
Delia langsung menelpon suaminya dan menceritakan kekesalnya karna Tania.
Brian terkekeh mendengar cerita Istrinya.
"Hahahaa...kenapa kamu segila itu .."
"Biarin..masih untung dia gak aku cabik-cabik..ih..coba kalau kamu gak melarangku untuk menjaga emosiku..uuuuhhhh...udah tinggal sum sum tu orang!!"
"Wow..istriku ternyata sadis ya.."
"Iya! Kenapa! Makanya kamu jangan macem-macem denganku!! Klo sampai macem-macem..abisss kamu mas.."
"Udah jangan ngawur..pergi shoping sana biar dirumah ga emosi,nanti habis belanja langsung kekantorku! Aku ada meeting,udah dulu ya Sayang.."
"Aku mau ke klinik dulu mas,ada beberapa berkas yang harus aku tandatangani..habis dari klinik aku kerumah Dera dulu ya mas,sama Vivi juga"
"Iya,tapi jangan sama si Brengs.."
Delia langsung memotong perkataan suaminya.
"Hans massss....tenang aja..kita cuma pergi bertiga kok"
Delia memang menghargai Hans sebagai teman baiknya,karna dia memang baik,,dahulu dia juga tidak tahu kalau Hans menyimpan rasa.
Kalaupun iya,Delia menghargai perasaan Hans,,dia hanya menunggu waktu untuk menjelaskan pada Hans agar tidak berharap padanya.
"Sepertinya kamu tidak rela aku menyebutnya dengan sebutan itu.."ucap Brian ketus.
"Bukan gitu mas,aku menghargainya karna dia memang teman baik ku,dan sayangnya dia belum tahu tentang kita. Aku janji,kalau aku bertemu dengannya aku akan menjelaskan semua padanya agar dia berhenti mengharapkanku..aku yakin Hans pasti akan mengerti. Kamu enggak perlu khawatir berlebihan seperti ini."
"Oke,terserah kamu,,yang pasti aku tidak akan membiarkan pria manapun mencoba merebutmu dariku!!"
"Iya iyaa...udah sana katanya mau meeting,,dah Sayang.."
Seperti angin sejuk bagi Brian saat mendengar Delia memanggilnya "Sayang" baru kali pertama bagi Brian. Selama ini Delia hanya memanggilnya "Mas.."
"Apa?ulangi lagi.."
"Apanya?"
"Tadi kata yang terakhir"
"Ih,kaya ABG aja kamu mas..",
"Ck..,"
"Iya iya..Dah Sayangggg..emmuaah."
"Terimaksih Sayang.." bisik Brian.
"Ih kok bisik-bisik,,emuah nya mana ??"
"Ini kantor!!"
"Oke..oke oke"
Delia mematikan telponya lalu ia bersiap-siap untuk pergi.
"Anak pembunuh!! Mau kemana kamau hah!!" Hardik Oma dari ruang TV,saat melihat Delia menuruni tangga dengan pakaian rapi.
"Oma,,"Delia menghampiri Oma hendak mencium punggung tangannya akan tetapi langsung ditepis oleh Oma.
"Apa kamu mau pergi menghabiskan uang cucuku!!dasar ga tau diri!!"
"Maaf oma,,Delia mau ke Klinik dulu,ada beberapa file yang harus aku tandatangani.."
__ADS_1
"Wah wah wah..hebat sekali kamu,hasil memeras cucuku 2M kamu sulap jadi klinik..!aku doakan semua pasienmu nanti tidak mati terbunuh seperti anakku..!!"
Delia hanya mengantupkan bibirnya,percuma baginya menyangkal semua perkataan Oma.
Menyakitkan memang,tapi tak banyak yang bisa Delia lakukan selain menunggu Brian bertindak.
Apapun yang dilakukan akan selalu salah dimata Oma.
"Oma,aku sudah meracik untuk makan siang,bi Ijah akan memasaknya nanti..Delia pamit ya Oma,,Assalamu'allaikum"
Delia terus mencoba bersikap baik pada Oma meskipun tak berbalas.
"Suatu saat nanti,Oma pasti akan menerimaku.."batinnya.
Delia pergi ke klinik diantar oleh supir.
Sesampainya disana ,ia disodorkan sejumlah berkas yang harus ia tanda tangani.
"Terimaksih kak,,Kak Bimo sudah mengurus semua persiapan Klinik dengan baik,,maaf ya kak,jelang hari pernikahanmu aku masih membuatmu sibuk" kata Delia menatap hangat pada kakak sepupunya itu.
"Santai saja Del,ini semua kita lakukan demi almarhumah ibumu,,dulu belio sangat ingin mengembangkan Kliniknya,sebelum Atmajaya menghancurkannya.
