu.
__ADS_1
Sorot matanya membara,Rambut jambangnya yang belum dicukur membuatnya semakin menambah kesan betapa sangarnya dia.
Tanpa bicara,dia langsung mengemas pakaiannya dikoper.
Delia yang menyadari kesalahannya berusaha memohon pada suaminya.
"Mas,,aku mohon mas,maafin aku ya,,tadinya aku berniat menjelaskan semuanya sepulang dari kantor mas,,aku sama sekali tidak ingin membohongimu ataupun menutupi apapun darimu.."
Delia terus mengikuti langkah suaminya yang kesana kemari merapikan pakaian dan beberapa dokumen didalam koper.
"Mas,jangan diam seperti ini dong mas,,kamu,,kamu mau kemana mas??kenapa bawa koper segala mas,,kita kan masih bisa bicara baik-baik mas,,"
Bertubi-tubi perkataan Delia sama sekali tak digubris oleh Brian.
Delia menghalangi pintu kamar,agar Brian tidak pergi.
"Mas,,setidaknya kasih aku waktu untuk menjelaskan mas,,aku mohon,,"
Brian tetap diam menatap istrinya dengan tatapan membunuh.
"Mas,,aku mohon,,jangan pergi dengan keadaan seperti ini,,"Delia terus kekeh menghalangi pintunya.
"Dengarkan aku dan bicaralah mas..!" Teriak Delia.
Brian meletakan kopernya kasar.
Ia meletakan kedua tangannya disisi tubuh Delia.
"Untuk apa aku mendengarkan istri yang tidak pernah mendengarkan dan menghargai suaminya!!" Ucap Brian geram.
"Kamu juga bertemu dia di rumah Vivi,Ooh..ya ya ya ,apa itu sudah kalian rencanakan!! Iya kan!!jawab!!!"
Delia mengangguk pelan.
" Aghhhhrr!"
Brian meninju pintunya.
"Aku,harus bertemu dengannya secepatnya mas,karna kemarin dia sudah nekad kemari mencariku dan aku harus segera memberi tahu tentang statusku mas,,dia hanya ingin meminta penjelasan langsung dariku,bukan dari sahabatku.
Lagian bukannya itu yang seharusnya aku lakukan mas??agar dia tidak berharap lagi denganku! Aku memang salah mas,tidak memberi tahu kamu terlebih dulu,karna aku tau kamu tidak akan mengijinkanku bertemu dengannya,,dan kalau seperti itu terus menerus,lalu kapan aku bisa menjelaskan semuanya."
"Alasan!! Aku malas berdebat dengan pembangkang sepertimu! Ikuti saja apa yang menjadi maumu! " Brian menyingkirkan tubuh Delia kemudian membawa kopernya dan pergi.
Brian sangat kesal bagaimana bisa Delia berpelukan dengan Hans dimuka umum,dan menegur mang Jajang dan bodyguardnya yang tidak menjalankan tugasnya untuk melindungi istrinya.
Brian sangat marah karna berfikir istrinya masih diam-diam bertemu dengan Hans.
Dia terkejut karna Hans dan istrinya sampai merencanakan pertemuan di rumah sahabat mereka. Brian yang tengah diselimuti rasa cemburu berfikir macam-macam tentang istrinya.
Mang Jajang berusaha untuk menjelaskan namun belum habis penjelasannya Brian terus memarahinya.
__ADS_1
Delia mengejar suaminya dengan penuh air mata.
Dengan langkah jenjangnya,Brian mengambil kunci mobil dan pergi.
Delia yang belum terlalu mahir menyetir akhirnya nekad mengendarai mobil sendiri mengikuti mobil suaminya.
Sayangnya ditengah perjalanan Delia kehilangan jejak.
Delia terus berputar-putar mengendari mobilnya sambil menangis mencari keberadaan suaminya.
Matahari sudah tak memancarkan cahanya.
Langitpun mulai gelap sama seperti hati mereka saat ini.
Sressseettttt,,rem mobil diijak secara tiba-tiba.
Delia hampir saja menabrak pengendara motor diarah berlawanan.
Dia langsung membanting stir kearah kiri dan berhenti.
Untungnya,dia tak sampai menabrak pohon. Kini terlintas bayang-bayang kecelakaan yang menimpa ibunya saat itu.
Dia keluar dengan keringat dingin yang bercucuran,dan air mata yang semakin deras.
Ia sangat ketakutan,ia teringat tentang ibunya yang meninggal dihadapannya.
Dirinya semakin kacau,hatinya berkecambuk.
Dia juga menyesal telah menganggap semua baik-baik saja,kenyataanya suaminya sangat marah karna ketledorannya.
Ia terus menangis terisak duduk ditepi mobilnya.
"Dimana kamu mas,,aku mohon jangan pergi,,aku takut sendiri mas,,aku takut kehilanganmu mas..maafin aku mas.."
Delia tak menyadari kalau Ponselnya yang ada didalam mobil berkali-kali berdering.
Fani sudah mengetahui sahabatnya tengah ada masalah,Fani yang sedari tadi merasa tidak tenang,berkali-kali menelpon Delia ke ponselnya,namun tak direspon. Akhirnya ia mencoba menghubungi rumah Delia,dan bi Ani memberi tahu semuanya.
Fix,benar kegelisahan hati Fani terjawab,insthing mereka sangat kuat,karna dari dulu mereka selalu berbagi dalam segala hal.
Delia tiba-tiba merasa pening,disekitarnya terasa berputar-putar,kepalanya tiba-tiba terasa sangat berat, dan akhirnya dia pingsan.
Tak ada satu orang pun yang melihatnya,karna mobil Delia terparkir di tepi jalan yang cukup sepi.
Sementara itu, setelah mendapat kabar dari bi Ani,Fani dan Bimo memutuskan untuk mencari Delia.
Sudah 1jam lebih mereka berkeliling mencari keberadaan Delia,mereka memutuskan untuk mencoba melacak keberadaan ponsel milik Delia.
Fani ******* ***** jarinya,pikirannya melayang kemana-mana,membayangkan keadaan sahabatnya saat ini.
__ADS_1
Bimo mencoba menengkan Fani,mereka yakin mereka menemukan Delia dengan segera.
Sesekali Bimo menyuruh Fani untuk menghubungi Brian,karna sedari tadi ponselnya tidak aktif.