
Setelah semua makanan habis,Delia masuk kedalam untuk mengemas pakaian.
Brian tetap acuh,tidak sekalipun ia melihat apa yang sedang istrinya lakukan.
15 menit kemudian Brian masuk kedalam dan mendapati istrinya sudah selesai merapikan pakaiannya.
"Mau bertingkah apa lagi?pergi dari rumah?mau kerumah Bibi Mira?Mau mengadu?" Brian tetap saja mencoba bersikap tenang.
Sementara air mata Delia sudah membanjiri pipinya.
"Tolong,,tolong belajarlah lebih bijak dan dewasa sedikit saja. Kamu itu sudah bersuami,sedikit saja hargai aku sebagai suamimu. Belajarlah meminta pendapatku sebelum melakukan apapun dalam kondisi apapun!"
"Lalu aku harus apa??kamu saja pergi tanpa mau mendengar penjelasanku!" Jawab Delia.
Brian tersenyum sinis "Hah"
"Apa kamu pikir aku tidak punya rasa?apa kamu pikir aku tidak butuh waktu untuk menerima kenyataan,,kenyataan kalau istriku sendiri tidak sepenuhnya menginginkan pernikahan ini,inti dari pernikahan ini!" Brian mulai meninggikan nada bicaranya.
Delia tertunduk,ia tidak berani menatap wajah suaminya.
"Ya sudah,ayo ayo kalau kamu mau pulang" Brian kembali memelankan suaranya. Iapun mengemas pakaiannya,memasukan kedalam koper yang ada dihadapan Delia.
"Ayo" Brian berjalan mendahului istrinya.
Mereka menuju resepsionis untuk menyerahkan kunci kamar dan membayarnya.
Selama dimobil Brian tetap diam.
"Mas,,marahi aku lagi dong mas,,jangan diam seperti ini,,ini jauh lebih menyiksaku mas,,aku tahu aku salah,,please,marahi aku sepuasmu,asalkan setelah itu kamu mau memaafkanku"batin Delia. Ia sendiri tidak berani berkata apapun,ia sudah cukup lelah.
Di SPBU Brian menghentikan mobilnya,
"Kamu mau ke toilet engga?" Tanyanya datar.
Delia yang memang akhir akhir ini sering sekali buang air kecil,akhirnya turun dan pergi ke toilet.
Sementara itu,Brian menundukan kepalanya diatas stir mobil.
Seorang Brian pun akhirnya mengeluarkan air matanya,kecewa yah kecewa,, itulah yang ia rasakan.
Mendengar Delia membuka pintu mobil,seketika Brian menyeka air matanya dan kembali memakai kacamata.
Mereka melanjutkan perjalanan.
"Kamu mau aku antar kemana?kerumah kita atau kerumah Bibi"
"Tumben dia menawari kerumah Bibj,apa dia benar benar tidak mau aku kembali kerumah,,"batin Delia.
"Terserah kamu mas" jawab Delia lirih.
__ADS_1
"Jangan terserah aku,aku tidak berhak menentukan apapun yang menyangkut hidupmu" sindir Brian.
"Udah dong mas,,aku benar - benar menyesal karena sudah melakukan itu,,"
Brian kembali diam,dia tidak langsung mengarahkan mobilnya kerumah ataupun kerumah Bibi Mira.
Ia hanya berkeliling-liling saja.
"Mas,kita pulang kerumah saja ya,,"
Mendengar perintah Delia,Brianpun langsung mengarahkan mobilnya kerumah.
Sampai dirumahpun Brian tetap bungkam.
Suasana kamar menjadi sangat horor bagi Delia.
Seminggu sudah ketidak nyamanan ini berlangsung.
Suaminya yang dulu biasa menggodanya,kini menjadi sangat pendiam.
Bicara seperlunya saja,tak ada canda dan tawa.
Suasana kamar menjadi sunyi dan terasa asing.
Suaminya masih bungkam,sikap dingin nya membuat Delia semakin tersiksa.
Dia selalu melewatkan sarapan bersama,padahal Delia menawarinya makan,tapi dia selalu menolak.
Sering kali Delia menelpon Soni dan Safa,untuk menanyakan keadaan Brian dikantor. Merekapun memberi informasi bahwa akhir akhir ini bosnya seperti kehilangan semangat.
Meskipun sudah tidak ada pekerjaan,Brian memilih tidur dikantor dan pulang larut.
Delia tetap setia menunggu Brian diruang tengah atau di sofa kamarnya.
Brian sudah tidak pernah menanyakan apakah Delia sudah makan atau belum.
Meskipun diam-diam Brian menyuruh bi Ani untuk mengatur pola makan Delia dan mengawasi Delia selama ia bekerja dan dirumah.