Bagiku,semangat dan senyumanmu itu segalanya Del,,kamu jangan pernah sungkan untuk meminta bantuanku."
Delia memeluk Bimo hangat,
"Del,"
"Apa kak?"
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Kenapa kakak menanyakan hal itu?aku baik-baik aja kok".
"Kamu tinggal dirumah itu dengan Atmajaya dan Oma Olivia,kamu pasti tertekan kan?"
"Aku baik-baik aja kak,aku bisa mengatasinya,,karna Brian bersamaku"
"Apa dia masih suka menyakitimu?"
"Tidak kak,kemarin itu kita hanya bertengkar kecil,karna dia cemburu pada Hans,tapi semua sudah clear."
"Oke,bagus lah,,kalau dia berani menyakitimu dengan tangannya,kakak akan mematahkan tangan kotornya itu!!"
"Aghhh..kak Bimo..jangan gitu,ngeri ah.."
"Kakak serius,biarpun kakak nanti sudah menikah,kakak akan terus menjagamu,adik satu-satunya kakak."
"Terimakasih kak..kakak pokoknya the best deeehhhh..."
Meskipun Bimo terkesan angkuh dan dingin,tapi saat Delia jatuh,dia sangat hangat dan peduli padanya.
Dia yang membawa Delia pergi ke Bali setelah kematian Yosep.
Dia lah yang membangkitkan semangat Delia yang sempat redup.
Dia juga yang mengultimatum Brian,jika sekali lagi Brian menyakitinya maka dia akan membawa Delia pergi menjauh darinya.
***
"Gimana bro,,apa udah nemu vidionya?"
tanya Soni pada Brian yang tengah menatap layar laptopnya dengan serius.
"Dia mengirim beberapa rekaman dari beberapa bulan sebelum kejadian itu,lihat ini.."
__ADS_1
Brian memutar laptopnya mengarah ke arah Soni yang tengah duduk disebarang mejanya.
"Kenapa banyak potongan yang hilang ya..kita jadi susah menganalisanya."
"Itu karna dulu memang disabotase,beruntung dia tidak menghapus semua..dia masih menyimpannya."
"Tidak ada yang mencurigakan si..seperti biasa ibumu melakukan hal-hal yang wajar"
"Iya,,"jawab Brian putus asa..dia menatap langit-langit diruangannya kemudian memejamkan matanya.
"Tunggu,,lihat ini Ian..ibumu terlihat duduk termenung,seperti memikirkan sesuatu.."
Terlihat nyonya Lidia duduk di teras halaman samping sebari mengelus-elus perutnya dan sesekali mengusap pipinya,sepertei sedang menyeka air mata.
Brian kembali keposisi tegaknya,dan menatap layar yang Soni tunjukan.
"iya,,sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu,," Vidio tersebut di perbesar oleh Brian.
"Kertas dan buku apa itu?"ucap Brian bingung.
Nampak nyonya Lidia menulis sesuatu di buku kemudian menyelipkan kertas.
Soni akhirnya mendekati Brian untuk ikut memeriksanya.
"coba Zoom lagi Ian"
Brianpun mengikuti intruksi Soni.
"Duh..gambarnya gak begitu jelas lagi..eh,lihat ini..menurutmu ini logo apa?"
Brian melingkari sebuah logo yang ada di pucuk kertas.
"Kita screen dulu biar kita cari nanti.."
"Oke..kamu harus segera temukan logo apa yang ada dikertas itu. "titah Brian pada Soni.
"Baiklah,,kirim saja hasil screennya,aku akan pergi keruanganku"
"Oiya,Bagaimana anak itu?cari dokter terbaik untuknya,dan terus awasi orang-orang ada disekelilingnya."
"Baik. saya permisi",
Brian menganggukan kepalanya mempersilahkan Soni keluar dari ruangannya.
Brian menelpon istrinya memastikan keberadaannya.
+ "Kamu dimana?"
- "Aku lagi di kafe mas,ada apa?"
+ "Dikafe?sama siapa kamu bilang kamu keklinik?"
- "Iya,baru aja aku dari klinik,,aku kekafe sama Dera dan Zeli mas,kafe deket klinik juga."
+ "Ngapain disana?"
- "Ya Allah mas,dikafe ya ngopi lah,,masa nyuci.."
+" Aku gak lagi becanda! "
- "Iya iyaaaa...aku disini lagi ngopi sambil ngerjain skripsi,aku pikir dari pada kerumah Dera,mending disini aja ..biar enggak kejauhan dan searah dengan kantormu mas.."
+ "Oke,jangan lupa sebelum jam makan siang kemari!"
- "Iya mas...Udah ya,,Assalamu'allaikum"
__ADS_1
+"Wa'allaikumsalam"