Hari-hari Delia terasa sangat sunyi,dia tidak berani mengadu pada siapun termasuk pada Fani dan Keke sahabatnya,karena dia tahu,bahwa dia yang salah.
Beberapa hari ini setiap kali Fani mengajak suaminya makan Siang bersama Delia,Fani menangkap ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada sahabat sekaligus adik iparnya.
Meskipun Delia tidak pernah bercerita apapun,tapi dia cukup memahami semua dari sorot mata Delia.
Delia menjadi tak berselera makan,tapi Fani kekeh memaksa dan menyuapi sahabatnya.
Meskipun Brian acuh dan belum bisa memaafkan istrinya,sesekali Brian mengawasi Delia dijam-jam istirahat,dari kejauhan Brian melihat Fani dan Bimo cukup bisa diandalkan untuk menjaga istrinya.
Hampir setiap hari Fani mengajak Delia ke cafe dekat Klinik untuk makan siang.
__ADS_1
Brian pun mengintainya,dia hanya ingin memastikan apakah istrinya makan atau tidak.
***
Tanpa sepengetahuan Delia,Fani mendatangi Brian dikantornya.
"Mbak Safa?tuan Brian ada?"tanya nya pada Sekertaris Brian.
"Ada mbak,,sebentar saya telpon tuan dulu"
"Iya,saya Fani iparnya." Jawab Fani.
Safa pun menghubungi Brian,dan Fani dipersilahkan masuk.
"Maaf Ian,aku lancang datang kemari,,langsung saja,ada apa dengan kalian"
Fani langsung memasang badan dihadapan Brian yang tengah duduk bersandar memandang layar laptopnya.
"Silahkan duduk"ucap Brian tenang.
"Tidak perlu!"jawab Fani ketus.
"Rupanya,masalah rumah tangga kami sudah sampai ditelingamu,,dasar istri tidak bisa menjaga rahasia rumah tangganya"lanjutnya.
"Seminggu ini Delia tidak bercerita apapun,tapi sebagai sahabatnya aku bisa membaca ada yang tidak beres antara kalian,sebenarnya ada apa?tidakah kamu bisa memberi ruang untuk kalian berbicara?"
"Hmmm,,ruang apa lagi?aku selalu memberi ruang seluas luasnya untuk Delia,tapi dia selalu saja bertindak ceroboh,tanpa meminta pendapatku sebagai suaminya. Kamu pasti sudah tahu maksudku"
"Apa..apa ini,,terkait masalah em.."
"Iya,Rencana penunda kehamilan yang dilakukan Delia dibelakangku! Kamu tentunya sudah tahu dari awal kan! Sayangnya sebagai sahabat kamu tidak cukup baik,karena apa?harusnya sebagai sahabat kamu bisa memberinya pengarahannlnyang benar! Bukan justru mendukung hal-hal yang tidak benar!"
"Tunggu dulu Ian,sebelumnya aku sendiri juga tidak tahu terkait apa yang dilakukan Delia,,aku sendiri syok Ian,saat itu akupun marah dengan Delia. Tapi Delia menjelaskan bahwa dia melakukan itu karena rasa takutnya. Dia takut,jika dia kalah dalam pertarungan menghadapi restu Oma. Kamu tahu kan,situasinya saat pertama Oma datang kemari. Kalian sedang bertengkar,Oma ,Tania dan Atmajaya memanfaatkan pertengkaran itu dan terus memojokan Delia tanpa ada pembelaan darimu.
Jadi wajar,jika Delia takut kalah,,dia hanya belum siap jika dia kalah dalam keadaan mengandung,bagaimana nasib anak kalian kelak,itu yang dia pikirkan.
Akhirnya dia memutuskan untuk menunda,,ini menunda ian, Me-nun-da!!bukan menghilangkan harapan,bukan membuang rahimnya. Kamu harusnya bisa memahami itu. Delia juga melakukan itu cuma sekali,itu karena kepolosan dan ketidak tahuannya jika efeknya akan sejauh ini.
Dia pikir,saat suasana membaik,jika dia tidak melakukan suntik KB lagi semua akan normal.
Tapi ternyata tubuh Delia memberikan respon lain,hormonnya bermasalah. Dia juga tidak lantas diam saja,dia mencari obat dan multivitamin untuk mengembalikan hormonnya agar normal kembali.
Sampai dia bertemu dokter Aan dan sejauh ini dia mengalami perubahan yang cukup besar.
Harusnya kamu bisa memaafkannya,,harusnya kamu bisa memahami dan mendukungnya."
Sejenak Brianpun terdiam,ia mencerna perkataan Fani.
__ADS_1
Ia mencoba menyingkirkan egonya dan berusaha membuka hatinya.